Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 52#Lapangan


__ADS_3

Apa harus mengulang? Ia rasa Rafa sudah mendengar dengan jelas, maka dari itu bangun dari mimpi panjang alias rasa malas yang membuat hati seorang istri ditempa untuk sabar. Seulas senyum menjadi jawaban ulang, lalu menyampirkan handuk ke kepala suaminya itu.


"Pergilah! Aku tunggu disini dan jika kamu membuat ulah. Jangan salahkan aku, kalau kita langsung pulang ke asrama dan tidak ada lagi yang harus diperjuangkan. Biarkan semua teman tim basketmu memiliki pemimpin baru."


Lagi-lagi yang didapatkan adalah ancaman. Ia tahu, Kimmy berusaha menyembunyikan sesuatu tetapi masih enggan berbicara. Why? Itulah yang tidak ia pahami. Akan tetapi, apapun itu pasti akan mendapatkan kebenaran suatu saat nanti. Sementara saat ini, ia harus menjadi pemuda sekaligus anak penurut.


Suasana lapangan tampak begitu ramai dengan celotehan anak-anak yang sudah menunggu kedatangan semua orang. Begitu juga dengan tiga pengawas yang duduk di tempat lain dengan spot terbaik untuk melihat pertandingan terakhir. Zhang yang baru selesai menikmati sarapan bergegas kembali mengambil toa yang sempat ia tinggalkan.


Pemuda itu tampak bersemangat meski wajahnya lelah sayu, tapi tak membuat pesonanya memudar dibawah sinar mentari pagi. Keindahan alam yang menyinari wajah oppa bisa meluluhkan hati kaum hawa. Sayang saja di camping kali ini semuanya pria hingga tidak ada jeritan berteriak karena kagum.


"Selamat pagi, everybody. Are you ready for this time? Tunggu dulu, kita orang Indonesia, jadi pake bahasa resmi saja, ya," Zhang benar-benar terlihat lucu dengan mode sebagai pembawa acara yang membuat teman lain terhibur.


Derap langkah kaki berjalan mendekati kerumunan yang mengalihkan perhatian semua orang. Ternyata kedatangan dua pengawas dengan seragam olahraga. Melihat itu, anak-anak sedikit terkejut karena mereka masih berpikir yang akan melakukan pertandingan adalah siswa dan bukan pelatih.


Belum sempat berkomentar, dari arah lain tampak langkah kaki masih berjalan seirama. Dimana Rafa dengan sigap menangkap tubuh Kimmy yang tak sengaja tersandung karena menghindari kawanan semut. Jelas sekali raut wajah leader tim basket mencuri perhatian semua orang.


"Sorry telat, tadi ada kendala sedikit. Jadi, siapa yang akan tanding terlebih dahulu?" tanya Rafa begitu sampai di dekat teman-temannya'


Diam menatap si leader dengan tatapan tanda tanya. Kimmy yang sadar akan rasa ingin tahu para siswa hanya berdehem mencoba mengembalikan suasana dan fokus utama pada acara pagi ini. Wanita itu juga memberikan isyarat jemari yang membuat Zhang mengangguk paham.


"Pertandingan kali ini, aku bilang unik dan spesial. Awalnya aku berpikir, kenapa seorang pelatih menjadikan salah satu anak didik menjadi seorang leader? Bukankah jelas untuk memberikan satu tujuan menjadi kekuatan dalam satu kelompok seperti yang ada pada tim basket.

__ADS_1


"Pasti sebagai salah satu anggota tim basket, kita pernah merasa berkecil hati. Kenapa aku tidak bisa seperti Abimana atau Louis? Kenapa posisiku hanya sebagai ini dan itu? Pernahkah kalian berpikir bahwa setiap anggota memiliki skill basic masing-masing?


"Aku sendiri pernah, mau tau siapa yang kubandingkan dengan diriku?" Zhang mengedarkan pandangan ke arah teman sebayanya hingga Louis mengangkat tangan membuat ia tersenyum seraya mengulurkan tangan mempersilah sang sahabat menebak.


Louis beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri keberadaan pengawas yang tidak akan bertanding. "Tidak ada lagi yang bisa kita bandingkan, iya kan? Kurasa pastinya hanya beliau yang mampu kamu impikan agar bisa mencapai puncak kekuasaan dalam dunia kita."


Anak-anak bertepuk tangan, tapi tidak dengan Rafa. Dari cara Zhang menatap Kimmy, ia tahu hanya satu orang yang menjadi inspirasi dan satu alasan itu akan selalu meningkatkan keahlian agar bisa setidaknya seimbang dengan lawan main saat berada dilapangan. Cukup jelas tanpa harus mengatakan.


"Louis, tebakanmu hampir benar, tapi maaf ya, kamu masih kurang beruntung. Jadi aku batalkan rancangan desain seragam untukmu," goda Zhang membuat semua anak tertawa lepas karena suasana benar-benar mencair. "Apa masih ada yang mau menebak?"


Permulaan basa-basi yang menyatukan seluruh anak hanya disimak Rafa. Pemuda itu masih ingin mode diam hingga senggolan tangan mengalihkan perhatiannya. Tatapan mata menoleh ke samping, dimana sang istri berada. Kedipan mata sebagai isyarat, membuatnya menghela napas pelan.


"Tahan diri sebentar, guys." Zhang mengambil kertas dari saku celana bawah, lalu membuka lipatan, kemudian membaca isi kertas tersebut.


Raut wajah yang awalnya normal mendadak tercengang karena ia shock dengan apa yang tertulis di kertas tersebut. Kenapa harus sekejam itu? Bahkan selama berlatih dibawah naungan sang pelatih, tak sekalipun terjadi kecurangan. Lalu, apa maksud dari pertandingan kali ini?


Jujur saja, ia yang sudah dipercaya menjadi pelatih senior saja akan gemetar jika mendapatkan tantangan yang dibuat khusus untuk Rafa. Tiba-tiba ia merasa ingin menghilang dari peradaban dunia. Ya, dunia lebih baik dari pemikiran tak sehat para pelatih. Sekarang harus apa?


"Ekhem! Apa yang kau tunggu?" Rafa bertanya dengan santai tetapi suaranya terdengar lebih tegas yang menyadarkan anggota tim basket dari keheningan.


Zhang menatap ke arah Kimmy seraya menggelengkan kepala pelan. Ia tak sanggup mengumumkan pertandingan tak seimbang yang dibuat oleh dua pengawas. Sebagai seorang anggota tim basket, ia juga memiliki hak dan kewajiban agar bisa memastikan peraturan pertandingan sesuai dengan kriteria. Apalagi melihat sejarah perjuangan seorang Rafa, maka pemuda itu belum siap untuk melakukan pertandingan kali ini.

__ADS_1


Namun, anggukan kepala dari sang pelatih semakin membuat hatinya terluka. Tangan gemetar memegang kertas seraya mengangkat pengeras suara yang jelas akan menjadi awal demo anak-anak nantinya. Pemuda itu berpikir cepat untuk menyelesaikan tugas dan juga mencoba untuk membantu Rafa.


Ditengah rasa bingung ia mengingat sebuah peraturan yang dibuat oleh Bu Kim, lalu tersenyum kembali menemukan jalan tujuannya. "Pertandingan duel antara Pengawas Yu dan Pengawas Rusman dengan lawannya dua siswa ingusan yang baru saja memasuki dunia basket Rafa dan juga Zhang. Pertandingan akan dimulai lima menit setelah pengumuman dibuat."


Pengumuman itu seketika membuat semua orang terkejut. Bagaimana bisa seorang pengawas menantang muridnya sendiri? Apalagi dua lawan dua. Meski begitu, jujur saja mereka senang karena Rafa bisa bertanding lagi untuk pertama kalinya. Suara sorak gembira menyerbu sang leader yang berdiri di lapangan, sedangkan Zhang langsung memilih melipir meninggalkan lapangan.


Pemuda satu itu benar-benar geram. Kertas yang ia genggam di remukkan tanpa aturan. Kimmy yang melihat itu menyusul anak didiknya agar bisa menenangkannya karena ia sendiri hapal bagaimana tabiat Zhang. Sementara itu, kedua pengawas yang membuat peraturan ikut kaget bukan kepalang.


Bagaimana bisa hasil pengumuman berubah? Mereka berdua ingat sudah menulis apa di kertas yang diberikan me Zhang. Dimana pertandingan kali ini dua pengawas akan melawan satu siswa yaitu Rafa, lalu kenapa Zhang mencalonkan diri untuk mengikuti pertandingan?



Padahal sudah jelas bukan untuk pemuda satu itu, tetapi perbandingan kali ini hanya untuk menguji seberapa hebatnya Rafa di mata seorang pelatih Kimmy. Sebagai pengawas, keduanya sadar diri dan tahu di mana batasnya. Sehingga sengaja, membuat perbandingan dua lawan satu, tetapi di mata Zhang hal tersebut salah besar.


Jika lawan seimbang harusnya satu lawan satu dan bukan dua lawan satu. Jika demikian disebut pelanggaran di dalam dunia olahraga.


Kimmy menarik tangan Zhang hingga membuat anak itu berhenti. Si pemuda yang tidak berani menatap ke arahnya, tetapi ia tahu benar emosi dari sang anak didik jelas karena alasan yang memang dia sendiri sudah bisa menebaknya. "Zhang, apa kamu ingin melarikan diri? Bukankah sebentar lagi pertandingan dimulai."


"Apa Bu Kim serius? Pertandingan macam apa ini, Bu. Di sana kedua pengawas itu berani melakukan pelanggaran, apakah semua ini bisa dibenarkan? Maaf, tapi jika ini terjadi atas persetujuan ibu. Sungguh aku kecewa," ujar Zhang berterus terang meluapkan rasa kesal dan kecewa yang menyatu menjadi satu.


Jujur dan bicara to the point tanpa memikirkan perasaan sang pelatih. Zhang terbawa suasana, tapi Kimmy tidak mempermasalahkan itu karena saat ini, perasaan si pemuda yang ada di depan mata tidaklah salah. Ia menghargai dedikasi dari calon pelatih hebat seperti Zhang.

__ADS_1


__ADS_2