
Kegelisahan di hati membuat pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya. Langkah kaki berjalan menyusuri lantai meninggalkan kamar yang terasa sepi karena tidak ada sang istri. Kimmy memang pamit akan menginap dirumah orang tuanya untuk mengurus beberapa berkas yang tertinggal. Sehingga malam ini ia hanya senditi tanpa ada yang menemani.
Kesendirian yang berselimut kekhawatiran seakan mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Ingatannya tertuju pada ayah dan bunda yang kemarin berpamitan untuk ke luar kota menyelesaikan pekerjaan bisnis tapi kenapa ketenangannya ikut pergi? Padahal beberapa jam lalu, kedua orang tuanya mengatakan sudah sampai di tempat tujuan.
Meski tidak mengatakan ada di kota mana, tapi kabar yang berupa satu pesan singkat sudah cukup melegakan hatinya. Langkahnya terhenti begitu keluar melewati pintu kaca balkon yang ada di dalam kamar Kimmy. Semilir angin malam nan dingin menyambut kedatangannya.
Tatapan mata menatap ke angkasa tenggelam dalam kegelapan seakan keindahan malam enggan menyapa dunianya. Rasa di hati kian tak menentu. Perlahan memejamkan mata meresapi embusan angin yang menerpa menyentuh lembut wajahnya. Hening tanpa suara selama beberapa waktu hingga tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Aroma parfum manis nan lembut sudah cukup mengatakan siapa yang datang menghampirinya. "Kamu pulang kesini? Ini sudah larut dan tidak baik pulang sendirian."
Rafa membuka mata, lalu berbalik menoleh ke belakang seraya menggenggam tangan yang bersandar di pundak kanannya itu. Kini keduanya berdiri saling berhadapan menatap satu sama lain. Tatapan mata saling beradu tetapi perasaan tak mengubah emosi yang ada di dalam hati pemuda itu.
__ADS_1
Raut wajah kusut, tatapan mata sendu mencari kedamaian, bibir pucat tak bertenaga. Sepertinya pemuda itu memiliki masalah yang mengusik waktu istirahat karena kamar mereka slalu dalam pantauan meski tidak ada ditempat yang sama. Hanya saja Rafa tidak tahu akan adanya cctv.
"Malam bukan jadi penghalang untuk kepulanganku karena pasti ada yang menjagaku dari pandangan buruk orang jahat." Kimmy mengusap tangan Rafa agar pemuda itu tidak merasa kesepian di tengah hubungan mereka. "Ayo kita masuk!"
Ajakan Kimmy begitu jelas tetapi hati enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Saat ini ia ingin menghirup udara bebas agar perasaan bisa merasa lebih baik. "Masuklah dulu! Aku masih ingin disini."
Rafa melepaskan tangan Kimmy, lalu kembali berbalik menatap angkasa. ia pikir wanita itu akan pergi tetapi tiba-tiba ada tangan melingkar memeluknya dari belakang. Terasa hangat hingga ke dalam sanubari. Perhatian kecil sang istri menjadi teman dalam pikiran kalut tanpa arah tujuan.
Kebersamaan kedua insan itu tak seorangpun tahu karena balkon tempat mereka berbagi perasaan bukanlah tempat umum yang bisa terlihat dari sudut manapun di mansion. Sementara itu anak-anak tim basket malah baru saja selesai menonton film karena mereka membutuhkan refensi permainan untuk melawan beberapa musuh yang terdaftar dalam pertandingan nantinya.
Mendengar ada yang menyebut kata makanan otak Gembul ikut travelling membayangkan beberapa menu delivery yang bisa mereka pesan secara dadakan. Hars yang seakan mengerti pikiran pemuda satu itu, sontak menepuk kening si gembul agar berhenti menjelajahi dunia alam bawah sadar. Ya kali jam dua dini hari mau delivery makanan resto.
__ADS_1
Bukan suudzon tapi memang itu kebiasaan dari Si Gembul. "Aku bawa mie instan tapi cuma enam bungkus, untungnya semua rasa sama. Kita buat saja semua mie nya trus makan bareng, gimana?"
"Cucok, biar gue yang masak, tapi kalian bantu siapin wadah dan lain sebagainya, ok?" Mahmud bersemangat seperti mendapatkan doorprize tak terduga.
Kekompakan anak-anak tak luput dari perhatian seorang gadis yang tak sengaja turun karena ingin mengambil air minum. Naumi sengaja diam di tempat mengikuti anak-anak yang tak menyadari keberadaannya. Kesibukan serta kehebohan yang jarang terlihat kini menjadi warna tersendiri. Entah apa alasan sang sahabat memberikan pelatihan dengan karantina pada anak didik yang sebenarnya bisa saja latihan tanpa harus menginap.
Tiga puluh menit kemudian, aroma lezat bumbu kuah mie yang bercampur telur, daging ayam, sosis dan sayur menyebar menguar hingga sampai tercium di tempat Naumi berdiri. Perutnya ikut menari mengharapkan bisa mendapatkan jatah malam tetapi mengingat program dietnya. Gadis itu melipir supaya terbebas dari godaan mie instan.
Langkah kaki menjauh meninggal pilar mansion tempatnya mengamati anak-anak, tetapi tatapan mata seseorang mencari keberadaan si pelatih yang sudah tidak terlihat lagi. Melihat teman-temannya sibuk berebut mie, ia melipir sembari membawa semangkuk mie yang masih panas.
Berjalan menyusuri lorong panjang menuju taman mencari keberadaan Naumi yang mendadak hilang dari pandangannya. "Cepet bener jalannya," gumamnya lalu berhenti di sekitar kursi panjang yang menjorok ke teras luar.
__ADS_1
Suasana sunyi berteman embusan semilir angin membuat ia menikmati kesendirian. Perlahan meniup kepulan asap putih, lalu menyendok sedikit mie dengan aroma harum menggoda. Suapan pertama langsung memberikan kenikmatan mungkin karena lapar sehingga lupa berdoa.
"Enak ya makan sendiri, tidak mau bagi nih?" Suara tanya dari belakang mengalihkan perhatian pemuda yang masih menyeruput mie hingga penuh di mulutnya. "Makan tuh pelan, sampai penuh gitu." ingatnya ketika si pemuda menoleh ke arahnya.