
Niat hati ingin menyapa untuk mengatakan sesuatu yang penting, tetapi ia tidak pernah berpikir jika malam ini justru menjadi malam kelam. Padahal ia ingin bertemu sang kekasih hati. Sayangnya semua terjadi begitu cepat hingga tak seluruh dunia runtuh karena keputusan Darren yang tidak mengingin tinggal bersama kedua orang tuanya.
Sebagai manusia, dirinya tidak mengerti kenapa takdir begitu cepat memutuskan sebuah pertemuan menjadi perpisahan yang menyakitkan. Meski begitu sebagai kekasih tidak bisa memaksa Darren untuk kembali bersama kedua orang tuanya ketika hati pemuda itu masih tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa hari semua siswanya mendapatkan hasil ujian kelulusan. Bahagia tentunya karena sekolah juga memberikan penghargaan kepada setiap murid yang berada di bawah bimbingannya. Termasuk Darren yang bisa memiliki tempat dan ruang di hati banyak para pengajar.
Satu tahun yang lalu mereka duduk bersama hanya sebagai guru dan siswa, tapi tahun ajaran terakhir. Kini keduanya duduk sembari menikmati coffee dari cafe depan. Tatapan kata menatap gugurnya dedaunan tertiup angin yang membuat suasana semakin hening dalam kesunyian.
"Darren, bukankah ini setahun. Apa kamu tidak mau menengok orang tuamu?" Sisil mencoba membujuk pemuda itu untuk kesekian kalinya, tetapi justru yang dibujuk langsung beranjak dari tempat duduk.
Langkah kakinya bukan menuju asrama. Melainkan menuju area parkir. "Ayo! Apa kamu tidak mau mengantarku?" ajakan Darren, membuat Sisil tersenyum bahagia.
Apa yang selama ini menjadi harapan sederhana orang tua. Akhirnya ia bisa mewujudkan dengan kerelaan hati sang kekasih meski harus menekan ego di dalam hati. Satu per satu tindakan menuju ke masa depan mengembalikan rasa yang pernah terlupa.
Hatinya ikut hancur ketika tahu bahwa Rafa yang merupakan suami dari Kimmy adalah saudara kembar Darren. Kebenaran itu terungkap ketika mampir di mansion sang sahabat untuk menyerahkan beberapa barang yang tertinggal di asrama. Sehingga ia merasa ikut bertanggung jawab untuk menyatukan keluarga tersebut.
Akan tetapi, keputusan Darren justru semakin menghancurkan keluarga yang terlihat harmonis. Akan tetapi, hari ini harapan datang menyapa. Selama perjalanan hanya ada keheningan dengan aura gugup dan juga cemas dari dalam diri sang kekasih.
Setelah setahun berlalu, pertemuan pertama kali setelah kemarahan yang meledak. Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang harus dikatakannya? Bingung, dilema karena tak tahu harus bagaimana.
Digenggamnya tangan pemuda itu dengan perasaan hangat seraya menyalurkan keyakinan hati agar Darren bisa percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Hari yang begitu cerah, tetapi hati masih terlihat mendung dengan emosi yang mendadak berkecamuk tak tentu arah.
Perjalanan selama beberapa menit terkikis begitu cepat hingga mobil berhenti di depan sebuah halaman rumah yang terlihat sepi. Pintu dipandangi sampai tak berkedip menambah keraguan hati. Kemarin, ia pernah hilir mudik melewati pintu itu, tapi hari ini tertutup rapat.
Apa masih ada penghuninya? Melihat area sekitar yang tidak ada tanda kehidupan. Ia tidak yakin jika kedua orang tuanya masih tinggal di sana. 'Sil, kita balik lagi ke asrama! Aku jamin mereka sudah balik ke Jakarta buat anak kesayangannya."
"Jangan sok tahu, deh. Kamu tidak tahu apapun tentang mereka. Cepat, keluar dan periksa! Keyakinanmu yang bertahan atau kebenaran yang harus membuatmu sadar. Jangan menyesal, jika hatimu sendiri yang patah," jawab Sisil dengan sedikit ngegas hingga menyentak kesadaran Darren.
__ADS_1
Ia tidak tahu maksud dari Sisil. Bingung karena entah kenapa gadisnya mengatakan seperti itu. Padahal selama ini dia merasa Sisil tidak pernah pergi jauh darinya. Itulah yang ia pikirkan. Pemuda itu tidak tahu, jika setahun setiap dua minggu sekali melakukan pertemuan dengan kedua orang tuanya.
Jujur saja, dia berharap keluarga Darren bisa bersatu lagi, tetapi sayang dari kedua belah pihak sama-sama keras kepala membenarkan apa yang mereka putuskan.
Pemuda itu, membuka pintu, lalu turun dengan langkah kaki secara perlahan berjalan mendekati pintu yang sudah lama tidak ia sentuh. Niat hati ingin mengetuk, tetapi keraguan menyusup. Ia merasa tak sanggup.
Debaran di dada membuatnya sadar. Berapa lama dirinya mengabaikan kedua orang tua hanya karena ego sendiri. Ia hanya menahan diri dan bukan karena tidak menyadari hal tersebut, hanya saja baginya semua orang bertanggung jawab atas ketidakadilan yang terjadi padanya.
Benar kata Sisil. Dimana selama ia tak berdamai dengan hati, lalu bagaimana akan memberikan ruang dan waktu terhadap orang-orang yang menyayanginya. Pemuda itu mencoba untuk menetralkan perasaan menghirup udara begitu dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan.
"Bismillahirohmanirohim," ucapnya dengan yakin ingin mengetuk pintu tetapi belum juga tangannya sampai menyentuh kayu persegi panjang, tiba-tiba pintu terbuka lebar. "Bunda, Ayah, kalian masih di sini?"
Pertanyaan itu terdengar begitu lirih dengan napas terjepit. Darren tertampar oleh kenyataan dan mengakui dirinya memanglah sangat egois. Jujur saja selama setahun dari waktu ia meninggalkan rumah. Pikirannya meyakini bahwa kedua orang tuanya akan langsung kembali ke Jakarta untuk tinggal bersama Rafa.
Namun ia tak menyangka, jika kedua orang tua itu tetap saja di kota yang sama dengannya agar tidak melanggar janji yang sudah mereka buat. Pertemuan setelah setahun menghadirkan sebuah harapan baru bagi keluarga itu. Akan tetapi tidak bagi Sisil.
Dimana setelah kelulusan Darren harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kuliah di tempat yang lebih baik dan untuk itu, ia ingin membawa kekasihnya beserta keluarga untuk pindah ke Jakarta. Meski sadar akan ditentang, tetap saja berusaha mencari cara agar bisa mewujudkan harapannya.
Di tengah lamunan, tiba-tiba terdengar suara dari ponsel yang mengalihkan perhatian. Sebuah pesan singkat membuatnya tersenyum seakan mendapatkan keberuntungan yang selama ini menghilang. Bagaimana tidak bersyukur?
Ketika semua jalan tertutup, muncul jalan lain sebagai bukti keyakinan hatinya tidak salah. Ia berharap dengan satu alasan masa depan, maka Darren mau setuju pindah ke Jakarta. Tentu saja pindah bersama kedua orang tua agar tidak terpisahkan lagi. Apalagi melihat si kembar bisa menjadi saudara harmonis.
Meski ia tak mengenal seperti apa Rafandra. Tetap saja sebagai saudara yang mengetahui betapa pentingnya kehidupan keluarga. Ia sangat ingin melihat keluarga kekasihnya bersatu karena hati tak tenang jika hanya memikirkan kebahagiaan sendiri untuk masa depan. Pertemuan malam ini membawa Darren kembali pada kehangatan keluarga.
Baik orang tua maupun anak sama-sama berusaha mencurahkan kasih sayang dan melepaskan semua emosi serta kesalahpahaman yang pernah ada. Sehingga beberapa hari berikutnya, keluarga itu semakin terlihat lebih dan dekat. Darren juga sengaja pulang ke rumah agar bisa tinggal bersama kedua orang tuanya, lagi.
Hal itu membuat Sisil lebih bahagia. Di hari ke enam, pertemuan menambah kehangatan suasana tetapi hadiah kelulusan darinya hampir menjadi bumerang. Ia memberikan sebuah kertas berisi beasiswa dari salah satu fakultas di Jakarta. Di mana beasiswa itu untuk Rafael.
__ADS_1
Awalnya Darren menolak, tetapi melihat situasi dan perdebatan tentang masa depan. Akhirnya Rafael setuju, meski harus membawa kedua orang tuanya kembali ke Jakarta. Pemuda itu menyepakati untuk melanjutkan sekolah hanya saja, ia tidak ingin ada yang berusaha mendekatkan dirinya dengan Rafa.
Sehingga pemuda itu menolak mentah-mentah tawaran kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah keluarga. Perdebatan pasal tempat tinggal membuat Sisil angkat bicara. Dimana demi kebaikan bersama, iq menawarkan rumah miliknya sendiri untuk ditempati keluarga sang kekasih selama berada di Jakarta.
Sepekan dari perdebatan sengit, akhirnya semua berangkat ke Jakarta. Sisil bahkan juga ikut pergi hanya untuk menunjukkan beberapa hal agar semua urusan surat menyurat tidak ada masalah. Apalagi rumah yang beli merupakan sebuah unit salah satu perumahan di kota Jakarta pusat.
Hari pertama di Jakarta hanya digunakan untuk istirahat, tetapi mengingat jadwal kuliah masih beberapa hari lagi. Sisil dengan senang hati menemani Darren dan kedua orang tua kekasihnya keliling kota Jakarta untuk menikmati waktu bersama. Keindahan kota Jakarta memang berbeda karena ketika siang lebih banyak tertutup polusi.
Seperti malam ini, di mana mereka duduk di sebuah cafe dengan tema yang unik yaitu happy birthday dan juga happy anniversary. Pelayan mengatakan siapapun yang berulang tahun atau tengah merayakan pernikahan akan diberikan makanan gratis sebagai bentuk tanda syukur karena si pemilik cafe juga sedang mengadakan acara syukuran.
Terdengar begitu menyenangkan, tetapi tidak ada yang ulang tahun atau merayakan pernikahan di antara keluarga yang baru saja masuk ke cafe itu. Meski begitu, mereka mendapatkan kue lezat sebagai hidangan pembuka.
"Aku pergi ke toilet dulu, kalian lanjutkan saja makannya!" Darren berpamitan, membuat yang lain mengangguk tetapi langkah pria itu bergegas meninggalkan tempatnya.
Namun, sebelum sampai ke toilet. Pemuda itu justru melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sehingga dengan langkah yang berganti haluan, ia berjalan mengikuti langkah kaki seseorang yang berjalan di depan sana.
Langkah kaki terus melangkah dari satu tempat ke tempat lain yang ternyata hanya melewati sisi lain cafe menuju sebuah taman. Ia pikir sudah sampai tujuan, tetapi ternyata masih belum karena orang yang ada di depan melewati jalanan sepi ke area jalan utama sisi utara.
Pikiran mengatakan, ia harus kembali ke cafe. Sayangnya hati tak ingin melepaskan perhatian dari orang yang ada di depan sana. Dimana perjalanan yang cukup melelahkan, membuat langkahnya sedikit pelan. Ia tidak paham, kenapa tidak naik taksi?
Padahal tujuan yang dituju sangat jauh dari cafe, meski mereka berdua berjalan beriringan dengan jarak yang memisahkan. Suasana sekitar teramat sepi bahkan tempat berpijak merupakan area dekat beberapa bangunan terbengkalai. Selain itu, ia merasa ada orang lain yang juga mengikuti langkah mereka dari belakang.
Posisinya seperti berada di tengah, tapi kenapa ia merasa seperti itu? Ketika firasat mengatakan ada yang tidak beres, secepat kilat ia mencari celah mencoba untuk bersembunyi. Di mana tepat setelah melewati belokan, ia bergerak cepat menyembunyikan diri di belakang tempat sampah samping pohon rindang yang begitu gelap.
Beberapa saat setelah bersembunyi, benar saja ada orang yang memakai mantel hitam dengan sembilan pisau tajam berhenti di depannya. Wajah yang tidak tampak karena tertutup tudung dengan minimnya pencahayaan di area itu, membuat Darren kesulitan mengenali wajah si orang misterius.
Orang itu terlihat kebingungan menoleh kesana kemari mencari sasaran yang tengah ia buru. Sungguh misterius dan begitu mencurigakan. "S!@l! Kenapa anak itu cepat hilang, sih. Kalian, buruan berpencar! Kemanapun bocah itu pergi, kita bereskan malam ini, cepat!"
__ADS_1