Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 36#Kimmy dan Ketiga Siswa Baru


__ADS_3

Kedatangan tiga siswa dari sekolah lain yang sengaja ditujukan untuk ikut serta dalam perlombaan tingkat nasional, membuat anggota tim basket saling pandang. Mereka tidak tahu, jika lawan selama pertandingan yang tinggal babak final, justru kini satu sekolah dan pasti akan ada babak baru permainan.


Siapa yang membuat ketiga siswa itu masuk di sekolah yang sama? Pertanyaan itu tidak bisa diajukan di depan umum tetapi melihat antusias para siswa dan guru. Mereka bisa menyaksikan euforia baru hanya karena wajah tampan yang turun dari kayangan. Tidak memungkiri tiga siswa itu langsung merebut hati para siswa dengan status kaum hawa.


Pak kepala sekolah membubarkan upacara pagi, membuat semua siswa membubarkan diri kecuali anggota tim basket yang diminta berkumpul di ruang OSIS. Hari ini cuaca cukup terik hingga hawa panas yang menyebar menyesakkan dada tersamarkan tanpa ada kecurigaan. Padahal bisik-bisik tetangga sudah terdengar merisaukan.


Mahmud yang duduk di kursi belakang dengan santainya jegang sambil menikmati cemilan kuaci tanpa henti. "Guy's, kalian heran gak, sih, kok bisa pindahan sekolah biasa masuk ke sekolah favorit. Apa cuma karena pemain basket atau emang dompetnya yang tebal."


"Astagfirullahaladzim, Mahmud, kamu itu kalau ngomong di rem dikit!" Hars menepuk punggung Mahmud yang duduk di sebelah kanannya. "Kalau gak bener, jatuhnya suudzon. Dosa tau."


"Dosa kalau bukan fakta, lah kalau bener, gimana tuh?" sahur Mahmud semakin keras kepala, membuat Fahmi yang duduk agak di depan berulang kali mengucapkan istighfar.


Ternyata satu anak saja sudah cukup menjadi biang rusuh. Entah kurang puas atau masih belum cukup dengan pelajaran yang sudah pernah dirasakan Mahmud. Ia sendiri heran hingga malas berurusan dan memilih memasang earphones. Lalu memutar lagu dari galley ponselnya. Suara irama musik lebih baik dan pasti bermanfaat menstabilkan perasaan yang mulai geram.


Selama sepuluh menit yang terasa begitu lama tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekati ruang OSIS. Anak-anak mengalihkan perhatian mereka menatap ke arah pintu masuk yang memang terbuka setengah. Dimana kedatangan Bu Kimmy beserta ketiga murid baru menjadi akhir dari penantian.


"Pagi, Anak-anak." Bu Kimmy menyapa seluruh anggota tim basket baik ingin maupun anggota cadangan, lalu mengulurkan tangan. "Louis, Zhang, Abimana. Kalian cari tempat duduk yang ada!"


Ketiga anak baru itu melakukan perintah sang guru mencari tempat untuk duduk sesuai keinginan masing-masing karena di ruang OSIS memiliki banyak kursi kosong. Wajah tampan nan santai terlihat begitu tenang seperti di pantai membuat Mahmud semakin merasa tak senang karena menurutnya, anak baru harus bersikap lebih kalem.


Sayangnya baik Louis, Zhang, apalagi Abimana seperti tidak memiliki kendala apapun untuk adaptasi dengan dunia dan sekolah baru. Pemikiran Mahmud benar-benar sudah ditutupi rasa tidak suka setelah apa yang terjadi pada anggota timnya, sedangkan yang lain masih merasa aman karena tidak ada permasalahan.


Di rasa semua sudah terkendali, Kimmy mulai menjelaskan apa yang akan mereka lakukan tetapi ia tak lupa sebagai seorang pelatih juga memiliki kewajiban untuk menjelaskan atas pemindahan tiga leader basket dari sekolah lain. Tentu saja tidak mudah karena saat ini, ia juga sudah menskorsing Rafa dari anggota basket setelah melakukan kesalahan.


Andai karena keputusannya itu, maka anggota tim basket merasa dirugikan bahkan mungkin marah dengannya. Ia akan menganggap itu semua wajar meski apa yang sudah diputuskannya merupakan hasil rapat dari penilaian semua pelatih yang menyaksikan pertandingan selama sebulan.


Namun saat ini, ia tidak mungkin untuk bertindak sesuka hati karena selalu ada aturan di setiap lembaga yang menaungi pekerjaannya. "Pagi yang cerah untuk kita membahas jadwal pertandingan selanjutnya tapi sebelum itu, ibu akan bahwa tim basket sekolah kita akan tetap mewakili dalam kejuaraan nasional nanti."


"Meski begitu, pertandingan final diselenggarakan sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Pertandingan itu ditujukan sebagai salam persahabatan, sedangkan di sini kita akan membahas pelatihan sebelum memasuki seleksi dari penjurian pertama.


"Pasti kalian bertanya, kenapa leader tim basket dari sekolah lain pindah ke sekolah kita. Sementara Rafa sendiri menjalani skorsing dan juga pemindahan sekolah sementara waktu. Ibu rasa tidak harus menjelaskan kesalahan yang membuat leader kalian mendapat hukuman double. Iya kan?


"Ibu tahu, dia hanya membela salah satu di antara anggota timnya sebagai bukti menjadi pemimpin yang bertanggung jawab." Kimmy menjeda ucapannya, lalu menyandarkan tubuh ke belakang di mana ada meja setinggi pinggang yang bisa menopang berat badannya.

__ADS_1


Tatapan mata serius menatap ke depan tanpa seulas senyum yang menghiasi wajah manisnya. "Ibu tidak akan berpura-pura buta hanya karena kalian tidak berkata jujur. Satu kesalahan sudah cukup untuk menjadi peringatan, tapi apa kalian tidak kasihan dengan Rafa? Sebagai leader tim basket yang menanggung kesalahan tanpa melakukan perbuatan tersebut."


Tidak ada masa lalu yang harus diingat ketika itu masih dalam kepalsuan. Bisa saja langsung to the point tetapi untuk apa? Apalagi tangannya sudah terikat janji untuk tetap diam. Selalu terbungkam hanya demi bukti dari keyakinan atas kepercayaan seseorang yang sudah menjadi someone dalam kehidupannya.


"Jadi selama Rafa belum kembali ke sekolah ini sebagai tim leader kalian, maka anggota basket akan dipisah menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan dipimpin oleh Abimana dan satu kelompok lagi akan dipimpin oleh Louis. Apa kalian paham Anak-anak?" tanya Kimmy mengharapkan suara dari anggota basket sebagai jawaban semua ucapannya di dengarkan dengan baik.


Fahmi mengangkat tangan kanannya, membuat Kimmy mempersilahkan jika ingin menanyakan sesuatu. "Bu, kapan kapten Rafa akan kembali dan dimana dia saat ini?"


"Pertanyaan yang bagus tapi semua tergantung pada anak itu, mau mengubah keputusan atau tetap diasingkan. Dimanapun Rafa berada, ibu jamin dia baik-baik saja." balas Kimmy menyisakan rasa penasaran di hati semua orang.


Sesaat semua orang diam dalam keheningan hingga suara deheman mengalihkan perhatian. "Sebaiknya kita fokus kembali pada pembagian kelompok tapi apa kalian tidak penasaran dengan keberadaan Zhang di sekolah kita?"


Zhang si pemuda dengan tampang imut berjiwa narsis, humble bahkan suka menolong hanya saja pemuda itu belum terlihat di pertandingan manapun. Sehingga mereka tidak mengenal apa maksud dari pemindahan ajak satu itu. Padahal sebenarnya mereka sudah pernah bertanding hanya saja saat itu Zhang sendiri memakai riasan badut yang belum sempat dibersihkan.


"Kalian rupanya bingung, begini, Zhang tidak ikut andil dalam pertandingan ini tapi dia memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi, menjaga dan juga mengajarkan keahliannya pada kalian semua. Di usianya yang muda, Zhang sudah bisa menguasai dari setiap pemain yang ada di lapangan basket. Jadi, dia memiliki tempat di antara anggota tim sekaligus pelatih junior."


Anak-anak memperhatikan Zhang, si pemuda imut yang menurut mereka lebih pantas menjadi penyanyi dibandingkan pemain basket. Rambutnya saja di warnai atau memang asli? Entahlah, tapi jelas tidak seperti pemain basket profesional. Pemikiran itu merasuk ke dalam pikiran anak-anak kecuali Abimana, Louis dan Fahmi.


Tanpa menunggu anak-anak memberi respon, Kimmy melanjutkan perkataannya. "Kalian harus ingat, di dalam satu tim harus ada kerjasama, komunikasi, komitmen, keyakinan dan bukti. Jika ada masalah atau keraguan, maka bicarakan untuk mendiskusikan secara bersama-sama. Sekarang ibu akan membagi tim kalian menjadi dua bagian sesuai dengan nama list yang sudah disiapkan."


Sehingga setelah dipikirkan kembali, ia merasa harus mengantisipasi pemikiran yang bisa menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Jadi anak-anak merasa tidak ada kecurangan dan mendapatkan kepuasan sebagai bentuk keadilan tanpa pandang bulu.


"Ibu akan buang list nama semalam, sekarang pembagian kelompok hanya berdasarkan pemilihan langsung. Jadi ibu akan buat gulungan kertas dari setiap nama kalian, lalu Abimana dan Louis mengambil satu per satu kertas sampai jumlah masing-masing anggota sama rata.


"Ibu tidak akan membedakan baik tim inti maupun cadangan karena setelah pembagian kelompok, maka kalian semua menjadi tim inti semua. Cukup adil bukan?" Kimmy mengedarkan pandangan menatap wajah setiap siswanya yang cuma saling pandang.


Jelas terlihat tidak ada yang ingin mengeluh terhadap semua keputusannya. Sementara di tempat lain hanya ada kesendirian berteman semilir angin yang berembus menerpa menyentuh wajah serta meriapkan helaian poni rambut nan jatuh menutupi keningnya.


Seulas senyum di bibirnya tampak kontras dengan tatapan mata sendu yang menikmati kesendirian dalam pengasingan, "Aku merasa tidak ada lagi harapan, tapi semua sudah terjadi dan tidak perlu disesali."


.


.

__ADS_1


.


Para pemain Bad Boy Karatan. ๐Ÿ‘ˆ


๐Ÿ Kimmy Rosella



๐ŸRafandra Darren Adelio with Kembaran



๐ŸAbimana



๐ŸZhang



๐ŸLouis



...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Jangan lupa kepoin novel lainnya ya, masih ongoing juga ๐Ÿค— ๐Ÿ‘ˆ



.


.

__ADS_1


.



__ADS_2