Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 25#Ibu dan Putranya


__ADS_3

Benci untuk mengatakan ia masih belum move on tapi memang begitu adanya. Padahal sudah jelas saat ini kehidupan Ashana sudah tenang dan bahagia bersama keluarga baru dengan cinta yang lain. Sedangkan ia sendiri hanya sibuk bekerja dengan status lajang sekedar penghilang waktu yang kian terasa penat.



Kesibukan dari pagi hingga pagi cukup menjadi pengalih perhatian yang mujarab. Orang bilang, waktu akan menyembuhkan luka. Pepatah itu cukup menyesatkan. Kenapa? Karena bukan waktu yang menjadi jaminan melainkan keikhlasan dan perdamaian di dalam hati, jiwa dan pikiran.



Terkadang pepatah digunakan agar manusia bisa menjadi makhluk yang menyadari akan adanya toleransi. Akan tetapi terkadang sebagai insan yang tak sempurna, ego masih digenggam tanpa berpikir itu baik atau tidak. Pada intinya adalah proses dewasa selalu dari introspeksi diri dengan penerimaan setiap fase kehidupan.


Suara ketukan pintu mengalihkan lamunan Kai yang terduduk lelah dengan wajah kusut. Ingin sekali kembali tidur tapi sayang tak bisa. Dilihatnya jam di dinding yang menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit pagi. Sudah waktunya beribadah, tangan menyibak selimut lembut nan tebal.


Kemudian beranjak turun dari atas ranjang. Suara ketukan pintu yang selalu menjadi alarm keduanya di setiap pagi hari. Tanpa menunda-nunda, ia pergi membersihkan diri. Sementara wanita di luar kamar tersenyum manis setelah mendengar suara langkah kaki dari dalam kamar. Lega karena putranya sudah bangun.



"Sebaiknya aku siapkan sarapan kesukaan Kai," gumamnya lalu pergi meninggalkan depan pintu kamar sang putra.



Kebahagiaan seorang ibu hanya jatuh pada kehidupan anak-anak mereka tetapi di sudut hati terdalamnya masih kosong. Semua harapan seketika terhenti, dulu memiliki mimpi setinggi langit tapi kini yang tersisa hanya angan semata. Bagaimana mengharapkan sesuatu yang putranya sendiri sudah tidak ingin mendengarkan.



Langkah kaki menapaki lantai putih polos yang sudah menjadi tempatnya berpijak selama beberapa tahun terakhir. Sebagai seorang ibu, ia mencoba memahami luka hati sang putra tetapi ibu mana yang ingin melihat putra tunggalnya melajang. Rasa khawatir tentu semakin meningkat ketika teman dari Kai sudah memiliki momongan.



Satu jam kemudian. Kai yang baru duduk di kursi menerima perhatian sang ibu yang dengan sigap menyendok nasi, lalu menuangkan sayur tumis kangkung serta ikan bakar kesukaannya. Warna merah kehitaman dari ikan dengan aroma pedas yang menguar membuat napsu makannya meningkat.


Tatapan mata berbinar seakan mendapatkan hidangan terlezat seumur hidup, "Ibu baik banget, pagi-pagi udah bikin ikan bakar buat Kai."

__ADS_1


"Jadi selama ini ibu gak baik, ya?" tanya Ibu menggoda putranya. Kai nyengir seraya mengacungkan kedua jari membentuk peace tanda damai. "Kai, kapan kamu ambil cuti kerja?"


"Blum tahu, Bu. Masih pengen ngumpulin uang dulu, kenapa ibu tanya hari cuti? Ibu mau diantar kemana?" tanya balik Kai sambil mengelap tangan sebelum memulai menikmati sarapan paginya.


Sesaat terdiam ikut mengambil piring kosong, lalu mengisi dengan sedikit nasi, sayur tanpa lauk. Kemudian duduk di seberang, dimana berhadapan dengan Kai yang sudah mulai menikmati makanan dengan begitu nikmat. Melihat itu, ia tak ingin mengubah suasana hanya karena ego seorang ibu.



"Kita makan dulu, biar nikmatnya bisa berkah." putus Ibu membuat Kai mengangguk meski penasaran dengan apa yang ingin disampaikan orang tua tunggalnya itu.



Lima belas menit kemudian, sesi sarapan berakhir bersama tandasnya secangkir kopi hitam tanpa gula yang menjadi kebiasaan Kai. Katanya kopi bisa meningkatkan adrenalin daripada minum alkohol. Maka ia memilih kopi sebagai pilihan terbaik untuk memberikan mood semangat pagi.



Namun meski begitu tetap saja mengikuti aturan kesehatan. Dimana minum kopi setelah sarapan dan bukan sebelum sarapan. Apalagi sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh bangsa Etiopia di Benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu.




Ditatapnya sang Ibu serius tanpa berkedip, "Bu, apa ada yang harus Kai tahu?"



Niat hati ingin melupakan tujuannya setelah memikirkan lagi dan lagi, tapi tatapan sang putra menegaskan ia harus berterus terang. Meski dirinya seorang ibu, Kai lah yang menjadi kepala keluarga setelah sang suami yaitu ayah Kai meninggal karena tugas negara. Ia merasa sosok pria dewasa mengambil alih keceriaan putra tunggalnya.



"Begini loh, Kai. Ibu harus memeriksa lahan perkebunan yang dibeli almarhum Mas Teguh beberapa bulan lalu, jadi untuk itu ibu izin ke Indonesia. Setidaknya menetap selama dua bulan." jelas Ibu tanpa basa-basi dan terkesan begitu meyakinkan.

__ADS_1



Perkebunan strawberry yang dibeli dari salah satu tuan tanah. Entah berapa hektar tetapi jelas ayahnya ingin perkebunan itu bisa diolah dengan baik hanya saja tidak mungkin membiarkan sang ibu melakukan perjalanan seorang diri. Ia tak tega karena selama ini selalu pergi berdua meski itu ke rumah saudara sekalipun.



Sesaat berpikir apa yang harus dilakukannya karena ibu terlihat begitu berharap akan mendapatkan izin darinya. "Begini saja, tunggu aku pulang hari ini, lalu kita lihat akan seperti apa. Ibu jangan khawatir, aku akan coba pantau perkebunan dari sini sementara waktu."



"Masalahnya bukan hanya itu saja, Kai. Bulan ngadain syukuran tujuh bulanan menantunya, masa iya ibu gak hadir sebagai kakak tertua? Gak enak hati, Kai." bujuk Ibu Bintang semakin menatap Kai lembut membuat sang putra menghela napas pelan.



Kebiasaan para orang tua ya seperti itu, mengharuskan datang di setiap acara dan sebagai anak mencoba untuk mengimbangi. Akan tetapi pekerjaannya tidak bisa mendapatkan cuti secepat membalikkan telapak tangan sehingga ia berpikir keras agar bisa menyenangkan hati ibunya tetapi tidak lalai tanggung jawab seorang anak.



"Ibu boleh pergi tapi jangan tinggal di rumah kita yang lama. Apalagi nginep di rumah budhe atau pak lek. Nanti Kai atur semuanya, sekarang biar putramu ini mencari nafkah terlebih dahulu. Assalamu'alaikum, ibu cantikku." Kai beranjak dari tempat duduk, lalu mengulurkan tangan di sambut tangan sang ibu yang ia kecup penuh kasih sayang.



Langkah kaki berjalan menjauhi meja makan meninggalkan sang ibu yang tersenyum bahagia karena putranya sudah setuju. Dimanapun tempat tinggal yang diatur Kai, ia tau sang putra akan memberikan fasilitas yang terbaik seperti biasanya. Sementara itu Kai sendiri baru memasuki mobil sport putih yang selalu menjadi kendaraannya setia berangkat ke rumah sakit.



Earphones bluetooth sudah terpasang dengan baik dan tersambung ke ponsel yang tergeletak di tengah. Satu tangan sibuk memeriksa barang bawaan sedangkan tangan lain mencari nomor yang bisa dia mintai pertolongan. Suara dering terdengar cukup lama tetapi tidak ada jawaban.



Beberapa kali mencoba memanggil ulang. Sayangnya nihil, "Astagfirullahaladzim, ini anak kemana, tho?"

__ADS_1


__ADS_2