
Penantian yang dilakukan Kimmy sembari memainkan gawai tetapi bukan untuk menscroll medsos, melainkan memeriksa e-mail dari beberapa departemen olahraga. Ia juga mencari perusahaan untuk menjadi supporter tambahan. Tidak begitu sulit hanya saja harus memilih dengan teliti.
Terkadang beberapa pemilik perusahaan akan menetapkan standar, sedangkan kalah dan menang dalam pertandingan hal wajar. Selain memikirkan dari sisi baik dan buruknya. Kimmy juga berusaha menyesuaikan kiblat dari visi dan misi anak-anak yang ia latih.
Lima belas menit telah berlalu di mana datanglah seorang pengantar makanan dengan seragam sebuah cafe yang ada di ujung jalan depan asrama. Pria dengan topi merah bertuliskan nusantara menyerahkan pesanan, lalu pergi begitu saja setelah menerima ucapan terimakasih.
Dirasa sudah cukup waktu, Kimmy kembali berjalan mendekati kamar Phoenix yang didiami oleh Rafa. Niat hati ingin mengetuk, tapi tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Melihat itu, ia masuk seraya mengucapkan salam. Tatapan mata mengedarkan pandangan ke area sekitar. Ternyata ruangan di setiap kamar masih sama meski sudah berganti tahun ajaran.
"Makanlah! Setelah itu, kita baru bicara." Kimmy meletakkan kresek besar ke atas meja belajar Rafa, lalu beralih mengambil buku tulis yang tertumpuk rapi di sisi kanan dekat laptop.
Rafa yang duduk diam di atas ranjang mengabaikan permintaan Kimmy. Pemuda itu, justru melamun entah sampai kemana hingga keheningan datang menyapa. Sesaat menjadi kesunyian, lalu tiba-tiba bersambut usapan lembut di kepalanya. Tatapan mata teralihkan terpaut menatap netra nan tenang menenggelamkan.
"Apa kamu sangat marah denganku, hmm. Lihat, aku disini, silahkan hukum jika itu maumu!" tegas Kimmy meski suaranya tidak bermaksud mengintimidasi.
Hukuman apa yang pantas untuk seorang istri? Ia sendiri merasa diposisi terjebak, sedangkan Kimmy berusaha memberi jalan tengah agar bisa memperbaiki keadaan. Entahlah harus berbuat apa karena pada dasarnya, hati tengah dirundung kegelisahan tak menentu. Bingung saja harus melakukan apa.
Diamnya Rafa, membuat Kimmy mengambil alih keadaan. Dimana gadis itu ikut duduk di sebelah suaminya, tangan menangkup wajah mengusap pipi si pemuda tanpa melepaskan tatapan mata yang saling bertautan. Jarak kian terkikis menyatukan bibir tenggelam dalam dawai cinta.
Sentuhan lembut yang terasa kian menuntut membawa kedua insan itu ke dunia nirwana. Siapa yang memulai tak penting karena pada akhirnya saling berusaha melengkapi menyatukan rindu dalam kehangatan bersama. Waktu yang terus beranjak menghadirkan peluh nikmat.
Suara derit ranjang bergoyang terdengar hingga keluar kamar. Beruntung suasana sepi tak ada siswa lain yang mendengarkan jerit kenikmatan dalam penyatuan raga. Kedua insan itu menyatukan rindu tanpa ingat waktu. Satu jam telah berlalu, tetapi deru napas masih memburu.
"Rafa, stop! Kita sudahi semua ini," Kimmy berniat beranjak dari posisinya, tapi Rafa menahan pergerakannya. "Rafa ...,"
Sekali lagi bibir terbungkam dalam pagutan, membuat Kimmy pasrah atas kekuasaan suaminya. Sadar akan rasa rindu bercampur amarah yang membelenggu. Pemuda itu hanya membutuhkan tempat agar akal sehatnya kembali datang menyapa. Hubungan suami istri yang menjadi olahraga ranjang bisa menjadi solusi singkat.
__ADS_1
Sementara disisi lain, Sisil baru saja keluar dari mobil yang dipinjamkan Kimmy. Tatapan mata menelusuri area halaman sebuah rumah yang terlihat sederhana tetapi pasti nyaman untuk menjadi tempat tinggal keluarga harmonis. Entah kenapa, ia merasa Darren hidup bersama orang tua yang penyayang.
"Miss, ayo!" Darren melambaikan tangan membuat lamunan sesaat Sisil bubar melarikan diri.
Langkah kaki berjalan mengikuti setiap langkah si pemilik rumah hingga di sisa waktu sebelum sampai pintu. Tiba-tiba muncul seorang wanita dengan penampilan muslimah, kepala berhijab paris menyambut hangat kepulangan sang putra. Cara berinteraksi ibu dan anak yang mengingatkan ia pada kedua orang tuanya sendiri.
"Bunda, kenalin ini Professor Sisil. Miss, bundaku, Bunda Keisha." Darren memperkenalkan dua wanita beda usia yang sama-sama memiliki kecantikan alami. Meski sang guru menyukai make up, tapi masih pada batasnya saja.
Darren memperkenalkan dengan cara yang sopan, membuat kedua belah pihak saling melemparkan senyuman tak lupa berjabat tangan memperkenalkan diri sekali lagi. Terlihat jelas Bunda Keisha menyukai keberadaan Sisil, seakan mengingat sosok Kimmy yang kini sudah menjadi istri Rafa.
Jika dilihat dari usianya pun sama dengan Kimmy, mungkin kedua gadis itu ketika disandingkan seperti saudara. Meski pahatan wajah berbeda. Tetap saja memiliki kecantikan dan juga tatapan mata lembut yang memiliki belas kasih. Walau begitu, ia tidak berniat untuk menjodohkan Darren dengan Sisil.
Baginya saat menjodohkan Rafa karena mengingat situasi dan kondisi yang memang mengharuskan ia dan sang suami pergi meninggalkan kota Jakarta. Sedangkan saat ini, kondisi Darren hanya membutuhkan orang tua dan bukan pasangan hidup. Kecuali jika takdir mempertemukan kedua insan yang kini berdiri di depannya untuk menjadi pasangan. Maka, sebagai orang tua tidak menolak.
Sisil dipersilahkan masuk dengan penuh kasih sayang. Mereka berpindah ke ruang tamu yang membuat Darren tak ingin lebih lama karena takut diajak ngobrol tanpa ada usai. Sehingga ia berpamitan dengan alasan membersihkan diri. Bunda Keisha membiarkan sang putra pergi begitu melihat kedatangan ayah Lion.
Suasana semakin hangat dengan obrolan para orang tua yang membahas tentang pelajaran yang sudah diajarkan termasuk perkembangan dari putra pemilik rumah itu sendiri. Sisil bisa mengetahui betapa kasih sayang orang tua Darren terhadap pemuda itu sangatlah besar. Ia juga memikirkan perkataan Kimmy agar mau membantu untuk menyelidiki beberapa hal yang mungkin bersifat pribadi.
Namun, melihat situasi yang ada. Ia ingat untuk lebih bersabar sembari sedikit-sedikit mempertanyakan dengan obrolan sederhana yang pasti memiliki jawaban tak terduga. "Rupanya, orang tua dan anak sama saja pintarnya. Apakah ibu dan bapak ini, sudah cukup lama tinggal di sini? Masalahnya selama saya tinggal lima tahun terakhir, baru kali ini melihat Darren dan kalian."
"Selain itu, usia Darren sebentar lagi memasuki jenjang pendidikan di fakultas atau memang sebelumnya bersekolah di sekolah lain?" sambung Sisil memberikan pertanyaan beruntun yang membuat Ayah Lion sedikit terkesiap.
"Bukan seperti itu, Miss. Kami baru saja di sini mungkin sekitar hampir dua bulan kurang. Jadi wajar saja kalau tidak pernah melihat karena memang jarang keluar. Bisa di bilang menetap di rumah dan sesekali keluar saat ada kepentingan saja." Ayah Lion menjelaskan secara detail, tetapi tidak melebihkan apapun karena memang sesuai keadaan.
Penjelasan itu, membuat Sisil mengerti bahwa keluarga Darren tidak tinggal di kota yang sama. Perhitungan waktu hanya sekitar dua bulan kurang yang merupakan waktu singkat, tetapi Darren sudah memiliki beberapa teman dari asrama. Pergaulan anak itu begitu cepat untuk mendapatkan kesempatan menata masa depan. Termasuk menjadi salah satu siswa dari asrama melalui jalur proposal pribadi.
__ADS_1
"Oalah, begitu, Pak, Buk. Saya mau ucapkan selamat dan semoga betah tinggal di kota ini, kalau memang ada keperluan sesuatu yang kiranya tidak bisa dilakukan seorang diri. Silahkan hubungi saya! InsyaAllah, saya dengan senang hati akan membantu selama itu bisa saya lakukan." Sisil menyambut penjelasan Ayah Lion dengan tetap berusaha bersikap normal tanpa memikirkan apapun.
Obrolan terus berlanjut di mana mereka terlihat saling memberikan masukan, solusi dan juga nasehat sebagai orang yang lebih tua. Akan tetapi, tanpa mereka sadari Darren yang berada di dalam kamar sengaja mendengarkan dalam diam. Berkat posisi rumahnya yang kecil hingga setiap ruangan saling berdekatan.
Antara satu ruang dengan ruangan lain memang seperti rumah kost. Jadi memudahkan Darren sebagai tim penyimak tanpa harus bersusah payah. Obrolan masih terdengar begitu seru sampai pikirannya mulai berkelana tak tentu arah. Ia memikirkan sesuatu yang entah kenapa sangat mengusik hati dan juga ketenangan jiwa.
Apalagi ketika mengingat hasil foto edit yang disodorkan oleh Sisil di dalam kelas setelah pelajaran selesai. Ia merasa, si guru tahu sesuatu atau memang sudah menyadari adanya dua orang dengan wajah yang sama di asrama tersebu?
Entahlah, hanya saja selama beberapa waktu ia selalu berusaha untuk menghindari area gedung dua. Hal itu dilakukan karena satu kesempatan sangatlah berisiko bertemu dengan Rafa. Di jam santai pun ia tetap di kelas dan tidak pergi ke kantin untuk makan siang hingga kelaparan.
Semua dilakukan hanya untuk satu alasan yaitu meminimalisir pertemuan bersama saudara kembarnya itu. Pemikirannya hanya satu. Dimana ketika takdir mempertemukan seseorang, maka pertemuan itu akan sama seperti jiwa yang menghantui. Tidak peduli seberapa keras seseorang bersembunyi. Tetap saja bayangan akan terus mengintai hingga terjadi pertemuan lagi dan lagi.
Selama bisa menghindar agar semua harapannya tak layu. Maka ia siap melakukan apapun karena kehadiran sang saudara kembar bisa menjadi bumerang. Apakah ia terlalu egois? Tentu saja tidak. Jika Rafa bisa memiliki kasih sayang kedua orang tua selama beberapa tahun hingga melupakan dirinya.
Maka, ia juga berhak menjauhkan orang tuanya sendiri dari sang saudara. Baginya impas, baik ia maupun Rafa merasakan perasaan derita yang sama. Bukan obsesi, apa yang dilakukan Darren disebut balas dendam saudara. Hati dan pikirannya masih tertutup rasa cemburu yang membakar kebenaran nyata.
Di dunia ini, tidak ada yang tahu takdir setiap insan. Namun, setiap manusia selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan sebagai tujuan hidup. Sayangnya keinginan itu tergantung pada orang masing-masing. Apakah untuk kebaikan atau justru untuk kejahatan.
Disini bagi, bagi Darren menjauhkan Rafa dari kedua orang tua merupakan bukti kedua orang tuanya juga menyayanginya. Pemuda itu tidak mau mengerti akan fakta, sejatinya setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan cinta kasih keluarga.
Tidak memungkiri apa yang terjadi padanya adalah ketidakadilan. Lalu, apa salah Rafa? Pemuda yang kini harus diasingkan itu, bahkan tidak tahu jika memiliki saudara kembar. Posisi yang menjadi kehidupan Darren selama bertahun-tahun, Rafa benar-benar tidak pernah membayangkan hal itu.
Kekacauan karena ketidakadilan didalam hidup si kembar, bukanlah karena salah satu di antara keduanya. Melainkan tindakan dari keputusan final Keisha dan Lion pada masa lalu. Sayangnya, pemikiran terlalu sempit hingga satu anak melampiaskan amarah pada saudara sendiri.
"Jika Rafa ada disini, lalu bagaimana dengan sekolahnya yang di Jakarta? Apa anak itu melarikan diri?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1