Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 28#Pertandingan Lagi


__ADS_3

Wanita yang berdiri di sebelah kanannya itu terlihat baik, tapi masih jelas ada gurat lelah. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah apa yang terjadi semalam begitu cepat berlalu. Canggung untuk menyapa di luar kamar karena khawatir takut ada yang mendengar obrolan mereka.


"Fine," Kimmy menghela napas pelan, lalu melangkah maju selangkah. Tatapan mata ke depan dimana dinding pagar pembatas menjadi batas bangunan sisi barat mansion. "Rafa, maaf atas kejadian semalam, aku tidak sengaja melakukan itu."


Pernyataan sang istri membuat Rafa melipat kertas taktik, kemudian menyimpannya kembali ke saku celana. Pemuda itu menoleh ikut maju selangkah menghampiri Kimmy yang pasti masih merasa bersalah karena kejadian tak terduga semalam. Jika wajahnya tidak ditutupi make up, pasti tampak beberapa luka akibat terkena benturan benda tumpul.


"Mau tanding denganku?" tawar Rafa mengalihkan perbincangan yang ia anggap bisa sebagai penetralisir perasaan bersalah.


Seperti dugaannya, sang guru pengganti mengangguk menyetujui tawarannya. Kedua insan itu akan melakukan pertandingan satu lama satu lagi tetapi kali ini bukan untuk memutuskan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Si pemuda berdiri di lapangan sisi utara dengan tangan memegang bola basket menunggu Kimmy yang sibuk mengikat rambut menjadi gelungan atas.


Pesona anggun dari wajah cantik, polos, tatapan mata meneduhkan, bibir ranum menggoda mendadak mengalihkan fokus Rafa yang tertegun kesulitan menghirup oksigen di sekitarnya. Apalagi kaos longgar yang dikenakan sang guru semakin memperlihatkan leher jenjang yang berhias stempel kepemilikan.


"Ekhem!" Dehem Kimmy sedikit keras hingga Rafa tersenyum getir karena lamunannya buyar seketika. "Ayo, dimulai!"

__ADS_1


"Sebelum memulai, berjanjilah tidak akan mengalah seperti saat pertandingan di sekolah." ujar Rafa mengingatkan karena ia tak suka mendapatkan kemenangan secara cuma-cuma.


Ia pikir pemuda itu tidak menyadari apa yang dilakukannya tapi ternyata tau juga. Bukannya ingin mengalah hanya saja sebagai seorang pelatih berhak menguji kemampuan anak didiknya. Begitu juga dengan kekompakan tim yang bisa menjadi pondasi kesuksesan di setiap pertandingan nantinya.


Dalam setiap permainan tim, pemimpin memang memiliki tanggung jawab paling besar tapi tanpa kerja sama seluruh anggota. Maka tidak ada yang namanya tim. Sejak awal ketika Ia meninggalkan anak-anak di lapangan. Itu hanya salah satu dari ujian kekompakan tim. Meski kedisiplinan yang paling utama, ia juga mentoleransi beberapa poin dalam olahraga.


"Okay, tapi jika kamu kalah dariku. Maka bersiaplah masak makan siang buatku. Setuju?" Kimmy mengulurkan tangan memberikan tantangan baru yang disanggupi Rafa tanpa ada penolakan.


Pertandingan yang bisa dianggap tidak seimbang karena skill dari kedua insan itu masih memiliki pagar pembatas yang tinggi. Gerakan lincah Kimmy merebut bola dari Rafa bersambut tatapan mata kepastian. Pemuda itu berusaha menyeimbangkan tetapi cara istrinya bermain sudah profesional.


"Ayo, Non. Semangat!" seru para pelayan menyemangati Kimmy dengan suara riuh bersamaan tepuk tangan.


Penonton yang hanya berpihak pada Kimmy seorang bersambut suara tepuk tangan lain dari arah belakang. Dimana tim basket yang sudah mandi justru kembali ke pinggir lapangan karena mendengar kehebohan. Kedua pemain sudah mendapatkan dukungan, tetapi yang bertanding tidak mempedulikan.

__ADS_1


Permainan terus berlanjut hingga Kimmy berhasil mendapatkan nilai lebih unggul dibandingkan Rafa yang kalah gesit dari wanita itu. Pertandingan berlangsung selama setengah jam lebih sedikit tetapi sayang harus diakhiri karena matahari semakin naik ke atas dan waktu sarapan pagi sudah dimulai.


"Yeay, Non, terthe best deh. Lope, lope, Non." teriak Kang Gary yang menjabat sebagai asisten Naumi tetapi lebih suka dipanggil nama saja tanpa embel-embel asisten.


Kimmy hanya tersenyum tipis tanpa respon berlebihan, sedangkan Rafa sibuk memperhatikan bola basket yang terasa licin saat bertanding dengan guru penggantinya. Sekali melakukan dribbling tapi semua aman terkendali, lalu kenapa bisa kalah? Taktik permainan wanita itu terlalu acak dimana setiap gerakan baru selalu berbeda dari gerakan sebelumnya.


"Rafa, buruan mandi! Elo mau ikut jalan-jalan nggak?" Mahmud berlari menghampiri leadernya itu yang malah asyik memikirkan bola basket.


Sementara yang lain membubarkan diri kembali melakukan pekerjaan masing-masing. Begitu juga dengan Kimmy, hanya saja wanita itu memilih memasuki ruang olahraga. Ia tak ingin buru-buru masuk ke kamar karena masih membutuhkan pemanasan untuk membakar kalori tubuhnya. Kali ini pilihannya adalah treadmill.


Olahraga pertama yang mudah untuk dilakukan di rumah adalah jogging. Walaupun jogging identik dengan kegiatan berlari, tapi kamu tidak perlu berputar-putar dalam rumah. Cukup berlari di tempat sambil nonton televisi juga bisa. Meski Kimmy lebih suka mendengarkan musik sambil jogging menggunakan treadmill.


Kehidupan pernikahan Kimmy dan Rafa masih sangat rahasia tetapi berbalut kehidupan nuansa sekolah asrama. Sementara pasangan lain baru saja turun dari sebuah mobil yang berhenti di depan rumah sederhana tanpa tingkat tetapi memiliki halaman asri dengan tanaman hias yang berisi berbagai jenis bunga.

__ADS_1


Dari arah samping rumah seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh datang menyambut tamu yang sudah ditunggu sejak semalam. "Tuan, Nyonya, silahkan masuk! Maaf loh, Mbok gak bisa jemput di bandara. Maklum tulang mintanya rebahan trus."


"Ndakpapa, Mbok. Dimana Rafael?" tanya si wanita berhijab yang tak sabar ingin bertemu dengan orang terkasihnya.


__ADS_2