Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 31#Fahmi Al Nahdi, SWF


__ADS_3

Kedatangan Naumi membuat si pemuda buru-buru menelan makanannya tanpa mengunyah dengan benar. Grogi karena diperhatikan sang pelatih padahal tidak sedang latihan di lapangan. Wajah wanita yang kini beranjak dewasa membuat debaran hati kian meningkat.


Apalagi ketika suara tawa terdengar memecah keheningan malam, ia merasa seperti mendengar nyanyian merdu bahkan penyanyi geisha saja kalah merdunya. "Malam, Bu Naumi, mau mienya, gak?" Mangkuk yang masih panas di angkat dengan perasaan semangat tetapi sang pelatih menggelengkan kepala.


Wanita itu hanya berjalan menghampiri, lalu ikut duduk di sebelahnya. Wajah yang biasanya terlihat tegas tapi tidak untuk malam ini. "Ibu sudah lama jadi pelatih?" Ia mencoba untuk mengenal sang pelatih lebih dekat lagi menuruti kata hati yang meronta ingin tahu banyak hal tentang Naumi.


"Sudah, pastinya sebelum kamu menjadi tim basket. Siapa namamu? Aku lupa karena harus mengingat banyak nama setiap tahunnya." ucap Naumi mempertanyakan jati diri salah satu anggota tim basket tanpa niat apapun.


Pemuda itu meletakkan mangkuk mie ke atas meja, lalu mengusap tangan kanannya ke ujung kaos agar bersih dari noda apapun. Kemudian dengan senang hati mengulurkan tangan ke depan Naumi yang menatap ke arahnya begitu santai. Lirikan mata menunggu sambutan yang dimengerti oleh wanita itu.


"Fahmi Al Nahdi." kata Fahmi memperkenalkan diri dengan bangga menyebut nama lengkap pemberian ayahnya.


Fahmi merupakan salah satu anggota inti tim basket hanya saja pemuda satu itu jarang ngumpul bareng bahkan hanya datang saat latihan. Sisanya selalu sibuk menjalani dunia nyata yang sudah menyita waktu tanpa bisa di korting. Ia merupakan anak tunggal dari keluarga kelas menengah yang memiliki kedai makanan di pinggir kota.


Pemuda itu juga salah satu siswa berprestasi yang masuk ke sekolah favorit karena beasiswa tetapi sikapnya begitu pendiam dan hanya suka menyimak. Jangankan pergi main, ia menjadi anggota basket saja karena tidak sengaja menggantikan salah satu anggota di saat pertandingan beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Naumi manggut-manggut mengingat nama pemuda itu dalam ingatannya, "Makan dulu mienya! Trus tidur, jangan sampai besok bangun kesiangan atau hukuman berlaku untuk kalian semua."


"Siap, Bu. Ngomong-ngomong kenapa pertandingan justru dengan sekolah yang tidak terdaftar di juara cabang manapun?" tanya Fahmi yang masih penasaran dengan metode dari pelatihnya itu, padahal bukan Naumi yang memutuskan setiap proses dari kemajuan tim basket kali ini.


Tidak ada kata, apalagi hak untuk menjawab. Naumi beranjak dari tempat duduknya, lalu membuang napas pelan. "Pertandingan diadakan untuk mengasah kemampuan. Mau bertanding dengan para juara lapangan atau juara jalanan. Namanya pertandingan tetap pertandingan. Kalian harus ingat itu dan lupakan faktor lainnya."


Peringatan sekaligus nasehat yang baik membuat Fahmi merenung melupakan mienya, sedangkan Naumi melangkahkan kaki berjalan meninggalkan pemuda itu. Sebagai pelatih memiliki hak untuk memberikan yang terbaik hanya saja ia ikut dilema karena keputusan Kimmy. Daftar nama sekolah yang akan menjadi lawan kali ini terbilang sebagai pemain hantu.


Tidak banyak yang tahu tetapi siapapun yang mengenal setiap nama dari leadernya bisa saja gemetar bahkan Rafa harus belajar lebih giat lagi, jika ingin menjadi seorang pemenang. Satu hal yang tidak mungkin ia katakan yaitu semua siswa dari para pemain basket nanti merupakan anak didik dari sahabatnya sendiri.


Di beberapa wilayah selalu ada satu nama yang menjadi perwakilan untuk menemukan bakat dari para anak muda meski itu dari jalanan berdebu maupun kumuh. Dimana ada jiwa pejuang, di sanalah orang-orang SWF berada. Berbeda dengan dirinya yang memiliki tugas tetap yaitu melatih anak-anak di dalam mansion.


Malam ini menjadi awal kehidupan untuk beberapa orang tetapi juga menjadi akhir untuk sebagian yang lainnya. Terkadang kisah yang dianggap sudah usai, justru kembali bangkit untuk mengatakan badai itu nyata hingga bisa menghancurkan segalanya dalam sekali terpaan.


Rasa cinta yang tulus tetapi tampak palsu membuat hati kian ragu. Kepercayaan itu memang setipis lapisan kulit yang mudah tersayat tanpa niat. Seperti rasa milik Rafael, pemuda itu berusaha menahan diri tetap diam mendengar penjelasan Ayah Lion tentang kondisi keluarga mereka.

__ADS_1


Namun hati tak bisa menerima karena fakta terbesar dalam hidupnya hanya satu. Ia kehilangan kasih sayang orang tua sejak bayi karena diasingkan seperti anak buangan. Lalu bagaimana bisa, ayahnya mengharapkan ia percaya atas ketidakadilan yang sudah menjadikan seorang anak seperti yatim piatu.


"Maaf, Yah. Rafael tetap tidak ingin ikut kalian ke kota. Hidup kalian sudah lengkap tanpa aku," Tangan yang menggenggamnya ia lepas, lalu berganti menangkup kedua tangan di depan dada. "Disana sudah ada saudara kembarku. Sayangi saja putra kesayangan kalian dan biarkan aku hidup tenang disini."


"Nak, kami tidak bisa meninggalkanmu disini. Usiamu sudah cukup besar untuk memahami situasi keluarga ...," Bunda Keisha mencoba membantu suaminya untuk membujuk Rafael tapi sang suami menggelengkan kepala memintanya untuk tidak meneruskan apa yang menjadi pemikiran saat ini.


Sadar bahwa ada yang tidak beres, Rafael berpikir ulang akan keputusannya. Sekali lagi mencoba menemukan ketetapan hati tapi ia masih tidak rela dengan semua ketidakadilan yang menimpa kehidupannya. Kehidupan selama ini hanya ia sendiri yang tahu dan merasakan tanpa ada teman. Apalagi perhatian orang tua yang selalu ia dambakan.


Rasa sakit di hati hanya bersambut suara istighfar. Ia berharap desiran emosi jatuh ke dalam ketenangan tanpa dendam hingga kedatangan Mbok Yem yang menghampirinya. Kemudian mengusap kepala menyentuh rasa tuk kembali damai dengan ketidakadilan.


"Cah bagus, Bunda sama Ayah itu niatnya baik mau ajak kamu tinggal di kota bareng loh. Inget yo, surga seorang anak ada di bawah telapak kaki ibunya." ucap Mbok Yem menasehati Rafael, membuat pemuda itu tak lagi bisa menolak keinginan kedua orang tuanya.


Bibir terasa kelu untuk mengatakan ya hingga yang bisa dilakukannya hanya mengangguk menyetujui ikut pindah ke kota lain. Persetujuan yang membuat Ayah Lion dan Bunda Keisha saling pandang seraya mengucapkan syukur alhamdulillah karena urusan mereka di lancarkan.


"Besok siang kita berangkat dari sini, biar Ayah pesan tiketnya dulu malam ini. Mbok, terima kasih ya." Lion meraih tangan wanita paruh baya yang berdiri di depannya, lalu mengecup penuh kasih sayang sebagai tanda terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2