Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 42#Waktu cepat Berlalu


__ADS_3

Panggilan yang dilakukan oleh bunda Keisha sedikit menarik perhatian Darren. Di mana pemuda itu merasa ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak ingin meragukan bundanya sendiri. Sehingga memutuskan pamit kembali ke kamar untuk membersihkan diri, sedangkan di sisi lain anak-anak tim basket baru saja selesai melakukan pembagian kelompok.


Kelompok pertama yang dipimpin Abimana memiliki anggota dengan jumlah lima orang. Di antaranya adalah Fahmi, Gembul, Vino dan juga Erlan. Sementara kelompok kedua ada Bian, Hars, Mahmud, Tommy dan pemimpinnya Louis. Kedua kelompok cukup saling bersitegang kecuali para leader yang sudah terbiasa adaptasi.


Namun, mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Mesti pada dasarnya tidak saling suka. Untungnya tak semua keras kepala seperti Mahmud, sehingga cukup mudahkan pelatihan selanjutnya. Kini kedua tim bersiap untuk melakukan pertandingan pertama. Di mana Bu Kimmy ingin melihat kerjasama tim dari setiap anggota baru.


Sebagai pelatih, ia sadar bahwa tidak semudah itu untuk membangun kepercayaan masing-masing anggota. Apalagi mengingat Rafa selama ini selalu berjuang untuk kepentingan para tim basket. Maka unsur kepemimpinan pemuda satu itu tidak bisa hilang begitu saja.s seperti yang ia duga, wajah masam beberapa anggota terlihat jelas membuat suasana lapangan seperti tempat pembakaran.


Sorak sorai suara dari para penonton, membuat Zhang ikut bersiul begitu melihat kedua tim memasuki lapangan. Netral adalah posisinya karena tidak berhak menilai tanpa memberikan contoh. Meski terlihat jelas antusias para siswa. Tetap saja pandangan mata haus akan keberadaan Rafa karena bagi mereka sang pemilik hati yang selalu bersinar di sekolah hanya satu. Rafandra Darren Adelio.


Pertandingan dimulai dengan awal mula yang dipimpin oleh tim Louis. Pemuda itu benar-benar gesit dengan langkah kaki cepat bergerak kesana kemari, sedangkan Abimana hanya meminta anggotanya untuk tetap tenang, fokus dan lebih meningkatkan kewaspadaan. Setiap serangan selalu mendapatkan perlawanan dan juga mempertahankan diri.


Seperti yang terjadi saat ini, di mana Fahmi melakukan shooting, tetapi dengan mudahnya Louis melakukan pertahan dengan taktiknya yang membuat Abimana buru-buru memantulkan bola kembali ke arah ring lawan. Suara teriakan para siswa bersambut decak kesal Mahmud. Pertandingan terus berlanjut sampai sepuluh menit yang hanya memiliki nilai satu kosong.


Melihat itu, Zhang menghentikan pertandingan karena hanya ada pertikaian dalam formasi kedua tim. Meski tim yang dipimpin Abimana saling berusaha mensupport satu sama lain. Akan tetapi tidak dengan tim milik Louis. Kimmy sendiri duduk di kursi penonton menikmati jus mangga dingin yang sengaja dipesan dari kantin.

__ADS_1


Bukan niatnya melepaskan tanggung jawab hanya saja, ia ingin memberikan pelajaran pada anggota tim Rafa yang masih memiliki sisi arrogant. Pertandingan merupakan sebuah permainan, tapi kemenangan tidak akan tercapai ketika tidak bisa mengalahkan diri sendiri. Baginya kesuksesan anak-anak nomor satu. Meski untuk itu harus berlaku tidak adil sementara waktu.


Di tengah kesibukan melihat Zhang yang menceramahi anak-anak sebayanya tiba-tiba perhatian teralihkan pada dering ponsel yang merupakan notifikasi pesan. "Syukurlah kamu baik-baik di sana, sabar, ya. Semua pasti akan membaik sebagaimana mestinya."


Entah apa yang dimaksud oleh Kimmy, tetapi wanita itu terlihat tersenyum lega setelah membaca pesan yang memberikan kabar baik. Setiap tindakan akan selalu memiliki alasan hanya saja tidak semua alasan akan berakhir menjadi tindakan. Satu sisi masalah hati dan di sisi lain masalah kehidupan.


Seiring putaran detik ke menit, lalu berganti jam, kemudian menjadi hari. Tak terasa sudah seminggu dari hari penerimaan siswa baru, suara langkah kaki terdengar berlari menyusuri lorong panjang mencoba untuk mengalahkan waktu yang terus berpacu.


"Assalamu'alaikum, Professor Sisil. Maaf terlambat,'' ujarnya sambil mengetuk pintu yang mengalihkan perhatian empat siswa dan juga seorang guru di dalam kelas.


Suasana kelas begitu kondusif di mana tak seorang pun memandang Darren seperti asing bahkan selama pelajaran berlangsung, mereka saling membantu ketika tidak memahami akan sesuatu yang sudah diterangkan oleh Professor Sisil. Kekompakan itu terlihat begitu damai dan sangat bagus untuk kedepannya nanti.


Sementara di gedung lain, Rafa baru saja keluar dari kelasnya setelah menyelesaikan skripsi dadakan. Ia heran dengan kelakuan para guru di asrama karena seperti sangat ingin dirinya segera pindah. Apa ada yang salah dengannya?


Pertanyaan itu, siapa yang bisa menjawab? Tidak ada, tapi mengingat hari ini adalah hari bebas. Maka, ia memutuskan berganti pakaian olahraga karena sudah lama tidak menikmati cucuran keringat membasahi tubuhnya. Pasti seru bermain basket di lapangan depan asrama.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, terlihat seorang pemuda memainkan bola basket seorang diri dengan penampilan kece ala pemuda kekinian, rambut terikat menjadi satu menyisakan sedikit helaian yang jatuh menutupi alis bagian kanan. Kaos longgar dipadukan dengan celana training serta sepatu sport warna hitam.


"Hei, Boy!" seru seseorang dari arah belakang yang mengalihkan perhatian si pemuda, tetapi suara itu tak memberikan keberanian hati untuk menoleh melihat siapa yang datang. "Rafandra Darren Adelio. Ayo, kita bertanding!'


Seruan yang cukup jelas bahkan membuat bola basket di tangan Rafa terlepas bebas tanpa keinginan mengambilnya, lagi. Rafa yang termenung diam ditempat, membuat si penantang berjalan santai menghampiri pemuda itu. Semilir angin yang berembus menyebarkan aroma parfum yang menyeruak mempengaruhi kesadaran hati yang merindukan kebersamaan.


"Stop!" Rafa mengangkat tangan kanan seraya menahan debaran dada yang kian mencekam menghantarkan kerinduan. Ia sadar akan kedatangan orang terkasihnya, tetapi kenapa secepat ini?


Tak memahami apa yang sedang terjadi, sehingga tanpa menoleh ke belakang. Pemuda itu meninggalkan lapangan dengan langkah kaki berlari menjauhkan diri dari pandangan mata yang terus menatap ke arahnya walau sudah jelas terabaikan tanpa keraguan.


"Amarah yang sama? Rafa, kamu masih belum memahami kenapa aku mengirimmu ke asrama ini, kurasa begitu. Baiklah, lebih baik aku temui sahabatku dulu." ucapnya tak ingin ambil hati dengan langkah kaki berjalan melewati lapangan basket menuju gedung dengan aroma bahan kimia.


Jejak langkah kakinya pasti, sesekali memperhatikan perubahan dari beberapa sudut yang dilewatinya. Sudah hampir tiga tahun ia tidak mengunjungi asrama dan hari ini kembali datang karena Rafa seorang. Disisi lain, ia juga ingin melakukan silaturahmi karena beberapa pengajar merupakan siswa seperjuangan.


Kelas ilmiah dengan pengajar serta pengawas Professor Sisil sudah ada didepan mata, tapi ketika ingin mengetuk pintu. Justru tatapan matanya terpatri pada wajah seorang pemuda yang begitu fokus mencampur beberapa bahan kimia di depan sana.

__ADS_1


"Rafa, bagaimana mungkin?" tanyanya bermonolog pada diri sendiri.


__ADS_2