
Kesendirian hanya sebatas kata tetapi kian terasa ketika itu menjadi kenyataan dalam kehidupannya. Andai ia bebas, pasti di luar sana banyak hal yang bisa di jelajahi tapi saat ini hanya bisa duduk sembari mendengarkan penjelasan pelajaran dari guru yang ada di depan sana.
Dia akui tempat tinggalnya yang sekarang cukup nyaman dengan tiga bangunan yang disatukan. Apalagi meski memiliki fungsi yang berbeda tetap selaras menjadi satu kesatuan. Hanya saja, ia tak paham kenapa justru dimasukkan ke asrama. Bangunan yang ditempati oleh anak-anak dengan berbagai keahlian.
Meski baru beberapa hari tinggal di asrama. Ia bisa merasakan atmosfer berbeda meski berada di dunia liar yang memiliki aturan bahkan terlihat jelas semua orang saling menghargai satu sama lain. Sementara kehidupannya yang kemarin berbanding terbalik menjadi lima puluh derajat.
Di tengah lamunan, tiba-tiba sesuatu menimpa kening menghadirkan rasa sakit karena benda keras itu mengalihkan perhatiannya dari dunia luar. Wajah tegang Pak Guru diikuti tatapan mata tajam dengan pipi bersemu merah tentu karena diabaikannya saat memberikan pelajaran. Ia sadar akan kesalahannya tetapi ia tak ingin menunduk.
"Murid macam apa yang sibuk melamun dan tidak peduli pelajaran yang guru sampaikan. Apa kau mau di pindahkan sekolah ke luar negeri?" ujar Sang guru memarahi Rafa dengan suara keras hingga urat leher terlihat menonjol.
Bukannya tidak peduli hanya saja ia sudah mempelajari materi yang dijelaskan guru itu, bahkan termasuk materi selanjutnya. Ia bosan dengan huruf, angka yang selalu memenuhi isi kepala. Bagaimana tidak bosan, ketika setiap waktu hanya sibuk belajar sebagai bentuk pelampiasan kesendirian. Jika terus membaca buku, bisa-bisa ia lupa caranya memegang bola basket.
"Maaf nih, ya, Pak. Apa Bapak tidak bisa melakukan metode pembelajaran dengan cara lain?" Rafa menatap gurunya tanpa malu. Jenuh saja harus terus menerus mantengin buku, sedangkan hati juga tengah merindukan orang terkasih yang tidak bersamanya.
"Jika bapak berkenan, kita bisa turun ke bawah membawa penggaris, trus mengukur siku dari sebuah ayunan yang ada di bawah sana. Bapak seharusnya tahu kalau materi yang disampaikan sudah seperti menikmati bubur yang dibuat kemarin.
"Begini saja, silahkan bapak buat ujian dadakan dan aku lebih senang mengerjakan itu. Bagaimana, deal?" Rafa yang memutuskan akan melakukan apa membuat Si Guru tercengang membelalakkan mata.
Semua itu karena baru kali ini ada murid yang menikmati waktu bersantai. Padahal masih jam pelajaran tapi dalam sekali teguran justru langsung memberikan tantangan. Kesempatan yang tidak datang dua kali membuat guru itu menyanggupi permintaan Rafa. Lalu menyiapkan ujian dadakan dari materi yang baru saja disampaikan.
Persiapan soal yang berjumlah tiga puluh membutuhkan waktu dua puluh menit. Kesibukannya justru dimanfaatkan Rafa merebahkan kepala ke atas meja menjemput alam mimpi. Kelakuan ajaib sang murid membuat guru hanya bisa geleng-geleng kepala. Apa yang bisa dilakukannya?
Setelah mengingat hari dimana Rafa datang. Ia dan semua tim penjaga asrama diminta untuk bersabar menghadapi murid satu itu. Benar saja, kelakuan si murid memang memerlukan kolam kesabaran khusus. Mungkin saja selama ini masih kurang sabar.
Ketika takdir menunjukkan kenyataan A tetapi harapan menginginkan B. Apa yang bisa dilakukan oleh manusia? Tentu hanya beradaptasi mencoba menyeimbangkan antara sisa sarapan beserta angan yang bersambut kenyataan sebagai penerimaan, pertemuan dan perpisahan yang tak seorangpun bisa menghindarinya.
__ADS_1
Seperti takdirnya, ia yang dari arah kejauhan terus mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Wajah bersinar penuh semangat menikmati rintik hujan yang tidak begitu deras. Hari ini adalah hari pertama ia bebas dari perlindungan yang selama ini ia rasa tidak dibutuhkan. Hari yang harus dirayakan dengan mengunjungi beberapa teman yang sudah lama ia nantikan.
Kayuhan yang dihentikan begitu memasuki pagar sampai ke tempat parkiran. Caranya turun dari sepeda begitu santai dengan senyum yang terus terkembang menghiasi wajahnya. Pandangan mata menelusuri sekitar yang terlihat sepi, seakan tidak ada kehidupan.
Suasana sekitar memang tidak mendukung hingga ia memutuskan mencari tempat berteduh sembari menunggu teman yang memang sudah janjian dengannya. Setelah mencari titik terbaik, akhirnya menemukan tempat yang tepat sebagai ruang penantian.
Pandangannya melihat tiga bangunan yang saling berhimpitan dengan desain kuno ala Eropa tetapi di dalam bangunan itu banyak sekali orang-orang dari generasi berbagai usia dan juga negara yang berbeda. Rindu akan keindahan, padahal sudah terhitung beberapa hari sejak ia tak mengunjungi tempat itu.
Setiap kali mengunjungi tempat yang dikenal dengan nama Home World Students. Ia selalu merasa seperti baru pertama kali melihat bangunan bersejarah yang melahirkan banyak manusia hebat dan sukses. Padahal sudah hampir sebulan mengenal tempat itu dari beberapa teman kenalannya.
Satu yang menjadi rasa penasarannya yaitu bagaimana suasana serta perasaan setiap siswa yang tinggal di bangunan itu? Hidup berdampingan dengan orang banyak tetapi penuh aturan. Sudah pasti tidak sebebas kehidupannya saat ini, palingan hanya di larang keluar rumah saat kondisi badan memang kurang vit saja.
"Dari sekian banyak siswa, aku ingin tahu, apa mereka tidak memiliki orang tua sama seperti yang aku rasakan dulu atau mereka sengaja dikirim untuk mencapai sesuatu dalam hidup?"
Pertanyaan sekaligus pernyataan itu hanya dirinya seorang yang tau. Akan tetapi pertanyaan lain untuk orang lain hanya tersimpan di dalam benak karena tidak bisa memberikan pertanyaan secara langsung. Dimana ada rasa yang terkadang sulit diungkapkan, sedangkan manusia tidak selalu peka akan keadaan.
Tangan terentang menyambut pelukan sebagai kawan sepermainan, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baru sampai kok. Will, mana yang lain?"
"Masih ada kelas duo K. By the way, aku kemarin dah ngomong sama Prof. Sisil. Mau ketemu beliau sekarang, gak?" William dengan antusias memulai obrolan yang sempat tertunda karena Darren baru saja sakit.
Kesempatan memang selalu datang tanpa diduga-duga. Padahal Darren hampir saja putus asa mengingat ujiannya harus dibatalkan karena kondisi kesehatan yang entah mengapa tiba-tiba saja tumbang tanpa pemberitahuan. Senang rasanya karena memiliki sahabat yang bisa mengerti dan mau membantu membujuk salah satu profesor agar memberikan waktu ujian susulan.
"Alhamdulillah, hayuk! Aku juga tidak sabar bertemu Prof. Sisil tapi apa harus ujian sekarang juga?" tanya Darren was-was. Bukan takut tidak bisa hanya saja untuk melihat tulisan banyak, kepalanya masih berputar seperti gasing.
Tidak mungkin juga meminta orang lain untuk membacakan soal yang pasti bukan berjumlah lima atau sepuluh soal saja. Ujian masuk ke asrama Home World Students cukup sulit kecuali bagi mereka yang sengaja di masukkan demi mendapatkan pengalaman di luar pelajaran umum. Meski begitu, rata-rata siswa memang dari sananya memiliki otak cemerlang.
__ADS_1
Namun di balik kepintaran, sikap agresif dengan tindakan gegabah yang menjadi alasan utama para orang tua memberikan pendidikan bebas terkekang aturan. Di asrama memiliki tiga tingkatan kebebasan, di antaranya kebebasan memilih ekstrakurikuler, kebebasan bereksperimen, dan kebebasan menyampaikan isi pikiran dan hati.
Jadi mereka mendapatkan teman, guru, ruang dan waktu yang saling melengkapi. Maka setiap anak selalu menjadi diri sendiri, tidak di tuntut harus sama seperti si A atau si C. Kompetitif dan konsistensi berpadu kreativitas di luar batas. Begitulah motto dari asrama Home World Students. Sehingga membuat banyak anak muda ingin mendapatkan kesempatan untuk masuk ke asrama tersebut.
Seperti yang dikatakan William, keduanya datang ke bangunan sisi utara yang merupakan gedung kebebasan pertama. Yaitu bebas bereksperimen dengan para pendamping professor yang tentunya memiliki gelar dan prestasi segudang. Salah satunya adalah Prof. Sisil yang menjadi guru idaman seorang Darren.
William mengetuk pintu ruang kelas di ujung selatan lantai dua bangunan sisi utara. Dimana tampak Prof. Sisil sedang duduk dengan jemari berselancar di atas tuts si lepi berwarna hitam. "Pagi menjelang siang, Prof. Sisil. Boleh minta waktunya sebentar?"
"Tunggu sebentar," Prof. Sisil mengeluarkan laman file uji coba yang baru saja ia buat untuk ujian pekan depan. Lalu beranjak dari tempat duduknya tanpa menutup si lepi, "Widya, Dama, Rere, kalian lanjutkan eksperimen!"
"Siap, Miss." jawab serempak ketiga siswa yang memang tengah melakukan sebuah eksperimen terhadap beberapa jenis tumbuhan liar yang sudah dikumpulkan sejak semalam.
Bingung mau memanggilnya ibu atau nona karena dari wajah saja masih muda dengan pesona wanita dewasa. Prof. Sisil keluar mengajak William dan Darren berjalan sedikit menjauh dari kelas agar perbincangan mereka tidak menganggu konsentrasi para siswanya. Eksperimen yang bersentuhan dengan bahan-bahan kimia, maka harus sangat hati-hati.
"Bukankah kamu Rafael Darren Adelio?" tanya Prof. Sisil yang mengingat benar proposal pengajuan pendaftaran calon siswanya dari data yang di serahkan oleh William.
Rafael, saudara kembar Rafandra tetapi lebih suka di panggil dengan nama Darren. Baginya ketika ada yang memanggil dengan panggilan Rafa, jujur ia merasa orang itu sedang mengejeknya. "Iya, Prof. Sisil. Anda bisa mempersingkat namaku hanya Darren saja."
"Kenapa? Bukankah lebih mudah di panggil Rafa, tapi ya sudah seperti yang kamu katakan." Prof. Sisil tidak ingin memperpanjang argumen hanya karena pembahasan nama panggilan saja, lalu ia mengulurkan tangan yang disambut penyatuan kedua tangan sang calon siswa. "Ouh, kamu pemuda muslim yang sholeh."
"Prof. Sisil jangan tersinggung," William menepuk bahu Darren dengan perasaan sebagai bentuk dukungan persahabatan. "Anak satu ini memang sudah dari lahir berbekal ilmu agama, makanya aku mau dia juga mendapatkan ilmu dunia."
Obrolan ketiga insan itu terus berlanjut selama lima belas menit sampai akhirnya keputusan sudah di buat. Dimana ujian akan dilangsungkan besok pagi agar malam ini, calon siswanya mempersiapkan diri. Setelah mendapat kepastian, barulah William dan Darren pamit meninggalkan Prof. Sisil yang masih di jam pelajaran.
Langkah kaki berjalan beriringan menyusuri lorong bangunan. Akan tetapi tiba-tiba saja Darren menghentikan langkahnya seraya menatap keluar jendela yang baru saja ia lewati. Siluet bayangan dari pantulan cahaya mengalihkan perhatiannya. Hati berdebar seakan menanti pertemuan yang tidak mungkin ditakdirkan.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat?" gumamnya membuat William menarik tangannya agar terus melanjutkan perjalanan mereka.