
Perasaan kian tak menentu karena baik kedua orang tuanya dan juga Rafa masih diam membisu tapi tiba-tiba suara salam bersahutan bunyi bel rumah terdengar dari luar. Suara yang lebih menarik perhatian papanya dibandingkan pertanyaan sang putri sendiri. Aneh karena tidak seperti biasa sang papa bersikap seperti itu.
"Rafa, pergilah temani Mas Fairuz. Mama akan ajak Kimmy ke dalam dulu." Mama Lily beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki berjalan mengitari meja, sedangkan Rafa mengikuti perintahnya.
Pemuda itu juga bangun, lalu pergi meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Suasana semakin heran dan membingungkan hingga sentuhan di pundak menyentak kesadaran yang sedang berusaha mencerna situasi di sekelilingnya. Ajakan lembut sang mama tak bisa dibantah, apalagi terlihat jelas tatapan mata wanita itu serius.
Mau, tak mau, Kimmy ikut kembali ke kamar tanpa bisa mencari tau apa yang sedang terjadi. Suara yang terdengar jelas di depan tengah melakukan obrolan panjang kali lebar. Entah kenapa perasaan semakin tak tenang hingga sang mama menutup pintu kamar begitu mereka masuk.
"Kimmy, bagaimana perasaanmu sekarang, Nak?" tanya Mama Lily membimbing putrinya untuk duduk di tepi ranjang. Ia tahu gadisnya pasti merasa kebingungan, tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi.
Dimana setiap kali trauma datang menyerang, maka ingatan gadisnya mendadak hilang. Dokter mengatakan sang putri menolak mengingat masa terburuk di dalam hidup yang selalu menyiksa batin tetapi hal itu akan kembali terkenang jika pemicunya kembali datang mengingatkan. Seperti yang terjadi semalam.
Kerusuhan dan teror yang dibuat Delon membangkitkan rasa takut di dalam diri sang putri tetapi setelah tenang di dalam pelukan Rafa. Memori itu secara tak kembali tersingkir tanpa berharap datang kembali. Maka dari itu yang tersisa hanya bingung karena tidak mengingat kejadian semalam.
Kondisi ini juga sudah dijelaskan oleh sang suami agar Rafa bisa memaklumi meski terdengar aneh dan tidak masuk akal. Pemuda yang manut dan sopan itu sudah mencuri perhatian dan persetujuan darinya, jika ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius.
"Mama kenapa tanya begitu? Kimmy baik-baik saja, cuma kepala sakit sedikit. Salah tidur kali, tapi kenapa kalian tidak memarahi Rafa? Dia kan tidur malah sambil meluk aku." protes Kimmy apa adanya membuat Mama Lily tersenyum tipis.
Ingin menjelaskan apa yang terjadi tetapi bukan solusi yang baik. "Rafa bisa melakukan lebih setelah sah nanti karena pernikahan kalian sudah ditetapkan. Tunggu sebentar," Mama Lily meninggalkan Kimmy menuju lemari.
Lemari kaca yang menampilkan begitu banyak gaun menjadi tujuannya. Tanpa berlama-lama wanita itu memilih sebuah gaun bermotif bunga lengan panjang dengan bawahan jatuh menjuntai. Gaun yang pantas untuk dikenakan di waktu yang tepat. Ia ingat gaun itu di beli tahun lalu tetapi masih blum memiliki kesempatan untuk dipakai Kimmy.
"Putriku yang baik hati, ganti pakaianmu dulu ya dengan gaun ini," Mama Lily memberikan gaun pilihannya ke pangkuan Kimmy, lalu mengerlingkan mata agar sang putri menurut tanpa bertanya-tanya.
Entah apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya tetapi ia merasa ada hal besar siap mengguncang kehidupannya. Firasat yang sejak pagi dirasakan tidak mungkin salah sasaran. Akan tetapi melihat keseriusan di wajah mamanya, ia tak bisa mendebat meski pikiran mulai tak tenang.
__ADS_1
Sementara di bawah sana, Papa Fairuz baru saja menyelesaikan formalitas yang dibutuhkan pihak pengadilan agama untuk pernikahan dadakan yang akan diadakan pagi ini juga. Ya, semua sudah diputuskan sejak semalam dan tentunya atas persetujuan dari Rafandra sendiri. Sehingga pernikahan bukan lagi pemaksaan melainkan tanggung jawab dengan kesadaran penuh.
"Jadi, bagaimana dengan mahar untuk pernikahannya? Apa sudah dipikirkan supaya pak penghulu mencatatnya sekarang juga." tanya aparat pengadilan agama yang memang datang setelah perdebatan panjang kali lebar semalam.
Pertanyaan itu membuat Rafa berpikir sejenak. Sebagai seorang pria, ia harus memberikan mahar yang sesuai dengan kemampuannya hanya saja tidak mungkin sesuka hati. Pernikahan yang diharapkan sekali seumur hidup, bagaimanapun harus sesuai harapan dari ke-dua belah pihak. Begitulah pemikirannya.
Padahal dalam agama islam ketentuan pemberian mahar diatur dalam firman Allah SWT yaitu pada Q.S An-Nisa Ayat 4 yang berbunyi:
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
Mahar atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai maskawin adalah pemberian yang diberikan oleh pihak lelaki kepada mempelai wanita pada saat pernikahan. Selain menjadi syarat wajib, mahar juga merupakan sebuah bukti jika mempelai lelaki serius ingin menikahi wanita pilihannya dan bersatu dalam bahtera rumah tangga.
Rafa mengeluarkan kalung yang selama ini bersembunyi di balik bajunya, lalu melepaskan, kemudian meletakkan ke atas meja. "Kalung yang kubeli dari hasil kerja pertama kali. Beratnya hanya lima gram. Kalung ini sebagai mahar dan untuk melengkapi maka mahar kedua bacaan surat Ar-Rahman."
"Alhamdulillah, itu mahar yang dimuliakan oleh Allah SWT. Sesuai dengan riwayat Rasul sebagai berikut, 'Maka apabila kіta tіdak memіlіkі mahar berupa baju, cіncіn maupun laіn sebagaіnya, maka dapat dіlakukan dengan cara menghafal salah satu surat dalam Al Qur’an yaіtu surat ar rahman.' HR. Bukharі.
Kepergian Papa Fairuz memberikan waktu pada Rafa untuk berbincang-bincang dengan semua orang yang hadir pada acara pernikahan dadakan. Pemuda itu sibuk bertanya ini itu agar bisa menjadi imam yang baik untuk Kimmy. Sadar benar bahwa kehidupan calon istrinya membutuhkan sandaran dan dukungan. Apalagi setelah melihat rasa takut sang guru pengganti.
"Ade kenapa mau nikah muda? Apa ndak sayang sama masa remaja yang biasanya masih suka main bareng temen." Seorang tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah Kimmy memberanikan diri bertanya, sedangkan yang ditanya melemparkan senyum menawan tanpa paksaan.
Ketika menikah menjadi pelengkap ibadah. Apakah usia jadi dipermasalahkan? Keputusan sudah bulat setelah memikirkan panjang kali lebar dari semua kemungkinan dan masa depan. Semua bermula ketika percakapan hangat membawanya pada rasa ingin melindungi. Hati berkata ia tercipta untuk melengkapi hidup sang guru pengganti.
Pertanyaan itu membawa sekilas ingatan yang terjadi semalam. Dimana ia duduk menikmati secangkir kopi ditemani kedua orang tua Kimmy. Obrolan yang awalnya sekedar basa-basi mendadak beralih ke topik yang lebih serius. Topik pernikahan yang mengubah sudut pandang meski bermula penebusan rasa bersalah.
"Rafa, Om tidak tahu mau mulai dari mana tapi jujur melihatmu bisa menenangkan Kimmy membuatku merasa tenang. Beban dipundak terasa lebih ringan hanya saja keadaan tidak selalu sama. Apakah kamu bersedia menjadi pendamping Kimmy sebagai pasangan sahnya? Om tahu pasti berat karena usia kalian memang jauh berbeda." kata Papa Fairuz menatapnya dengan harapan besar.
__ADS_1
Pengakuan itu terdengar tulus tanpa ada niat terselebung. Ia tahu betapa sulitnya perjuangan orang tua untuk menjaga anak mereka hingga dewasa. Meski Kimmy bukan wanita manja, tetap saja kehidupan berbeda justru semakin ekstra dalam penjagaan. Masa lalu yang kelam tetapi berusaha untuk dibenahi.
"Om, bukannya aku menolak tapi sebenarnya Kimmy sudah menolak perjodohan karena bunda menyudutkan putri kalian. Hubungan kami tidak bisa diteruskan setelah apa yang terjadi. Bagaimana meyakinkan Kimmy untuk menyetujui sesuai yang pasti sudah tidak dipikirkan lagi." jawab Rafa apa adanya hanya saja kedua orang tua sang guru pengganti sudah tahu masalah yang dimaksud karena Lion sendiri memberitahu tanpa menunda waktu.
Mama Lily mengusap punggung Rafa, "Kami tidak masalah dengan hal itu karena semua sudah jelas bahkan Keisha meminta maaf meski hanya melalui panggilan telepon. Nak, putriku baik hanya saja nasib buruk selalu mengitarinya. Jika semua ini diteruskan, kami tidak tahu sampai kapan bisa menjaga Kimmy."
"Menikahlah dengan Kimmy karena kamu bisa menjaganya. Sayangi dia seperti kamu menyayangi keluargamu. Belajarlah mencintai untuk berbagi setiap suka duka kehidupan. Meski putri kami keras kepala tapi dia bisa dengan cepat beradaptasi. Apalagi Rafa bersedia menjadi menantu kami?"
Mama Lily mengulurkan tangan kanannya di hadapan Rafa. Tatapan mata mengharap persetujuan untuk penantian panjang yang selama ini terabaikan. Rasa takut di dalam hati juga dia rasakan sebagai seorang ibu yang mengkhawatirkan masa depan putri tercintanya. Sementara Rafa termenung memikirkan semua secara matang.
Lima belas menit berlalu tetapi tangan Mama Lily masih menggantung tanpa kenal rasa lelah. Hal itu membuatnya merasa bersalah tetapi hati masih berusaha untuk menerima kenyataan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Apalagi mengingat semua yang baru saja terjadi, tentu sebagai suami harus memberikan perlindungan pada istrinya.
"Rafa bersedia menikah dengan putri tante, tapi pernikahan akan terjadi jika Kimmy menginginkan hal sama." Tangannya menyambut tangan Mama Lily dengan hati pasrah berserah diri pada Sang Pencipta.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak mengejutkannya tetapi hanya sekedar menghempaskan lamunan semalam. "Maaf, tadi tanya apa?"
"Kenapa adenya mau nikah muda?" tanya Si bapak mengulang pertanyaannya yang hampir kadaluwarsa karena diabaikan Rafa.
Nikah muda? Benar juga sih, fakta itu menggelitik hati dan pikiran tapi tidak mengubah keputusan. Usia bukan ketentuan karena menikah memang harus siap mental, materi dan mau menunaikan tanggung jawab tanpa ada pertanyaan. Jika dipikirkan, mentalnya mulai dibenahi. Materi masih bisa dicari selama niat tidak pudar.
Tatapan mata beralih menatap sebuah bingkai foto keluarga yang terpampang jelas berdiri tegak di atas lemari bufet sisi utara ruang tamu. Foto kelulusan masa kuliah Kimmy dengan senyum tipis yang tertangkap landscape kamera. Anggun sejak lahir dengan paras menawan yang pasti memikat banyak kaum adam.
"Aku menikah karena ibadah." jawab Rafa tegas tanpa keraguan. Suaranya terdengar begitu serius membuat langkah kaki di atas tangga terhenti menikmati detakan jantung yang berpacu tak menentu.
__ADS_1