Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 15#Karena Si Pengacau


__ADS_3

Kepergian Kimmy meninggalkan ketenangan di rumah Rafa. Dimana kedua lelaki beda usia yang kini menatap wanita satu satunya di dalam hidup mereka. Keisha mengusap wajahnya kasar tak mampu mengatakan apapun karena ia memang bersalah.


Tidak seharusnya menyakiti wanita lain hanya karena keinginannya tidak dipenuhi. Keras kepala yang berselimut ego tinggi membuat ia lupa akan sikap toleransi terhadap sesama. Yah, pastilah Kimmy tidak sudi memiliki ibu mertua yang seegois dirinya.


"Rafa, kamu balik ke kamar! Biar bunda sama ayah." tegas Lion tak ingin putranya melampiaskan kekesalan yang tampak jelas di wajah sang putra.


Perintah ayah terdengar jelas tetapi ia enggan pergi dan justru kembali duduk di sofa. Wajah menunduk menatap nanar lantai tempatnya berpijak. "Apa bunda tahu, pertemuan hari ini membuat kami berusaha untuk saling membuka diri."


"Kimmy bahkan dengan sabar menjelaskan setiap tanggung jawab yang bisa membuat kehidupan di depan nanti berubah rumit hanya karena perjodohan. Dia melihatku sebagai seorang pria meski menganggap aku masih terlalu muda untuk memutuskan menikah."


Helaan napas panjang membawa asa yang tenggelam. Sesaat teringat bagaimana guru penggantinya bersikap dewasa dengan keras kepala yang ingin memutuskan kehidupan dalam sekali tarikan napas. Jujur saja, hubungan tidak akan dimulai jika tidak saling terbuka.


"Untuk pertama kalinya, aku merasa menemukan teman yang bisa berusaha mengerti keadaanku sendiri. Memang benar, Kimmy menolak perjodohan karena merasa masa depanku masih sangat panjang. Prioritas yang bisa saja berubah karena pernikahan.


"Itulah yang dimaksud Kimmy. Pertanyaan darinya hanya untuk membuka sudut pandang lain dengan tujuan yang sama. Sekarang hubungan yang baru bahkan blum dimulai berakhir tanpa harus diakhiri. Hanya ini yang ingin Rafa sampaikan."


Pengakuan putranya berhasil menyudutkan hati yang semakin menyesal. Betapa teganya dia menilai Kimmy tanpa mengetahui usaha dari gadis itu untuk membuat hubungan keluarga berada di jalur yang tepat dan benar. Perjodohan yang bisa saja berubah menjadi pernikahan persetujuan seketika batal.


Sudah cukup dengan pernyataan yang menguras emosi hati. Rafa beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya. Langkah kaki menjauh menyusuri lantai, kemudian menaiki anak tangga dengan langkah yang malas.


Kepergian pemuda itu membuat Lion mendekati Keisha. Direngkuhnya tubuh sang istri tanpa permisi, "Bund, bukankah kamu baru saja menasehati aku tentang sabar dan ikhlas. Sekarang lebih baik kita sholat agar kembali tenang dan memohon ampunan, ayo!"


Ajakan Lion disetujuinya, lagipula hati semakin tak tenang karena ia mengingat bagaimana reaksi sahabatnya jika Kimmy bercerita tentang kejadian barusan. Pasti Fairuz dan Lily sangat kecewa. Rasa bersalah semakin besar ketika penjelasan Rafa membalikkan penilaian tak mendasar darinya.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Kimmy baru saja keluar dari dalam mobilnya. Gadis itu memilih pulang ke rumahnya sendiri agar tidak menjadi pertanyaan ketika wajah terlihat kusut dan tegang tanpa senyum di bibirnya. Bagaimana ia bisa pulang? Apalagi jarak rumah kedua orang tua dengan tempatnya mengajar cukup jauh.


Tak perlu menunggu lama karena pintu terbuka begitu kata sandi dimasukkan. Ruang tamu nan gelap mendadak terang begitu saklar di tekan. Rumah besar dengan desain modern menjadi pilihan sang guru pengganti. Langkah kaki menyusuri lantai membiarkan alas kaki tertinggal di depan pintu masuk. Gadis itu tinggal seorang diri tanpa pengawasan.


Rasa lelah di tubuh dengan pikiran yang melayang campur aduk membuat hati tak tenang. Bergegas ia melepaskan semua pakaian luarnya, lalu pergi ke kamar mandi mengisi bath up untuk digunakan berendam. Kesibukannya tak menyadari getaran ponsel di dalam tasnya. Seperti biasa waktu yang tersisa hanya digunakan sebagai waktu memanjakan diri sendiri.


Dua puluh lima menit telah berlalu tetapi tidak ada jejak langkah kaki meninggalkan kamar mandi. Gadis itu tampak tenang menikmati hangatnya air dengan aroma terapi yang menyita kegelisahan hati serta runyamnya masalah di dalam pikiran. Setelah merasa cukup puas, barulah keluar dengan selimut handuk nan tebal.


Niat hati ingin berganti pakaian tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Suara yang bersahutan dengan panggilan menyebut namanya. Suara itu terdengar begitu familiar mendadak membuat tubuh terdiam tak berdaya. Jangankan untuk berbicara sesuatu, tubuh seketika lemas tak bertulang dengan rasa takut yang dulu menjadi kehidupannya.


"Tidak, pasti itu orang lain." katanya meyakinkan diri dengan bergumam pelan, lalu membuka lemari untuk mengambil pakaian tetapi suara ketukan pintu kembali terdengar. "Ya Allah, siapa yang ngetuk pintu sekeras itu?"


Niat hati ingin mengabaikan hanya saja rasa penasaran dengan hati tak tenang kian menerkam. Langkah kaki berlalu pergi meninggalkan kamar. Langkah pelan tanpa suara karena ia tak mengenakan alas kaki. Rumah yang besar membuat ia semakin bimbang tuk meneruskan langkah ke depan.


Suara itu menghempaskan kesadaran Kimmy yang langsung berlari kembali ke kamarnya sendiri. Tidak ada alasan untuk melihat siapa yang mengusiknya malam ini, rasa takut menyergap membawanya ke dalam rasa yang menyakitkan. Tubuh gemetar membanting pintu, lalu berlari mencari ponsel yang mendadak hilang entah kemana.


Tangan sibuk mencari si benda pipih, bibir pucat dengan tatapan mata nanar. Setiap sudut menjadi berantakan hingga isi tas berhamburan, "Papa ...," fokusnya tidak lagi ada hingga tak menyadari nomor yang dipanggil bukanlah nomor sang papa.


Suara dering terus terhubung hingga berganti deheman pelan, tanpa menunggu salam. Suara gemetar berusaha meminta bantuan, "Paaa, datanglah ke rumah Kim. Diaaa dataang ... Pa, Kim takuut ...,"


Panggilan yang dilakukan Kim mendadak terhenti bersamaan suara ketukan pintu yang lebih kencang bahkan tidak ada lagi rengekan selain rasa takut yang menyergap gadis itu. Kimmy tampak kacau dengan tubuhnya yang kedinginan basah oleh keringat, sedangkan di sisi lain lebih merasa khawatir setelah mendengar suara sang guru pengganti yang benar-benar tidak mengenakan hati.


Tanpa basa basi, pemuda itu mengambil kunci motornya. Rafa pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada orang tuanya bahkan melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Tak lupa menghubungi orang tua Kimmy bertanya dimana keberadaan putri kesayangan mereka. Informasi yang didapatkan mengubah jalur perjalanannya.

__ADS_1


Rafa trus menambah kecepatan hingga menemukan rumah besar yang dimaksud oleh orang tua Kimmy. Pemuda itu tidak langsung turun karena melihat situasi yang ada. Dari jarak sepuluh meter ditempatnya berhenti, ia bisa melihat seorang pria yang berusaha memasuki rumah sang guru pengganti. Melihat itu, tanpa pikir panjang ia merekam tuk dijadikan sebagai barang bukti.


Aksinya tak seorangpun melihat tetapi Rafa juga tidak lupa menghubungi polisi melaporkan tentang kericuhan yang terjadi di rumah Kimmy. Singkat cerita pak polisi datang begitu cepat dan langsung membawa pria asing yang mengusik ketenangan sang guru pengganti. Tatapan mata saling bertemu memancarkan kebengisan dan juga kebencian.


"Terima kasih sudah menghubungi kami, De. Selamat malam." ucap Pak Polisi sebelum membawa si pengacau, lalu memaksa tahanan masuk ke dalam mobil.


Kepergian polisi membuat Rafa bergegas berlari memasuki rumah Kimmy. Dimana ia sibuk membereskan kekacauan tetapi lupa menemui gurunya yang membutuhkan pertolongan. Langkah kaki berpacu dengan waktu tak mau mengalah seperti sang takdir kehidupan. Sesaat tersesat lalu kembali merengkuh kesadaran.


"Bu Kim," Bibir kelu menatap gadis yang duduk diam memeluk lututnya sendiri dengan wajah menunduk tertutup helaian rambut.


Tak kuasa menahan diri. Pemuda itu menghampiri Kimmy, merengkuh tubuh yang membeku tak bersuara. Selimut yang menutupi tubuh semakin erat membalut tubuh gadis itu hingga suara panggilan lain mengalihkan perhatian Rafa. Kedatangan kedua orang tua sang guru tak mengubah keadaan.


Tiba-tiba tangannya ada yang menahan, "Ada papa dan mamamu, tenanglah. Kita tidak akan melukaimu." ucapnya berusaha menenangkan.


"Nak, tetaplah bersama putriku. Kami akan menunggu di luar. Kimmy, semua akan baik-baik saja, percayalah." Papa Fairuz mengusap kepala putrinya, begitu juga dengan Mama Lily.


Kepergian kedua orang tua Kimmy, membuat Rafa hanyut dalam pemikiran yang mulai tanpa arah tujuan. Perbandingan antara sikap sang guru saat tenang, lalu dengan keadaan yang sekarang. Kedua situasi itu benar-benar bertolak belakang. Hati ikut tercubit melihat betapa menderitanya sang guru. Apakah ini yang disebut trauma?


"Kimmy, kamu harus kuat demi keluarga. Berjuang agar semua ketakutanmu tidak lagi menjadi alasan untuk jatuh lemah tak berdaya. Katakan saja padaku jika memerlukan apapun." bisiknya tanpa melepaskan pelukan bahkan cengkraman tangan yang terlalu erat dibiarkan tanpa keluhan.


Tanpa Rafa sadari, caranya menenangkan Kimmy juga diperhatikan kedua orang tua si gadis yang membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Mereka sengaja memberikan waktu agar kedua insan itu bisa saling mengerti. Lega rasanya ketika ada yang bisa menjadi tempat bersandar selain kembali pada pelukan orang tua.


"Pa, bisakah kita menikahkan mereka secepat mungkin?" Lily bertanya tanpa mengalihkan tatapan mata yang terpatri melihat bagaimana Rafa membiarkan Kimmy meredam rasa takut dalam pelukan.

__ADS_1


__ADS_2