Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 11#Pernikahan, Nafkah


__ADS_3

Permintaan Rafa yang jujur membuat Kimmy menyetujui tanpa berpikir dua kali. Meski terkesan seperti kakak beradik yang lahir selisih beberapa tahun saja. Orang pasti beranggapan demikian juga, jika melihat komunikasi di antara ia dan pemuda itu.


"Jadi, katakan padaku. Apa pendapatmu tentang perjodohan kita?" Kimmy menatap Rafa dengan tatapan serius tak berkedip.


Biarkan saja to the point karena itu lebih baik bagi mereka berdua. Fakta tidak bisa diubah meski ingin sekali mengabaikan. Suka, tidak suka harus memulai perkenalan tanpa bimbingan orang tua. Secara umur sudah bisa memutuskan sendiri mana yang baik dan mana yang tidak baik.


Rafa menggeser posisi duduknya, lalu meletakkan kedua tangan ke atas meja. Tatapan mata tenang dengan pikiran dingin, "Jujur aku merasa belum siap untuk menjadi seorang imam. Seperti yang kamu katakan, apakah sebagai lelaki sudah bisa memenuhi tanggung jawab seorang suami di kemudian hari."


"Secara fisik, aku siap karena dalam keadaan sehat walafiat. Hanya saja batin masih ragu melangkah ke jalan yang dilandasi tanggung jawab dunia akhirat. Akan tetapi menikah juga memiliki tujuan kebaikan dalam kehidupan nyata."


Rafa terdiam sejenak menghirup oksigen di sekitarnya. Ia merasa harus menjadi memposisikan sebagai pria dewasa baik secara fisik dan juga psikis. Bukan hal sulit karena ia juga seorang pemuda yang memiliki komitmen tinggi ketika sudah memutuskan sesuatu dalam hidupnya.


"Kita berdua pasti tahu tentang tujuan menikah dalam Islam adalah beribadah kepada Allah. Sebagaimana Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits, artinya: 'Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi.' HR. Thabrani dan Hakim.


"Jika aku mengikuti ajaran agama kita. Aku percaya bahwa perjodohan kita merupakan jalan yang Allah pilihkan untuk kehidupan masa depan nanti. Sekarang satu pertanyaanku, maukah Bu Kimmy menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita? Memiliki suami seorang pemuda yang masih berstatus pelajar SMA.

__ADS_1


"Pasti sulit untuk berpikir kita ini bisa menjadi pasangan suami istri karena selain faktor usia. Ibu juga mencemaskan bagaimana rumah tangga kita akan dijalankan tapi untuk itu, aku ingin sedikit kepercayaan agar bisa melangkah maju. Apakah bisa Bu Kim memberikan satu kesempatan untuk kita saling mengenal?"


Panjang kali lebar pembahasan hanya tertuju pada satu arah. Pemuda itu lupa untuk bertanya apa keinginan Kimmy. Suasana membuat Rafa melupakan tujuan awal dan justru memberikan pilihan untuk kehidupan masa depan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Seulas senyum tipis tersungging menghiasi wajah Kimmy. Gadis itu tidak ingin berkomentar terlalu banyak. Apa gunanya barisan kata ketika ia sadar saat ini Rafa tengah sibuk menyatukan satu impian dengan kenyataan semu. Satu sisi rencana kehidupan yang sudah tertata rapi dan di sisi lain hanya tentang kedamaian tanpa badai yang berarti.


Tak ada niat menjawab di hati Kimmy hingga kedatangan pelayan yang membawa pesanan mengalihkan perhatian kedua insan yang terlihat masih begitu serius. Makanan ringan seperti kentang goreng, cake, pizza ditemani minuman dingin menjadi menu pilihan tuk menemani kebersamaan.


"Makanan yang bisa mengenyangkan, mau ku ambilkan?" tawar Rafa dengan tangan kanan yang siap mencomot sepotong pizza hangat di atas meja.


Rasa lapar di perut bersambut makanan halal nan lezat. Apalagi pesanan yang dilakukan Rafa memenuhi selera seorang Kimmy. Sementara di tempat lain tengah terjadi perdebatan yang cukup serius. Obrolan pasutri mengenai nafkah yang selama tiga bulan tidak kunjung didapatkan seorang istri.


"Mas, sampai kapan aku memakai uang hasil kerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita? Apa kamu tidak berniat mencari pekerjaan tetap demi masa depan keluarga kita." keluh sang istri dengan tangan menahan kepergian suaminya.


Berdasarkan agama islam, nafkah istri dari suaminya adalah tempat tinggal, makanan, dan pakaian. Namun, di samping makanan, pakaian, dan tempat tinggal, Syekh Az-Zuhayli menambahkan lauk-pauk, alat kecantikan, peralatan rumah tangga, termasuk asisten rumah tangga.

__ADS_1


Kemudian, di antara beberapa pihak yang wajib dinafkahi seorang laki-laki, istri mendudukkan posisi pertama setelah dirinya dan nafkahnya yang terlewatkan tidak gugur begitu saja. Syekh Musthafa Al-Khin menyebutkan:


يقدم بعد نفسه: زوجته، لأن نفقتها آكد، فإنها لا تسقط بمضي الزمان، بخلاف نفقة الأصول والفروع، فإنها تسقط بمضي الوقت


Artinya, “Setelah dirinya, suami harus mendahulukan istrinya. Menafkahinya lebih ditekankan karena nafkahnya tidak gugur seiring dengan berlalunya waktu. Berbeda halnya dengan nafkah untuk orang tua atau anak. Nafkah mereka gugur seiring dengan berlalunya waktu.


Suara rengekan dari wanita yang ia nikahi selama tiga bulan dengan janji manis tak lagi mampu mengobati rasa sesak di hatinya. Tangan yang bergelayut dihempaskan begitu saja tanpa perasaan, lalu ia kembali melangkahkan kaki menjauh dari ruangan sempit yang menjadi kamar kost. Hidup seperti gelandang tetapi memiliki tempat untuk berteduh.


"Jika bukan karena sandiwara keluargamu, sudah pasti aku masih bersama wanita yang layak untuk masa depanku. Tidak mungkin aku menjadi pria tanpa uang dan hidup seperti sampah masyarakat. Apa aku harus balik menemuinya?" tanyanya pada diri sendiri dengan pemikiran konyol yang berlandaskan ketidakwarasan.


Sekilas ingatan kembali terkenang. Dimana dengan keberanian mengucapkan ikrar janji suci yang membuat dunianya jungkir balik. Kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan karena selalu mendapatkan kemudahan di setiap menginginkan sesuatu tiba-tiba berubah menjadi hidup penuh derita dan serba pas-pasan.


"Sudah ku putuskan, aku bakalan balik ke dia lagi. Siapa yang menolak pesonaku?" Terlalu narsis mengagumi diri sendiri. Sampai tidak melihat cermin betapa buruk isi hati dan pikiran pria itu.


Kembali ke cafe, dimana Kimmy menuliskan sesuatu di atas kertas yang langsung dilipat begitu selesai. Lipatan kertas itu dia sodorkan ke depan Rafa. "Carilah jawaban dalam kurun waktu lima hari ke depan. Keputusanku tergantung hasil dari usahamu, dan juga perlakuanmu."

__ADS_1


"Apa ini?" Rafa mengambil lipatan kertas itu tetapi isyarat jemari Kimmy melarangnya membuka kertas tersebut. "Sesuai keinginanmu, by the way bukankah seharusnya kita latihan basket, ya?"


__ADS_2