
Tidak ingin mendebat sikap dan tindakan Zhang. Pemuda yang terkadang dewasa, terkadang narsus itu memanglah baik hati, bahkan selalu mencoba memahami situasi semua orang. Sama seperti yang dilakukannya saat ini.
Ia yakin bahwa kertas yang digenggam pemuda itu berisi tantangan lain dan berbeda dari yang diumumkan Zhang. "Silahkan marah, mengeluh, atau melakukan demo. Kali ini, aku tidak melakukan apapun karena semua keputusan sudah terlanjur dibuat. Sebagai pemain basket, kita tahu apa itu pertandingan."
"Dimana basket salah satu permainan olahraga, tapi tidak peduli jejak kita memasuki olahraga jenis apa. Satu kepastian hanya ditujukan untuk satu kenyataan. Keberanian! Siapapun yang memiliki keberanian, maka tidak ada yang bisa merebut keyakinan.
"Amarah mu sangat pantas diterima karena apa. yang diputuskan oleh kedua pengawas lain," Kimmy menjeda ucapannya, lalu menggeser posisi dengan pandangan ke arah lapangan. "Lihatlah, kesana! Pandang Rafa, apa pemuda itu gentar setelah mendengar pengumuman yang kamu umumkan?"
"Zhang, Rafa bukanlah seorang pemuda yang pengecut hingga akan berlari berlindung di belakang orang lain. Dia hanya memerlukan support dari teman-temannya. Come on, sekarang kamu juga bersamanya. Lalu, apa yang kurang?
"Pergilah! Kalian bisa bergabung sebagai tim dan bukan menolong karena rasa kasihan. Anggap dia sebagai partner agar kamu tahu, dimana sentuhan tangannya yang selama ini disembunyikan akan bersinar bersamamu."
Penjelasan Kimmy bak kobaran semangat, membuat Zhang sedikit lega. Meski masih merasa tidak benar dengan apa yang sudah terjadi. Tatapan mata mencoba melihat ke arah lapangan dan benar saja, suara sambutan teman setim basket memberi dukungan untuk Rafa.
Tidak ada wajah sedih, tapi justru semua gembira mengucapkan semangat pada Rafa. Kini, ia sadar pemuda itu mungkin hanya satu orang, tetapi orang-orang di sekelilingnya akan selalu memberikan recharge energi yang selalu membawa dampak positif.
"Bu Kim benar, aku siap bertanding dan melakukan seperti saran dari ibu. Sebelum itu, aku akan mengingatkan bahwa sebagai seorang pelatih yang lebih memiliki pengalaman. Ku harap kejadian hari ini tidak terulang lagi. Sama seperti kesalahan anak-anak.
"Bu Kim adalah inspirasi dan motivasi agar aku bisa menjadi pelatih yang handal. Jadi, jangan sampai suatu hari nanti akan ada pengawas lain yang bersikap sesuka hati. Hari ini, aku sadar akan satu hal. Dimana di dalam diri Rafa ada ibu, dan di dalam pribadi seorang pelatih terpancar kepribadian pemuda itu.
"Aku tidak tahu kenapa bisa berpikir seperti itu, tapi keyakinan ibu sudah cukup untuk menjadi kepercayaanku. Jika memang Rafa yang terbaik sebagai leader, maka aku akan membantu sampai ke tempat yang pantas didapatkan pemuda itu."
Keinginan hati Zhang terhadap sang pelatih, membuat pemuda itu bersedia melakukan pertandingan. Keadilan yang harus ditegakkan hanya bisa diluruskan ketika mereka berhasil mengalahkan kedua pengawa yang terlihat arrogant. Akhirnya kedua insan itu kembali ke lapangan.
__ADS_1
Seperti yang sudah dikatakan lima menit setelah pengumuman maka perbandingan dimulai. Dimana kedua partner menepi karena memiliki kesempatan untuk mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan dalam pertandingan kali ini. Zhang mengajak Rafa sedikit ke tepian hutan.
Keduanya berbincang serius, meski Rafa hanya sesekali menanggapi dan hanya mengikuti tanpa memberikan arahan lain. Rupanya pemuda yang terlalu pendiam, tetapi menjadi pengamat permainan. Zhang menyadari cara Rafa sehingga bersikap waspada karena dia tidak tahu seberapa hebat si partner melakukan setiap permainan di dalam pertandingan basket.
"Apa kamu siap?" tanya Zhang seraya mengulurkan kepalan tangan kanannya.
Rafa menyambut kepalan tangan Zhang dengan semangat meski tanpa kata. Selain hanya mengedipkan mata. Sebagai pemuda yang diremehkan, ia tidak ingin membuang banyak tenaga sekedar untuk meladeni omong kosong dari pengawas yang terlalu meremehkan keputusan istrinya.
Semua orang boleh saja menganggap dirinya bodoh atau tidak berguna, tapi tidak meragukan Kimmy. Ia tidak menyukai ketika orang-orang yang memiliki kemampuan justru membandingkannya dengan hal tidak bernilai. Apalagi selama ini, sang istri selalu berusaha yang terbaik untuk setiap waktu mendidik semua siswa.
Lalu, kenapa masih ada yang mempertanyakan keputusan yang sudah dianggap final? Sungguh ia pun ingin membuat semua orang bungkam dan satu-satunya cara adalah mereka harus melihat bahwa apapun yang diputuskan oleh seorang Kimmy Rosella adalah yang terbaik.
Akhirnya pertandingan dimulai. Dimana dua pengawas nampak begitu semangat untuk mengalahkan Rafa dalam permainan kali ini, tetapi Kimmy justru duduk di atas sebuah pohon yang tumbang. Wanita itu hanya menonton tanpa ada ketegangan melihat lawan Rafa.
Suara peluit dari yang berasal dari Abimana menjadi awal pertandingan dimulai. Di mana kini yang memimpin permainan adalah si pengawas Rusman. Pria itu tampak berlari memainkan bola dengan melakukan gerakan zig-zag, tetapi sayang langkah kakinya kurang cepat dan cekatan. Sehingga Zhang dengan mudah mengambil alih, lalu dia mengoper kepada Rafa.
Lemparan yang begitu bagus hingga Rafa menangkap bola seraya menikmati semilir angin yang berembus menerpa wajahnya. Gerakannya benar-benar smooth seakan menari bersama permainan yang mengeluarkan auranya. Semua yang melihat menganga terkejut dengan pesona sang leader.
Suasana begitu menegangkan karena pertarungan yang juga diimbangi mempertahankan diri hanya demi satu kemenangan. Zhang dan Rafa benar-benar kompak memainkan permainan kali ini hingga membuat kedua pengawas itu sedikit kewalahan karena tidak bisa menyeimbangkan gerakan.
Mereka tak pernah menyangka jika dua pemuda itu memiliki kemampuan kerjasama yang lebih bagus dari mereka. Selain itu, kedua pengawas menyadari permainan Rafa lebih lembut dari cara Kimmy. Seolah memperlakukan si bola sebagai cinta pertamanya.
Apa itu alasan Kimmy menjadikan Rafa sebagai leader? Si pemuda sudah mulai menunjukkan jati dirinya. Bagaimana tangannya bergerak dengan langkah kaki yang lentur mengikuti setiap serangan yang dihindari. Rafa benar-benar menikmati permainan kali ini tanpa ada tekanan.
__ADS_1
Ia merasa sudah cukup untuk menemukan the true of self dan meyakini diri bahwa ia siap untuk menjadi leader lagi.
Suara anak-anak terdengar begitu riuh menyambut menyemangati permainan Rafa. Apa yang mereka lihat sungguh mengejutkan karena perubahan signifikan dari sang leader ketika memainkan bola di saat pertandingan. Kali ini jelas benar-benar memukau melebihi perasaan ketika mereka belajar dari pelatih junior Zhang.
Rafa memiliki jiwa seorang pelatih, apaka dengan sentuhan lembut tanpa tekanan seakan bola diciptakan khusus untuk ia seorang. Pertandingan semakin panas, sementara di sisi lain hanya ada pertarungan hati dan keyakinan. Baru saja berniat untuk tinggal di asrama tetapi justru membuat kedua orang tua kecewa.
Permasalahannya bukan akan tinggal dimana. Melainkan bagaimana cara Darren menunjukkan keinginan hatinya. Pemuda itu terlalu gegabah sampai tidak menyadari satu perbuatannya yang justru mengakibatkan orang dalam kehidupan tanpa arah tujuan.
"Apa kau tahu, dia itu saudaramu dan bukan musuhmu! Apa kau pikir, semua ini tidak ada artinya bagimu? Bunda kecewa denganmu. Satu saja permintaanmu dan bicarakan dari hati, maka akan kami penuhi. Apa ini caramu meminta izin dari orang tua?
"Rafa yang kamu anggap sebagai perebut, bahkan tidak pernah sekalipun membentak orang tuanya. Sekarang katakan padaku, apa kami harus melanjutkan perjanjian ini? Sedangkan kamu sendiri masih bersifat keras kepala."
Kemarahan Bunda Keisha meledak ketika tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba Darren mengemas pakaian. Ketika ditanya justru diam, lalu ditanya kedua kalinya, masih tetap diam. Sehingga sang suami datang, kemudian kembali bertanya, jawaban singkat membungkam rasa yang sedang mereka pupuk agar tetap bersabar menghadapi ujian.
Darren dengan jelas mengatakan tidak membutuhkan orang tua, lagi. Sehingga memilih pergi meninggalkan rumah dan akan tinggal di asrama. Perjuangan Keisha dan Lion meluluhkan amarah pemuda itu seketika hancur tanpa bisa disatukan lagi.
"Ayah juga kecewa dengan tindakanmu. Jika kamu hanya melukai ayah, it's okay, tapi dengan bunda yang telah melahirkanmu. Apa hatimu tidak merasa bersalah? Selama ini, kami berusaha yang terbaik agar bisa merengkuh seorang putra tanpa rasa khawatir.
"Kami juga mempercayaimu, tapi apa yang kamu lakukan, Nak? Semua ini tidak dibenarkan. Apa yang kamu inginkan dan caramu menyampaikan, keduanya tidaklah tepat. Sadarlah, Darren!" Ayah Lion berusaha menjaga diri agar tetap bisa mengontrol ucapannya.
Pemberontakan yang belum dimulai sudah menuai kontroversi dari ayah dan bundanya. Kedua orang tuanya merasa kecewa karena ia telah memutuskan hal di luar rencana. Entah kenapa, semakin kesini justru memperjelas bahwa bunda Keisha dan ayah Lion lebih peduli pada Rafa. Keberadaannya tidak sepenting kehadiran sang saudara. Apa yang dilakukan sudah ia pikirkan.
Ketika orang tuanya berkata, mereka kecewa. Jujur saja, satu kata itu benar-benar membuatnya ikut Merana. "Kenapa sih, Ayah, Bunda itu selalu begitu? Di dalam pikiran kalian itu, cuma ada Rafa, Rafa dan Rafa. Lalu, dimana aku? Aku tidak yakin, apa kalian benar-benar kedua orang tuaku atau ... "
__ADS_1
Kemarahan Darren semakin menjadi hingga tanpa sadar melemparkan piring dari atas meja. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras membuat kedua orang tuanya tersentak memundurkan langkah. Pertengkaran itu, juga menyambut kedatangan seseorang yang berdiri di depan pintu.