Bad Boy Karatan

Bad Boy Karatan
Part 6#Ultimatum Bunda


__ADS_3

Niat hati ingin mendapatkan kenyamanan tapi begitu membuka kamar pintu langsung mendapatkan sambutan tatapan intimidasi dari kedua orang tuanya. Seketika hati merasa was-was. Ia tak tahu, apa alasan ayah dan bunda berada di kamarnya. Apalagi sudah duduk di tepi ranjang menyisakan jarak tengah.


"Assalamu'alaikum, Yah, Bund. Kok di kamar Rafa?" Langkah kaki menghampiri kedua orang tuanya, lalu meraih tangan yang ia kecup sepenuh hati.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sini duduk!" jawab serempak ayah dan bunda menepuk tempat di tengah agar putranya ikut duduk bersama mereka.


Melihat itu Rafa meletakkan tas ke atas kasur seraya duduk di tengah menjadi pusat perhatian yang menghadirkan rasa tidak nyaman. Bingung karena sikap ayah dan bundanya begitu aneh seakan baru mendapatkan kabar buruk mengenai dirinya. Padahal semua baik-baik saja.


"Rafa, udah punya temen cewek yang deket belum? Pacar gitu misalnya." Bunda menatap putra semata wayangnya harap-harap cemas tetapi ayah memberi isyarat agar tetap bersabar.


Sementara yang ditanya menghela napas panjang karena pertanyaan bundanya sungguh tidak masuk dalam rencana masa depan. Selain sekolah dan berniat ingin belajar di fakultas impian, maka mimpinya ya sukses dan tanpa kehadiran wanita selain sang bunda seorang.

__ADS_1


"Ayah ama bunda mending bicara langsung ke intinya deh. Rafa tahu pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Jangan teka-teki," celetuk Rafa dengan perasaan yang tertahan karena firasatnya sudah mengatakan hal lain di luar ekspektasi.


Yah, satu pertanyaan saja sudah cukup tertuju ke arah mana. Meski sudah terbiasa ditanya hal sama tapi sore ini berbeda karena ayah dan bunda menunggu kepulangannya bahkan sampai duduk di dalam kamar yang jelas tidak ada penghuninya.


"Begini loh, Nak. Ayah punya sahabat dan dia juga punya anak perempuan. Kami sudah sahabatan sejak SMA jadi ingin silaturahmi semakin didekatkan. Ayah ingin menjodohkan kalian agar bisa menjadi jembatan persaudaraan." jelas Ayah Rafa tanpa basa-basi lagi membuat putranya langsung beranjak dari tempat duduk.


Terlihat jelas Rafa tidak suka dengan keputusannya. Ia tahu dan paham perjodohan bukan jalan satu-satunya untuk menyambung tali silaturahmi hanya saja itu dijadikan alasan agar bisa menemukan jodoh yang tepat untuk putra kesayangannya.


"Nak, turuti permintaan pertama dan terakhir Bunda. Semoga putraku tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Ayo, Yah. Kita harus bersiap." sambung Bunda yang tak memberikan kesempatan putranya untuk mendebat apapun lagi.


Kepergian kedua orang tuanya menyisakan debaran jantung tak berirama. Apakah barusan ia mendapatkan ultimatum? Bunda yang selalu bersikap lembut tanpa menuntut tapi hari ini memutuskan masa depan tanpa bertanya apa keinginannya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada bundaku? Siapa yang berani merebutnya dariku?" tanyanya pada diri sendiri.


Seingatnya tidak mimpi buruk selain melihat pelangi di atas bukit. Mimpi yang menurutnya indah dan hati merasa ingin datang berkunjung ke tempat yang sama. Berharap bisa melihat pelangi seperti di alam mimpi semalam. Apakah mimpi seperti itu pertanda datangnya jodoh?


Rafa menggelengkan kepala, "Rafa sadar deh, loe! Masa mimpi disangkutkan sama kenyataan. Ya gak masuk akal. Dahlah, lumayan kalau ceweknya cakep. Kagak perlu cari cewek lain yang bisa saja abal-abal."


Pemikiran absurd Rafa benar-benar tidak karuan jelas. Pemuda itu hanya bisa menunggu waktu pertemuan karena ia tak mungkin melakukan penolakan setelah apa yang diucapkan oleh bundanya. Kewajipan pertama seorang anak adalah menurut pada keputusan ibu sebagai bentuk bakti.


Waktu berlalu begitu cepat menyambut malam temaram dengan arak awan yang bergulung. Mendung di atas sana tak membuat keluarga Rafa mengundurkan niat untuk menemui keluarga calon besan yang merupakan keluarga sahabat sendiri. Pertemuan pertama sengaja dilakukan di sebuah restoran agar bisa menikmati makan malam bersama.


"Yah, semua akan baik-baik saja bukan?" tanya Bunda dengan tatapan mata sendu menatap ke jalanan.

__ADS_1


__ADS_2