Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 48#Sebait Puisi


__ADS_3

Pertanyaan Darren tidak akan mendapatkan jawaban selama pemuda itu hanya sibuk memikirkan segala sesuatunya dalam benak sendiri. Ia sudah memutuskan untuk memisahkan orang tua dari anaknya, tapi dirinya tidak tahu, jika saat ini orang-orang yang ia kenal memiliki hubungan dekat bahkan bersangkutan dengan Rafa.


Pepatah mengatakan dunia tak selebar daun kelor. Ya memang benar begitu adanya. Di mana kita tak tahu siapa dan kapan akan bertemu dengan orang-orang yang ternyata memiliki hubungan atau terikat dengan orang-orang disekeliling kita. Baik itu orang yang kita sayangi ataupun yang kita benci. Fakta itu tidak akan bisa dipungkiri karena memang begitulah kehidupan di dunia ini.


Obrolan kedua orang tuanya dan Sisil akhirnya dihentikan ketika waktu memasuki sholat magrib. Mereka sengaja melakukan shalat berjamaah, lalu melanjutkan dengan sesi makan malam yang memang sengaja untuk semakin mendekatkan diri. Akan tetapi,.posisi Sisil yang tidak membawa pakaian ganti memilih untuk meminjam pakaian milik Keisha.


Gadis itu terlihat lebih natural tanpa make up dan auranya juga keluar cantik alami. Sehingga membuat semua orang menyadari perbedaan dari seorang Sisil di saat mengajar dan saat menjadi orang biasa. Darren yang awalnya tak berpikiran apapun,tiba-tiba mulai merasakan sesuatu yang berbeda.


Rasa yang datang ketika ia tak sadar menatap Sisil lebih dekat hingga tak berkedip. Tindakan pemuda itu, tak luput dari pandangan Lion. Sang ayah hanya tersenyum, tetapi ia juga sadar saat ini posisi Darren masih labil. Berbeda dengan Rafa yang memiliki kedewasaan.


Meski tak pernah tinggal serumah bersama Darren selama bertahun-tahun, ia sebagai seorang ayah tahu karakter dari anaknya sendiri dan bisa memiliki pemahaman tanpa harus menjelaskan dari a sampai z. Sehingga dibiarkannya suasana makan malam lebih tenang dan damai karena untuk pertama kalinya keluarga itu menerima tamu dari luar.


Sejak menempati rumah, keluarga itu tidak mengenal orang-orang disekitarnya. Mereka selalu membatasi kehidupan dari dunia luar karena itu yang terbaik dan meminimalisir hal yang tidak diharapkan. Bukankah menjaga lebih baik?


Seperti sinar rembulan yang selalu menyinari kegelapan di tengah badai kehidupan yang terus mencoba mencabik menggoyangkan iman. Manusia berusaha menguatkan keyakinan agar tetap mencapai ketenangan dengan penerimaan.


"Ini sudah malam, saya permisi untuk mengundurkan diri. Terima kasih atas jamuan makan malam dengan kehangatan keluarga kalian, semoga bisa berjumpa lagi. Assalamualaikum." Sisil yang berpamitan tak menunda langkah kakinya meninggalkan tempat ternyaman kedua selama ia tinggal di kota tersebut.


Disaat hampir saja siap membuka pintu mobil, tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Sontak ia berbalik hingga tak sengaja saling berbenturan kening sebab seseorang yang berdiri di belakangnya. "Aduh, Darren, kamu ngapain di belakang, Miss? Emang ada yang ketinggalan."


"Tidak ada yang ketinggalan, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu pada Miss?" Pemuda itu menatap Sisil dengan tatapan serius, membuat si wanita yang berdiri di depannya menyipitkan mata mencoba untuk mengerti kemana arah pembicaraannya.


Sisil terdiam tanpa jawaban. Sehingga membuat Darren menganggap itu sebagai persetujuan, lalu dengan perasaan yang ia sendiri tak paham. Tiba-tiba tangannya dengan cekatan merengkuh pinggang ramping sang guru, kemudian tanpa permisi membenamkan bibirnya menyapa bibir ranum semerah cherry.

__ADS_1


Niat hati ingin bertanya tentang Rafa, hanya saja melihat seulas tipis senyum yang menghiasi wajah sang guru. Mendadak pikiran teralihkan hingga melakukan tindakan diluar rencananya. Jelas sekali, Sisil terperanjat dengan bola mata membulat karena mendapatkan serangan kilat.


Sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi ketika sentuhan itu benar-benar membuatnya tidak bisa berkomentar lagi. Kebingungan di antara kedua insan tampak begitu nyata, tetapi setelah melepaskan diri. Darren bergegas meninggalkan wanita yang masih terpaku.


Pemuda itu terlihat salah tingkah padahal yang seharusnya merasa seperti itu adalah Sisil. Entah apa yang terjadi pada Darren hingga tiba-tiba mencuri ciuman pertama yang selama ini selalu dijaga. Kebingungan Sisil tak jauh berbeda dengan perasaan milik Darren.


Di mana pemuda itu memegangi dada begitu sampai di dalam kamar seraya mengusap bibirnya sendiri yang masih bisa merasakan manisnya bibir sang guru. Perasaan yang ia rasakan sangatlah aneh, hingga begitu lancar membuat seorang guru terdiam oleh satu sentuhan.


Biarlah malam berlalu menikmati rasa yang tersisa, tuk menjemput asa menyambut keesokan harinya. Meski dunia akan selalu berputar tanpa mempedulikan setiap masalah dari semua insan. Waktu berlalu begitu cepat meninggalkan rasa dan masa.


Di sinilah mereka kini, berada di sebuah tempat yang memiliki pemandangan alam berupa danau dan hutan dengan keindahan menakjubkan. Semua hewan masih sangat suka mendiami tempat tersebut. Suara gemericik air terjun terdengar begitu jelas dimana suasana semakin indah bersambut kicauan burung yang begitu merdu.


Setelah semua yang terjadi di antara ketegangan dan juga kebenaran serta keputusan. Akhirnya waktu bisa membebaskan setiap rasa dari kekangan. Seulas senyum yang menghiasi wajah dengan tatapan mata kian terpana menambahkan kehangatan di dalam kebersamaan


"Wah, indah sekali! Apa kita akan berkemah disini?" tanya seorang pemuda tak melepaskan perhatian dari pemandangan di sekitarnya.


"Jangan seneng dulu, kalian akan memiliki waktu bersama di hari terakhir. Sehari semalam di sesi kemah penghujung acara. Selain itu, semua bisa mengikuti aturan yang akan disampaikan oleh setiap leader tim masing-masing. Paham?" Seorang menjelaskan semua secara singkat tanpa menambahkan klue tambahan.


Suara riuh anak-anak dari tim basket terdengar meriah, membuat suasana alam semakin dipenuhi keceriaan. Mereka juga penasaran dengan orang yang dimaksud oleh si pemandu camping. Siapa orang yang mereka harapkan untuk hadir dan orang tersebut hanya akan datang di waktu yang tepat.


"Okay, Anak-anak. Kalian bisa mendirikan tenda sekarang dan setiap kelompok akan memiliki satu garis dari deretan sesuai arah mata angin dan ya, khusus ketiga orang siswa yang memang menjadi leader harus tinggal di dalam satu tenda!"


Si pemandu camping memberikan arahan agar semua murid mendengarkannya tanpa terkecuali. Akan tetapi, justru tak seorang pun mau mendengarkan dimana mereka semua mengabaikan dan memilih membubarkan diri. Satu per satu tenda mulai didirikan sesuai pembagian kelompok yang sudah dirundingkan.

__ADS_1


Senja tak mungkin tuk kembali ke dalam pangkuan matahari, tetapi dunia kan selalu menyinari dalam gelapnya malam yang tak berbintang. Seperti sinar sang rembulan di tengah badai kegelapan. Sisa rasa di hati tak pernah menyatukan asa yang tersisa. Serpihan cinta dalam keindahan kan selalu tertawan di dalam sanubari.


Sebait harapan dari puisi yang tertinggal dan tertera dalam setiap jiwa yang memiliki raga. Setiap kisah yang selalu tentang sebuah awal menuju akhir, tetapi mungkin akan kembali mencapai awal tanpa ada pertemuan dari sisa kehidupan. Seperti halnya yang terjadi saat ini, di mana setiap sisi melakukan kewajiban yang membuat mereka sibuk menata masa depan.


"Kim, apa kita harus pergi sekarang? Mager, loh. Stay saja, ya, masih betah di sini." Rafa merajuk, membuat sang istri menoleh menatap ke arahnya. "Please nggak usah liatin aku gitu, udah sudah sering lihat juga, kan?"


Narsis. Begitulah Rafa ketika bersamanya. Celotehan pemuda itu begitu absurd sehingga ia seketika mengambil kaos dari dalam lemari. Lalu, melemparkannya ke wajah sang suami. "Kerjaanmu itu, Rafa. Selalu saja menggombal, pergi mandi sana!"


"Istriku, galak benar. Mandiin donk!" tegas Rafa ikut menggoda Kimmy yang memang selama beberapa waktu mulai mengalami hal-hal aneh.


Di mana tidak selera makan, tapi pagi-pagi sudah pesan rujakan. Belum lagi permintaannya itu random, seperti yang barusan dilakukannya yaitu berdiri selama sepuluh menit diatas dua kursi yang memiliki jarak satu meter. Penyebabnya hanya karena ia ikut makan dua potong belimbing wuluh yang dipetik saat jalan pagi.


Rengekan Rafa tak dipedulikan karena semakin melantur dari a sampai d. Sehingga ia memilih kembali sibuk mengeluarkan semua pakaian dari dalam lemari, lalu berusaha untuk merapikan hingga masuk ke dalam tas untuk di kemas. Selama tiga hari terakhir mereka tinggal di sebuah tempat yang bisa dibilang tidak jauh dari asrama.


Kimmy memikirkan kebaikan semua orang karena tidak mungkin membuat Rafa menginap di asrama bersamanya. Bisa-bisa semua orang gempar dengan kelakuan sang suami yang terlalu manja. Apalagi jika mode pemuda itu sudah mulai menjadi seorang suami. Bisa jadi, seluruh asrama merasa ngeri karena cara Rafa memperlakukan dirinya melebihi pria dewasa. Si badboy yang selama ini tidak pernah pacaran, tapi langsung memiliki istri hingga membuat seorang guru kelimpungan. Seperti apa Rafa, hanya Kimmy yang tahu jawabannya.


"Rafandra Darren Adelio, hurry up going to take a shower!" Seruan Kimmy sudah mencapai titik kesabaran, geram rasanya karena sudah mengingatkan pemuda itu untuk mandi sampai tiga kali.


Rafa bukannya menurut, tapi malah semakin keras kepala seakan tengah menguji kesabarannya sampai di mana. Jika bukan mengingat waktu, ia sudah pasti akan membiarkan pemuda itu tidur seharian tanpa harus mengurus waktunya bekerja. Akan tetapi, jadwal sudah tidak mungkin diubah.


Apalagi untuk dibatalkan, lalu diganti lain hari. Semua karena pemuda itu juga harus melakukan fase terakhir sama seperti tim basketnya. Terkadang ia tak ingin bersikap keras hanya saja Rafa lebih sering mengedepankan sifat manja yang seringkali merajuk.


"Istriku, aku pasti mandi, tapi mandiin, ya," capnya masih kekeh dengan permintaan yang sama, membuat Kimmy melepaskan semua pakaian yang ia pegang hingga berjatuhan ke lantai. Kemudian berbalik menatap ke arahnya dengan tatapan tenang nan tajam. "Astagfirullah, istriku sudah marah, kabuuur."

__ADS_1


Langkah kaki yang terburu-buru, membuat Rafa harus menerima akibat ketika tak sengaja mencium tembok yang ada di dalam kamar. Suara rintihan cukup terdengar jelas, tapi Kimmy hanya menggelengkan kepala karena tingkah laku konyol Rafa.


Pemuda itu selalu saja membuatnya heran. Apa yang terjadi dengan sang suam? Kenakalannya tidak berkurang ketika bersamanya, justru terus bertambah setiap waktu. "Kuharap kamu senang dengan hadiahku sebagai awal hubungan kita yang baru. Semoga kita berdua bisa mengerti bahwa apa yang terjadi untuk kebahagiaan bersama Rafandra Darren Adelio, suamiku."


__ADS_2