
Ketika harapan yang tersisa menjadi semu. Akankah rasa hadir dalam luka yang lalu? Kisah ini blum dimulai tetapi hati terbelenggu dalam kesendirian. Sesak di dada tanpa sandaran meninggalkan serpihan asa.
Pelajaran hari ini terasa begitu cepat selesai. Ia pikir baru saja mengajar tiba-tiba sudah pukul tiga sore. Suara bel yang terdengar bergema menandakan waktunya pulang. Tanpa ingin berlama-lama dia menyudahi ajaran hari ini, lalu meninggalkan kelas tuk kembali ke ruang kerjanya.
Hari yang melelahkan tetapi bukan fisik. Pikiran sejak pagi entah kemana. Niat hati ingin duduk sebentar begitu masuk ke ruangan tapi suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Ternyata Rafa yang datang membawa tumpukan buku tugas anak-anak dari kelas sebelas IPS.
"Kenapa kamu yang bawa? Dimana Julie?" Bu Kim tanya tanpa menatap ke arah Rafa yang meletakkan buku ke atas meja kerjanya.
"Aku sengaja membantunya biar bisa keruangan Bu Kim. Bukankah kita pulang bareng? Jadi ayo, aku sudah lapar." jawab Rafa apa adanya tanpa rasa sungkan membuat Kimmy menghela napas pelan.
Siswa satu itu benar-benar to the point bahkan tidak memikirkan apa resikonya melakukan tindakan yang bisa menjadi bahan perbincangan. Akan tetapi percuma saja mengeluh karena Rafa memang terkenal tidak suka dibantah. Toh sekarang sudah bukan jam pelajaran sekolah jadi tidak ada peraturan yang mengikat.
Dibereskannya peralatan menulis, ponsel dan juga kotak bekal makan siang ke dalam tas. Lalu tak lupa mengeluarkan kunci mobil, "Mau makan di mana?" Langkah kaki berjalan memutari meja kerja seraya mendorong kursi agar tidak mengusik pemandangan.
__ADS_1
"Di cafe dekat mall saja, disana tempatnya nyaman dan ada ruang khusus." Rafa berjalan menyeimbangkan jarak agar tidak berjauhan dengan sang guru pengganti.
Kedua insan itu berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi bahkan hanya tinggal beberapa siswa dan guru saja. Lebih nyaman dan aman karena tidak menjadi pemandangan apalagi tontonan umum. Langkah kaki terhenti di depan sebuah mobil mercedes-benz warna hitam.
"Biar aku yang nyetir, mana kuncinya Bu Kim." Rafa mengulurkan tangan membuat wanita yang berniat ke pintu sisi kanan terhenti. Tatapan mata saling beradu mencoba mendapatkan kepastian, "Aku bisa nyetir, jadi dijamin aman."
"Ok," Bu Kim menyerahkan kunci mobilnya kepada Rafa, lalu beralih ke sisi pintu kiri.
Sementara Rafa menyalakan mesin mobil, pemuda itu memulai perjalanan pertamanya. Padahal selama ini tidak pernah semobil berdua dengan wanita saja. Jantung berdebar tetapi masih aman. Sesekali melirik ke samping melihat Kimmy yang mengubah penampilan.
Wanita yang anggun berubah menjadi gadis santai dengan wajah natural. Make up yang dihapus berganti lip balm merah cherry, terlihat alami dan jauh mempesona. Rambut yang digerai akhirnya diikat menjadi satu menampilkan leher jenjang nan putih.
"Bu Kim, boleh aku tanya sesuatu?" Rafa bertanya agak ragu karena mereka masih berada di dalam mobil tapi Kimmy hanya berdehem memberikan izin. "Bagaimana jika perjodohan ini kita lanjutkan. Apa ibu keberatan?"
__ADS_1
"Boleh saja, apa kamu siap jadi imam? Kurasa masa lalu tentang kehidupanku sudah kamu tahu." balas Kimmy to the point.
Ia bukan wanita yang akan bergantung pada hubungan. Baik masalah finansial atau masa depan, baginya setiap keputusan adalah tanggung jawab. Jadi jika benar perjodohan tetap dilanjutkan, ia tak mau Rafa hanya terpaksa tanpa kesiapan mental.
Aku masih memikirkan semuanya tapi saat ini masih sekolah. Bagaimana caraku memberikan nafkah sedangkan usaha yang ku bangun baru dimulai.~batin Rafa yang memahami maksud perkataan Kimmy.
Diamnya Rafa tak menghentikan rasa ingin tau pemuda itu. Sadar akan kesiapan pernikahan tak hanya ijab sah dan menjadi keluarga yang saling menyayangi. Ia hanya ingin melakukan pernikahan sekali seumur hidup, dan menerima perjodohan bisa menjadi akhir masa lajang.
"Jangan buru-buru, sebentar lagi kamu sibuk ngerjain tugas sekolah. Persiapan ujian dan juga daftar fakultas. Kenapa tidak fokus pada itu saja? Masa depanmu masih panjang, sebagai guru aku harus mengingatkan." ucap Kimmy terus terang karena ia juga tak ingin menjadikan Rafa sebagai alasan untuk melupakan rencana kehidupan masing-masing.
Penolakan itu memang tidak frontal tapi jelas sang guru pengganti tak mengharapkan perjodohan dengannya. Satu kebenaran yang membuat hati merasa tak tenang. Kenapa masih ada wanita yang menganggap ia tak ada? Padahal seantero sekolah memujanya.
"Seperti ibu yang berjanji pada papa dan mama, aku juga memiliki janji pada ayah dan bunda. Posisi kita sama, lalu kenapa tidak bisa saling membantu?Setidaknya kita bisa belajar memahami sebagai teman dulu. Apa itu berat untuk Bu Kimmy?" balas Rafa tak mau kalah dari Bu Kimmy.
__ADS_1