
Tim basket the prince roads merupakan pemain andalan yah telah melakukan banyak pertandingan tetapi tidak di akui oleh cabang manapun karena mereka menyukai perdamaian. Pertandingan yang dilakukan juga hanya untuk mengasah taktik permainan. Tim ini merupakan anak didik Kimmy dari urutan nomor tiga.
Wajah-wajah baru dengan penampilan energik membuat para pemain the prince roads seperti bintang yang bersinar terang di angkasa. Tak menunggu lama, kedua tim basket berdiri saling berhadapan. Dimana satu sisi terlihat santai tanpa beban, sedangkan tim Rafa justru tampak meremehkan.
"Bu, apa mereka lawan kami? Bukankah anak-anak dari sekolah pesisir, ya?" seloroh Mahmud menyipitkan mata mencoba mengingat wajah tim lawan yang pernah ia lihat beberapa kali.
Seulas senyum tipis tersungging menghiasi wajah sang guru, "Disini kalian sama hanya pemain, nilai dari pertandingan tidak akan berubah hanya karena status. Seorang petarung sejati tidak akan menilai lawannya tanpa mengenal. Naumi, atur semuanya!"
"Siap, Boss." Naumi mengangkat tangan membiarkan Kimmy beranjak dari tempatnya karena memang sang sahabat tidak ikut andil dalam pertandingan.
Baru saja melangkahkan kaki tiba-tiba langkahnya tertahan karena seorang pemuda dengan rambut panjang yang tertimpa ikat kepala menghadang wanita itu. Tatapan mata cerah bersambut smirk seraya mengulurkan tangan kanan menyalami Kimmy. Keduanya terlihat akrab meski tanpa perbincangan apapun.
"Kenapa sok akrab, sih. Memangnya kenal?" Lagi-lagi Mahmud asal bicara tapi kali ini sedikit lirih meski masih terdengar temannya serta Naumi sang pelatih.
Ingin sekali memakaikan lakban pada anak satu itu. Sayangnya tidak mungkin karena bisa di anggap kekerasan dalam dunia pelatihan olahraga. Seperti yang dikatakan Kimmy, tim Rafa dan lawannya memiliki waktu untuk menyiapkan diri serta berdiskusi taktik permainan.
Sementara Kimmy yang berjalan menyusuri lorong hanya ingin bergegas sampai ke dalam kamarnya sendiri. Rasa lelah karena tidak bisa istirahat semalam membuat tubuhnya lemas tapi selama bersama anak-anak berusaha terlihat baik. Apalagi semangat di dalam hati para pemain harus tetap dijaga sampai pertandingan berakhir.
"Non!" Panggil seorang pelayan yang berlari dari arah lain lorong menghentikan langkah Kimmy.
Wajah si pelayan terlihat pucat, entah apa yang terjadi tapi ia merasa sesuatu yang tidak baik pasti menjadi kabar tak mengenakkan hati. "Bibi kenapa, apa ada yang bisa kubantu?"
__ADS_1
Si bibi melambaikan tangan seraya mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Setelah merasa baikan, barulah berdiri dengan benar. "Gini loh, Non. Sebenarnya bibi udah janji buat pulang kampung buat ajak anak jalan di hari ulang tahunnya. Bibi mau izin ambil hari libur tiga hari, boleh ndak, Non?"
Ia pikir ada apa, lega rasanya karena bibi hanya meminta cuti dan bukan sesuatu hal lainnya. Tentu saja ia dengan santai memberikan izin bahkan langsung mengirim bonus gaji sekaligus menambah tips untuk menyenangkan hati seorang anak. Sehingga membuat pelayan itu bersyukur mendapatkan rezeki tak terduga, lalu pergi meninggalkan sang majikan.
Sementara di sisi lain, obrolan serius dengan urat leher semakin menambah ketegangan. Dua orang saja sudah cukup menjadi perusuh yang membuat suasana tak kondusif tanpa mengingat tempat. Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang menghentikan perdebatan sengit itu, tatapan mata tajam tak berkedip menghunus keberanian.
"Apa kalian tidak punya etika? Ini kantor polisi bukan hotel. Dasar tidak tahu aturan, Pak Pengacara bawa pulang klien Anda!" Pak Polisi yang bertugas mengusir tamu tak di undang dari wilayah kekuasaannya karena memang sudah mengganggu kenyamanan.
Siapa yang tidak geram ketika cuaca panas di luar sana semakin meningkat. Justru lebih panas di dalam ruang interogasi. Kebebasan obrolan yang sudah mendapatkan izin dari pihak pengadilan karena mengurus kasus perceraian malah berakhir perdebatan pasutri yang sama-sama kehilangan akal. Dimana istri kekeh tidak mau bercerai sedangkan suami tidak sudi melanjutkan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
"Usir saja wanita jal4ng ini, Pak. Gue muak lihat wajahnya yang sok polos." Delon tak menganggap istrinya sebagai istri setelah semua yang terjadi tapi pria itu lupa bercermin.
Tidak peduli dengan kata kasar yang keluar dari mulut Delon. Bagi wanita itu, pernikahannya adalah keputusan tepat meski harus menerima cacian dan makian tak berhati. Semua itu karena calon bayi mereka yang kini berkembang di dalam rahimnya. Secara hukum agama dan negara, seorang suami tidak bisa menceraikan istri dalam keadaan berbadan dua.
Kertas laporan di sambar, kemudian dengan seksama membaca setiap kata yang tertulis. Menurut dari hasil pemeriksaan istrinya hamil delapan minggu dan jika diperhitungkan kemungkinan besar itu anak mereka berdua. Tidak. Tujuannya setelah keluar dari penjara nanti hanya ingin menjadikan sang mantan sebagai istri dan bukan wanita yang kini duduk di depannya.
Akan tetapi percuma saja menggugat cerai, kenyataannya tengah hamil muda dan masih ada waktu setahun selama ia dipenjara. "Ok, terserah kamu mau apa tapi perceraian tetap dilakukan setelah anak itu lahir."
"Mas ...," lirihnya menahan kesedihan hati karena Delon benar-benar tidak ingin berbelas kasih padanya.
Hubungan yang di dasari kebohongan membawa petaka hingga untuk mendapatkan ketenangan saja harus berusaha begitu keras. Kenyataan dan kebenaran yang membalikkan keadaan. Kini hanya bisa pasrah, apalagi ketika pengacara membawanya pergi meninggalkan kantor polisi menyudahi pertemuan panas di antara suami istri.
__ADS_1
Suara gegap gembita terdengar riuh meneriakkan nama para pemain basket yang bertanding di lapangan. Anggota tim cadangan sibuk memberikan support dengan suara teriakan sesekali terdengar siulan yang semakin menambah kehebohan di lapangan. Naumi yang melihat euforia semua anak justru menoleh ke belakang.
Kimmy tidak nonton kah? Apa cuma aku yang menilai pertandingan kali ini?~tanya hati Naumi hingga kehilangan moment di saat Abimana memasukkan bola ke ring.
"Yeaaah, Abi! Abi!" suara seruan terdengar puas mengalihkan perhatian Naumi.
Satu angka tambahan di dapatkan tim the prince roads yang membuat tim Rafa semakin gusar karena nilai mereka tidak seimbang yaitu lima banding dua. Pertandingan sudah berlangsung selama dua puluh menit sehingga Naumi meniup peluit. Suara melengking dari si benda mati membuat anak-anak melipir menjauh dari terik matahari yang menyengat.
Abimana menerima botol air mineral dari temannya tak lupa mengucapkan terima kasih tapi pemuda itu menggunakan airnya untuk membasuh wajah. Rambut panjangnya ikut basah dengan pantupan siluet sinar mentari yang membuat pemuda itu seperti model iklan minuman segar. Memang cute dengan wajah blasteran Korea-Indonesia.
"Sok cool banget ya," Mahmud mencebik tak suka melihat wajah Abimana.
Padahal leader tim the prince roads tidak melakukan kesalahan apapun. Entah kenapa anak satu itu begitu sensi. Sehingga membuat Rafa mencengkram bahu temannya itu dengan tekanan aman. Sekedar memberikan peringatan untuk menjaga lisan tanpa perkataan. Aura permusuhan memang terlihat jelas hanya saja pihak lawan anak-anak yang bermuka santai seperti di pantai.
"Anak-anak, Bu Kimmy menunda pertandingan ronde kedua dua jam lagi. Jadi kalian bisa makan siang dan istirahat dulu. Ayo, semuanya pindah ke ruang makan!" Naumi bertepuk tangan meminta anak-anak bergerak dari posisi malas yang pasti tidak ingin beranjak dari tempat masing-masing.
Satu perintah dari orang yang sangat ia hormati, membuat Abimana mengulurkan tangan ke anggota timnya. Solidaritas yang patut dicontoh menyadarkan Rafa bahwa sikap seorang pemimpin harus mencerminkan kasih sayang terhadap sesama. Ia melihat kepedulian dalam diri leader tim lawan yang memberikan nilai plus sebagai sesama pemimpin.
Anak-anak yang berjalan gerombolan lebah pergi meninggalkan lapangan tetapi tidak dengan Naumi. Wanita itu ingin menghirup udara bebas sebentar sebelum ikut masuk ke dalam, begitu juga dengan Rafa yang tak sengaja membuka pesan dari Kimmy. Pesan singkat tapi cukup menjadi penyemangat sisa harinya. Padahal hanya mengingatkan agar ia tak lupa makan dan sholat saja.
"Hei, Boy!" panggil Naumi yang mengalihkan fokus Rafa ke arahnya. "Masuklah! Kamu bisa berkenalan dengan anggota lawan. Jangan sampai sikap arogansi timmu mengubah acara makan siang menjadi pertandingan lanjut."
__ADS_1
"Santai saja, Bu. Disana ada Fahmi, anak itu bisa membungkam teman satu tim kami." Rafa bangun, lalu memasukkan gawainya ke dalam saku celana. Kemudian berbalik hingga menghadap Naumi yang berdiri dengan jarak tiga meter dari tempatnya berada.
Entah benar atau tidak tapi sesuatu mengusik hatinya. Apalagi setelah melihat beberapa hal yang mengusik pikirannya, "Bu, apakah Bu Kimmy memiliki kekasih?"