
Jam 8 malam, Gala dan Giselle baru masuk ke dalam kamar pengantin. Setelah seharian ini mereka berdua menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga dan para sahabat.
Meski kikuk namun Giselle membimbing langkah, mengajak Gala untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Gala yang tau kegugupan sang istri pun hanya mengulum senyum. Dia juga masih tidak menyangka jika kini dia dan Giselle sudah menikah.
Berulang kali Gala mengucapkan kata syukur di dalam hatinya.
Sampai di kamar, Gala menutup menutup dan mengunci pintu lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Seketika Giselle terkejut, namun bukan berontak, Giselle malah membeku, gugup bukan main.
"Sayang," panggil Gala dan makin beredarlah tubuh Giselle, bulu kuduknya bahkan terasa berdiri semua.
"Kenapa kamu gugup sekali? kemarin saja ciuman ku dibalas, sekarang kenapa pelukan ku tidak kamu balas?" tanya Gala, menggoda.
Sementara Giselle mendengus, dia mencubit lengan yang melingkar di perutnya.
"Aw, jangan dicubit Sayang, dicium saja."
"GALA!! ih kenapa jadi mesum sih!" kesal Giselle, dia segera berbalik dan memukul dada suaminya berulang. Kesal dan malu sekaligus.
Sementara Gala malah terkekeh, manahan kedua tangan Giselle yang memukulnya dan menatap dalam kedua netra sang istri.
"Aku sudah jadi suamimu, jangan panggil Gala lagi."
"Terus panggil apa?"
__ADS_1
"Sayang? Honey?"
"Iissh." Giselle geli sendiri, dulu saat masa sekolah dia yang paling agresif untuk mendekati Gala, namun kini seolah keberaniannya hilang begitu saja. Giselle tidak berani lagi menggoda Gala sedikitpun.
Bukan apa-apa, karena Giselle tau sekarang pasti Gala akan membalasnya lebih, lebih mesuum.
"Panggil Honey saja Ya?" tawar Gala pula.
Giselle yang tidak punya pilihan pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Coba panggil." Titah Gala, dan dengan ragu-ragu Giselle berucap.
"Honey."
"Uh manisnya, lagi?"
"Honey."
"Aku sangat mencintai kamu Sayang," ucap Gala.
Dan sebelum menjawab Giselle memeluk suaminya erat.
"Aku juga sangat mencintai kamu Honey."
"Ayo kita bersihkan tubuh, setelah itu menikmati malam pertama."
"Iissh !" kesal Giselle.
__ADS_1
Gala membantu Giselle untuk melepaskan gaun pengantinnya. Gala bahkan melihat langsung punggung mulus sang istri saat melepaskan gaun itu. Sementara Giselle terus mencoba tenang. Apapun yang ada padanya adalah milik Gala.
Maka dia tidak akan menghalanginya.
"Kamu mau mandi bersama?" tanya Gala dan Giselle mengangguk.
Malam itu mereka mandi berdua, berendam di dalam bathtub berisi air hangat.
Giselle menggosok punggung suaminya dengan lembut, sesekali bahkan memijatnya juga.
"Terima Kasih," ucap Giselle, dia memicingkan wajahnya dan menatap Gala, Gala pun sontak menoleh ke samping hingga mereka saling tatap.
"Terima kasih untuk apa?"
Giselle kembali ke posisi belakang, membuat Gala pun kembali menatap ke depan.
"Terima kasih karena kamu kembali," jawab Giselle.
Gala tersenyum, lalu memutar badan hingga mereka saling berhadapan.
"Terima Kasih," ucap Gala kemudian.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena kamu sudah setia menunggu, aku tidak akan bisa membayangkan andai saat aku kembali kesini kamu sudah bersama dengan yang lain," jelas Gala.
Ketakutan yang juga dirasakan oleh Giselle, Dia takut saat terus menunggu ternyata disana Gala sudah dengan yang lain.
__ADS_1
Tak sanggup melihat wajah sendu Gala, Giselle pun lebih dulu bergerak mengikis jarak, dia menjangkau bibir sang suami dan mulai melumaatnya. Sebuah ciuman yang langsung dibalas oleh Gala, dia bahkan segera menarik tubuh Giselle hingga duduk diatas pangkuannya.
Ciuman penuh cinta dan kerinduan yang begitu dalam.