Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 34#Nasehat Naumi, Ketegangan Makan Siang


__ADS_3

Naumi mengernyit mendengar pertanyaan Rafa. Ditatapnya pemuda yang berdiri di depannya itu, "Apa kamu suka Bu Kim?"


Pertanyaan balik dari Naumi membuat Rafa tersenyum simpul. Pemuda itu tidak ingin melanjutkan pembahasan yang bisa saja berubah jalur dari rasa penasaran menjadi harapan semu. Ia cukup sadar saat ini status yang masih disembunyikan menjadi permasalahannya sendiri.


"Aku hanya bertanya karena melihat para pemain lawan begitu dekat bahkan menghormati Bu Kim." elak Rafa tanpa memberitahu Naumi isi hati yang sebenarnya perasaan di dalam dada tengah berkecamuk.


Pernyataan itu membuat Naumi ber oh ria, lalu maju dua langkah mendekati Rafa. "Bu Kim memang terkenal di kalangan anak-anak muda. Selain sebagai seorang pelatih basket, dia juga menjadi seorang dosen di salah satu universitas. Jadi pekerjaan melatih anak-anak bisa dikatakan sebagai pekerjaan lepas di dunia olahraga."


"Selain itu prestasi dari anak-anak yang barusan bertanding sebagai lawanmu. Mereka itu merupakan tiga besar dari anak didik yang berhasil setelah dilatih oleh Bu Kim secara mandiri. Satu hal yang harus kamu ingat yaitu perbedaan dengan perbandingan antara kalian itu cuma satu.


"Dimana tim mu diakui oleh pemerintah sebagai atlet yang membanggakan, sedangkan tim the prince roads tidak memerlukan pengakuan yang seperti itu. Mereka hanya membutuhkan support agar skill yang mereka dapatkan bisa dikembangkan.


"Bu Kim sengaja memberikan kalian perbandingan bebas agar bisa menghadapi kejuaraan nantinya. Satu hal lagi sebagai reminder untuk tim mu karena kamu seorang leader. Jangan meremehkan lawan meskipun lawanmu sekecil semut."


Naumi menjeda pemberitahuannya hanya untuk menghirup oksigen setelah bicara panjang kali lebar tanpa aturan napas. Setelah merasa lebih baik, barulah ia siap melanjutkan apa yang ingin diutarakan sebagai bentuk kesempatan pengenalan tanpa perkenalan.


"Sebagai seorang petarung, mengenal lawan sangatlah penting tapi ketika sudah meremehkan tanpa melihat kekuatan lawan. Maka petarung hebat sekalipun bisa kalah dalam medan pertempuran."


Wanita itu masih sibuk menjelaskan beberapa hal pada Rafa. Keduanya menikmati waktu karena tidak ada orang lain yang bisa menyela obrolan sepihak itu hingga tanpa sadar Naumi memberikan beberapa clue dalam bentuk nasehat panjang kali lebar.


Tentu demi menghadapi pertandingan selama beberapa waktu ke depan. Sementara itu anak-anak lain yang sudah mengambil makanan hanya saling pandang. Akan tetapi tidak ada niat untuk berkenalan. Padahal anggota tim basket yang the prince roads berusaha untuk bersikap baik sebagai teman.


Mereka datang sebagai lawan dalam sebuah pertandingan tetapi waktu istirahat digunakan sebagai bentuk usaha untuk mengenal anggota tim lawan permainan berharap bisa menjadi teman.


Sayangnya anggota tim basket Rafa terlihat enggan bahkan mengabaikan. Terlihat jelas tidak ingin mengenal kecuali satu orang yaitu Fahmi. Pemuda pendiam itu menerima uluran tangan Abimana, obrolan singkat sekedar saling basa-basi meski hanya bersambung tentang sekolah masing-masing.

__ADS_1


Mahmud yang melihat itu tidak senang, sehingga dengan kasar menarik Fahmi agar kembali duduk di dekat timnya. "Elo itu, apa-apaan, sih. Udah tahu mereka tim lawan masih aja dideketin!"


"Kamu itu yang kenapa? Mereka juga manusia sama seperti kita, lagian sekarang waktunya istirahat. Apa harus mempermasalahkan hal sepele? Kita hanya berkenalan bukan bermaksud lainnya," Fahmi membantah karena tak suka dengan pemikiran Mahmud yang terkesan seenak hati.


"Ish, elo tuh, ya. Coba pikir baik-baik deh. Mereka saja tidak pernah bertanding dengan orang-orang yang bisa dikatakan sebagai juara, terus elonya main nyelonong nrima pertemanan pake acara jabat tangan lagi." sahut Mahmud sewot dengan emosi di hati yang semakin geram karena merasa diabaikan.


Fahmi yang menyadari bahwa Mahmud memang mengedepankan emosi memilih diam mengalah. Darah muda membuat teman satu timnya itu lupa daratan, jadi tidak ada gunanya meneruskan perdebatan. Jika diteruskan pun bisa menjadi perselisihan yang berujung permusuhan atau mungkin saja dendam.


Ia tidak ingin mendapatkan masalah selama pertandingan sehingga memilih diam dan kembali menikmati makanan. Apalagi kehidupannya sudah cukup memiliki banyak masalah pelik yang selalu disimpannya seorang diri. Sementara Abimana berpura-pura tuli dengan suara lantang dari Mahmud yang memang menyudutkan anggota tim basketnya.


Namun suara bisik-bisik teman yang duduk di sebelahnya jelas mengusik ketenangannya. Wajar saja merasa tak senang karena mereka diperlakukan seperti orang jalanan yang tidak tahu aturan. Lebih dari itu, mereka lebih menghormati pemilik dari mansion yaitu Bu Kim.


Pelatih mereka yang selalu memberikan pendidikan terbaik agar masa depan memiliki jalan yang cemerlang. "Sudahlah, kalian tenang saja! Kita disini hanya untuk pertandingan dan bukan mencari masalah."


Sikap dan ucapan Mahmud memang tidak bisa dibenarkan bahkan seperti anak muda yang tidak tahu sopan santun. Akan tetapi itu bukan urusannya dan anggota timnya, tentu selama tidak melewati batas. Kini semua kembali tenang karena sudah diberikan pengertian.


Abimana yang mengalah hanya mengantisipasi kemungkinan yang bisa menyebabkan perselisihan seperti yang dilakukan Fahmi. Keheningan diantara anak-anak tiba-tiba teralihkan karena terdengar suara langkah kaki dari arah lain menuju ke ruang makan.


Di mana kedatangan Bu Kim membuat mereka memilih diam sembari menikmati makan siang yang kini sudah terasa hambar. Akan tetapi sang pelatih tidak seorang diri, melainkan datang bersama dua pelatih lain yang juga dikenal Abimana. Sehingga pemuda itu meletakkan sendok ke atas piring, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Langkah kakinya berjalan menyongsong kedatangan ketiga pelatih yang selama ini sudah mendidiknya dengan kesabaran. Terlihat jelas raut wajah bahagia dari kedua pelatih yang berjalan di sebelah Bu Kim menatap ke arah pemuda itu.


"Wah, wah, rupanya anak gantengku datang kesini juga, bagaimana kabarmu Abimana?" tanya seorang pelatih dengan rambut full putih tetapi bukan karena usia. Pria itu sengaja mewarnai rambutnya putih meski usianya sudah empat puluh tahun tetap saja memilih kalian dipanggil tua. Tidak tahu apa alasannya.


Rentangan tangan yang disambut dengan hangat Abimana membawa pemuda itu ke dalam dekapan seorang pelatih yang menganggapnya sebagai anak. "Alhamdulillah, semua baik, Yah. Aku disini tentu saja karena ingin bertemu ayah terbaikku dan juga sekaligus bersilaturahmi dalam perbandingan yang diselenggarakan oleh Bu Kim."

__ADS_1


"Alasan klasik dari anak muda. Wah ternyata anak ganteng pak Anderson sangat dewasa, ya. Boleh nih dijadikan menantu idaman." ledek pelatih wanita yang masih terbilang muda meski sudah memiliki suami dan seorang putri kecil yang manis jelita.


Rayuan itu membuat Abimana hanya tersenyum tipis tetapi lirikan matanya tertuju pada Kimmy. Dimana sang pelatih utama masih dalam mode serius tanpa ada senyum maupun tatapan kasih sayang yang selalu terasa hangat di dalam hatinya hingga tiba-tiba Pak Anderson menepuk bahunya.


Sontak ia mengalihkan pandangan menunduk, ia tak ingin ketahuan memperhatikan Kimmy secara diam-diam. Apalagi kini tatapan sang ayah angkat tertuju padanya, "Bagaimana pertandingan hari ini, apa kamu menang?"


"Belum bisa dikatakan begitu, Yah. Lihatlah, saat ini kami sedang menikmati makan siang karena permintaan dari Bu Kim yang menginginkan kami istirahat. Jika tidak, sudah pasti kami telah bertanding di jalanan hanya untuk memberikan pertunjukan singkat."


Jawaban Abimana membuat Kim tersenyum seraya menggelengkan kepala. Wanita itu tidak merasa tersindir dengan pengakuan leader tim the prince roads. Pada kenyataannya ia memiliki hak untuk mengatur jadwal pertandingan selama semua anak-anak masih berada di dalam naungannya.


Terlebih lagi melihat kemampuan dari setiap kelompok ia juga harus memikirkan masa depan semua orang. "Abimana kamu bisa kembali untuk melanjutkan makan siang dan kami akan melihat lapangan. Setelah ini, pertandingan akan dinilai oleh pelatih satu dan pelatih dua."


Kimmy mempersilakan Abimana untuk pergi meninggalkannya, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke lapangan. Obrolan yang cukup terdengar oleh anak-anak lain, sehingga teman-teman satu timnya itu tidak sabar ingin menunjukkan penampilan terbaik tim mereka.


Selain untuk mengesankan ketiga pelatih yang jelas mereka tahu siapa orang-orang yang baru saja datang itu. Dimana salah satu dari ketiganya merupakan pemimpin, sedangkan dua diantaranya memiliki kedisiplinan yang juga mencerminkan pengajaran seorang Kimmy Rosella.


Pak Anderson, pria itu memang masih single bahkan enggan untuk mencari pasangan karena baginya untuk merasakan kebahagiaan. Seseorang tidak harus memiliki istri karena untuk memiliki anak dia sudah mendapatkan semua itu dari para anak didiknya.


Sementara ibu muda yang bernama Moza. Wanita itu merupakan ibu rumah tangga yang di dalam rumah terlihat manis dalam menjaga keluarga sedangkan di luar seperti singa yang siap mengajarkan arti kekuasaan tanpa arogansi.


Ketika pondasi dari sebuah agensi yang bertujuan untuk dunia olahraga dengan para pendiri yang kuat dan kokoh serta saling melengkapi satu sama lain. Tentu bukan hal sulit untuk mewujudkan setiap rencana dalam mencapai kejayaan bersama.


Apalagi mereka lebih mengutamakan memberikan contoh nyata di setiap waktu melalui perbuatan daripada menjelaskan kepada anak-anak didiknya. Kini ketiganya berdiri di tengah pintu karena melihat kebersamaan Naumi dan Rafa yang terlihat begitu akrab.


"Ekhem! Rafa, apa kamu tidak mendengar perintah dariku?" dehem Kimmy mengalihkan perhatian kedua insan yang seketika menoleh menatap ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2