
Pertanyaan Rafa pasrah, tetapi hanya untuk berdamai dengan Kimmy. Baginya tidak mudah untuk selalu bersikap tenang, mengalah. Apalagi jiwa muda selalu memberontak ingin dimengerti hanya saja pernikahan yang kini menjadikannya sebagai seorang suami mewajibkan diri untuk ingat posisi.
"Jadilah dirimu sendiri karena aku tidak memaksa kamu harus mendadak menjadi suami pengertian. Jalani kehidupan tanpa harus merasa hubungan ini sebagai kekangan. Bukan hanya kamu, tapi juga aku. Disini yang menjalani hubungan adalah kita dan jika hanya tentang salah satu.
"Maka maaf, aku tidak ingin menjadi bagian dari salah satunya." Kimmy kembali mengalihkan tatapan matanya, kini gadis itu menatap ke arah anak-anak yang sibuk mengantri untuk mendapatkan makanan. "Kebahagiaan itu sederhana. Seperti proses pendewasaan diri, begitu juga dengan belajar menerima pasangan yang memang bukan pilihan."
Sesaat terdiam ketika menyadari apa yang ia katakan. Yah semua mudah meski sulit. Selalu seperti itu dan tidak akan berubah. Rafa sangat memahami perkataan istrinya. Semua yang dikatakan Kimmy memang benar. Apapun yang kini menjadi penghalang, tentu hanya diri sendiri yang mampu mengalahkan dan berjuang agar bisa mencapai tujuan.
Menghela napas pelan seraya melantunkan istighfar berulangkali meski di dalam hati. Ia ingin bisa tenang dan bukan mengikuti arus mood yang bisa saja membuatnya salah bicara lagi. Jika rasa kecewa selalu menjadi akhir dari perbincangan, bagaimana hubungan mereka akan di mulai?
"Hubungan suami istri terlalu jauh untuk kita gapai saaat ini," Rafa mengulurkan tangan ke depan Kimmy, membuat sang istri menoleh ke arahnya. "Bagaimana jika berteman dulu, apa kamu bersedia menjadi teman anak SMA sepertiku?"
Teman? Ikatan hubungan pertama untuk ke jenjang yang lebih serius. Meski status lebih tinggi tapi tidak ada salahnya jika berteman. Apalagi makna teman sangatlah luas sehingga bisa menjadi dasar ikatan hati yang erat atau hanya sekedarnya saja. Semua tergantung dengan aral kehidupan dalam penerimaan.
Kimmy menyambut tangan Rafa tanpa ragu, "Teman. Semoga ini menjadi jalan yang terbaik untuk kita."
"Aamiin yarobal alamin, ayo kita makan. Sebenarnya Papa meminta ku untuk mengajakmu makan." timpalnya yang baru bisa mengutarakan alasan pertama ia datang menghampiri sang istri.
Anggukan kepala Kimmy menyudahi obrolan malam berteman sisa kekecewaan. Kisah hati mengalir sebagaimana detak jantung berirama. Tak lekang oleh waktu maupun zaman meski semua itu tak tertuang dalam sejarah. Seperti sang waktu yang berlalu begitu cepat hingga tak terasa seminggu sudah berlalu.
__ADS_1
Suasana latihan basket terdengar begitu semangat membakar lapangan basket yang ada di sebuah mansion khusus. Entah siapa pemilik mansion tersebut tapi akhir-akhir ini menjadi rumah kedua anak-anak basket setelah pulang sekolah. Mereka bahagia karena setiap kali datang selalu mendapatkan banyak makanan sehat.
Seperti sore ini, sesi latihan baru saja berakhir tetapi beberapa masih mencoba melatih teknik yang diajarkan oleh sang guru pengganti. Seperti Rafa yang sibuk mendrible bola tanpa menyadari kehadiran Kimmy yang berdiri menatap ke luar dari ruangan khusus melihat permainan anak-anak.
"Kim, apa kamu ini serius mau lanjut jadi guru SMA?" tanya seorang gadis dengan suara cempreng yang selama ini dipercayai untuk ikut melatih anak-anak didik baru Kimmy.
Tangan melambai memintanya untuk maju mendekat. Suara langkah kaki berjalan terdengar semakin dekat dengan aroma lavender yang menjadi ciri khas sang asisten, "Setiap anak memiliki kesempatan, begitu juga dengan mereka. Bukankah kamu sendiri yang bilang. Jika tidak meragukan keahlian setiap anggota basket yang ada di tim sekolahku. Lalu?"
"Aku paham kok, tapi semakin kesini cuma Rafandra yang bisa di anggap layak. Bagaimana?" celetuknya tak mau mengalah. Sesaat membuat Kimmy melirik ke arahnya, tetapi kembali menatap ke arah lapangan.
Bakat dan ketekunan merupakan dua hal berbeda. Tidak semua orang memiliki bakat yang sama, begitu juga dengan sikap tekun yang selalu mengajarkan manusia untuk konsisten. Sejak awal ia melihat potensi dari setiap pemain inti dan juga cadangan hanya saja untuk mengembangkan kemampuan. Tentu harus dari kerja keras dan bukan hanya sekedar omong kosong belaka.
Apa gunanya banyak bicara? Ketika seseorang meragukan keputusannya, maka yang harus dilakukan hanyalah bertindak tanpa banyak kata. Apa ada yang salah menjadi guru pengganti? Padahal niatnya hanya ingin membantu kesulitan orang lain. Meski untuk itu harus sejenak meninggalkan dunia kesibukan yang selama ini menjadi kehidupan aslinya.
Lima belas menit kemudian. Semua tim basket sudah duduk di kursi pilihan masing-masing menunggu kedatangan seseorang yang katanya ingin bertemu mereka. Siapa yang mengenal dan tahu mereka? Pertanyaan itu menjadi rasa penasaran tetapi di saat terdengar suara pintu terbuka. Tatapan mata mengerjap tak mampu mengalihkan pandangan mereka.
Kimmy? Bukankah dia izin untuk menghadiri acara lain setelah pulang mengajar. Kenapa sekarang sudah ada di sini, apalagi tanpa memberitahu aku dulu.~batin Rafa berpura-pura biasa saja karena tak ingin teman-teman curiga.
"Sore Anak-anak," sapa Kimmy santai bak duduk di tepi pantai menikmati sepoi angin.
__ADS_1
"Sore juga, Bu Kim." balas Anak-anak serempak dengan penuh semangat.
Kimmy tahu, di antara anak didiknya hanya Rafa yang tidak menjawab sapaannya. Akan tetapi tak ingin ambil pusing, lalu melanjutkan ke niat awal untuk memulai tahap kedua pelatihan yang memang harus segera dilakukan agar meningkatkan pelatihan dan kemampuan. Semua tahap harus terjadi berurutan dan itu bisa menjaga konsisten.
"Ibu senang mendengar laporan perkembangan permainan dan performa kalian yang semakin meningkat. Terima kasih, Sis Naumi. Sekarang tanggung jawab kalian akan bertambah," Kimmy meletakkan laptop diatas mimbar, lalu memberikan isyarat yang hanya dimengerti Naumi.
Sesaat hanya menunggu hingga tersambung ke layar utama di belakang tempatnya berdiri. Lalu membuka laptop yang memang digunakan khusus untuk pekerjaan, "Tolong perhatikan tabel jadwal pertandingan selama seminggu ke depan dengan baik-baik karena ini jadwal milik kalian!"
Pengumuman mendadak dari Kimmy membuat Anak-anak saling pandang. Pertandingan secepat ini? Mereka saja belum ada persiapan tapi tidak dengan Rafa yang mulai membaca setiap jadwal pertandingan. Ternyata berasal dari sekolah lain tapi kenapa sekolah-sekolah yang terdaftar bukan yang biasa mendaftarkan diri dalam perlombaan tingkat manapun.
Aneh, apalagi dengan nama sekolah terakhir di urutan ke enam yaitu Sekolah Menengah Atas Husada. Sekolah yang terkenal sebagai sekolah tertinggal tapi kenapa memiliki akses untuk ikut pertandingan bebas? Rasa penasaran kian meningkat ketika tatapan Kimmy menatap ke arahnya dengan keyakinan yang meruntuhkan argumen di dalam hati.
"Persiapkan diri kalian karena mulai besok akan ada pertandingan setiap harinya. Satu lagi, selama pertandingan berlangsung maka kalian akan tinggal di mansion ini dan masalah perizinan kepala sekolah sudah mengatur. Selamat beristirahat, untuk malam terakhir bersama keluarga." pungkas Kimmy mengakhiri pengumuman kilatnya.
Gadis itu tak lupa mengirim pesan jadwal pertandingan ke setiap anggota tim basket. Satu cara yang mengurangi alibi lupa jadwal, lalu ia pergi meninggalkan ruangan membuat Anak-anak riuh bingung dengan apa yang harus mereka lakukan tetapi Rafa memilih beranjak dari tempatnya. Pemuda satu itu keluar dari ruang rapat menyusul Kimmy.
Langkah kaki saling bersambut hingga memasuki sebuah kamar yang entah milik siapa. Rafa tak peduli jika ada orang lain yang melihat tindakannya. Pintu kamar ia tutup tetapi ketika berbalik barulah bisa melihat isi seluruh ruangan. Kamar nan luas dengan desain ala kerajaan tetapi nuansa redup temaram.
"Sampai kapan berdiri di depan pintu? Duduk saja." ucap Kimmy yang muncul dari balik pintu lemari dengan tangan memegang pakaian ganti.
__ADS_1