Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 38#Darren, Rafa


__ADS_3

Tidak tahu apakah dirinya benar-benar melihat atau hanya sekedar membayangkan orang yang ingin dia temui. Akan tetapi sudah jelas keadaan tidak memungkinkan. Langkah kaki terus menyusuri lorong hingga mencapai lantai bawah yang membuat ia dan William menyusuri area taman yang kebetulan memang berada di depan bangunan.


Lambaian tangan dari arah semakin menambah laju kecepatan langkah kaki untuk menghampiri duo K. Dimana dua pemuda yang memiliki wajah sama karena memang kembar identik dan untuk membedakan mereka berdua hanya bisa dikenali dari bentuk rambut karena keduanya sengaja tidak menggunakan model rambut yang sama.


"Assalamualaikum, Duo K. Bagaimana kabar kalian?" Darren mengulurkan tangan tetapi justru ditarik hingga beralih ke dalam pelukan yang saling merindukan. "Waduh tambah kuat bener kamu, ya. Sudah sering ke gym kah?"


Sambutan hangat Darren membuat Duo K terkekeh cukup keras yang mengubah suasana menjadi lebih semangat dan ceria. Lalu berlanjut pelukan bergilir sekedar pelepas rindu karena sudah lama tidak berjumpa. Padahal baru beberapa hari, kemudian mereka berempat duduk bersama untuk menghabiskan waktu sebelum menikmati makan siang yang sudah dijanjikan akan pergi ke kantin bersama-sama.


Obrolan para pemuda itu cukup random karena membahas dari ujung selatan hingga ke barat tapi malah balik lagi ke selatan. Kesibukan dan kebersamaan mereka justru berbanding terbalik dengan pemuda yang duduk di bangku murid menatap lembar soal di atas meja.


Tangan sibuk menuliskan setiap kata di kertas lembar jawaban. Tidak ada kepanikan atau kebingungan di wajahnya hingga membuat guru yang terus menatap ke arahnya waspada. Pikiran pria yang duduk di depan sana terlalu jauh berkelana hingga lupa masih berpijak di bumi.

__ADS_1


Isi kepalanya saksi berpikir bagaimana jika muridnya melakukan sesuatu yang disebut kecurangan. Misalnya dengan cara mencontek. Padahal buku yang berisi jawaban sudah masuk ke dalam tas ransel sejak dirinya memberikan latihan soal ujian. Sepertinya guru itu terlalu parno menghadapi murid seperti Rafa.


Tiga puluh menit telah berlalu tetapi Rafa sengaja menggunakan semua waktu yang diberikan si guru untuk memainkan soal. Sebenarnya sejak lima belas menit yang lalu, ia sudah selesai mengerjakan soal hanya saja sengaja menambahkan jawaban dan juga memberikan soal lain sebagai hadiah untuk pak guru.


Kertas soal yang kini menjadi penuh karena tulisan tangannya. Rasa bosan yang melanda benar-benar membuat pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa. Jadi ia telah memutuskan untuk mendikte guru sendiri dengan soal yang baru saja ia kerjakan. Di rasa sudah cukup, Rafa mengangkat tangan kanan.


"Pak, tugasnya sudah selesai. Bisa aku pergi ke kantin?" tanyanya seraya mengibaskan tangan dengan lembar soal dan kertas jawaban yang sudah di satukan.


Tidak ingin berargumen lagi, pemuda itu beranjak dari tempat duduknya. Kemudian memberikan soal ujian dan juga jawaban. Dibiarkannya sang guru terus menatap ia dengan intens tapi harus mendapatkan pembelajaran agar bisa menjaga pandangan mata. Meski sebagai sesama pria yang tentunya sama-sama normal.


"Lain kali kalau bapak memang ngefans bilang. Asal Pak guru tau, ya. Diliatin mulu seintens yang bapak lakukan, rasanya gak enak." Rafa menyindir gurunya dengan begitu santai tanpa perduli konsekuensi.

__ADS_1


Sindiran itu membuat Pak Guru mencebikkan bibir. Pasti merasa kesal tetapi tidak bisa mengelak karena itu yang dilakukannya selama Rafa mengerjakan soal. Bukan ngefans, justru ia merasa curiga dan khawatir karena memiliki murid yang di luar batas kewajaran.


Apalagi beberapa guru lain sudah mengeluhkan akan sikap Rafa yang memang harus ditangani dengan ekstra sabar. Ia hanya mengingat hasil dari data yang terlihat biasa saja tetapi ketika menghadapi murid secara langsung, barulah menyadari apa yang berbeda.


Melihat gurunya sibuk melamun, Rafa melenggangkan kaki pergi meninggalkan kelas tanpa permisi. Langkah kaki yang terlihat tegas berjalan menyusuri lorong dari lantai teratas. Ia merasa seperti di dalam istana tetapi nyatanya justru di dalam penjara.


Perlahan menghirup udara di sekitar yang memang dingin tetapi bukan yang menyakitkan. Melainkan mengubah sirkulasi udara di dalam paru-paru yang membuatnya lebih sehat lagi hingga tiba-tiba ada yang aneh dengan perasaannya. Rasa cemas, gelisah bersambut embusan semilir angin yang seakan menyampaikan sesuatu yang tidak Ia pahami.


Ia tak bisa memahami firasat alam yang tertuju padanya. Langkah kaki trus menuruni anak tangga tetapi kini berjalan lebih pelan menikmati perasaan aneh yang tiba-tiba menggetarkan hati menghangatkan dada. Namun kian menyesakkan rasa yang membelenggu jiwa.


Satu pikiran yang menunjukkan sebuah jawaban hingga tiba-tiba bibirnya bergumam menyebutkan nama yang selalu dirindukannya. Meski tak tahu kenapa bisa merasakan semua itu, tetap saja perasaannya masih menyergap menyentuh kalbu. "Ayah, Bunda."

__ADS_1


__ADS_2