Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 49#Semua Obrolan, Hutan


__ADS_3

Persiapan yang dilakukan Kimmy sudah selesai, tetapi sampai saat itu juga Rafa masih belum keluar dari kamar mandi. Heran dengan kelakuan anak satu itu. Memang sedang apa di kamar mandi selama empat puluh lima menit. Niat hati ingin memeriksa, tapi tiba-tiba langkah kaki muncul langkah kaki sang suami keluar dengan wajah yang segar.


Melihat itu, ia bergegas menutup tas terakhir, lalu melanjutkan aktivitas selanjutnya yaitu mandi. Tangan mengambil handuk dari atas ranjang, kemudian menghampiri kamar mandi untuk membersihkan diri. Hal tak terduga menjadi drama hingga akhirnya terjadi perebutan kain mengulur waktu lebih lama.


Keisengan Rafa dibiarkan saja karena tidak bisa memberikan pelajaran pada pemuda itu mengingat waktu semakin singkat. Satu langkah cepat hingga masuk dan langsung mengunci kamar mandi, sedangkan diluar sana Rafa sibuk mengomel sendiri.


Durasi mandi hanya dua puluh menit karena mereka harus berangkat tepat waktu. Seperti rencana, dimana perjalanan kali ini cukup memakan waktu. Tampak pasutri yang duduk di mobil bagian belakang saling sibuk dengan urusan masing-masing. Satu sisi Rafa memainkan gawai dengan game perang, sedangkan sisi lain Kimmy memeriksa pekerjaan dari laptop.


Perjalanan yang membosankan, apalagi Rafa tidak tahu kemana mereka akan pergi. Ditambah lagi baik ia maupun Kimmy hanya sibuk sendiri. Kapan mereka berdua memiliki waktu duduk berdua untuk menghabiskan liburan bersama. Kecuali urusan ranjang tentunya.


"Kim, pekerjaanmu terlalu banyak, itu. Please sudahi saja," rajuk Rafa, membuat Kimmy menoleh ke arahnya. Tangan wanita menutup laptop tanpa mematikan daya.


Tatapan mata saling bertautan. Rafa terlihat bosan. Padahal sudah diberikan akses untuk menikmati perjalanan dengan game sebagai teman. Sepertinya pemuda itu lelah dan jenuh, bahkan begitu ia menoleh dengan cekatan menyingkirkan ponsel kembali ke persemayaman di dalam saku jaket.


"Rafa, kita masih di perjalanan. You can see, sekitar kita masih perumahan. Kita bisa apa? Kenapa tidak main game, lagi?" tanya Kimmy mencoba mengerti apa keinginan sang suami.


Rafa menepuk kening sedikit keras hingga meringis sendiri, tapi usapan tangan lembut mengalihkan perhatiannya. "Nah gitu, kan enak di sayang. Istriku makin manis, deh. Kita ngobrol aja, yuk!"


"Hmm, ini juga udah ngobrol kan? Gimana kalau nanti ganggu konsentrasi," sahut Kimmy yang masih memikirkan beberapa pekerjaan darurat, tapi tidak mungkin mengabaikan Rafa selama perjalanan.



"Mengganggu konsentrasi? Perasaan yang nyetir Pak Sopir. Aku sama kamu duduk di belakang. Kalau maksudnya, konsentrasiku padamu. Don't worry, i'm just your," timpal Rafa narsis tingkat angkasa.


Pernyataan Rafa menghadirkan suara tawa lepas dari Kimmy. Memang benar kali ini tidak menyetir sendiri, tapi kenapa semua hal justru jadi bahan rayuan suaminya. Ia heran, tapi tak mempermasalah sesuatu yang masih dianggap aman. Obrolan yang dimulai dari basa-basi terus mengalir membawa kedua insan itu dalam kebersamaan.


Waktu yang semakin maju hingga tidak terasa berputar lebih cepat mengikis harap perjalanan. Rasa lelah terlupakan ketika bibir saling membalas pertanyaan seraya memberikan jawaban, bahkan pak supir sesekali ikut berkomentar. Sehingga membuat ketiganya terlihat begitu dekat.


Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa siang berganti malam. Perjalanan masih sangat panjang tetapi Kimmy meminta pak supir untuk berhenti istirahat sejenak di cafe perbatasan. Tujuan yang masih memerlukan waktu tiga jam lebih, membuat wanita itu mengecek persediaan bahan bakar.


Selain itu, ia juga memeriksa keadaan sekitar. Rafa yang mendapat kesempatan keluar dari mobil begitu senang melihat pemandangan dan sibuk memotret sana sini tanpa memperhatikan sekitarnya. Kesibukan semua orang meramaikan suasana malam, begitu juga dengan Anak-anak yang duduk mengitari api unggun.


Udara sekitar benar-benar masih alami sehingga untuk mengurangi hawa dingin, anak-anak juga menikmati cemilan hangat ditemani secangkir kopi seraya bermain gitar bergantian bersama kawan. Sementara tiga pemuda yang duduk di dalam tenda hanya menyimak sembari mengobrol serius tentang masalah sedang mereka hadapi.


"Zhang, emang elo yakin, dia bakal datang kesini? Ya kali, tuh anak gak punya muka," celetuk Louis yang langsung bicara dengan nada keras hampir terdengar seperti orang berteriak.


Louis sepertinya masih tidak terima jika orang yang mereka bicarakan benar-benar datang ke tempat camping. Jika dipikirkan, pemuda satu itu tidak ikut pertandingan karena saat hari H masih berada di luar negeri. Pastinya cerita anggota tim di sekolah membuat darah muda mendidih.


Sebagai salah satu anggota yang ikut pertandingan. Ia tahu dengan benar bahwa orang dari topik kali ini memiliki kelebihan. Ditepuknya tangan Louis sedikit keras hingga membuat si teman meringis kesakitan. Jelas raut wajah berhias senyum masak tak terima.

__ADS_1


"Ish, tega amat, Zhang. Kagak suka atau gimana, sih. Pake acara mukul, salah gitu ngomongin fakta?" tanya Louis semakin geram karena pembelaan yang dilakukan tidak diterima oleh dua pemuda di sebelahnya.


"Kamu nggak salah, tapi ucapanmu itu loh. Inget ya, kita di sini cuma hanya sebagai pancingan dan status semua orang tetap sama. Kecuali, kalian mau benar-benar pindah sekolah dan gak balik ke sekolah lama. Kenapa malah jadi sibuk urus hidup orang lain?" Zhang membela diri membicarakan fakta yang lebih konkrit daripada argumen Louis.


Perdebatan itu, membuat pemuda yang sejak awal menyimak menikmati denyutan di kepala. Suara yang saling ngotot menghadirkan rasa sakit, "Stop, please! Kalian ribut berisik banget. Ini itu, waktunya orang tidur malah kalian berdebat."


Pemuda ketiga menengahi obrolan dua pemuda yang terlihat masih sama-sama kesel dengan pemikiran yang tak sepaham. Mereka yang sengaja didatangkan hanya untuk menjadi pemimpin pengganti sementara waktu. Dimana bertujuan membentuk solidaritas dalam dunia olahraga.



Mereka tidak ingin mengambil posisi siapapun karena sudah jelas sang pelatih mengatakan hanya membutuhkan bantuan kecil sebelum pertandingan final diadakan. Perdebatan itu terhenti, tapi tak seorangpun menyadari adanya pihak lain yang ikut mendengar semua obrolan.



Seulas senyum bersambut helaan napas lega karena ternyata alasan yang membuat semua orang kecewa hanyalah sebagai hukuman sesaat. Sang pelatih ingin setiap anak didiknya mau belajar menghargai satu sama lain dan juga sadar ketika melakukan kesalahan harus berani bertanggung jawab.


Kebenaran itu, tak ingin ia bagi pada teman-teman. Apa yang sedang terjadi, maka biarlah terjadi seperti apa adanya dan tak harus menceritakan hal yang membuat semua orang justru membandingkan satu nama lain. Sementara di sisi lain, para pengawas justru tengah berjalan-jalan di antara rimbunnya pepohonan.


Suasana malam dengan semilir embusan angin nan semribit tak mengubah ketetapan hati meneruskan langkah kaki berjalan maju. Mereka tampak bernostalgia mengingat masa remaja. Memory beberapa tahun silam yang kini menjadi kenangan. Suasana daerah tersebut masih sama dengan keindahan alam yang selalu memberikan Kedamaian.


"Lelah, istirahat sebentar, deh! Ngomong-ngomong, apa sudah ada kamar darinya? Semua baik-baik saja kan? Kurasa mungkin mereka datang terlambat," ujar seorang pengawas yang memulai obrolan sejenak menghentikan perjalanan mereka.


"Sebenarnya sepuluh menit lalu, beliau sudah mengirimkan pesan bakalan sampai sekitar tiga jam atau empat jam lagi. Posisinya saat ini ada di cafe perbatasan. Lagian dari yang ku tahu, beliau memiliki urusan lain sekalian berangkat kemari." sahut si pengawas dua, membuat yang lain menganggukkan kepala serempak.


"Bagaimana acara pertandingan besok? Apa langsung pertandingan final atau masih pertandingan persahabatn?" tanya salah satu pengawas yang lebih banyak diam tetapi kali ini ingin angkat bicara.


Kelima pengawas itu saling pandang. Dimana mereka sadar kemana arah pertanyaan tersebut. Akan tetapi tak satupun dari mereka yang tahu. Bagaimana pertandingan esok akan diadakan. Semua sudah diatur oleh pelatih utama, sedangkan tugas mereka hanya membawa anak-anak camping bersama.


Selain itu, tujuan membawa anak tinggal do hutan sudah sangat jelas. Dimana semua mengikuti aturan lama yaitu melakukan latihan fisik hanya saja apa sesederhana itu? Jika dulu, tidak ada hal yang membuat mereka harus begitu bekerja keras, lalu bagaimana sekarang?


Setelah melihat deretan rencana yang akan dilakukan. Sebagai pengawas, mereka sudah sadar akan perbedaan metode pelatihan yang diterapkan oleh pelatih utama. Obrolan para pengawas tidak bisa dilanjutkan karena mereka tak menemukan jawaban dari pertanyaan.



Sehingga memilih mengobrol hal lain yang membuat mereka saling berbagi cerita tentang masa lalu. Keesokan harinya, suara derap langkah kaki terdengar menjauhi tenda, membuat tiga pemuda saling pandang memberi semangat satu sama lain untuk memulai pertempuran.


Jika para pengawas dan anak-anak tim basket berkumpul pukul lima pagi, lalu melakukan olahraga yang berupa lari mengelilingi batas bendera. Wilayah yang dilewati tak semulus jalan beraspal karena harus ekstra hati-hati dengan tanjakan yang bersambung turunan dengan kerikil kecil.


Berbeda lagu dengan tiga pemuda yang harus bersabar melaksanakan tanggung jawab lain. Terlihat wajah tampan Abimana, Louis dan Zhang memasang mimik serius dengan konsentrasi tinggi membuatkan sarapan untuk semua orang. Pekerjaan itu tidaklah sulit karena memang ketiganya sangat terampil

__ADS_1


Selain pemain basket handal, mereka bisa mendapatkan tanggung jawab apapun di dalam situasi darurat. Bukan keahlian sih, tapi selalu belajar semua hal tanpa diminta. Sepuluh menit telah berlalu, aroma kuah kari bumbu instan mulai menyebar tercium di sekitar tempat camping.


Entah saking sibuknya atau bagaimana sampai tidak menyadari keberadaan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Kebisingan suara alat masak berganti suara deheman dari arah sisi barat yang langsung mengalihkan perhatian ketiga pemuda itu.


Ketiganya serempak berbalik melihat siapa yang datang. Wajah cantik dengan senyum tipis menyambut mereka yang langsung menundukkan pandangan sebagai bentuk rasa hormat pada sang pelatih. Akan tetapi, kenapa hanya datang seorang diri?


"Pagi, Abi, Zhang, Louis. Bagaimana kabar kalian?" tanya Kimmy menyapa ketiga siswanya dengan santai.


Zhang mendongak, lalu tersenyum lebar. "Selalu okay, Bu Kim. Ibu sendiri bagaimana?" tanya balik pemuda itu, membuat Louis dan Abimana menatap ke arahnya.


Kimmy yang belum menjawab menoleh ke arah samping. Dimana Rafa datang setelah mengambil beberapa foto di jalan yang mereka berdua lewati. Penampilan sang suami benar-benar membuat hati was-was. Bagaimana tidak? Di tengah hutan, Rafa hanya mengenakan celana pendek dan kaos longgar tanpa jaket.


Anak-anak memperhatikan Rafa begitu intens, ia sadar benar bahwa dimata Louis ada ketidaksukaan, Abimana yang netral dan Zhang tampak biasa saja. Tak ingin menambah ketegangan, dikeluarkannya lipatan kertas yang merupakan tugas untuk ketiga anak didiknya.


"Anak-anak sudah pergi, sekarang giliran kalian melanjutkan tugas. Ambillah!" Kertas lipat di berikan yang diterima Zhang. "Aku akan memasak, waktu kalian hanya lima belas menit kurang."


Pernyataan Kimmy membuat Abimana, Louis dan Zhang saling pandang, lalu melihat isi kertas lipat yang mereka dapatkan. Ternyata tugas membuat lapangan dadakan dan durasi waktu hanya lima belas menit karena anak-anak sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu.


"Apa kalian tidak siap? Jika tidak, aku sendiri yang akan melakukan persiapan. Disini kalian harus memastikan semuanya sesuai dengan permintaanku. Katakan!" Kimmy mempertegas pekerjaan ketiga anak didiknya yang memang memiliki keahlian sesuai dengan jabatan.



Abimana, Zhang dan Louis langsung memberikan hormat dan berlari meninggalkan kompor yang masih menyala. Melihat itu, ia mengajak Rafa untuk membantunya memasak sarapan untuk semua orang. Tugas berganti karena menyesuaikan dengan situasi dan durasi waktu yang ada.


Selembar kertas yang diberikan Kimmy menjadi kekompakan ketiga siswa saling bekerja sama untuk mewujudkan keinginan sang pelatih. Sementara itu, Rafa menikmati momen menjadi asisten istrinya sendiri yang tampak lihai memainkan alat dapur.


Setiap orang menjalani tugas dengan durasi sama. Dimana harus menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu lima belas menit. Menyiapkan lapangan untuk pertandingan? Why not, itu karena mereka bertiga memahami semuanya dengan sangat baik.



Tiga orang sudah cukup untuk menyelesaikan tugas seperti permintaan pelatih mereka. Rafa yang melihat semua itu berniat membantu, tapi lirikan mata Kimmy menghalangi tidak memberikan izin. Apa iya, Abimana, Louis dan Zhang tidak memerlukan bantuan?



Bingung dengan sikap protektif sang istri, apalagi jika alasannya hanya karena harus menjaga stamina. Seolah-olah tengah sakit padahal semuanya sehat. Akan tetapi, tak mungkin membuat khawatir sang istri. Sehingga lebih baik menurut dan membiarkan semua berpikir dirinya tidak berguna.


Pemikirannya semakin kacau karena hati masih begitu sensitif. Setelah berjuang dengan semua bumbu, akhirnya semua masakan sudah hampir siap meski masih setengah matang. Setidaknya semua menu sudah diolah, begitu juga dengan ketiga pemuda yang baru saja melaporkan hasil akhir.


Louis yang tak ingin terlalu lama bertemu Rafa memilih menyibukkan diri mengembalikan peralatan yang baru saja digunakan ke tempat semula, sedangkan Zhang memeriksa makanan dengan suara perut keroncongan. Berbeda lagi dengan Abimana, pemuda itu memberikan kertas tugas kembali ke pelatih.

__ADS_1



"Maaf, Bu Kim. Apa ibu akan tetap di sini?" tanya Abimana hanya ingin memastikan.


__ADS_2