
Bunda Keisha tersenyum senang mendengar pujian dari putranya. Tangan dengan tenang membalikkan piring tak lupa menyendok nasi serta memberikan lauk, pauk yang sudah di sediakan. "Ini untuk ayah, dan ini untuk Darren. Ayo, makan dulu!"
"Kamu bisa ganti bajunya nanti saja, Nak. Oh iya, Ayah kan harusnya pergi ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Lupa ya, Yah?" Bunda Keisha mengingatkan jadwal suaminya seraya meletakkan piring terakhir yang merupakan jatah makan sendiri.
Saking sibuknya dengan urusan pekerjaan sampai lupa permintaan kecil Keisha yang memang sudah memberikan catatan daftar belanja bulanan dua hari yang lalu. Ia memang lebih fokus mengerjakan dokumen yang sudah menumpuk, jadi wajar saja melupakan sesuatu yang tidak di kerjaan setiap harinya.
"Astaghfirullah, maafin Ayah, ya Bunda. Serius ini kelupaan. Gini aja deh, kebetulan malam ini kan malam minggu. Jadi gimana kalau kita semua jalan-jalan sekalian belanja bulanan. Pasti seru nikmati malam minggu bareng. Pada setuju gak?" tanya Ayah Lion dengan semangat karena kelalaiannya bisa menjadi jalan kebersamaan keluarga.
Akan tetapi ide dari ayahnya sangatlah buruk bagi Darren. Dimana pemuda itu mengingat situasi mereka yang lebih baik tidak meninggal rumah karena takut akan bertemu Rafa. Itulah yang menjadi pemikiran Darren tetapi bagi Keisha dan Lion sudah pasti berbeda lagi.
Pasutri itu hanya berusaha memberikan kenyamanan pada Rafael seraya mengharapkan pengertian dari sang putra agar mau menerima Rafandra sebagai saudara kembar yang akan selalu mereka rindukan. Dua sisi pikiran dan hati yang saling bertolak belakang membuat obrolan terhenti sesaat.
Apalagi Darren tau benar bahwa kedua orang tuanya lebih menyayangi Rafa dan setelah apa yang terjadi barusan. Ia merasa cemas, bagaimana jika sampai kedua orang tuanya bertemu sang saudara kembar di luar sana? Tidak bisa di biarkan karena satu pertemuan bisa merenggut haknya sekali lagi.
Sebagai seorang putra, ia berhak mendapatkan kasih sayang, waktu, dan perhatian yang sama dari kedua orang tuanya. Sehingga rasa tak ingin menikmati derita yang sama, membuat pemuda itu berpikir keras akan melakukan apa. Satu solusi yang tidak menimbulkan kecurigaan tapi membuatnya kembali mendapatkan kenyamanan.
__ADS_1
"Ayah dan bunda di rumah saja. Jadi serahkan masalah belanja bulanan padaku, bukankah pekerjaan kalian masih menumpuk? Selain itu pasti melelahkan saat belanja harus berkeliling mencari barang. Sekali saja, biarkan aku yang mengurus pekerjaan rumah.
"Bunda juga membutuhkan istirahat karena selama sepekan merawatku sampai lupa rasanya tidur nyenyak. Boleh ya, kalau aku saja yang berbelanja? Itung-itung buat olahraga." Rafa mengedipkan mata memohon agar bisa mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.
Tidak ada yang salah dengan permintaan Darren karena memang membicarakan fakta. Akan tetapi pernyataan sang putra, membuat Lion dan Keisha saling pandang mencoba meyakinkan diri. Lalu keduanya serempak menganggukkan kepala setuju dengan keinginan putra mereka.
Sesi makan siang terus berlanjut dengan obrolan singkat tetapi topik yang di bicarakan hal-hal yang cukup random. Siapapun yang melihat kebersamaan itu, pasti merasakan kasih sayang serta kehangatan di antara mereka sebagai keluarga.
Namun, tak seorangpun tahu tentang isi hati dan pikiran manusia. Dimana di satu sisi ada emosi orang tua yang merindukan anak mereka tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kesepakatan di dalam perjanjian. Tangan kedua insan itu erikat hingga mereka harus benar-benar lost contact dari putra lainnya.
Rafael selama ini mungkin merasa sendirian dan menganggap tidak pernah dipedulikan. Sayangnya pemuda itu bahkan tidak tahu, jika sebagai orang tua mereka juga selalu memperhatikan secara intens meski harus melalui mbok Yem. Rafael juga tidak akan menyangka akan orang-orang di dekatnya yang selama ini memiliki tugas untuk selalu mengawasi dengan tanggung jawab serupa.
Namun, hari ini, apa yang mereka lakukan tidak bisa sama karena Rafandra sudah mengikat janji sebagai keluarga. Sementara itu, bagaimana dengan kondisi Rafandra?Seorang anak yang selalu berusaha mencari kebenaran dengan caranya sendiri.
Sebagai orang tua khawatir tapi mengingat Rafa sudah menikah dan memiliki istri seorang wanita dewasa. Jujur saja, perasaan Keisha dan Lion sedikit lebih tenang karena percaya bahwa Kimmy bisa bisa menjadi pasangan yang melengkapi putra mereka.
__ADS_1
Miris bukan? Ketika pernikahan sudah dilangsungkan justru menjadi alasan perpisahan untuk beberapa tahun ke depan. Awalnya hati meyakini akan penyatuan keluarga tapi setelah bertemu Rafael. Siapa yang bisa menduga, takdir menggariskan cobaan bagi mereka.
Satu pertanyaan yang mengusik hati dan pikiran pasutri itu. Apakah reaksi Rafa akan sama seperti Rafael? Mereka sadar akan ketidakadilan yang telah dilakukan selama ini, sehingga pertanyaan itu terus menggerogoti ketenangan hati.
Sampai-sampai selama sebulan terakhir menjadi semakin lebih besar hingga membuat perasaan kian tak tenang. Sebagai orang tua, baik Keisha maupun Lion membedakan hak kedua putra mereka. Akan tetapi setelah menerima perjanjian, maka mereka tahu konsekuensi tanpa bisa merubah keadaan.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian semua orang. Lebih tepatnya seketika membuyarkan lamunan Bunda Keisha, "Bunda angkat telepon dulu, kalian bisa lanjutkan makannya."
Wanita itu beranjak meninggalkan tempat duduk, lalu berjalan sedikit menjauh dari meja makan tetapi tidak keluar ruangan. Hal itu sengaja di lakukan agar Darren tidak curiga. Kemudian bergegas menggeser icon hijau di layar.
Setelah memastikan panggilan tersambung, barulah mendekatkan ponsel ke daun telinga. Seperti biasa ia mengucapkan salam sambutan sebelum melanjutkan obrolan hingga penuturan dari seberang membuatnya terdiam. Tidak ada kata selain mengheningkan cipta.
Selama beberapa saat hanya mendengar penjelasan yang membuat debaran di dada kian terasa berdegup cepat. Rasa tak sabar menerobos masuk menghangatkan hati yang selama ini hilang entah ke mana. Tanpa sadar tubuhnya bergetar berusaha menahan kegelisahan untuk melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam.
"Oke, terima kasih. Selamat siang, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Panggilan di akhiri dari seberang membuat Bunda Keisha merenung terdiam sesaat mencoba menguasai emosinya.
Ya Allah, tolong berikanlah hamba kekuatan untuk menyatukan seluruh keluarga. Hamba berharap bisa melewati badai yang pasti menghadang di setiap langkah kami. Mudahkanlah perjuangan kami untuk mencapai ridho-Mu.~ ucap do'a Bunda Keisha di dalam hati dengan khusyuk.
__ADS_1