
Kisah cinta akan selalu memiliki dua jalan yang sama yaitu perpisahan dan pertemuan. Akhir dan awal tak ada yang menentukan atau bisa memastikan ke mana arah tujuan hingga setiap insan yang merasakan arti cinta sejati hanya mengerti bahwasanya, cinta itu bukan untuk selalu saling memiliki, tetapi menerima apa adanya tanpa syarat.
Setiap hubungan yang terbaru dengan kasih sayang akan memiliki pelabuhan. Tak selalu tentang kisah cinta antara dua insan lawan jenis, tetapi dibalik ikatan persahabatan dan permusuhan pun juga memiliki rasa yang bisa kita semua lihat. Tidak semuanya akan menyetujui. Meski hal tersebut menjadi satuan pasti yaitu semua orang tidak bisa menghindari hal yang dikatakan takdir.
Seperti hubungan antara Kimmy, dan Rafa, Sisil dan Darren serta orang-orang di sekitarnya. Semua memiliki ikatan hati yang tidak bisa dijabarkan, tetapi dari segi besarnya pengorbanan tentu saja tidak semua sanggup melakukan. Begitulah kenyataan yang ada.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat membawa suasana yang tenang kemarin malam, tapi tidak malam ini. Dimana tiba-tiba kedatangan Rafa dan Kimmy mengubah suasana. Kedua insan yang sudah lama mereka nanti. Apalagi saat datang bersama tampak begitu akrab berjalan beriringan.
Tatapan mata saling menunjukkan kasih sayang, membuat yang lain penasaran akan hubungan di antara sang pelatih dan muridnya.
"Selamat malam, semuanya. Rafa, kau bisa bergabung dengan yang lain dan ibu akan membicarakan beberapa hal dengan pengawas. Oh ya, persiapkan diri kalian untuk pertandingan final!" Kimmy menyapa Anak-anak sekaligus memberi perintah yang tidak ingin diganggu gugat.
"Mengingat hari kemarin, ibu harap kalian sudah belajar dari satu kesalahan itu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini, jika kalian berbuat kecurangan, maka ibu akan jamin Rafa tidak kembali ke sekolah kita. Ingat itu, guys."
"Astagfirullahaladzim, Istriku, kenapa sih, baru saja baikan udah bikin masalah lagi. Sabar Rafa, cuma kamu yang paham dengan ancamannya," gumam Rafa lirih dan hanya bisa tersenyum simpul mendengar ultimatum sang istri, sedangkan yang lain hanya bisa manggut-manggut meski bingung dengan sikap Bu Kim yang sangat protektif pada leader.
Tentu saja mereka tidak sadar akan protektif dari sang guru karena tanggung jawab yang double ada di pundak wanita itu. Setelah menikah, ia memiliki kehidupan yang lengkap tetapi complicated. Sehingga tak seorangpun akan bisa memahami posisinya. Seperti yang dikatakan Kim, Rafa bercengkrama dengan teman-teman lain untuk menghabiskan waktu bersama.
Setelah lama tidak berjumpa, mereka saling berbagi kisah dengan beberapa pertanyaan dan jawaban mengalir bagaikan air terjun. Meski begitu, yang mendapatkan pertanyaan lebih banyak adalah Rafa hingga pemuda itu lebih sering melemparkan senyum saja. Obrolan Anak-anak begitu seru sampai lupa bahwa mereka ada di hutan.
Sementara itu, Abimana terus mengawasi melihat bagaimana kedekatan Rafa bersama timnya. Sejak awal pertemuan, ia memang sadar akan hubungan persaudaraan di dalam tim tersebut. Baginya, ikatan seperti itu lebih baik dibandingkan sibuk mengejar posisi leader. Begitulah pemikiran Abi.
__ADS_1
Akan tetapi tidak dengan Louis yang justru menatapnya dengan tatapan tak suka. Setiap kali melihat Rafa, ia berpikir pemuda itu terlalu lemah. Bagaimana bisa menjadi kapten basket? Padahal tidak tahu apapun. Keheranan, tetapi tidak bisa melakukan apapun.
Semua yang terjadi atas perintah Kimmy. Dimana semua anak didik mendapatkan hak dan kewajiban untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mau berubah menjadi pria dewasa. Pelatih selalu begitu, memberi kesempatan kedua ketika baru melakukan kesalahan pertama.
"Rafa, apa kamu tidak mau kembali ke sekolah kita? Selama ini bahkan tidak mengirimkan pesan atau melakukan panggilan atau jangan-jangan sudah sibuk ngapelin pacar, ya?" Hars dengan antusias menggoda Rafa karena tak sengaja melihat stempel merah di leher sang leader.
Godaan itu hanya ia tanggapi dengan seulas senyum tipis seraya menggelengkan kepala karena memang tidak memiliki pacar. Rona bahagia terpancar dari wajah Rafa, membuat teman-temannya semakin penasaran. Baru pergi dalam hitungan mau delapan minggu, tapi terlihat banyak perubahan.
Perubahan ekspresi itu seakan berkata bahwa pemuda satu itu memiliki masa kini yang cukup baik untuk membuat kehidupan semakin lebih baik lagi. Meski begitu, ada tanya yang menyapa. Wanita mana yang bisa mengambil alih kepercayaan si bad boy dingin yang tak sekalipun pacaran itu?
Rafa memang nakal dengan sikap absurd dan juga tutur kata tajam seperti pedang yang seringkali membungkam banyak orang. Seluruh sekolah tahu, bahwa si bad boy penghuni hati banyak siswi merupakan pemuda dingin dan anti pacaran. Semua remaja putri dianggap sama sebagai teman, bahkan tanpa pikir panjang dijadikan adik.
Oleng parah memang anak satu itu, meski terkenal karatan karena kolot tidak mau pacaran. Justru para siswi tidak pernah berebut hanya untuk mendapatkan perhatian si badboy. Meski begitu, tak jarang ada mengirim hadiah secara diam-diam. Unik dan tak bisa dihentikan.
Penolakan itu sangatlah wajar karena memang Rafa belumlah menunjukkan kemampuan asli yang sudah dirinya lihat. Hati setiap pelatih akan sama, yaitu mengenali bakat dari gerakan anak didiknya. Siapa yang bisa membaca potensi dari setiap siswa, maka memiliki kesempatan memberikan teknik pelatihan sesuai kemampuan.
"Masih ada waktu besok, pilih saja mau anak-anak yang tanding atau kalian dan tiga siswa pilihan. Apapun keputusan silahkan umumkan pagi hari, aku permisi," pamit Kimmy meninggalkan kertas rencana tugas untuk hari esok di atas meja.
Kepergian wanita itu, membuat kelima pengawas desas desus berdebat akan melakukan apa. Apa harus langsung menerima keputusan Kimmy atau memilih pilihan kedua dengan melakukan pertandingan. Guru melawan murid? Apa tidak terlihat menjadi penekanan batin, ya?
Bayangkan saja, jika siswa memiliki rasa hormat, lalu bagaimana akan melawan pelatih mereka? Tidak mungkin, tetapi itu hanyalah pemikiran kolot yang berbanding terbalik dengan pemikiran anak-anak. Siapa yang siap bertanding? Tentu setiap jiwa yang memiliki keberanian.
__ADS_1
Lawan akan selalu berganti, dimana setiap tangga fase pelatihan menjadikan permainan lebih baik. Begitulah roda waktu yang membuat seorang petarung melakukan perjuangan dengan semangat empat lima. Layaknya sinar sang surya memberikan kehangatan walau sekilas cahaya di bawah awan mendung di angkasa.
Embusan semilir angin pagi berselimut kesegaran udara bersahutan suara peluit yang terdengar bergema membangunkan semua anggota camping yang baru saja terlelap karena begadang semalaman. Anak-anak berpikir tidak ada kegiatan lagi, tapi harus menikmati tarikan paksa kesadaran karena sayup-sayup berkumandang pengumuman dari arah lapangan.
Tampak beberapa siswa sudah berdiri diluar tenda memperhatikan kehebohan pagi yang ternyata di lakukan oleh Zhang. Pemuda satu itu benar-benar kurang kerjan. Akan tetapi melihat mata merah dengan wajah pucat, jelas juga ikut bergadang. Lalu, apa alasannya membangunkan semua orang?
"Semangat paginya kok mlempem, ya?" Zhang melambaikan tangan membuat semua orang berjalan enggan mendekati lapangan.
Ia tahu, Anak-anak merasa malas dan ingin kembali tidur. Dia pun sama, tapi setelah mendapat pesan dari Bu Kimmy. Jangankan mimpi indah, sekedar memejamkan mata saja, ia langsung terjaga. Rasa kantuk bahkan takut memeluknya kembali tuk terbaring di pulau kapuk.
"Jadi, pagi ini akan ada kejutan pertandingan. Sebelum itu, kalian memiliki waktu tiga puluh menit untuk bersiap dan lima belas menit untuk sarapan. Total waktu empat puluh lima menit. See you later, guy's!"
Hah? Apa cuma itu yang membuat Zhang memakai toa membangunkan mereka. Rasanya ingin menceburkan anak satu itu ke danau di tengah hutan, tapi ingat bahwa mereka masih di bawah posisi si pemuda narsis itu. Langkah kaki kembali ke tenda. Tak seorangpun bisa tenang karena waktu benar-benar di pas tanpa ada tambahan.
"Eh, ini Rafa kemana? Bukannya semalem pamit tidur duluan, ya?" Mahmud merasa bingung karena baru sadar di tenda mereka hanya ada tiga orang saja.
Hars mengedikkan bahu, lalu mengambil handuk yang berada di atas tas camping. Ia tak lupa mengambil tas kecil berisi peralatan mandi seadanya. "Sudahlah, pasti anak itu lagi jalan-jalan. Tau sendiri tidak bisa diem orangnya, kuy, kita mandi!"
Benar juga yang dikatakan Hars. Akhirnya satu per satu anak menuju ke tempat dimana mereka bisa melakukan ritual mandi. Suara gemericik air terjun terdengar bak melodi alam nan memukau dengan pemandangan segar layaknya dinding kehidupan. Rimbunnya pepohonan menambah suasana semakin meneduhkan kalbu.
Kesibukan anak-anak begitu serempak menuntaskan kewajiban membersihkan diri, sedangkan di sisi lain hanya ada sikap manja yang membuat hati mulai panas. Sudah kesekian kali mengingat, tapi masih saja di abaikan. "Jadi, suamiku tidak mau bangun? Apa kamu tahu, di sana para pengawas menganggap kemampuanmu tidak layak untuk menjadi leader."
__ADS_1
"Apa itu penilaian mereka benar, suamiku? Sampai kapan kamu menyembunyikan jati dirimu hanya untuk terlihat standar di mata semua orang. Aku tidak mau, bayi kita mengikuti jalan ayahnya yang suka menutup diri. Jadi, com on fighting!" seruan Kimmy berusaha mengorkan semangat, tetapi Rafa yang terlelap seketika terbangun karena mendengar sesuatu yang menarik.
Ditatapnya sang istri dengan mata menyipit seraya menangkup wajah yang terlihat selalu cantik tanpa polesan make up tebal, "Coba ulangi, lagi!"