
Kesepakatan di antara ketiga insan itu membuat mereka meninggalkan tempat yang baru saja menjadi kebersamaan. Langkah kaki berjalan menghampiri pemuda dengan wajah tampan yang merupakan kembaran dari sang teman. Ya meski mereka tidak mengetahui hal itu.
Mereka ingin mengenal Rafa setidaknya sekedar untuk basa-basi dengan berusaha mencoba mengenal pemilik wajah tampan itu. Tidak tahu pemuda yang ia datangi adalah orang baik dengan karakter sama seperti Darren atau justru bertolak belakang. Siapa yang bisa memastikan itu?
Terlihat William menjadi pemimpin untuk perkenalan kali ini. Dimana pemuda itu dengan santainya mengulurkan tangan membuat Rafa yang mendengarkan musik hanya menatap nanar tangan kosong yang terulur ke arahnya. Gerakan bibir dari William cukup bisa di mengerti oleh Rafa.
Sebenarnya tidak ingin terlalu memperhatikan tetapi ia juga tidak mungkin mengabaikan sehingga menerima uluran tangan sambil melepaskan earphone yang menutup kedua telinganya. Ia tahu, ketiga insan itu hanya ingin basa-basi. Jadi lebih baik bersikap santai tanpa harus mempermasalahkan hal lainnya.
"Kalian siapa?" Rafa melepaskan tangan, lalu mempersilah ketiga insan yang menatapnya dengan tatapan aneh untuk duduk.
William yang merasa dirinya di abaikan memilih duduk tanpa ingin menjawab pertanyaan Rafa, sedangkan Duo K yang melihat kawan mereka ngambek hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu ikut duduk, barulah menyebutkan nama masing-masing sebagai perkenalan resmi yang membuat Rafa hanya ber oh ria.
Setelah saling mengetahui nama satu sama lain. Obrolan di lanjutkan dengan membahas random sebagai teman duduk bersama. Selain mengobrol tentang ilmu yang menjadi keluh kesah para siswa di asrama. Mereka juga dengan santai membahas tentang keahlian masing-masing.
Obrolan dari utara ke selatan yang bisa menjadi bahan perdebatan membuat keempat insan itu terlihat mulai akrab. Meski Rafa sendiri hanya sibuk mendengarkan tanpa memberikan penjelasan ataupun berusaha untuk memperkenalkan diri lebih dalam lagi. Pemuda itu sesekali terlihat obrolan ketika menjawab pertanyaan.
__ADS_1
Kebersamaan singkat yang membuat awal pertemanan. Dimana Rafa bisa merasakan ketulusan ketiga insan yang duduk di depannya dan berusaha untuk mendekat mencoba mengenal dirinya. Hanya saja, saat ini, ia tidak ingin terlalu mudah membuka laman kehidupan pribadi.
Ia merasa di situasi yang tak seorangpun bisa memahami akan lebih baik sendiri. Kesendirian adalah hal terbaik baginya saat ini, mungkin sampai ia mendapatkan kedamaian di dalam hati setelah semua peristiwa yang lalu. Sementara itu, di sisi lain Darren terus mengayuh sepeda lebih cepat dari biasanya.
Keringat dingin bercucuran membasahi wajah tampannya tetapi ia tak peduli karena hati merasa semakin gelisah. Pemuda itu cemas dengan perasaan was-was. Rasa takut yang menyergap berselimut keraguan. Bagaimana jika kedua orang tuanya tahu, Rafa ada Rafa di kota yang sama dengan tempat mereka berada.
Jika dipikirkan lebih jauh lagi, maka bukan tidak mungkin ayah dan bunda akan keluar dari rumah. Lalu berusaha untuk mencari keberadaan putra mereka yang sudah pasti itu akan menjadi pelanggaran perjanjian di antara mereka. Untuk kali ini ia tak ingin kehilangan fokus dan kembali menjadi putra yang terabaikan.
Semua derita yang selama ini ia rasakan terus membayangi kehidupan masa kini yang tentram dengan kebahagiaan nyata. Tanpa sadar perjalanan selama tiga puluh menit menuju perumahan tempat ia tinggal terasa begitu lama hingga tampak sebuah rumah dengan cat biru langit di padukan hiasan tangga bebatuan yang terlihat seperti nuansa pantai menyambut kepulangannya.
Pemuda itu buru-buru turun dari sepeda yang ia tunggangi dan langsung memarkirkan si roda dua ke tempat biasanya. Langkah kaki terhenti sejenak karena ia tak ingin membuat kedua orang tuanya curiga. Maka ia melakukan terapi ketenangan dengan menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskan secara perlahan.
Wajahnya yang gelisah mulai kembali normal meski tak mengubah emosi hati. Apalagi pancaran sorot matanya yang terlanjur di penuhi keraguan berselimut rasa takut yang berlebihan. "Assalamualaikum , ayah, bunda!"
__ADS_1
Suaranya cukup terdengar hingga ke dalam, dimana pintu rumah yang terbuka lebar membuat ia melihat kedatangan pria yang tersenyum lebar menyambut kedatangannya. Siapa lagi jika bukan sang ayah tercinta.
"Waalaikumsalam, Nak. Darren kamu sudah pulang? Bukannya tadi pagi izin pergi sampai sore ya? Kok cepat pulangnya, Nak." Lion membiarkan sang putra meraih tangannya hanya untuk memberikan kecupan telapak tangan sebagai bentuk penghormatan.
"Iya, Yah, tapi kebetulan teman-teman yang lain harus ikut ujian. Jadi aku sengaja pulang lebih awal. Lagian besok juga ada ujian yang sudah di sepakati oleh Profesor Sisil." jelas Darren yang berusaha untuk santai. Meski pemuda itu masih terbayang wajah sang saudara kembar yang tinggal di asrama.
Bunda melambaikan tangan dari arah dalam yang tentu saja terlihat dari depan pintu, membuat kedua pria beda usia berjalan beriringan memasuki rumah. "Wah, putraku sudah pulang. Ayo, kita makan siang bersama! Kebetulan baru mateng semua dan menu siang ini, kami yang masak berdua loh, Nak."
Rumah yang ditempati orang tua dari si kembar tidaklah semewah rumah yang ada di Jakarta. Rumah di perumahan Permai itu sangatlah sederhana karena hanya bangunan sepetak dengan dua kamar, satu dapur, satu ruang makan yang bersebelahan dengan ruang tamu. Meski begitu memiliki toilet di dalam kamar masing-masing.
Rumah itu bukanlah milik mereka tetapi rumah yang sengaja di sewa untuk di tempati selama beberapa tahun ke depan. Masalah bisnis memang menjadi alasan utama kepergian Keisha dan Lion dari kota Jakarta. Hanya saja, tidak seorang pun tahu, jika alasan utama pasutri itu adalah Rafael Darren Adelio.
Saudara kembar Rafa yang memberikan persyaratan khusus pada orang tuanya sendiri hanya untuk mendapatkan kesempatan bisa tinggal seatap. Sebenarnya Keisha dan Lion ingin mempertemukan si kembar sebagai keluarga tapi takdir mengubah rencana menjadi wacana semata.
Sayangnya, harapan sederhana mereka tidak tercapai karena memberatkan perasaan dari salah satu putra yang mengalami derita. Sebagai orang tua yang menyadari kesalahan di masa lalu, pasutri itu tidak bisa mengabaikan permintaan Rafael. Sehingga memutuskan menerima perjanjian tinta di atas putih yang menjadi perpisahan keluarga.
Rafael mengira sikap mereka selama bertahun-tahun tidaklah karena meninggalkan bayi yang baru lahir tanpa pernah menengok meski sebulan sekali. Sehingga untuk menebus kasih sayang dan waktu yang hilang, maka pasutri itu harus melepaskan putra satunya demi putra yang lain.
__ADS_1
Sebagai orang tua harus menanggung setiap kesalahan di masa lalu tanpa memikirkan hasil akhirnya. Tanggung jawab yang tidak bisa keduanya lepaskan begitu saja ketika menyangkut kedua putra kembarnya. Sehingga sampai detik ini, baik Keisha maupun Lion masih berusaha membujuk Rafael agar mau pindah dan tinggal di Jakarta.
"Alhamdulillah, lezatnya tahu bacem ini, Bunda. Rasanya itu, benar-benar enak, lho." Rafael terus mengunyah sepotong tahu bacem yang memiliki rasa pas serta bumbu yang kental membuat lidah bergoyang.