Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 39#Masih Di Asrama


__ADS_3

Pikirannya melayang pada nama yang selalu ia nantikan di setiap pagi dan malamnya. Namun ia tak menyangka setelah menikah justru kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya yaitu kedua orang tua. Sejak berpamitan ke luar kota dan mengatakan hanya ingin menyelesaikan masalah bisnis.


Ayah dan bundanya tidak lagi ada kabar hingga ada tekad untuk melakukan pencarian tetapi Kimmy selalu mengatakan semua baik-baik saja. Mungkin saat ini, kedua orang tuanya berada di tempat yang memang tidak memiliki sinyal. Hati yakin semua baik tapi pikiran tak mau mendengarkan.


Jujur saja keyakinannya hanya setipis tisu tetapi mempercayai sebuah harapan merupakan pilihan terakhir hingga nanti semua jelas dalam kepastian. "Rasanya seperti aku lupa jalan pulang." Tangannya mengambil earphone dari saku jaket yang selalu ia bawa kemana-mana.


Di Home World Student, para pendirinya tidak memiliki kriteria untuk menetapkan seragam sebagai salah satu aturan. Jadi apa yang harus mereka kenakan adalah bebas asal sopan. Sehingga tidak satupun siswa yang tampak seperti murid pada umumnya, justru mereka terlihat seperti berada di luar rumah menikmati hari santai.


Sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Pemuda itu tak lupa menyalakan musik yang selalu menjadi teman setianya. Nada suara yang memberikan ketenangan meski pikiran dan hati tak tenang. Satu kata yang selalu ia pikirkan adalah sudah cukup untuk melakukan sesuatu di luar keinginan dan kini biarlah semua menjadi kenangan tanpa harus memperdulikan.


Pepatah yang menjadi motto hidupnya memang terdengar begitu sadis tapi hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. Tidak ada salahnya bersikap egois. Sang istri mengatakan egois itu hanya untuk menghargai diri sendiri. Bukannya egois, ia hanya melakukan kewajiban seorang pemimpin karena kesalahan salah satu anggota tim basketnya.


Namun karena itu juga, Kimmy memberikan ultimatum keras bahkan tanpa berpikir dua kali langsung mencabut izin pertandingan sampai semua membaik. Di asrama inilah akhir dari kesepakatan antara suami dan istri. Tidak peduli dengan siapa yang salah karena yang mendapatkan hukumannya hanya dia seorang.


Pikiran yang berlepana membuat Rafa berjalan lebih cepat dari biasanya hingga tak terasa sudah sampai di dalam bangunan lain yang merupakan bangunan fungsi ketiga. Dimana bangunan itu memiliki ruang olahraga, kesenian, dan lain sebaiknya. Termasuk kantin sebagai tempat semua siswa datang untuk mengisi perut keroncongan.


Meski begitu sekolah memiliki aturan yang memang tidak sama dengan sekolah lainnya. Dimana di sekolah tersebut tidak ada jam istirahat serentak. Sehingga begitu Rafa memasuki kantin terlihat beberapa anak duduk di beberapa sudut yang sedang asyik mengobrol bercanda dengan teman lainnya.

__ADS_1


Akan tetapi berbeda dengannya yang selalu sendiri tanpa teman ataupun lawan. Selama beberapa waktu ia mengedarkan pandangan mencari tempat untuknya duduk. Suasana yang cukup ramai tapi masih bisa menemukan tempat duduk yang cocok dengannya, hanya saja ia memilih untuk menuju area foodcourt.


Para penyaji makanan yang selalu standby di setiap jam kerja tentu saja memudahkan semua siswa untuk mendapatkan kebutuhan mereka dan lebih nyamannya lagi adalah di sekolah tersebut mereka tidak perlu membayar makanan yang mau di makan.


Sekolah yang memiliki banyak donatur dengan orang-orang sukses yang pernah belajar di sana membuat sekolah tersebut bebas dari biaya makan. Meski begitu, makanan yang disajikan selalu berkualitas bahkan memenuhi standar gizi yang disarankan oleh para dokter.


Sehingga bukan hal baru lagi ketika melihat guru, profesor atau penjaga, apalagi Anak-anak yang juga makan di kantin karena secara bersamaan. Makanan yang dimasak oleh tangan ahli memang dikhususkan untuk semua penghuni asrama tanpa terkecuali. Kantin yang memiliki tiga bagian semakin mempermudah semua orang di saat jam saling bersinggungan.


Setelah mendapatkan makanannya, pemuda itu berjalan menghampiri bangku yang berada di dekat jendela. Rafa selalu duduk sendiri ditemani embusan semilir angin yang memainkan rambut serta menikmati irama musik tanpa ada gangguan. Seperti biasa hanya menikmati makanannya sesuap demi sesuap nasi tanpa memperdulikan sekitar.


"Hola! Darren, apa yang kamu lihat?" William menggoyangkan tubuh temannya karena seketika diam membeku dengan pandangan kosong menatap ke arah sudut lain yang ada di sisi barat.


Keanehan Darren, membuatnya tertarik hingga ikut menoleh ke arah pemandangan yang mencuri perhatian sang teman. Sesaat mencari objek yang menjadi pusat pandangan hingga netranya terpatri pada wajah yang begitu familiar hanya saja di depan sana terlihat dingin dengan pesona yang berbeda.


Aura yang terpancar begitu kuat meski wajah itu terlihat begitu kaku tanpa ekspresi. Detik demi detik hingga ia tak percaya. Seketika membelalakkan mata terkejut melihat apa yang ada di depan sana. Perasaan aneh itu juga dirasakan oleh duo K yang ternyata ikut-ikutan menoleh ke arah yang sama.


Sehingga si kembar langsung berdiri tanpa meninggalkan bangkunya dengan tangan memainkan wajah Darren. Duo K sibuk membandingkan pahatan dua insan yang sama persis seraya menunjuk Rafa yang duduk di ujung sana.

__ADS_1


"Kok bisa sama?" ujar Duo K heran secara serempak membuat William menepuk keningnya sendiri.


Sementara Darren masih terdiam mencoba membenarkan dan meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat tidaklah salah. Jika memang di depan sana adalah Rafa, saudara kembarnya. Kenapa pemuda itu ada di kota tempat ia tinggal bersama kedua orang tuanya?


Bukankah ayah dan bunda dengan jelas mengatakan bahwa waktu saat ini hanya miliknya seperti. Dimana sama seperti ia yang pernah kehilangan waktu bersama keluarga dan kasing sayang orang tua selama beberapa tahun. Maka Rafa juga akan merasakan hal yang sama.


Lalu bagaimana bisa pemuda itu berada di kota yang tidak seharusnya. Apa mungkin kedua orang tuanya mengatakan tentang dirinya atau justru semua itu hanya kebetulan saja? Dilema antara meyakini perjanjian dari ayah dan bunda atau fakta yang kini berada di depan mata. Jujur saja ia bimbang menentukan mana yang benar dan mana yang salah.


"Apa kalian tidak kenal dia?" Darren akhirnya angkat suara melalui satu pertanyaannya. Setelah mengheningkan cipta hanya untuk mengendalikan diri dan berusaha santai seolah-olah tidak mengenal Rafa.


William menggelengkan kepala begitu juga dengan duo K karena memang mereka bertiga tidak mengenal si pemuda dengan wajah sama seperti sang teman. Reaksi dari teman-temannya, membuat Darren sadar bahwa semua lebih ke arah kebetulan saja. Maka itu berarti Rafa datang dengan maksud lain yang tidak ada hubungan dengannya. Jadi ayah dan bunda sudah pasti juga tidak tahu kedatangan Rafa ke kota mereka.


"Sebaiknya aku pulang dulu. Kalian lanjutkan saja dan untuk masalah ujian dari Profesor sisil pasti aku datang besok pagi tapi langsung menemuinya. Sekarang aku harus mempersiapkan semua materi yang memang harus aku pelajari. Assalamualaikum."


Darren yang buru-buru pamit pergi meninggalkan ketiga temannya, justru membuat ketiga pemuda itu saling pandang sraya mengedikan bahu karena benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Akan tetapi mereka masih speechless dengan situasi yang ada saat ini. Apalagi Darren bersikap begitu aneh dan pergi meninggalkan kantin dengan langkah cepat.


"Kalian penasaran nggak sih, siapa pemuda itu?" tanya William membuat duo K menganggukkan kepala. "Gimana kalau kita samperin aja? Sekalian nambah teman baru, siapa tahu kita cocok dengannya." Bukannya menjawab, duo K justru mengacungkan jempol tanda setuju apapun yang menjadi rencananya.

__ADS_1


__ADS_2