Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 29#Rafael Darren Adelio


__ADS_3

Rafael Darren Adelio. Seorang pemuda dengan penampilan alim yang selalu tinggal di mushola desa tapi hari ini akhirnya pulang ke rumah si mbok. Mbok Yem yang menjadi pengasuh sejak putra dari majikannya dilahirkan ke dunia. Sebenarnya pemuda itu adalah kembaran Rafandra Darren Adelio yang sengaja diasingkan demi keselamatan keluarga mereka.


Entah dunia yang kejam atau takdirnya sendiri yang memang tidak baik. Mengeluh pun tidak akan ada artinya karena semua sudah jelas dan menjadi kehidupannya selama beberapa tahun sejak terlahir ke dunia. Tatapan mata tak mampu berbohong akan rasa yang tidak bisa dijabarkan.


Di depan sana berdiri dua orang yang menurut prediksinya adalah ayah dan bunda. Keduanya merupakan orang tua yang selama ini selalu ia cari bayangannya tetapi tak sekalipun bisa menemukan titik pencerahan. Kehidupan yang selalu tertutup kabut bagaimana bisa menunjukkan kebenaran.


"Assalamu'alaikum, Bunda, Ayah." Suara sapaan lembut dari arah belakang membuat Lion dan Keisha berbalik serempak.


Kedua insan itu terdiam memperhatikan pahatan wajah yang serupa dengan wajah Rafa. Tampan tetapi mata Rafael berwarna coklat meneduhkan, sedangkan Rafandra memiliki warna hitam nan tajam menenggelamkan. Perbedaan antara si kembar yang hanya beberapa orang yang tahu.


Hati mana yang tidak hancur ketika ikatan hati seakan mati tanpa sisa rasa yang bisa diselamatkan. Kenyataan bersambut kebenaran di depan mata menyatu tetapi pikiran masih tetap bertahan memeluk ketenangan. Baik anak maupun orang tua tak bisa bersikap layaknya keluarga.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Nak. Kemarilah putraku!" Keisha merentangkan kedua tangannya menanti sentuhan pelukan pertama dari buah hati yang selama ini terabaikan.


Rafael yang biasanya di panggil Rafa juga merasa canggung dan hanya sanggup mengangkat kedua tangan yang saling di tangkup ke depan dada. "Maaf, tapi Rafa belum terbiasa."


Sejak dilahirkan ke dunia Rafael kehilangan kasih sayang keluarganya tetapi bukan berarti ia tidak memahami kesulitan kedua orang tuanya tersebut. Meski seperti itu dia juga memiliki hak untuk mendapatkan cinta yang sama seperti saudara kembarnya dapatkan.

__ADS_1


Sungguh dia bukan ingin menuntut tetapi dia juga hanya seorang anak yang membutuhkan perhatian orang tua. Setidaknya memiliki kehidupan tetap seperti kehidupan Rafandra di kota sana. Lalu hari ini, tiba-tiba kedua orang tuanya datang mengatakan ingin membawa ia pulang.


Pernahkah selama ini menanyakan bagaimana keadaannya? Di saat dirinya mengalami sakit parah bahkan sampai hampir kehilangan nyawa pun, kedua orang tuanya tidak memiliki waktu untuk memastikan anak mereka masih hidup atau tidak. Siapa yang berlaku adil? Tidak ada keadilan sejak perpisahan yang menjadi kehidupan seorang Rafael.


Kehidupannya selama ini hanya dipenuhi oleh kasih sayang satu orang saja yaitu Mbok Yem. Wanita itu sangat menyayangi bahkan mencintai melebihi anaknya sendiri tetapi ia juga memiliki orang tua. Kemudian kenapa justru seperti anak yatim piatu sejak dilahirkan ke dunia.


Meski alibi kedua orang tuanya adalah demi keselamatan atau hanya untuk melepaskan tanggung jawab tanpa alasan. Menjadi pribadi muda yang memiliki ilmu agama, ia juga tetap manusia biasa. Dimana hati masih merasa sakit ketika menyadari kenyataan bahwa ia diasingkan.


Namun saudara kembarnya mendapatkan semua perhatian kedua orang tuanya. Apakah dia terlahir hanya untuk mendapatkan kesepian dan juga terlupakan? Rasanya seperti dunia ini hanya milik Rafandra tetapi Rafael tidak memiliki apapun yang bisa dianggap miliknya.


Keempat insan itu duduk di ruang tamu sambil menikmati seduhan teh anget yang masih mengepulkan asap putih. Keisha yang ingin sekali duduk di sebelah Rafael masih berusaha menahan diri karena tak ingin putranya merasa canggung. Jarak hati lebih luas dibandingkan jarak raga. Situasi yang tidak pernah ia bayangkan.


"Nyonya dan Tuan nginep disini malam ini atau langsung kembali ke kota?" Mbok Yem bertanya tanpa sungkan karena Keisha dan Lion sudah dianggap sebagai anak sendiri.


Lion memperhatikan bungkamnya Rafael yang duduk dengan pandangan mata menunduk seperti gadis pemalu tapi sebagai seorang ayah. Ia cukup peka akan rasa terasingkan yang pasti menyakiti hati pemuda itu. Banyak pertanyaan yang ingin disampaikan hanya saja tertahan karena jarak yang memisahkan.


"Kami akan menginap dulu, Mbok." Tatapan mata mengedip seraya menggelengkan kepala pelan mencoba memberi peringatan pada Keisha yang ingin segera membawa putra mereka ke kota.

__ADS_1


Bagaimanapun kehidupan putra kedua mereka tidak semudah yang bisa dibayangkan. Selama ini seluruh biaya memang ditanggung tetapi siapa yang menggantikan kasih sayang orang tua? Tidak ada, ia tahu kenyataan lebih pahit dari obat manapun. Sehingga ia belajar untuk memahami karakter Rafael tanpa harus memaksakan suatu keinginan egois orang tua.


Seperti yang sudah diputuskan. Malam ini Lion dan Keisha menginap di rumah milik mereka sendiri tetapi rumah tersebut sudah menjadi atas nama Mbok Yem karena bersedia merawat Rafael dari bayi sampai sekarang menjadi pemuda yang tampan nan alim.


Rembulan malam di angkasa terlihat begitu indah bulat sempurna berteman taburan bintang yang bersinar mengagumkan. "Nyonya, apa Aden Rafandra baik-baik saja?"


"Alhamdulillah baik, Mbok. Sekarang Rafa sudah menikah dengan wanita yang pasti bisa menjadi pasangan baik untuknya. Bagaimana dengan Rafael, apakah ada gadis yang disukainya?" tanya balik Keisha tetapi Mbok Yem tertawa pelan karena pemuda yang ia asuh selalu sibuk mengkaji agama bersama para kiayi dan juga orang tua di desa tersebut.


"Banyak gadis yang terang-terangan meminta Rafael untuk meminang mereka tapi pemuda satu ini, seperti Tuan Lion. Keras hati lebih dari keras kepalanya. Mbok sampe heran setiap hari ada saja yang mengirim makanan ke rumah dengan alasan macem-macem." jelas Si Mbok Yem penuh kegembiraan mengingat betapa terkenalnya sang putra angkat.


Percakapan kedua wanita itu cukup jelas terdengar sampai ke kamar Rafa yang memang ada di ujung paling belakang dekat area taman luar. Pemuda itu hanya diam menyimak termasuk mendengar bagaimana kehidupan saudara kembarnya yang sampai detik ini masih belum pernah ia lihat.


Jika mereka saudara kembar berarti wajah sama. Pikiran itu sontak membuat Rafael terperanjat dari tempat tidurnya, lalu menoleh ke arah kaca tiga puluh senti yang tergantung di dinding. Pantulan wajahnya terlihat jelas, perlahan mengangkat tangan menyentuh mata, hidung, bibir dengan pemikiran yang mendominasi.


"Rafandra Darren Adelio, Rafael Darren Adelio. Apa wajah kami benar-benar sama?" tanyanya pada diri sendiri.


Kegelisahan Rafael seperti sengatan perasaan yang juga dirasakan Rafandra. Dimana pemuda satu itu terbangun dari mimpi buruk yang datang tanpa permisi. "Astagfirullahalazim, Ya Allah kenapa aku mimpi seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2