
Melihat keanehan yang terjadi pada Kimmy, Rafa buru-buru mendekati istrinya. Ia berusaha meraih tubuh yang terus meronta seakan ada yang mengganggu. Tak elak tangan lembut sang istri berulang kali menampar wajah serta lengannya hingga pergulatan berakhir begitu ia memeluk erat wanitanya.
Suara pelan tetapi jelas melantunkan istighfar. Ia hanya ingin Kimmy kembali tenang agar bisa melupakan trauma yang kini kembali datang, "Astaghfirullahalazim, astaghfirullahalazim, astaghfirullahalazim."
Malam kian larut tetapi Rafa tak berhenti memberikan kehangatan dengan perhatian seorang suami hingga Kimmy kembali tenang tetapi wanita itu terlelap menyambut alam mimpi. Sementara itu, Rafa dengan telaten memakaikan pakaian ganti agar istrinya tidak masuk angin.
Barulah ia pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Malam ini sudah cukup untuk menjadi malam pertama yang tidak akan pernah dilupakannya. Suara gemericik air shower dengan tetesan dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Ada rasa perih di punggung sehingga ia menatap dari pantulan cermin.
Seulas senyum menghiasi wajahnya mengingat penyatuan yang membuat ia dan sang istri kini sudah sama-sama memberikan hak serta melakukan kewajiban. Meski harus berakhir dengan suasana yang tidak terduga. Ia bisa memahami karena masa lalu istrinya memang tak semulus jalan tol.
"Apa aku harus mencari dokter untuk melanjutkan program perawatan Kimmy? Kepercayaan diri memang sudah kembali, apalagi jika mengingat hari pertama bertemu. Hmm, jadi bingung sendiri aku, coba besok aku bicarakan langsung dengannya saja.
__ADS_1
"Jika setuju, aku bisa minta tolong Ka Kai." sambungnya bermonolog pada dirinya sendiri, tapi hawa dingin yang kian terasa membuatnya bergegas melakukan ritual mandi suci agar esok bisa langsung sholat.
Sementara itu di tempat lain terdengar suara batuk. Tidak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba saja tersedak. Padahal tidak sedang minum ataupun makan sesuatu, bahkan ia tengah fokus memeriksa data pasien operasi untuk satu minggu kedepan.
"Astaghfirullahalazim, ini siapa sih yang ngomongin aku." celetuknya setelah meletakkan gelas air putih yang meredakan rasa gatal di tenggorokan. Lirikan mata menatap ke arah jam di pergelangan tangan kiri, "Sudah jam satu aja, tidur deh. Sebelum ibu negara negur, lagi."
Jangan tanya rasa kantuk ketika masih pukul satu dini hari. Sejak menjadi seorang dokter, perubahan hidup kian drastis sampai ia sendiri lupa kapan terakhir tidur nyenyak tanpa ada panggilan emergency. Sebenarnya beberapa kali bisa terlelap tapi hanya saat libur cuti saja.
Namun sejak enam bulan terakhir, pekerjaan begitu menumpuk bahkan beberapa pasien memintanya untuk mengganti jadwal operasi agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih maksimal. Serba salah juga jika menuruti aturan main keluarga pasien, sehingga ia memilih untuk memberikan treatment tambahan agar pasien-pasien yang ada di daftar tidak merasa bosan di rumah sakit.
"Selamat malam, Ashana." gumamnya sembari memeluk guling yang kini menjadi teman di sisa malamnya.
__ADS_1
Kegelapan yang menyapa membawanya ke alam mimpi. Suara deburan ombak dengan riak berlarian menambah keindahan senja nan temaram. Tatapan mata sendu terpancar menyudutkan hati yang bersalah, tangan saling berpegangan erat tak ingin dilepaskan. Rasa di hati masih menggebu tetapi harus mereka sudahi.
"Kai, izinkan aku pergi sebelum semuanya terlambat." pinta si pemilik suara lembut menenangkan yang siap meninggalkan pujaan hatinya.
Kisah cinta mereka dari dua sisi tetapi perjalanannya harus berakhir karena restu tak kunjung didapatkan. Sadar akan perbedaan keyakinan membuat sang gadis rela menerima perjodohan keluarga, sedangkan nasib cinta harus menjadi pengorbanan sebagai hadiah pernikahan nantinya.
Tak sanggup melawan norma karena ia juga seorang manusia biasa. Apalagi keyakinan tak bisa diubah, atau memaksa pasangan sendiri untuk mengubah keyakinan yang sudah menjadi dasar pondasi kehidupan sejak dilahirkan ke dunia. Cinta itu, tidak selalu memiliki.
"Ashana, apakah kita tidak akan bertemu lagi?" Kai menatap gadisnya pilu, "Jawab pertanyaan terakhirku, Ashana."
"Jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin Kai. Sekarang kuminta kau mau melupakan cinta kita. Tata dan raih kebahagiaanmu. Selamat tinggal, Kai Nelson Madhava."
__ADS_1
Genggaman tangan terlepas secara perlahan bersambut senyum perpisahan. Langkah kaki menyusuri tepi pantai menjauh meninggalkan jejak yang terhapus ombak lautan. Wajah yang kini menghilang di balik gelapnya malam. Kenangan lama tetapi selalu terasa segar menelusup tanpa permintaan.
Tersentak akan mimpi yang selalu menghadirkan rasa gelisah tak menentu. Pria muda itu terbangun dari tidurnya, lalu mengusap dada yang berdebar begitu cepat. "Astaghfirullahalazim, Kai. Sampai kapan semua ini terjadi?"