Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 18#Sah, Wejangan


__ADS_3

Apakah sungguh pemuda itu siap menikah dengannya? Mama sudah menjelaskan peristiwa semalam membuatnya sadar tanpa bisa melakukan perlawanan. Bukan tidak mampu tetapi tanggung jawab seorang anak melepaskan beban orang tua menjadi titik keputusan finalnya. Bukankah jika jodoh tak akan kemana?


Sesaat terdiam mencoba meyakinkan diri langkah menuju masa depan yang kini ada di depan mata hingga usapan lembut kembali membawa kesadaran tuk melanjutkan langkah kaki yang kaku tak sanggup meneruskan meski berusaha tetap bertahan. Bisikan semangat sedikit memberikan ketenangan.


Tatapan mata semua orang beralih menatap ke arah tangga. Dimana orang tua mempelai wanita menggandeng putrinya menuju ruang tamu yang dijadikan sebagai tempat ikrar janji suci nantinya. Rafa sendiri memilih mengatur hati agar keraguan yang tersisa menjauh darinya.


Keduanya duduk bersebelahan di sofa yang sudah diatur sedemikian rupa dengan meja tengah sebagai penghalang menghadap pak penghulu yang sudah siap melaksanakan tugas pekerjaan. Pria paruh baya yang seusia guru agama di sekolahnya itu mempersilahkan Tuan Fairuz untuk duduk di sebelahnya.


Pak penghulu memulai acaranya dengan ucapan basmalah, berlanjut ceramah singkat yang menjelaskan tanggung jawab dan kewajiban suami istri. Termasuk makna ijab kabul dan juga mahar yang nantinya bisa saja menjadi permasalahan dalam biduk rumah tangga.


Pernikahan pertama dan terakhir sang putri tentu dia sendiri yang menjadi walinya. Tangan terulur bersambut hangat tangan sang calon menantu, “Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Kimmy Rosella binti Fairuz dengan mahar kalung seberat lima gram dan hapalan surat Ar-Rahman dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Kimmy Rosella binti Fairuz dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.” Rafa mengucapkan kabul dengan yakin suara tegas tanpa keraguan.


"Bagaimana saksi sah?" tanya Pak penghulu begitu ijab kabul selesai diucapkan oleh kedua belah pihak.


Para tamu undangan saling menatap satu sama lain, lalu menjawab serempak seperti paduan suara saat melaksanakan upacara hari senin. "Saah ...,"


"Allahhumma biamaaanatika akhattuhaa, wa bikalimaaatika istahlaltu farjahaaa, fain qadhayta lii minhaa waladan faj’alhu mubaarakan syawiyyaa, walaa taj’al lissyaithaani fiihi syariikan walâa nashibaa."


Lantunan doa penutup terdengar merdu yang memiliki arti, 'Ya Allah, dengan amanat-Mu ku jadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.'


Lantunan doa yang penuh makna menjadi akhir janji suci. Ijab kabul yang mengubah status kedua insan itu sah menjadi suami istri. Pak penghulu membimbing Rafa dan Kimmy untuk tanda tangan di buku nikah, lalu memasangkan kalung yang dijadikan sebagai mahar pertama.


"Sekarang ambillah air wudhu, lalu bacakan surat Ar-Rahman sesuai dengan mahar yang Ade sanggupi." Pak penghulu mengingatkan tugas pertama Rafa sebelum melanjutkan acara yang mungkin akan diadakan nantinya.


Rafa beranjak dari tempat duduknya dengan langkah kaki berjalan menghampiri kamar mandi yang terletak tak jauh dari ruang tamu. Lalu kembali lagi tetapi wajah basah, tatapan mata jernih memancarkan ketenangan dengan sinar kasih sayang. Pemuda itu mengambil Al-Quran yang memang sudah disiapkan sejak awal.


Pertama-tama mengatur posisi duduk, lalu membaca Al-Quran yang sengaja ia pangku. Kemudian menghirup oksigen di sekitar mencoba menekankan diri agar bisa membaca surat Ar-Rahman dalam tiga kali napas panjang. Suara merdu yang membius perlahan mengubah suasana membuat Kimmy tertegun.

__ADS_1


Ia tak menyangka anak didiknya memiliki suara yang indah bahkan begitu fasih ketika melafalkan surat Ar-Rahman sebagai mahar pernikahan. Sungguh hati pun ikut terharu karena terbuai ayat suci Al-Quran yang menyentuh kalbu menyadarkan akan kasih sayang kebesaran Sang Maha Esa.


Surat Ar-Rahman yang memiliki makna begitu dalam penjabaran surat Ar Rahman adalah menjelaskan segala nikmat Allah yang sangat banyak terhadap makhluknya. Sehingga mengingatkan kita untuk selalu memiliki sifat yang penuh kasih sayang pada Allah dan makhluknya.


Dalam Tsawabul A'mal, dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda: 'Barang siapa membaca Ar Rahman, dan ketika membaca kalimat fabiayyi aalaa'i Robbikuma tukadzibaan kemudian jika dia mengucapkan: tidak ada satupun nikmat Mu dari Tuhanku yang aku dustakan, maka jika membacanya di malam hari kemudian mati, maka matinya seperti mati syahid, jika membacanya di siang hari kemudian ia mati, maka matinya seperti mati syahid.' Hal iki diriwayatkan oleh Imam Ja'far.


Rafa menyudahi bacaan mahar surat Ar-Rahman, lalu mencium Al-Quran, kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. Pemuda itu kini menyiapkan diri seraya perlahan menggeser posisi duduk hingga menghadap ke arah Kimmy yang masih menundukkan wajah. Ia tahu wanita itu juga merasakan detak jantung yang sama sepertinya.


"Assalamualaikum, Istriku." ucapnya menyapa Kimmy dengan gugup.


Kimmy mendongak menatap mata pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Bibir kelu tak mampu tuk mengucapkan kata tetapi suara salam harus dijawab. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabnya begitu pelan lirih terdengar tercekat.


Apa yang terjadi seperti mimpi ketika kemarin ia menolak tetapi takdir langsung mempersatukan keduanya. Ikatan yang sebenarnya masih sangat jauh dari kata hubungan. Akan tetapi takdir mempermainkan. Semua itu hanya karena mereka memang berjodoh.


Jodoh memiliki pasangan menjadi awal kehidupan baru. Selain itu ada jodoh rezeki dan juga kematian. Semua insan yang bernyawa bisa dipastikan tidak sanggup mengubah jalur garis kehidupan yang telah ditetapkan. Satu pertanyaannya, jodoh kita itu yang mana?


Keduanya tampak canggung mencoba untuk beradaptasi dengan status baru bahkan tangan tidak sanggup untuk sekedar menggenggam. Selain saling menyapa sebagai pasangan muhrim. Papa Fairuz yang menyadari itu hanya tersenyum tipis menoleh menatap istrinya sendiri.


Akan tetapi sepertinya mereka lupa bahwa Rafa juga memiliki keluarga. Dimana kedua orang tuanya kini berdiri di depan pintu hanya diam termenung tak sanggup untuk mengatakan apapun. Memang benar perjodohan itu yang mereka harapkan tapi pernikahan secepat ini terlalu sulit untuk diterima.


Bagaimana tidak? Pernikahan itu ternyata bukan hanya mereka berdua yang menginginkan. Perjodohan yang diharapkan untuk segera dilangsungkan pernikahan tapi sungguh tak menyangka ketika Fairuz dan Lily membuat Rafa melakukan ijab kabul tanpa menunggu kedatangan mereka.


Sebagai orang tua terselip rasa kecewa dengan apa yang terjadi saat ini, hanya saja percuma melakukan protes. Apalagi memberikan keluhan ketika Keinginan mereka sudah terpenuhi. Jujur saja, mereka juga ikut merasa lega karena melihat Rafa sudah menjadi suami Kimmy.


"Assalamualaikum, maaf kami telat karena memang jalanan macet." ucap salam Lion membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu masuk.


Langkah kaki pasutri itu berjalan menghampiri ruang tamu. Dimana beberapa orang mulai memberikan sambutan membalas salam. Fairuz memberitahu bahwa Lion dan Keisha adalah keluarga mempelai pihak pria.


Satu jam telah berlalu, akhirnya tidak ada lagi yang menjadi pembahasan utama. Satu persatu para tamu undangan pamit undur diri. Mereka sudah mendapatkan bingkisan yang sengaja disiapkan Mama Lily sejak pagi buta. Kini yang tertinggal hanyalah orang tua Rafa, orang tua Kimmy dan kedua pengantin baru yang duduk saling berhadapan.

__ADS_1


Namun mereka semua hanya diam saling menatap satu sama lain mencoba untuk menghadapi rasa yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran. Apa gunanya mengucapkan semua keluh kesah? Jika tidak bisa menahan diri mungkin saja hubungan yang baru terjadi bisa kandas seperti kemarin malam.


"Kimmy, maafin Bunda. Sungguh aku tidak bermaksud melukaimu dengan kata-kataku." Keisha menatap Kimmy lembut penuh penyesalan. Ia menyadari wanita yang kini menjadi menantunya itu adalah gadis baik dan bisa dipercaya.


Lion mengusap lengan sang istri sekedar ingin menguatkan wanitanya agar mampu melanjutkan ucapan yang memang seharusnya. "Kedatangan kami kesini selain memberikan ucapan selamat dan doa. Bunda dan Ayah akan segera pindah ke luar kota untuk menyelesaikan masalah bisnis. Niat kami ingin mengatakan ini sebelum kalian menikah tetapi takdir berkata lain."


"Sehingga kami harus menyampaikan ini sebelum semuanya terlambat. Rafa memang pendiam tapi selalu perhatian lebih dari ayahnya. Sifatnya yang keras kepala seringkali menyusahkan, bunda harap Kimmy mau bersabar menghadapi putra kami yang memang masih muda." sambung Bunda Keisha mengutarakan isi hati terdalam tanpa kebenaran.


"Ayah, Bunda, kalian akan pergi ke mana dan kenapa mendadak sekali. Bukankah semuanya baik-baik saja?" tanya Rafa menatap kedua orang tuanya begitu intens. Pemuda itu mencoba untuk mencari kebenaran yang terlihat jelas jauh bersembunyi dari pengalihan pandangan


Baik Kei, maupun Lion ingin sekali mengatakan kebenaran yang sebenarnya. Bagaimana keadaan mereka yang harus Rafa ketahui tapi melihat situasi. Jujur akan lebih baik sang putra tidak tahu apapun. Apalagi saat ini putranya memiliki tanggung jawab yang lebih utama yaitu menjaga, merawat dan menyayangi istri.


Bagi ia dan sang suami sudah cukup memiliki satu sama lain tapi kini Rafa harus berusaha mendirikan pondasi kekeluargaan yang baik dan sehat demi masa depan agar lebih baik lagi. Sebagai orang tua hanya bisa mendoakan, mendukung sesekali menasehati ketika anak-anak salah jalan.


"Kei dan Lion hanya akan pergi beberapa bulan saja. Itu pun juga demi pekerjaan yang memang pastinya mendesak." Papa Fairuz membantu kedua sahabatnya. Lion tidak menyadari jika ia tahu masalah yang menimpa keluarga sang sahabat.


"Rafa sekarang kamu juga harus melanjutkan sekolah agar bisa cepat lulus dan mulai kuliah. Apalagi sekarang kamu seorang suami maka tanggung jawab utamamu adalah mengurus istri yang kini menjadi pendamping hidupmu.


"Begitu juga dengan Putriku yang harus beradaptasi menerimamu sebagai suaminya. Kewajibannya memberikan kasih sayang sebagaimana yang harus ia berikan. Bukankah kalian juga berada di satu sekolah?


"Papa tahu hal ini baru kemarin, meski kalian di sana adalah guru serta murid. Bukan berarti di dalam rumah hubungan kalian sama. Ingatlah kalian suami istri yang harus saling mendukung dan juga menjadi sandaran satu sama lain.


"Jika ada masalah apapun bicarakanlah secara baik-baik dalam keadaan tenang. Coba dengarkan satu per satu agar tidak ada tumpukan masalah yang suatu saat nanti justru menjadi bumerang. Baik aku ataupun Mama begitu juga Ayah dan Bunda kalian tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian."


Sejenak menghirup oksigen, lalu mengembuskan perlahan. "Kami sebagai orang tua yang juga menikah atas dasar keinginan masing-masing akan memberikan kebebasan terhadap hubungan kalian tapi sebagai orang tua, kami tidak menginginkan perpisahan."


"Jadi kami harap kalian mengerti pernikahan ini satu untuk kebaikan dan juga penyempurnaan agama." pungkas Papa Fairuz menyudahi wejangan sebagai nasehat seorang ayah untuk anak-anaknya.


Nasehat panjang kali lebar yang membuat sebuah Rafa dan Kimmy diam terpaku mendengarkan tanpa keluhan. Jangankan untuk mendebat, bertanya pun mereka tak sanggup. Semua sudah jelas dan pasti harus mereka usahakan untuk mendapatkan kehidupan tenang selama mengarungi hidup rumah tangga.

__ADS_1


"Baiklah sekarang kalian boleh istirahat. Pasti sangat lelah. Oh iya, malam nanti kita akan adakan acara syukuran meskipun kecil tetapi kita harus membuat tasyakuran karena itu sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala." ucap Mama Lily memberitahu semua orang tentang acara yang sengaja ia buat tanpa pemberitahuan.


"Kei, Lion, kalian juga istirahat saja di rumah ini, jadi kita bisa berangkat ke hotel bersama-sama. Sore aja perginya karena acara selepas isya." Fairuz menyudahi sesi ceramahnya memberikan keputusan singkat yang mau tak mau disanggupi oleh semua orang.


__ADS_2