Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 46#Karakter Sama, Tindakan Sisil


__ADS_3

Pak Ilyas terkekeh mendengar keseriusan Kimmy. Gadis yang selalu memiliki karakter unik bahkan tidak bisa ditundukkan dengan satu langkah skakmat. Tentu mantan siswanya tahu, kenapa ia memberikan pujian sebagai penyambutan.


Namun, Kimmy enggan untuk menanggapi dan justru mempertanyakan tentang perkembangan Rafa. Kenapa seorang pelatih profesional di bidang basket memperdulikan seorang siswa yang memiliki IQ. Sungguh aneh, mungkinkah murid baru itu spesial?


Meski setelah melihat hasil laporan dari para pengajar beserta keluhannya. Ia, sebagai kepala asrama menyadari kelebihan yang dimiliki Rafa dan jika diasah, maka bisa mencapai kesuksesan jauh di atas Kimmy.


Tatapan mata tajam tak berkedip masih terpatri menunggu jawabannya, ia tidak ingin mendapatkan serangan jantung dadakan. Sehingga mengalihkan perhatian ke arah deretan laci, lalu membuka nomor urut tiga dari bawah. Kemudian membuka dimana terlihat barisan map putih dengan tulisan nama beberapa siswa asrama.


"Anak itu, terlalu aktif dalam tindakan tegasnya. Sudah pasti salah satu bad boy di sekolah lama. Bukan begitu, Kimmy?" Pak Ilyas mengeluarkan map atas nama Rafandra Darren Adelio, lalu meletakkan ke atas meja.


"Perjuangan anak itu, baru saja dimulai. Apa kamu sudah memutuskan mau mengirim dia kuliah dimana? Jika boleh, aku sarankan di tempat yang pasti memberikan pendidikan terbaik," ujar Pak Ilyas melanjutkan ucapannya, tapi yang diajak bicara sibuk membaca hasil laporan secara keseluruhan.


Tindakan Kimmy, membuat si pemilik asrama hanya geleng-geleng kepala. Seperti biasa, siswa yang kini sudah sukses itu memiliki kepribadian tak jauh berbeda dari Rafa. Ia senang bisa melihat karakteristik unik di generasi kesekian kalinya.


Sementara di sisi lain, Sisil yang baru berniat masuk kelas menghentikan langkah kakinya. Lalu, bersandar di pintu melihat para siswa di depan sana. Terlihat Darren begitu sabar dan telaten mengajari teman sekelas mengenai susunan bahan kimia untuk eksperimen selanjutnya. Senang akan cara demo sederhana tetapi mudah diterima dalam penyampaian kilat.

__ADS_1


"Miss, sudah datang. Sejak kapan?" Darren yang menyadari tengah diperhatikan menoleh menatap ke arah pintu masuk kelas.


Sisil hanya tersenyum seraya mengulurkan tangan agar para siswa melanjutkan kegiatan yang tengah dikerjakan. Sesi pelajaran lebih tenang karena ia hanya menyimak memberikan kesempatan pada Darren untuk memimpin eksperimen kali ini. Selama dua jam menjadi momen kebersamaan penuh ketegangan, tapi mengasyikkan.


"Darren, bisa ngobrol sebentar?" tanyanya setelah membubarkan kelas, membuat pemuda tampan itu mengangguk seraya membereskan beberapa bahan kimia yang baru saja digunakan.


Kesibukan pemuda itu, membawa langkah Sisil semakin mendekat ke meja percobaan. Sementara siswa lain sudah keluar meninggalkan kelas karena kelaparan. Kebiasaan anak-anak seringkali menunda waktu makan siang, tapi sepertinya tidak dengan Darren. Jelas sejak dimulai eksperimen memiliki fokus.


"Miss, kenapa kesini? Sebentar lagi pasti selesai ...,"


Belum sempat menjawab, Sang Profesor meletakkan ponsel yang menyala ke atas meja. Wajah tampan terpampang jelas di layar benda pipih merk apel gigit. Gambar dengan tegangan tinggi menyebabkan detak jantung Darren bergejolak tak aman. Bagaimana bisa ada foto Rafa?


Pertanyaan balik Darren dengan garis wajah sedikit menunjukkan perubahan walau hanya sesaat. Tetap saja sudah cukup memberi sedikit jawaban tanpa penjelasan. Sisil tersenyum lebar, lalu menunjukkan sebuah aplikasi edit gambar, kemudian melakukan step by step hingga perubahan penampilan dari seorang Rafael menjadi Rafandra.


"Aku hanya bosan, jadi memainkan aplikasi ini," ujar gadis itu yang sengaja membiarkan Darren lega.

__ADS_1


Meski ia tahu, si pemuda hanya berpura-pura baik seolah tidak tahu apapun. Obrolan yang awalnya canggung perlahan mulai mencair dengan pembahasan yang pasti kedua insan itu pahami. Keakraban mulai menjadi awal hubungan baru. Di mana ikatan benang tipis terajut tanpa ada harapan.


"Okay, kamu sebaiknya pulang karena ini sudah sore atau mau aku antar?" tawar Sisil membuat Darren melirik ke arah jam di pergelangan tangan kiri.


Jarum mungil sudah menunjuk ke angka tiga, sedangkan yang panjang ke arah angka sembilan. Ternyata hampir satu jam obrolan berlangsung. Terlalu asyikkah? Entahlah, pada waktu yang selalu diam. Apa akhir dari setiap kata tak bernada?


Ingin berlama-lama, tapi harus berpamitan. Pemuda itu berusaha menghindar dari masalah. Namun Sisil memaksa karena mengingat sebab keterlambatan adalah dirinya. Darren berusaha keras untuk mencoba melepaskan diri. Sayang ia tidak melakukan apapun dan berakhir menyetujui keinginan sang guru.


Darren berharap semua baik, tetapi ia tidak tahu saja bahwa Sisil melakukan segala sesuatu dengan langkah pasti tanpa harus dicurigai. Seperti pesan Kimmy yang meminta bantuan agar bisa berkunjung ke rumah milik siswanya. Hal itu hanya untuk melihat siapa saja anggota keluarga si pemuda.


Saat ini, ia sadar benar tengah menjadi mata-mata, hanya saja, entah kenapa hati mengatakan dan menyetujui permintaan sang sahabat tanpa syarat. Ketika akal sehat masih menguasai pikiran. Emosi masih bisa dikendalikan, maka ia merasa semua baik.


Setiap keputusan akan menjadi langkah yang sudah benar dan tidak memiliki kesalahan. Sementara di sisi lain, Kimmy baru saja menyelesaikan urusannya dengan pemilik asrama. Langkah kaki menyusuri lorong khusus. Dimana deretan kamar para siswa menyambut ia meski suasana begitu sunyi.


Kamar nomor lima dengan nama Phoenix. Niat hati ingin mengetuk, tetapi perlahan mendekatkan telinga ke pintu. Suara dari dalam terdengar cukup berisik. Ia tersenyum karena bisa memahami penderitaan Rafa. Sudah pasti, pemuda di dalam sana tengah kelaparan.

__ADS_1


Kebiasaan sang suami masih sama di setiap rajukan yang lebih seperti anak kecil. Mengingat itu, ia tak mungkin datang tanpa membawa sesuatu. Sehingga memilih mengambil ponsel hanya untuk memesan makanan karena tidak mungkin membiarkan Rafa terus kelaparan.


Pesanan telah dilakukan. Kini waktunya mencari tempat untuk menunggu, "Aku tunggu disana saja," Kimmy berjalan menghampiri bangku panjang yang ada di samping tangga.


__ADS_2