
"Ayoklah makan, perkara Gala dah jalani aja, dia balik syukur nggak balik ya udah, tapi yang namanya sahabat selamanya dia bakal jadi sahabat kita!" tukas Lili.
Dia bahkan langsung memulai makan, lalu disusul oleh usman dan Robby, hingga lambat laun Giselle dan Anjas pun ikut makan pula.
Kenyang mengisi perut, mereka semua tidak langsung pulang. Robby mengajak mereka semua untuk pergi karaoke dulu, melepas penat dan sejenak melupakan Gala.
Jam 10 malam, Giselle baru pulang. Sang kakak Gilang yang membukakan pintu untuknya.
"Malem banget sih pulangnya, katanya besok hari pertama kerja, bukannya tidur cepet malah pulang malem," gerutu Gilang, dia terpaksa ikut bergadang menunggu adiknya pulang.
"Ayah sama Bunda udah tidur?"
"Sudah," jawab Gilang, dia mematikan televisi dan mulai menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Giselle.
Wanita cantik ini pun segera menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Ah, pasang alarm dulu."
Setelahnya Giselle membersihkan badan dan tidur.
Kring Kring Kring!!!
Tok tok tok!!
"Sel! Giselle! Bangun!! udah pagi!" teriak bunda Saras didepan pintu kamar anaknya, alarm Giselle terdengar sampai luar tapi sepertinya sang anak tak sadar juga.
"GISEL!!!"
Di teriakan bunda nya yang terakhir, Giselle akhirnya sadar. Jam sudah setengah 6, padahal dia set alarm jam 5 subuh.
__ADS_1
"Ya Allah kesiangan!" ucap Giselle.
Dengan segera dia mematikan alarm itu dan bergegas mandi, bunda Saras yang mendengar alarm anaknya mati pun bernafas lega, berarti Giselle sudah bangun.
"Bun aku nggak sarapan! aku buru-buru."
"Katanya beli baju baru, kok masih pake baju itu?"
"Ganti di perusahaan saja."
"Hati-hati bawa motornya."
"Iyaaa," jawab Giselle dengan langkah kakinya yang menjauh, menuju garasi rumah dan mengeluarkan motor matic berwarna putih miliknya.
Dengan segera Giselle melaju menuju perusahaan.
"Hah," Giselle bernafas lega. Jam 7 lewat 15 menit dia siap bekerja.
Arumi acuh dan menatap layar komputernya sendiri, sementara Putri memberi Giselle minum.
"Kenapa terlambat? buru-buru lagi," tanya putri.
Tapi belum sempat Giselle menjawab ada seorang pria mendatangi meja mereka.
"Jadi kalian sekretaris yang baru?"
"Iya Pak!" jawab mereka bertiga kompak, lugas dan jelas.
"Bagus, nama saya Sean, saya asisten pribadi direktur utama. Sebentar lagi beliau datang. Ingat semua peraturannya ya, jangan sampai salah."
__ADS_1
"Siap pak!"
Sean pergi, dia akan menunggu di lobby untuk menyambut sang CEO. Pemimpin baru yang akan memimpin perusahaan properti ini.
Tak berselang lama Sean kembali, bersama seorang pria yang entah siapa. Karena semakin pria itu mendekat, Giselle, Putri dan Arumi menundukkan kepalanya memberi hormat.
Mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah sang pemimpin, yang mereka lihat malah sepatunya.
Pintu ruangan Dirut tertutup dan ketiga sekretaris ini mengangkat wajah.
"Iih Gila, auranya mengerikan," ucap Putri dengan tubuhnya yang bergidik merasa takut.
Pintu Dirut yang tadi tertutup tiba-tiba kembali terbuka hingga mencuri perhatian mereka bertiga, Sean kembali keluar.
"Sekretaris Pribadi?"
"Saya Pak, Giselle."
"Oke, masuk."
Deg! Giselle gugup bukan main, tapi dia selalu bisa mengalahkan gugupnya. Beberapa agenda sudah ada di tangan Giselle, berkas itu dia dapat dari Amora kemarin.
Kata Amora berkas inilah yang harus Giselle laporkan pertama kali, lalu keesokan harinya jadwal akan mengalir begitu saja.
Saat Giselle sudah masuk ke ruangan Dirut itu, Sean keluar menutup pintunya.
Giselle terpaku, menatap sang pemimpin yang bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat.
"Sayang."
__ADS_1