Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 35#Waktu cepat Berlalu


__ADS_3

Tidak ada rasa cemburu melihat kedekatan Naumi dan Rafa hanya saja ia khawatir karena pemuda itu masih berdiri di bawah sinar matahari. Belum lagi perut kosong, padahal ia tahu saat pagi hanya sarapan roti bakar dan salad buah yang seharusnya menjadi sarapan diet.


Malam panjang yang dilewati dengan obrolan membawa mereka pada kisah layaknya teman. Ia tak menyangka akan melihat sisi manja Rafa dan juga tahu riwayat penyakit lambung sang suami. Sekarang kenyataan itu membuatnya merasa khawatir.


Jangan sampai karena sibuk mencari jawaban dari rasa penasaran, pemuda itu justru jatuh sakit karena menahan lapar. Akan tetapi yang dikhawatirkan mana tau isi hati dan pikirannya. Ia paham sang suami berusaha untuk menjadi pemimpin yang bisa memberikan arahan pada timnya.


"Pergilah! Isi energimu sebelum pertandingan selanjutnya." Naumi mempersilahkan Rafa seraya mengulurkan tangan membiarkan pemuda itu berjalan melewatinya.


Langkah kaki trus melangkah maju tetapi tatapan mata tertuju pada Kimmy yang juga menatapnya. Ada rasa yang ia pahami, wanita itu mengkhawatirkan dirinya. "Permisi, semuanya." Pamit pemuda itu selangkah sebelum melewati ketiga pelatih yang jelas dia di antaranya tidak dia kenal.


Pak Anderson mengikuti pergerakan Rafa bahkan sampai menoleh ke belakang hingga punggung pemuda itu semakin jauh. Tatapan mata serius memperhatikan murid yang memiliki wajah tampan pemilik tatapan mata nan tajam setajam elang. Ia bisa merasakan energi keluar dari dalam pemuda itu.


"Sepertinya Pak Anderson memiliki calon anak angkat muda, bukan begitu Pak?" Bu Moza menggoda sang partner hingga mengalihkan perhatian Kimmy yang melirik ke arah pria di sebelahnya.


Sikap yang sama seperti saat melihat Abimana membuat Kimmy menyetujui pernyataan Moza tentang Pak Anderson. Pria itu pasti memikirkan sesuatu agar bisa dekat dengan Rafa tapi jauh di dalam lubuk hatinya. Ia sendiri tidak ingin suaminya tergantung pada pelatih manapun.

__ADS_1


Saat ini, semua hanya melihat sikap pemimpin berbalut arogansi dalam diri seorang Rafa. Akan tetapi setelah melihat beberapa latihan serta pertandingan yang mereka lakukan, ia sadar akan fakta, dimana Rafa memiliki potensi lebih besar dari pemain lainnya. Sekali saja mendapatkan pelatih yang tepat, maka pemuda itu bisa sukses.


Namun sampai saat ini tidak ada satu nama pun yang bisa menjadi solusi dari keinginan hatinya. Tak ingin larut dalam pemikiran tanpa solusi, ia mulai menjelaskan apa saja yang harus menjadi penilaian dalam pertandingan kali ini. Tentu saja sebagai pelatih utama, maka ia tidak ikut menilai karena berada di pihak netral.


Tiga puluh menit kemudian, Anak-anak kembali memasuki lapangan di sambut hangat tiga pelatih sekaligus yang siap melihat pertandingan kedua mereka. Sementara Kimmy sendiri sudah berada di ruang kerja menatap ke arah lapangan. Babak pertempuran yang menjadi ajang pembuktian diri.


"Berjuanglah demi masa depan agar waktu dan sejarah tidak melupakanmu dalam angan. Bersinarlah tanpa sandaran mencapai puncak kejayaan. Semangat, Rafandra Darren Adelio." Kimmy melepaskan jemarinya dari icon mikrofon yang ada di layar ponsel hingga pesan suara itu terkirim dengan sendirinya.


Tampak jelas Rafa melipir dari barisan mengambil ponsel dari saku celana seraya memeriksa pesannya. Centang biru dua yang menjadi jawaban dengan terbitnya seulas senyum menatap angkasa. Semangat membara tergambar jelas dari sorot mata pemuda itu.


Sebulan telah berlalu, suka duka saling menguatkan meski berbalut keraguan. Kegagalan berubah menjadi kemenangan. Pelajaran tak semudah membalikkan telapak tangan membentuk kepribadian menjadi kedewasaan. Wajah-wajah muda dengan keyakinan diri menapaki kesadaran di setiap langkah menuju masa depan.


Suara sambutan bergema di seluruh lorong sekolah menyambut para pemain basket yang berhasil masuk tiga besar dari pertandingan bebas bahkan secara khusus kepala sekolah mengadakan upacara di selingi pidato yang memberikan kehormatan secara khusus pada anak-anak tim kebanggaan sekolah.


"Sekali lagi, Bapak ucapkan selamat atas keberhasilan anak-anak tim basket dan dengan ini, sekolah juga menyambut kepindahan tiga siswa yang akan menjadi anggota inti dari tim basket sekolah kita." Tangannya terulur menunjuk ke arah pintu gerbang yang membuat anak-anak satu sekolah menoleh ke belakang.

__ADS_1


Derit pintu gerbang tak lagi terdengar tetapi berganti suara deru motor yang mulus. Tatapan mata semua orang menunggu hingga datanglah tiga motor sport dari arah luar sekolah yang seketika membuat semua orang heboh. Satu motor warna merah dengan lambang singa di body depannya.


Motor kedua sisi kanan berwarna putih dengan logo mahkota di bagian kedua spion, sedangkan motor terakhir dari sisi kiri berwarna hitam tanpa memiliki ciri khas apapun kecuali helm fullface yang menutupi wajah pengendaranya. Ketiga motor berhenti bersamaan di parkiran khusus motor, lalu turun serempak seperti satu geng.


Langkah kaki yang membuat detak jantung meningkat. Para kaum hawa menjerit kagum kala dua siswa melepaskan helmnya. Wajah yang di atas standar benar-benar seperti para pangeran turun dari kayangan hanya saja, pemuda terakhir enggan membuka helm meski terus berjalan seirama dengan kedua siswa baru yang ada di sebelahnya.


"Selamat datang di Sekolah SMA Nusa Bangsa." Bapak kepala sekolah mengulurkan tangan yang disambut satu per satu dari tiga siswa baru di sekolahnya. "Silahkan perkenalkan diri kalian!"


Sang pemuda pengendara motor merah melambaikan tangan menatap ke arah para siswa yang berdiri memadati lapangan. "Kalian bisa panggil aku, Zhang. Salam kenal, semuanya."


"Dan aku, kalian tidak perlu mengingat namaku tapi kenali diriku melalui prestasi saja. Salam kenal, guy's." sahut Si pemuda pengendara motor putih.


Sebenarnya pemuda itu bernama Louis yang merupakan leader dari salah satu tiga besar yang menuju babak final pertandingan. Sikapnya memang santai tapi selalu rendah hati meski lisan selicin belut dalam genggaman tangan. Dua siswa sudah memperkenalkan diri dan membuat para siswa yang ikut upacara senyum-senyum melihat wajah baru di sekolah mereka.


Sayangnya siswa terakhir masih enggan melepaskan helmnya hingga tatapan mata di balik helm fullface menemukan alasan kenapa ia berada di sekolah ini. Tangan terangkat melepaskan pengait, lalu menarik helm secara perlahan. Rambut panjang jatuh berserakan bersambut semilir angin yang berembus.

__ADS_1


Jeritan para gadis bergema menikmati pesona wajah dingin nan tampan bak artis Korea. Wajah yang langsung membius banyak mata kaum hawa, "Assalamu'alaikum, panggil aku, Abimana."


__ADS_2