
Satu pertanyaan dari Sisil, membuat Kimmy tersenyum samar. Baginya semua baik dan berjalan sesuai rencana, tapi bagi orang disekitarnya tentu menjadi masalah besar karena harus terus beradaptasi dengan keadaan, emosi dan juga kenyataan di setiap langkah perjalanan hidup.
"All fine, Sil. By the way, boleh aku tahu siapa siswa mu yang terlihat kalem itu?" tanya Kimmy mengalihkan topik yang justru menghentikan kegiatan Sisil menakar kopi. Sang sahabat menoleh ke belakang menatap ke arahnya dengan mata menyipit.
Seorang Kimmy bertanya tentang brondong. Apa tidak salah dengar? Melihat raut wajah serius dari si pelatih, jelas tidak bercanda. Jika sudah seperti itu, maka pasti ada yang penting dan tidak untuk dijadikan wacana semata. Akan tetapi, ngobrol tanpa kopi itu, rasanya kurang afdol.
Tak ada jawaban dari Sisil karena wanita itu sibuk meneruskan membuat dua cangkir kopi panas dan juga menyiapkan cemilan hangat berupa nugget ayam yang dipanaskan melalui oven pemanggang. Lalu, menyajikan ke atas meja tepat di depan Kimmy berada. Kemudian ikut duduk di sebelah sang sahabat.
"Jadi, kamu mau tahu tentang siswa baruku?" Tatapan mata menoleh menatap ke samping. Kimmy yang dengan santai meniup kepulan asap putih di cangkir kopi buatannya. "Katakan satu hal dulu, apa itu, tujuanmu ke asrama?"
"Tidak, tapi bisa jadi begitu." jawab Kimmy sedikit ambigu karena ia sendiri bingung di dua jalan persimpangan.
Keraguan yang tercium dari jawaban Kimmy, membuat Sisil menarik laci bufet yang ada di sisi kanan tempat duduknya. Dimana di dalam laci tersebut berisi lima berkas dari muridnya yang sekarang. Ya, hanya lima berkas dan tidak pernah lebih di setiap tahunnya.
"Ambillah! Kamu bisa baca berkas dari kelima siswa-siswi ku. Siapa tahu, besok mau menggantikanku mengajar mereka," goda Sisil menyodorkan berkas yang berisi data informasi pribadi, hasil ujian fase penentu lolos dan tidaknya serta rekam medis sebagai jaminan kesehatan.
Kimmy menerima berkas dengan senang hati. Ia memang hanya membutuhkan informasi dari satu siswa saja, tapi tidak ada salahnya memeriksa kelima berkas. Sementara di kamar lain, Rafa baru saja selesai membersihkan diri. Hati terasa panas karena kedatangan sang istri yang tiba-tiba saja mengajak bertanding, lagi.
Niat hati ingin bermain basket, tapi apa daya keadaan dan suasana hati tak mendukung. Semua ketenangan yang susah payah di bangun selama tiga minggu terakhir mendadak runtuh hanya karena kemunculan sang kekasih hati. Perasaan rindu bercampur amarah bercampur menjadi satu.
"Kenapa harus datang? Aku belum siap berhadapan denganmu, Kimmy."
Pemuda itu merasa belum siap karena kenyataannya di sini dialah yang bersalah dan bukan sang istri. Semua tidak akan menjadi rumit, andai dirinya mendengarkan nasehat dari wanita itu. Ia sadar telah melalaikan satu kewajiban demi menjaga nama baik tim basketnya.
__ADS_1
Tanpa sadar melupakan fakta, seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk menunjukkan kesalahan anggota tanpa harus mempermalukan. Hal itu bertujuan agar tidak terjadi kesalahan yang serupa. Dimana setiap kesempatan di dalam kehidupan ini akan selalu terdapat pilihan. Jalan yang menentukan langkah selanjutnya.
Pada akhirnya menghasilkan sebuah kesempatan atau justru pengabaian seperti yang dilakukan Kimmy dengan mengasingkan ia ke dalam asrama. Jika dipikirkan lebih jauh lagi tentang sekolah baru dengan orang-orang baru yang mengharuskan adaptasi lingkungan. Ia cukup tenang karena tidak begitu sulit untuk adaptasi.
Apalagi jika hanya untuk bisa menyeimbangkan diri. Pikiran dari ujung selatan ke barat membuat Rafa yang terduduk diam, pemuda itu termenung menatap keluar jendela dengan isi kepala sibuk merangkai kata. Setiap peristiwa kembali lagi, menelusup mengingat masa lalu yang seharusnya sudah menjadi pelajaran.
Kegalauan Rafa terlalu begitu larut, sampai tidak menyadari akan satu fakta. Di mana sekolah tempatnya belajar, juga pernah menjadi bagian dari kehidupan Kimmy.
Andai langkah kaki menghampiri ruang khusus seni, maka akan menemukan beberapa foto dari para pelatih terdahulu dan juga siswa yang meraih prestasi begitu banyak. Dimana salah satunya adalah Kimmy rosella. Rafa yang sengaja dikirim ke tempat yang dianggap sesuai dengan kemampuan pemuda itu.
Seperti hasil laporan dari beberapa guru yang memberitahukan pada Kimmy. Bagaimana perkembangan Rafa di setiap pelajaran dan juga tindakan serta sikap pemuda itu selama di asrama. Wanita itu, sengaja meminta semua pengawas untuk memberikan nilai terhadap Rafa tanpa harus memandang pemuda itu sebagai murid dari SMA lain.
Siapa sangka Rafa menunjukkan peningkatan di dunia ilmu pengetahuan dan sesuai seperti yang diharapkan yaitu memuaskan. Walaupun masih ada kenakalan dan juga pemberontakan dalam diri pemuda itu, meski tidak seperti sebelumnya. Senang rasanya ketika mendapatkan harapan untuk menciptakan kemenangan sejati.
Alih-alih merasa dirinya lebih baik di setiap bidang kehidupan. Kimmy memilih berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan contoh tanpa harus menjelaskan kepada Rafa dan salah satunya bersekolah di asrama yang ia tahu memiliki peraturan bebas.
Kebebasan seperti keinginan Rafa, tetapi memiliki persaingan ketat yang tanpa disadari oleh setiap siswanya. Bayangkan saja, jika seseorang berada di satu kelas dengan tiga atau empat teman yang lain. Anak-anak dengan tingkat IQ yang tinggi dan juga pemahaman cepat, serta respon dan tindakan selalu akurat.
Tentu perbandingan kecil saja bisa menjadi timbal balik yang membuat satu keadaan menjadi di atas atau justru di bawah. Persaingan yang terlihat setipis tisu tersebut mencetak kesuksesan dari setiap siswa lulusan sekolah Home World Student.
Hal itu juga yang diharapkan Kimmy agar Rafa lebih terasah dan bisa memahami, bahwa seorang pemimpin selalu memiliki kelebihan, tetapi tetap memiliki kekurangan yang harus diusahakan untuk mencapai batas maksimal. Satu aspek dimana harus mendekatkan kelebihan dan kekurangan itu, menjadi satu kesatuan. Seperti mengendalikan amarah.
__ADS_1
Namun, ketika mengenai ilmu pengetahuan. Para pengajar sepakat menganggap Rafa tidak bisa dianggap sebagai murid biasa. Apalagi ia yang menjadi seorang istri, hati lebih yakin akan usaha Rafa yang pasti tidak pernah main-main agar mendapatkan hasil maksimal.
Jika Rafa berhasil menyelesaikan semua ujian. Maka setelah semua itu, barulah ia sendiri akan melatih permainan basket si pemuda tanpa ada sangkut paut tangan orang lain. Dimana itu berarti, pelatihan khusus akan dimulai lebih cepat dari prediksi. Sebelum ke fase tujuan utama, Rafa memiliki tugas pengendalian diri.
Keharusan mengontrol emosi dan juga perasaan yang tidak seharusnya dilibatkan ketika berada di lapangan. Merupakan salah satu bentuk perwujudan dari kesabaran tanpa keraguan. Lamunan panjang menghadirkan rasa kantuk yang mendera membuat pemuda itu mengubah posisi duduknya.
Rafa menyandarkan kepala ke atas meja belajar bertumpu sebuah buku sejarah para bangsawan. Perlahan memejamkan mata membiarkan kesadaran menghilang dalam buaian semilir embusan angin yang menerpa. Keheningan menyambut mimpi yang entah membawa dia kemana, sedangkan di sisi lain, Kimmy masih berpikir keras.
Setelah membaca berkas berisi informasi siswa, ia merasa terkejut karena satu fakta kehidupan tiba-tiba saja mencuat ke permukaan. Rasa penasaran, membuat wanita itu terus menatap nama dari orang tua si siswa. Ada yang tidak bisa dijelaskan melalui kata-kata.
"Sil, apa kamu yakin, orang tua anak ini tinggal di kota?" tanyanya memastikan hingga bersambut tepukan kening pelan menatap di dahi Sisil sendiri.
Melihat reaksi Sisil, Kimmy hanya tersenyum simpul. Setiap pertanyaan sekedar untuk mencari solusi sekaligus berusaha mencapai tujuan tanpa ada keraguan hati. Akan tetapi penekanan di setiap kata tanya itu, terdengar seperti ingin meminta bukti.
Sisil. mengeluarkan ponsel dari saku celana. Lalu, ia mencari kontak nomor yang dirasa sangat dibutuhkan oleh Kimmy. "Periksa pesan whatsapp! Barusan sudah aku kirimkan nomor ayah dari siswa yang ingin kamu kenal lebih jauh lagi."
"Aku harap, kamu bisa menemukan jawabannya.Coba chat aja atau langsung calling. Semoga saja tidak sibuk," ujar Sisil membuat Kimmy menyambar ponsel di atas meja.
Melihat kesibukan Kimmy memeriksa ponsel, membuat ia mendapatkan kesempatan untuk bicara. "Aku tidak akan bertanya siapa dia dan Kenapa kamu begitu antusias untuk mengetahui identitas siswaku."
__ADS_1
"Saat ini, yang ku tahu adalah kamu bisa dipercaya dan memiliki niat lain yang jelas sangat penting untuk kehidupanmu sendiri. Semangat dan jangan lupa, aku selalu mendukungmu."