
Wajah cantik dengan kulit putih mulus terlihat semakin anggun karena cahaya di sekitar taman begitu temaram. Sesaat terpana melihat pesona sang guru pengganti. Apalagi helaian anak rambut tertiup angin mengganggu pahatan garis sempurna yang memang sedap dipandang.
Debaran jantung mulai berdegup kencang seakan baru saja lari marathon, "Kenapa Ibu diam? Bisa jelaskan bagian mana dari diriku yang terlihat tidak dewasa."
"Duduklah! Tidak baik bicara sambil berdiri," Kimmy menggeser posisinya hingga duduk di ujung kanan bangku taman, ia membiarkan Rafa duduk di ujung kiri menyisakan jarak lima belas sentimeter.
Tak ada kata selama beberapa detik selain suara helaan napas pelan sekedar sebagai penenang. Keduanya sadar rasa canggung itu jelas ada dan menjadi ketidaknyamanan duduk berdua tanpa ada obrolan. Satu sisi Rafa menunggu jawaban dan sisi lain Kimmy sibuk mencari kata yang tepat untuk mengatakan isi pikirannya.
"Apa kamu tidak keberatan dengan perjodohan ini? Kamu memang sudah memiliki KTP sendiri, tapi pernikahan bukan sekedar memiliki surat nikah saja. Apakah sudah siap menjadi seorang imam? Aku tidak bermaksud menyudutkan kamu sebagai seorang lelaki tapi ...,"
Tatapan mata menatap ke depan. Dimana di depan sana lalu lintas kendaraan terlihat begitu sibuk menjelajahi malam, "Jujur saja, kehidupan masa laluku tidak baik dan siapapun yang menjadi suamiku nanti, bisa saja kecewa."
"Aku berusaha untuk tidak mencampur adukkan hubungan kita sebagai guru dan murid karena disini kita sama-sama orang asing. Masa depan setiap orang pasti ada yang sudah dirancang sedemikian rupa, tapi aku hanya ingin memiliki suami yang mau menerima diriku apa adanya.
"Hanya saja, aku sudah terlanjur berjanji pada Mama akan menerima perjodohan tanpa pemberontakan. Keputusan ada ditanganmu, apakah melanjutkan atau menyudahi. Tanyakan pada ayah dan bunda karena beliau sudah tahu tentang masa laluku.
"Selamat malam, aku harus kembali bekerja. Assalamualaikum," pamit Kimmy beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu tak memberikan kesempatan pada Rafa untuk mencerna bahkan menyela pengakuan darinya.
Setelah bicara panjang kali lebar tiba-tiba senyap tanpa ada perkataan lain yang bisa menyadarkan kesadarannya akan tindakan sang guru pengganti. Ia tak menyangka bahwa pilihan kedua orang tuanya adalah wanita dewasa yang memang sudah pantas menikah.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa jadi rumit seperti ini? Apa iya harus menerima atau pura-pura saja sudah punya pacar. Eh, kenapa jadi ikut-ikutan ide Bu Kim sih." Rafa menepuk keningnya sendiri setelah menyadari ucapan absurdnya.
Malam ini bukan menjadi malam kejutan saja karena setelah kepergian Kimmy yang memang tidak bisa meninggalkan urusan bisnis. Justru membuat kedua orang tua Rafa menanyakan beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai mahar pernikahan. Obrolan itu di dengar Rafa yang hanya bisa menunduk tanpa memberikan komentar.
Sudah jelas perjodohan tidak bisa dibatalkan hanya saja. Apa maksud Bu Kim yanga mengatakan bahwa masa lalu wanita itu tidak baik? Pernah gonta-ganti pacar kah atau menjadi gadis nakal? Jika memang ia menjadi calon dari sang guru pengganti, maka berkah mengetahui kebenarannya.
"Maaf, Rafa harus menyela obrolan kalian. Apakah ada yang mau menjelaskan masa lalu Ka Kimmy? Saat kami mengobrol di luar, dia ingin aku bertanya pada kalian." ujar Rafa mengalihkan obrolan para orang tua.
Papa Fairuz mengangguk paham, lalu mulai menceritakan kehidupan Kimmy sejak lahir hingga masa kehancuran yang merenggut kepercayaan putrinya. Pria itu tampak berusaha tegar dengan kisah yang pasti tak sanggup untuk terus dikenang. Cerita yang berawal dari kebahagiaan berubah menjadi rasa sedih nan pilu.
Selama satu jam tak mengakhiri satu kisah kehidupan, membuat Rafa menundukkan pandangan. Hatinya ikut merasakan sakit ketika mendengar bagaimana Kimmy berjuang untuk melewati semua perawatan yang pasti memerlukan perjuangan luar biasa. Seketika ia merasa naif jika mengedepankan egonya sendiri.
"Rafa, bagaimana dengan jodohmu. Apa kamu bisa menerima perjodohan ini?" tanya Bunda yang sibuk membenarkan jilbab tanpa menoleh ke belakang.
Putra kesayangannya tengah melamun memikirkan lapisan langit ke tujuh. Entah apa yang menguasai pikiran pemuda satu itu sehingga menghilangkan tatapan mata tajam yang berubah menjadi sendu. Akan tetapi, Ayah Lion menyadari sang putra berusaha untuk memikirkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan.
"Bunda, biarin Rafa dulu. Putra kita cukup dewasa untuk memutuskan mana yang baik dan mana yang benar." tegur Ayah Lion tak ingin suasana di dalam mobil berubah tak enak.
Sebenarnya keputusan menjodohkan Rafa dengan Kimmy hanyalah sebagai alasan agar mereka bisa tenang ketika harus memulai pekerjaan di luar kota nantinya. Bisnis selalu mengalami inflamasi yang terkadang sangat signifikan. Permasalahan yang datang tidak bisa menunggu nanti, seperti yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Awalnya semua baik dan tidak ada hal yang diduga akan menjadi pemicu penurunan omset tapi tiba-tiba ada pihak yang berusaha menjatuhkan bisnis keluarga mereka. Sebenarnya bisa saja mengajak Rafa untuk pindah ke kota baru, sayangnya kehidupan yang baru membutuhkan adaptasi lama. Sementara pendidikan sang putra tidak boleh dihentikan.
Pertemuan dengan kedua sahabat menjadi jawaban yang Allah tunjukkan. Kemana mereka harus merelakan tanggung jawab Rafa ditangan yang tepat. Egois sih tapi bagaimana lagi? Mereka orang tua yang berharap bisa memberikan yang terbaik untuk sang putra tunggal. Meski jalan satu-satunya adalah menikahkan dua insan asing dalam ikatan sakral.
Malam yang menjelaga membuai kesadaran dalam ketetapan. Setiap insan yang bernyawa berusaha memenuhi mimpi dalam dunia nyata. Seperti sang waktu yang berputar tanpa henti, begitulah takdir menghampiri. Tak lagi diragukan jika setiap kisah memiliki awal dan akhir yang tak menentu.
Keesokan harinya, Rafa sudah berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Pemuda itu sengaja berdiri di depan ruang guru yang pasti ruangan guru pengganti. Padahal jarum jam baru saja menujukkan pukul enam lebih dua menit tapi sudah seperti Pak satpam yang bertugas di pintu gerbang.
Suasana sekolah masih sepi seperti kuburan karena memang anak-anak terbiasa datang setelah pukul enam tiga puluh dan itu berarti tidak akan ada ketenangan lagi. Penantian selama lima menit akhirnya berakhir ketika ekor mata melihat langkah kaki yang mendekat kearahnya. Sontak ia mendongak melihat siapa yang datang.
Wajah yang semalam tetapi pagi ini terlihat lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata. "Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan." tegasnya tak ingin memberikan waktu tambahan yang bisa menjadi gosip seantero sekolah.
"Tadi pagi aku naik taksi buat ke sekolah, bisa nebeng mobil ibu pas pulang sekolah?" tanya Rafa yang membaca suasana sekitarnya mulai tak nyaman.
Ini anak kenapa ya? Jelas-jelas aku lihat motornya diparkiran. Masa bilang naik taksi, aneh, tapi mungkin sebaiknya ku iyakan saja.~batin Kimmy seraya menganggukkan kepala, lalu berlalu memasuki ruang kerjanya.
Sementara Rafa melenggangkan kaki meninggalkan lorong ruang guru. Pemuda itu hanya berharap bisa ngobrol dari hati ke hati karena melihat kedekatan kedua orang tua mereka. Jelas saja perjodohan tetap berlangsung. Niat hati ingin menolak tapi setelah mendengar kisah milik Kimmy.
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Rasa yang kini hinggap menyergap hatinya, "Apapun yang akan terjadi nanti, aku harus tau keinginannya dulu."
__ADS_1