
Apa yang tersaji di depan mata, benar-benar sangat mengejutkan karena ia yakin Rafa ada di bangunan. Di mana sang suami jelas melangkahkan kaki memasuki area bangunan lain saat menjauh darinya. Lalu, bagaimana mungkin orang yang sama berada di tempat dua berbeda? Sungguh itu hal aneh.
Sekali lagi mencoba mengamati pemuda yang tengah sibuk melakukan tugas dari Profesor Sisil. Dari penampilan sedikit lebih sederhana dan tidak neko-neko, sedangkan Rafa selalu berpenampilan trendi dengan pembawaan diri outfit kekinian. Hanya saja wajah pemuda di depan sana sama persis tak ada perbedaan seperti kembar seiras.
Di tengah rasa penasaran tiba-tiba tak sengaja tatapan mata pemuda itu jatuh menatap ke arahnya. Netra yang ia pikir menggunakan lensa tetapi setelah sekian detik. Ia sadar, jika mata dari si pemuda benar-benar asli. Wajah yang sama dengan rasa berbeda. Hati yakin itu bukanlah sang suami yang kini pasti tengah merajuk.
Ia sendiri tidak tahu, kenapa merasa seperti mendapatkan firasat akan sesuatu yang mungkin saja ke hal tak terduga. Seakan berusaha mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi di balik keraguan hati. Meski pepatah mengatakan, setiap wajah di dunia ini memiliki kembaran. Tetap saja ada perbedaan antara kembar identik atau sekedar sama, tapi tak serupa.
Mendadak ada keinginan untuk tahu, siapa pemuda itu, tapi untuk mengetahui kebenaran secara mutlak. Maka harus melakukan penyelidikan dan sekarang lebih baik berusaha untuk tetap tenang. Lalu, ia melanjutkan niat hati dengan mengetuk pintu yang membuat Sisil menatap ke arahnya.
Sang sahabat seperjuangan yang tadinya fokus ke laptop mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. Terlihat jelas gadis yang seusianya itu tersenyum begitu merekah dengan raut wajah gembira. Kemudian beranjak dari tempat kenyamanan melangkahkan kaki berjalan menghampirinya.
Kimmy merentangkan tangan membiarkan sang sahabat seperjuangan memeluk tubuhnya dengan erat tuk melebur kerinduan di antara keduanya. Pelukan yang menghangatkan hampir saja terlupakan.
"Wih, pelatih kesayangan semua orang tumben kesini? Emangnya, seorang Kimmy Rosella masih ingat asrama, ya?" Sisil menepuk lengan kanan Kimmy dengan kekuatan penuh, tetapi itu tak berarti apapun bagi sang sahabat karena memang memiliki body yang selalu terjaga staminanya.
Godaan Sisil bersambut seulas senyum tipis seraya melepaskan pelukan. Lalu, ia memberikan kode mata agar mereka berbincang di luar kelas. Setidaknya para siswa tetap fokus melanjutkan eksperimen tanpa gangguan obrolan mereka. Tentu saja Sisi yang memahami isyarat mata dari sang sahabat menyanggupi dan meminta anak-anak untuk meneruskan eksperimen.
Sementara mereka berdua memilih sedikit memundurkan langkah menjauh dari ruang kelas. "Kamu ke sini, apa ada hal yang penting?" tanya Sisil mencoba mencari tahu alasan di balik kedatangan Kimmy.
__ADS_1
Sebagai salah satu sahabat, ia hapal dengan gerak langkah seorang Kimmy. Apalagi saat ini, Kimmy memiliki dunia yang begitu sibuk. Dunia yang bisa dikatakan memiliki banyak prioritas dengan banyak murid untuk dilatih tanpa harus melibatkan diri ikut mengajar di asrama.
Pertanyaan sederhana yang membuat Kimmy menatap keluar jendela. Tatapan mata yang mencari kerinduan di tengah oase yang memeluk musim kemarau. Sadar benar akan hati yang mulai rapuh dengan kebenaran hidup yang semakin tak karuan, bahkan terlihat semu tanpa ada kenyataan yang pasti.
Bagaimana menjelaskan situasinya pada Sisil ketika ia tahu, bahwa Sisil selalu memiliki kehidupan lebih sederhana dari kehidupannya. Sesaat menghela napas mencoba meredam rasa yang membelenggu raga, menggoyahkan keyakinan diri akan setiap fase kehidupan.
Fase yang sudah dan akan dilalui. Padahal tak semua hasil pemikiran akan menjadi kenyataan. Dimana pada akhirnya kenyataan terjadi seperti yang sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta. Sisil memegang kedua bahu Kimmy, ia merasa cemas dengan sikap tak biasa sang sahabat.
Tatapan mata fokus menatap Kimmy yang ada depannya dengan tatapan serius tak berkedip. "Are you okay? If you are not fine, just tell me!"
"Yes, I am fine. This is the end because of a lot of mind, a little frustrating but still good." jawab Kimmy menggunakan bahasa asing yang membuat Sisil menganggukkan kepala paham.
Ia sendiri harus menyudahi kelasnya terlebih dahulu. Tentu saja agar anak-anak tidak merasa terabaikan. "Oke, kamu tunggu dulu di sini! Aku akan bubarkan kelas dan kita bisa ngobrol di ruanganku. My time only for you." Sisil menengahi keadaan dengan cepat tanggap.
Ia ingin ada kebersamaan yang saling bermanfaat. Apalagi sang sahabat benar-benar membutuhkannya, maka dengan senang hati memberikan waktu juga memberikan kepercayaan yang selama ini seringkali diabaikan.
Kali ini, Kimmy menurut bukan karena ia tak bisa menghindari sesi tanya jawab nantinya. Hanya saja, ia lebih benar-benar membutuhkan seorang teman dan lawan bicara yang seimbang agar bisa memberikan solusi serta nasehat. Satu harapan akhir yang benar-benar dibutuhkan tanpa ada pemaksaan.
Sebagai manusia, tidak bisa memungkiri keadaan di mana hati, pikiran mengalami bentrok yang menjadikan tekanan batin. Seperti itulah, keadaan Kimmy saat ini karena pemindahan Rafa yang ia lakukan, sehingga melibatkan tiga pemain basket dari sekolah lain.
__ADS_1
Sebagai pelatih, ia sadar akan ketiga siswa baru yang memiliki prioritas lain dan bukan pertandingan yang seharusnya dimainkan oleh Rafa seorang. Tindakan kali ini, tidak bisa di sebut egois meski mengutamakan perhatian pada Rafa saja. Sejujurnya, ia juga menyadari permainan masing-masing memiliki posisi yang memang berbeda.
Selain itu, ketiga siswa dari tim basket yang sengaja ia pindahkan ke sekolah Rafa, sebenarnya bisa saja mewakili sekolah masing-masing dan mungkin akan menjadi juara running up. Akan tetapi, ia tahu benar bahwa potensi dari ketiga anak tersebut bukan untuk menggapai suatu kejuaraan yang bisa diakui oleh pemerintah.
Berbeda dengan Rafa yang selalu berusaha untuk menunjukkan diri sebagai kebanggaan orang tua. Kini semua terjadi sesuai harapan meski hati menggenggam keraguan. Apalagi setelah melihat penolakan Rafa atas kedatangannya. Pemuda itu pasti marah dan tidak ingin berbicara dengannya.
Seperti yang telah dikatakan Sisil. Di mana setelah menunggu selama lima menit untuk membubarkan kelas. Langkah kaki kedua gadis itu melenggangkan kaki pergi meninggalkan gedung asrama menuju tempat khusus yang memang disediakan oleh pemilik asrama dengan sebutan rumah singgah guru.
Bangunan dua lantai yang terpisah dari gedung utama asrama merupakan sebuah rumah untuk para pengajar yang juga sekaligus ruang kerja dari setiap para pengajar. Rumah itu menjadi tempat untuk bernaung dan mempermudahkan akomodasi tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Kamar nomor tiga di lantai dua merupakan kamar milik Sisil. Kamar yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempat melewati kesendirian. Dimana sang sahabat menyulap kamar seperti dua dimensi kehidupan. Satu sisi ruang biasa, sedangkan di sisi lain seperti laboratorium pribadi.
Kamar yang cukup luas dengan fasilitas lengkap tapi tak jarang para pengajar lain memilih untuk mencari tempat tinggal sendiri agar bisa tinggal bersama keluarga di sekitar area asrama. Meski itu tidak berlaku bagi Sisil karena memang masih lajang. Sehingga memilih untuk memanfaatkan fasilitas dari asrama.
"Kim, silahkan duduk! Katakan mau minum apa, teh, jus, kopi, atau minuman merk lain?" Sisil menawarkan semua jenis minuman. Padahal setiap kesempatan bersama pasti permintaan Kimmy akan selalu sama yang hanya jatuh pada pilihan soda atau secangkir coklat hangat.
Kimmy yang mendengar deretan semua jenis minuman hanya tersenyum simpul. Lalu, mengambil sebuah buku yang tergeletak di atas meja depannya. "Bacaan yang bagus, tapi apa tidak membosankan?"
"Aku lebih baik membosankan. Katakan padaku, bagaimana dengan kehidupanmu. Semua okay, kan?" tanya Sisil dengan langkah menjauh dari Kimmy menuju meja panjang yang menyediakan beberapa mesin alat rumah tangga termasuk pembuat kopi.
__ADS_1