
Panggilan singkat yang menjadi bukti perencanaan akan sesuatu hal buruk terdengar begitu jelas di telinga Darren. Dimana pemuda itu mulai semakin khawatir karena ia tak ingin ada orang yang terluka tapi bagaimana cara dirinya memperingatkan? Ketika tidak memiliki nomor orang yang ia buntuti tadi.
Percakapan itu pastilah berasal dari orang yang tidak baik dan mungkin saja suruhan seseorang. Permasalahannya adalah jika niat itu terlaksana maka yang dalam bahaya tentu saudara kembarnya sendiri. Tidak berniat penasaran hanya saja sejak beberapa waktu yang lalu ketika keluar dari cafe, ya karena tak sengaja melihat Rafa.
Di tengah rasa bingung, Darren melupakan fokusnya hingga ia tidak menyadari akan kepergian si misterius dari hadapannya. Orang berbadan tinggi besar itu ternyata sudah menjauh dari tempat persembunyian. Sesaat setelah sadar, pemuda itu mengambil sapu tangan dari saku celana.
"Aku tidak ingin ketahuan," gumamnya seraya mengatur sapu tangan yang digunakan sebagai penutup wajah.
Langkah kaki berlari menyusuri jalan setapak di temani keremangan malam. Suasana begitu sepi senyap tanpa ada kehidupan hingga langkah berjalan selama sepuluh menit, tapi tidak menemukan apapun. Semilir angin yang berembus membelai menggelitik rasa penasaran bersambut sayup-sayup suara keributan dari arah kegelapan di depan sana.
Hal itu membawa langkah kakinya berlari sedikit lebih cepat hingga sampai di depan salah satu gang paling depan dari area pemukiman terbengkalai, "Woi, hentikan!"
Suara teriak yang terdengar memekakkan telinga membuat beberapa orang menghentikan aktivitas mereka, lalu teralih menoleh ke arah si pemuda. Sorot dari salah satu lampu jalan yang tinggi sedikit memperlihatkan wajah lebam dari seorang pemuda yang terkepung oleh orang-orang pakaian hitam.
Kini sudah jelas, incaran orang-orang itu memanglah Rafa, sang saudara kembar yang selama ini hanya ia kenal sekedar nama. Apa yang terjadi sehingga terjadi pengeroyokan dan berhasil membuat saudaranya tersudut lemah tak berdaya. Dilema antara ingin menolong atau berpura-pura tidak mengenal.
"Elo, cabut dari sini! Nggak usah sok ikut campur urusan kita-kita," ujar salah satu pria yang menodongkan pisau ke arah Darren.
__ADS_1
Ancaman itu pasti bukan sekedar omong kosong belaka hanya saja Darren tidak ingin mendengar atau peduli sehingga ia berani langsung membantu tanpa pikir panjang. Kesempatan yang didapatkan karena orang-orang lengah pada sang tawanan bersambut penyerangan pertamanya.
Baku hantam tak terelakkan dimana kedua pemuda itu bekerja sama melakukan perlawanan terhadap lima manusia misterius yang pasti pria semua. Kekuatan seimbang karena semua memiliki keahlian bela diri yang cukup mumpuni. Selama melakukan pertempuran selama sepuluh menit, para berandal itu mulai kewalahan.
Lalu tiba-tiba menyerang tanpa aturan yang berhasil mengenai bagian perut Rafa. Meski menyadari ada luka yang mengenai raga. Pemuda itu tetap tidak peduli ketika sekilas pandang melihat posisi Darren yang terpojok. Tangan dengan cepat menarik sang penolong bersambut rasa sakit yang menusuk dada.
Rasa sakit itu masih tak mengubah tekadnya untuk mengalahkan para pria misterius. Perlahan tapi pasti kembali melakukan serangan dan mengabaikan luka yang semakin melebar. Langkah kaki hampir tumbang tetapi ia berusaha untuk melumpuhkan lawan.
Di mana para berandal akhirnya melarikan diri hanya karena mendapatkan sedikit luka sayatan dari pisau yang ia genggam. Darren yang masih berusaha untuk menyeimbangkan napas karena kehabisan oksigen setelah dicekik masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Pemuda itu mulai kembali menyadari ketika tiba-tiba Rafa ambruk jatuh di depannya.
Kaget tak sanggup menyembunyikan rasa sesal di dada karena untuk pertama kali pertemuan dengan saudara kembarnya. Justru yang menjadi saksi bisu adalah warna merah dengan bau banjir menyeruak menusuk memenuhi rongga dada. Mata masih terbuka meski mulai tak sanggup mempertahankan kesadaran diri.
Ditepuknya pipi pemuda yang kini berada di pangkuan, ia berusahalah untuk mengembalikan kesadaran sang saudara meski tak ada reaksi. Melihat keadaan Rafa yang bersimbah darah. Darren memapah tubuh pemuda itu untuk meninggalkan gang yang teramat sepi.
Langkah kaki berjalan menyusuri jalanan sampai ke depan, dimana jalan utama berada. Lalu bergegas menghentikan seorang sopir taksi. Mobil yang mereka berdua tumpangi bahkan melaju lebih cepat dari biasanya hingga hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari tempat kejadian menuju sebuah klinik kecil untuk melakukan pertolongan darurat.
Hal itu dilakukan karena kedalam Rafa sangatlah tidak baik dengan darah yang tak mau berhenti. Begitu sampai diklinik, para dokter langsung menerima pasien dengan tangan terbuka. Dimana tim medis memasukkan sang saudara ke ruang operasi.
__ADS_1
Rasa khawatir, takut, menyesal membuat Darren tak sanggup berpikir jernih, sedangkan ia juga dimintai mengisi formulir administrasi serta memberikan pernyataan untuk memastikan bahwa itu kasus kejahatan dan bukannya kecelakaan lalu lintas.
Pemuda itu pikir, semua baik tapi tangannya bahkan gemetar menuliskan nama yang selama ini menjadi pusat kebencian akan penderitaan hidupnya. Sungguh ia tak pernah berpikir akan pertemuan yang menjadi awal luka merenggut kedamaian tanpa maaf tuk mengobati rasa bersalahnya.
Sekuat tenaga membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas yang lebih menyeramkan dari hantu. Lalu formulir itu kembali diserahkan pada petugas resepsionis. Niat hati ingin menuju ke ruang operasi tapi tiba-tiba ada tangan yang menahan kepergiannya.
"Mas, itu luka di kening harus segera diobati! Mari biar saya yang merawat," Si suster menarik lembut tangan Darren. Dimana wanita itu membawa pasien luka ringan untuk duduk di salah satu kursi tunggu tanpa menunggu persetujuan. "Bisa dibuka dulu penutup wajahnya, ya!"
Kesedihan yang bercampur rasa bingung membuat Darren mengangguk setuju tanpa perlawanan. Tangan terangkat, kemudian membuka tali sapu tangan hingga selembar kain hitam terlepas menunjukkan wajah aslinya. Tatapan mata sang suster terbelalak dengan mulut menganga.
Bagaimana tidak terkejut ketika melihat dua raga dengan wajah sama bak pinang dibelah dua. Kini orang-orang yang menyadari hal tersebut hanya terkagum karena ketampanan si kembar meski saat ini kondisi Rafa masih tidak diketahui.
Sementara di sisi lain, Sisil benar-benar cemas luas biasa karena kepergian Darren sudah begitu lama. Makanan yang masih utuh di atas meja sudah tidak lagi hangat. Apalagi kedua orang tua sang kekasih terus saja melantunkan istighfar. Sadar akan sesuatu sudah terjadi hanya saja bagaimana cara menghubungi Darren?
Ponsel pemuda satu itu tertinggal di atas meja hingga tak ada cara lain kecuali melakukan pencarian mandiri hingga menunggu waktu dua puluh empat jam ke depan. Mengingat itu, Sisil meminta bantuan teman-teman yang ada di Jakarta. Sementara di rumah sakit, para dokter fokus melakukan operasi.
Misi untuk menyelamatkan nyawa Rafa terbilang dramatis. Dimana sang pasien kehilangan banyak darah akibat luka sayatan di perut dan tikaman di dada yang cukup dalam bahkan sampai mengenai area vital. Sehingga membutuhkan perawatan khusus dengan konsentrasi yang tinggi.
__ADS_1
Suara monitor mendadak terdengar berbeda dimana pergerakan garis di layar monitor mulai terlihat lurus, pasien tak sanggup bertahan hingga menyebabkan detak jantung berhenti. Melihat itu dokter dengan cekatan melakukan CPR tetapi tidak ada reaksi hingga ...
"Lakukan RJP!" Dokter utama memberikan perintah membuat para suster bergegas melakukan perintahnya.