Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 50#Pertandingan, Malam


__ADS_3

Jika menetap ia tak bisa karena tanggung jawabnya masih banyak. Lagi pula keberadaan Rafa masih harus dirahasiakan sampai malam ketiga yaitu dua malam yang akan datang. "Kalian masih ada pengawas yang menjaga, sedangkan Rafa hanya bersamaku. Sampai bertemu besok, jaga diri kalian."


Abimana terlihat muram karena ia tak bisa tinggal. Pemuda itu memang terlihat lebih agresif ketika hanya berdua saja, padahal Rafa yang berdiri berpura-pura sibuk main hp masih bisa mendengar dengan jelas. Akan tetapi, sebagai seorang wanita tentu peka ketika ada yang menyukai lebih sekedar hubungan formal.


Begitu juga dengan Kimmy yang mengerti isi hati Abimana hingga ia memilih untuk menjaga jarak. Tak sekalipun berniat memberikan harapan pada pemuda itu, apalagi kini posisinya adalah seorang istri. Sehingga setelah clear dengan urusan dengan ketiga anak didiknya, ia mengajak Rafa untuk kembali ke tempat yang seharusnya.


Tentu saja setelah menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh ketiga pemimpin tersebut pada hari ini. Agar semua terjadi sesuai rencana. Dimana setelah anak-anak kembali akan melkukan pertandingan satu lawan satu, sedangkan Louia, Abimana dan Zhang memilki tugas sebagai penantang.


Tugas yang cukup berat karena hari ini setiap anggota tim basket akan melawan orang yang sama-sama tangguh. Meskipun begitu mereka memiliki hak untuk membuat peraturan bebas meski yang akan mengatur hanya Zhang seorang. Pemuda satu itu pandai membuat strategi jadi bisa membaca setiap kemungkinan setelah mempelajari permainan lawan.


Kekompakan harus ditegakkan, begitu juga dengan dua Insan yang berjalan menjauh dari tempat camping, dimana Kimmy sudah memilih tempat tinggal untuk ia dan suaminya selama menginap di hutan. Area yang digunakan Kimmy tak begitu jauh dari tempat anak-anak agar memudahkan akses di malam pertemuan.


Jika anak-anak sudah dibuatkan lapangan secara dadakan, maka Rafa juga membutuhkan lahan yang sama dan area yang tidak memiliki keterbatasan. Sehingga wanita itu menyediakan satu area untuk menjadi milik mereka berdua. Kini pertandingan akan dimulai dari dua sisi sekaligus.

__ADS_1


Jika disana ada ketiga leader untuk menantang anal-anak tim baset, maka disini ia sendiri yang akan bertanding dengan Rafa. Satu jam telah berlalu, kedua tempat telah bersiap untuk melakukan pertandingan, begitu juga dengan Rafa. Dimana pemuda itu masih menunggu Kimmy.


Rafa yang duduk sambil memainkan bola basket di tangan mulai jenuh menunggu, "Aku heran kenapa punya istri seorang pelatih, tapi malah ditantang melulu. Apa sudah bosan dengan melawan sekolah lain?"


"Oh gitu, sudah merasa hebat? Berlatih saja gak, memang yakin bakalan menang dariku? Sebenarnya kalau tidak mau bertanding, ya gapapa." Kimmy masih sibuk mengikat rambut panjangnya tanpa memperhatikan wajah masam Rafa. "Ayo, kita balik ke asrama! Setelah lulus kamu bisa kuliah di Amerika dan jangan harap bisa bertemu teman yang lain."


Niat hati hanya mengeluh saja, tapi ancaman Kimmy membuatnya tidak bisa berkutik. Apalagi saat ini wali sah sudah diambil alih oleh wanita yang menjadi istri rasa ibu. Ia merasa ayah dan bunda mendapatkan menantu sesuai keinginan karena semua kriteria bisa ditemukan dari Kimmy Rosella.


"Ya ampun, Istriku yang cantik. Kok main ngancem, sih? Oke kita tanding, tapi apa hadiahnya?" Rafa tak ingin membuang kesempatan untuk mendapatkan kebebasan seperti keinginan hatinya.


Dimana disekitar mereka ada dua pohon dengan cabang saling bersinggungan membentuk lingkaran tak utuh. Hal itu dimanfaatkan sebagai ring satu-satunya. Suara gesekan angin bersambut kehangatan peluh yang jatuh berderai membuat suara pantulan bola terdengar lebih keras dari langkah kaki.


Gerakan Kimmy masih pelan berusaha memberi peluang untuk Rafa merebut bola darinya, tetapi pemuda itu justru tidak fokus memperhatikan hal lain yang lebih menggoda. Melihat itu, sontak saja bola dipantulkan hingga mengenai lengan si pemuda bersambut senyum lebar tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Pertandingan kedua insan itu tampak seru karena Rafa bisa bebas menikmati waktu bersama Kimmy seraya mempelajari teknik yang diajarkan sang istri. Terlihat betapa senangnya embusan angin menjadi penonton setia di setiap cetakan bola secara bergantian, sedangkan di sisi area hutan lain. Anak-anak tampak kewalahan karena mereka tidak menguasai setiap posisi di lapangan.


Satu per satu mendapatkan giliran tanpa terkecuali, tetapi yang mendapatkan applause hanya tiga pemain dari tim Rafa yaitu Fahmi, Mahmud dan Gembul. Ketiga pemuda itu, memiliki nilai ungul yang membuat Zhang senang karena ilmunya bisa bermanfaat untuk sesama pemain basket. Begitu juga dengan Abimana dan Louis merasa bersyukur banyak perubahan dari permainan teman sebaya mereka.


Suasana terlihat ramai, apalagi kelima pengawas juga memberikan nilai tambahan kepada setiap siswa sebagai bentuk apresiasi. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dimana semua beristirahat untuk menikmati makan malam. Hari ini cukup melelahkan bahkan menguras tenaga, sehingga beberapa anak sudah terlelap menjemput mimpi.


"Abi, elo yakin udah gak mau dapetin hati Bu Kim?" Fahmi menatap pemuda yang duduk di sebelahnya dengan serius.


Hubungan antara ia dan Abimana terbilang berjalan baik, bahkan sering saling bertukar pesan dan menjadi sahabat baru. Karakter pendiam dan juga pengamat, membuat kedua pemuda itu mudah berbaur menjadi satu kesatuan. Apalagi setelah pindah ke sekolah yang sama.


"Cape banget, bisa gak lupain soal perasaanku? Bu Kimmy terlalu jauh dari jangkauan. Sekelas Zhang saja, bisa mental. Gimana denganku?" Abimana tidak sedang mengajukan pertanyaan. Justru ia memperjelas situasi dan posisinya saat ini. "Gimana kamu sendiri? Sukses ngajak kencan pelatih Naumi?"


Pertanyaan balik yang cukup mencubit ingatannya karena berani mencintai pelatih sendiri. Kini hanya bisa menggelengkan kepala bersambut tepukan pundak sang sahabat sebagai dukungan agar tetap bertahan dan berjuang. Jatuh cinta pada orang yang salah atau memang waktunya saja yang tidak tepat?

__ADS_1


Obrolan kedua pria itu masih berlanjut. Kesadaran masih ada yang memastikan agar tidak terbang melambung ke angkasa karena perasaan hati bisa menjadi derita dan semangat memudar tanpa bisa mengubah suasana hati. Sama seperti halnya rasa milik Darren. Dimana pemuda itu merasa terbang ke langit ketujuh setelah menyatakan cinta pada sang guru.


"Miss, eh, sayang maksudku. Mau pulang langsung atau jalan-jalan?" tawarnya gugup karena salah tingkah, sedangkan Sisil diam tetapi tangan menarik kerah jaketnya hingga menyatukan rasa dalam kecupan sekilas.


__ADS_2