
Sebenarnya ingin langsung pulang tapi tak enak hati karena baru pertama kali berkunjung ke rumah sahabat orang tuanya. Bukan karena Rafa sang calon jodoh. Yah sebagai putri dari orang yang dianggap keluarga, maka ia hanya menjalankan tradisi sebagaimana di kehidupan yang normal.
Keisha menjawab salam tanpa memudarkan senyuman palsu di wajahnya. Wanita itu tampak baik dengan beban hati yang terpendam. Lalu mempersilahkan calon menantunya untuk duduk bersama, sedangkan ia beranjak pergi ke dapur menyiapkan minuman hangat.
Rafa sendiri memilih naik ke kamar untuk berganti pakaian tanpa mandi. Pemuda itu tidak membiarkan kedua wanita di rumahnya hanya duduk berdua saja. Seperti yang biasanya, ketika satu orang bertemu orang lain yang sefrekuensi pasti akan ada obrolan panjang kali lebar.
"Diminum dulu mumpung masih anget, Kim. Rafa tidak bandel kan jalan sama kamu?" Keisha melirik ke sisi kirinya, dimana sang putra duduk sambil memainkan gawai.
Tatapan mata curiga seorang ibu bukan berarti meragukan anaknya. Sebagai sesama wanita, ia paham betul Bunda Keisha hanya mencari petunjuk akan dibawa kemana hubungannya dan juga Rafa. Penilaian yang bisa menjadi clue dari sudut pandang keputusan nantinya.
Setelah mencicipi teh hangat yang terasa manis pas, Kimmy membenarkan posisi duduknya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang tua, gadis itu berusaha untuk memberikan kepastian yang seharusnya. Pemberi harapan palsu? Sangatlah jauh dari kamus hidupnya.
__ADS_1
"Sebelumnya aku mau minta maaf dulu ke Tante," Tatapan matanya sunguh-sungguh menatap intens Bunda Keisha yang membuat Rafa meletakkan ponsel ke atas meja, diam bersiap ikut menyimak.
Sementara Kimmy menahan napas agar tidak berbicara asal yang bisa menjadi salah paham nantinya. "Tante, aku senang karena mendapatkan kesempatan untuk mengenal keluarga yang menunjukkan sahabat papa dan mama. Jujur kebahagiaan yang sama bisa kulihat dari kedua orang tuaku tapi mengenai perjodohan ...,"
Helaan napas pelan berusaha meraih ketenangan tetapi kenyataan tak seperti apa yang tampak. Samar dan semu tanpa harapan yang membuat rasa sesak di dada hanya terbelenggu dalam ketidakpastian. Namun kejujuran serta keterbukaan wajib utamakan.
"Apakah ini sudah benar? Rafa masih sekolah menengah atas dan pasti memiliki cita-cita yang ingin diraihnya. Jika pernikahan terjadi maka prioritas utama bisa saja berubah karena sebagai lelaki harus bertanggung jawab atas istrinya. Satu alasan yang membuatku berpikir, perjodohan ini terlalu dini."
Sang guru pengganti menjelaskan secara detail mencoba membuat Keisha memahami bahwa perjodohan yang dilakukan para orang tua justru menjadikan hubungan semakin rumit. Apalagi ketika dijadikan sebagai alasan utama. Jikapun bisa menerima tapi apakah ikhlas untuk berlapang dada? Ia sadar pertemuan pun baru dua kali dan pasti hanya sekedar mengenal nama saja.
"Semua yang Kimmy katakan benar, tapi boleh jawab satu pertanyaan dari bunda." Keisha menunggu persetujuan Kimmy yang membalasnya dengan anggukan kepala. "Sampai kapan putri sahabatku mau melajang dan berusaha menghindar dari hubungan serius? Bukankah menikah dengan Rafa menjadi jalan terbaik."
__ADS_1
Pertanyaan yang merupakan pernyataan Keisha seketika menyiram hati Keisha dengan air mendidih. Panas di dalam pikiran mencapai lubuk jiwa terdalam. Apa dia terlihat begitu tua atau tidak laku hingga direndahkan tanpa memikirkan bahwa mereka sama-sama wanita. Sakit tanpa luka sayatan tetapi perih tak bisa ditahan.
"Bunda!" Seru menggelegar dari arah belakang mengalihkan perhatian semua orang. "Rafa sendiri juga masih memikirkan mau bagaimana untuk kedepan nanti. Coba lihat putra kita, belum memiliki persiapan apapun baik dari segi materi maupun mental."
"Untuk apa bunda menilai kehidupan Kimmy? Istighfar, Bund. Nak Kimmy sebaliknya pulang dulu," Lion menuruni anak tangga, langkah kaki berjalan menghampiri ketiga insan yang duduk saling berhadapan. "Kim, maafin Keisha ya. Istriku tidak bermaksud untuk menyudutkan kamu."
Keisha kehilangan batasnya karena rasa takut di hati, sedangkan Kimmy hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan yang terlalu frontal. Sementara Rafa menatap bundanya tidak percaya. Untuk pertama kalinya lemah lembut dari sang bunda tidak hadir menguasai ketenangan. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Tidak papa, Om. Setidaknya aku tahu harus memutuskan apa tanpa harus menundanya lagi." Kimmy beranjak dari tempat duduknya, lalu menatap satu per satu anggota keluarga Rafa yang terlihat tegang. "Menikah adalah ibadah tapi jika disini masih ada unsur keraguan dan juga hanya sebagai pembuktian diri."
"Maaf saja, kehidupanku tidak untuk dipermainkan apalagi dinilai meski itu sahabat orang tuaku sendiri. Rafa, sebaiknya lupakan pembicaraan kita di cafe karena setelah ini, tidak ada lagi pembahasan perjodohan. Selamat malam, assalamu'alaikum."
__ADS_1
Tenang tetapi tatapan mata tak bisa berbohong. Gadis itu terluka oleh ucapan Keisha yang langsung menyayat hati. Jika selama ini hidup damai meski sendiri, tapi tak sekalipun kedua orang tuanya memaksakan kehendak. Lalu tiba-tiba ada pihak asing datang dengan lantang menilai kehidupannya yang lebih baik sendiri daripada menjalin hubungan tanpa arti.
Kecewa yang dirasakannya membawa langkah kaki meninggalkan rumah kediaman orang tua Rafa. Suara panggilan yang terdengar hanya diabaikan tanpa ingin memperdulikan. "Kalian tidak layak untuk diperjuangkan. Selamat tinggal."