Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 32#Ikut Ke Kota, Dihukum


__ADS_3

Diantara rasa yang tersesat. Jiwanya tenggelam dalam kesendirian, hati terlena akan kasih sayang dan raga terbelenggu memeluk takdir tak bertuan. Kehidupan yang menjadi ajang permainan mengubah jejak perpisahan menjadi pertemuan. Akan kemana alur cerita ini?


Seperti yang dikatakan ayahnya. Terik matahari di atas langit sana tak mengubah keputusan. Perjalanan dari desa ke kota tetap dilanjutkan. Dimana kini, ia duduk di kursi belakang tetapi tatapan mata sibuk memandang ke arah luar. Lingkungan sawah yang selalu menjadi tempatnya bernaung di kala meresapi takdir kehidupan.


"Nak, apa kamu suka dengan pantai?" Kei bertanya berharap putranya mau membalas pertanyaannya agar bisa mengobrol selama perjalanan ke bandara yang membutuhkan waktu tiga jam dari rumah Mbok Yem.


Pantai? Di desa tempat ia tinggal selama bertahun-tahun hanya ada sawah, kebun dan juga hutan. Sungguh ingin tertawa karena menertawakan pertanyaan yang baginya seperti ejekan secara sadar. Lion menyadari diamnya sang putra karena menganggap pertanyaan Kei sebagai lelucon.


Tak ingin menyudutkan sang putra maupun istrinya. Ia berusaha berada di tengah antara anak dan istri. "Putra kita pasti akan menyukai pantai, tapi sebelum itu kehidupannya juga ada di alam terbuka. Mbok Yem pasti mengajarkan banyak hal selama ini, iya kan, Nak?"


"Kurang lebih begitu," sahut Rafael tak ingin mengalihkan perhatiannya dari luar jendela.


Kenyataan memang sangat pahit ketika ia selama ini hanya hidup bersama dengan seorang wanita tua yang selalu berusaha memberi kasih sayang layaknya orang tua. Lalu tiba-tiba kini harus pindah ke kota lain karena mengikuti keinginan orang tua yang selama ini membuangnya.


Satu kata yaitu miris tetapi ia bisa apa? Sebagai anak tentu memiliki kewajiban untuk berbakti. Sementara di sisi lain, Rafandra sang saudara kembar bersama tim basket masih berlari mengelilingi lapangan. Semua itu berkat anak-anak yang datang terlambat pada saat latihan pagi.

__ADS_1


Padahal sore nanti akan ada pertandingan pertama tapi melihat apa yang sudah terjadi. Entah masih bisa mengikuti pertandingan atau tidak. Terlebih pelatih mereka merasa kecewa. Naumi yang berdiri di deretan kursi penonton terus berceloteh mengingatkan peraturan yang ada di dalam mention agar diingat selama anak-anak menjalani karantina.


Namun semua ucapannya seperti angin lalu yang berhembus menerpa dedaunan menyentuh wajah. Terasa sedikit memberikan kesegaran meski tetap terabaikan hingga tiba-tiba datanglah Kimmy yang menatap tajam kearah anak-anak. Wanita itu tak ingin mengatakan apapun karena apa yang sudah terjadi tidak mungkin bisa dirubah lagi.


Sementara pertandingan tidak bisa diundur karena tim lawan pun sudah bersiap seperti tim yang saat ini tengah dihukum. Satu isyarat tangan membuat Naumi berjalan menghampirinya. Dari arah lapangan terlihat kedua wanita itu mengobrolkan sesuatu yang serius.


Rafa memperhatikan tanpa menghentikan langkah kakinya, ia mencoba untuk mengerti ucapan sang istri dari gerak bibir. Sayangnya Kimmy berbicara cepat sampai ia sendiri tidak bisa mengartikan. Entah apa yang akan terjadi nanti tapi firasatnya mengatakan pasti sesuatu yang besar akan terjadi.


Ia hanya berharap anggota timnya sanggup untuk menghadapi badai yang bisa saja menjatuhkan kehormatan mereka. Jauh dari lubuk hatinya ia berpikir siapa wanita yang menjadi istrinya itu? Sikap lembut dari luar tapi keras di dalam saat menjadi guru sedangkan sisi lain berbanding terbalik ketika menjadi istri.


Ia menyadari wanita itu hanya melaksanakan kewajiban bahkan tidak bisa meragukan hak dari setiap murid terhadap guru. Begitu juga dengan istrinya yang berusaha semaksimal mungkin menjalankan kewajiban untuk memberikan ilmu yang terbaik yang mendidik serta memberikan contoh yang tepat.


"Rafa, jangan lihatin Bu Kim begitu terus! Nanti kita hukumannya ditambah, loh." Mahmud yang berlari di sebelah Rafa mengingatkan leadernya.


Rafa hanya mengedikkan bahu. Bagaimana memberikan hukuman tambahan ketika waktu saja sudah semakin mepet. Dimana seharusnya mereka sudah berada di dalam perjalanan untuk menuju ke tempat tujuan pertandingan pertama. Akan tetapi tidak ada yang menghentikan hukuman lari mereka.

__ADS_1


"Kita saja masih dihukum, sedangkan waktu pertandingan sebentar lagi. Apa kalian sadar akan hal itu?" Rafa mengingatkan kepada teman-temannya yang seketika terdiam tak bisa menjawab.


"Sudahlah kita lihat saja nanti, empat putaran lagi kita akan selesai menjalani hukuman." sambung Rafa yang memang tidak ingin memperdebatkan hal yang tidak perlu diperdebatkan.


Anak-anak meneruskan lari tapi baru dua putaran dari sisa empat putaran. Sang pelatih menghentikan hukuman mereka lalu meminta semua berkumpul di tengah lapangan. Dimana Kimmy yang ikut turun ke lapangan berdiri menatap tim basket satu persatu dengan kedua tangan bersembunyi di balik saku celana.


"Apa kalian sudah hebat?" tanyanya tanpa menyurutkan tatapan mata tenang nan tajam setajam pedang.


Suara tegas dengan aura intimidasi membuat anak-anak menundukkan pandangan mata. Mereka merasakan kekecewaan dari sang guru pengganti tapi ada aroma harapan yang terbakar. Pelatihan yang selalu menambah pengalaman dan integritas bisa saja dipertanyakan.


Hening tidak satupun dari siswanya berani menjawab. Meski begitu hanya Rafa dan Fahmi yang masih stay mengangkat wajah menatap ke depan. Melihat itu, Kimmy tersenyum tipis menyadari keberanian dari kedua pemuda itu seimbang. Kualitas serta kuantitas yang bisa dipertahankan olehnya sebagai tiang tim basket.


"Hari ini adalah kesalahan pertama dan terakhir kalian. Ibu harap tidak ada kata ulang, sekarang istirahatlah! Lima belas menit lagi kalian akan bertanding." jelasnya membuat Raga mengernyit tapi sebelum bertanya terdengar suara riuh dari arah pintu masuk lapangan basket.


Kimmy tersenyum mendengar langkah kaki dan juga suara anak-anak yang familiar di telinganya. "Lawan kalian sudah datang, Welcome, The Prince Roads."

__ADS_1


__ADS_2