
Sisil sahabat baik yang tanpa rasa takut memberikan kontak dari orang tua Darren. Meski di berkas tertulis nama orang tua Rafael. Tetap saja, nomor yang diberikan adalah asing. Entah kenapa ia merasa ada hal besar disembunyikan dan pastinya membawa pengaruh signifikan untuk masa depan nantinya.
Setelah dirasa cukup, Kimmy ingin berpamitan karena tidak ada lagi yang harus dikatakan. Akan tetapi sebuah pemikiran mengusik pikira. Seharusnya Sisil mengetahui suatu fakta kebenaran tentang Rafa dan Darren meski belum yakin akan hal tersebut.
Apalagi sang sahabat selalu ada di dalam lingkungan asrama. "Sil, coba kamu periksa siswa atas nama Rafandra Darren Adelio dari gedung dua yang diawasi oleh Pak Huan!" Ia tak berniat memberikan perintah, hanya saja Sisil harus mencari bukti sendiri.
Satu pernyataan darinya, membuat Sisil berpikir sejenak. Kenapa ia harus mencari siswa dengan nama Rafandra Darren Adelio?Rasa penasaran memang ada, tetapi melihat situasi yang terlihat rumit. Jujur ada keraguan untuk melakukan permintaan Kimmy.
Sisil menggeser posisi duduknya sedikit mencondongkan wajah ke depan dengan tatapan lebih serius menatap sang sahabat. "Kim, tidak bisakah kamu mengatakan tanpa harus ku cari tahu sendiri. You know gimana aku kan?"
"Bisa, tapi percuma. Kamu pasti butuh bukti, iya, kan? Setiap kali melakukan eksperimen saja, ada aja yang jadi perdebatan. Kita berdua sama-sama tahu kalau setiap tindakan pasti sudah diperhitungkan. So?"
Memang benar apa yang dikatakan oleh Kimmy. Setiap jiwa dengan raga akan berusaha memahami situasi, mencari solusi, lalu mengeksekusi dalam bentuk tindakan nyata. Sehingga tidak ada kata penyesalan setelah membuat keputusan.
"Selain itu, kurasa kamu bisa membantu untuk mengawasi Darren. Setelah melihat semua ini," Kimmy menunjuk ke arah berkas. "Aku memerlukan perkembangan anak itu dalam menerima pelajaran. If you can, Sil."
Entah apa yang sudah dan akan terjadi nanti yang jelas semua akan saling bersangkutan, hingga ia merasa perlu melakukan pemeriksaan seperti yang dikatakan Kimmy. Diam tanda setuju membuat kedua wanita itu melanjutkan obrolan ke topik lain.
Awalnya hanya membicarakan tentang masa lalu dengan bernostalgia akan kehidupan masa muda di tengah perjuangan mencapai sebuah impian. Topik yang cukup membuat keduanya menikmati emosi darah muda. Lalu beralih membahas kesibukan hari-hari sebagai seorang tenaga didik.
Obrolan kian seru hingga ke tema yang lebih sensitif yaitu tentang pernikahan. Apalagi ketika memperhatikan jemari dengan cincin melingkar manis milik sahabatnya. Sisil menarik tangan Kimmy, "Kim, cowok mana berani melamarmu?"
"Bukan lamaran, tapi kami sudah sah menjadi suami istri." jawab Kimmy santai tanpa rasa gentar mengakui pernikahannya.
Speechless dengan pengakuan Kimmy, hingga dengan cekatan mendekatkan diri lebih menatap intens wajah cantik si pelatih. "Really, siapa suamimu? Apa jangan-jangan salah satu teman seperjuangan."
__ADS_1
Apa gunanya menebak? Ketika ekspektasi tidak akan sama seperti harapan. Tersenyum tanpa ada jawaban yang membuat Sisil mengernyit mengerti kesimpulannya adalah salah besar. Sudah pasti ada kejutan dan tidak untuk menjadi bahan perdebatan. Sebagai sahabat cukup tahu isyarat dari keheningan Kimmy.
"Please, kasih tahu dikit aja, aku kepo. Gimana kalau ntar malam justru mimpi buruk." Rasa penasaran Sisil tak mengubah pendirian Kimmy.
Semua itu karena sesuai kesepakatan, bahwa selama Rafa masih berstatus anak SMA. Maka tidak ada publikasi hubungan tapi setelah lulus akan disambut dengan acara resepsi sebagai bentuk peresmian ikatan suci pernikahan. Lagipula sah secara agama dan negara sudah cukup untuk menjalani biduk rumah tangga.
"Sabar deh, Sil. Tunggu undangan dariku saja. Insya Allah begitu dianya free, acara resepsi akan digelar. Siapin saja pasanganmu untuk diajak dansa." ujar Kimmy membuat Sisil terkekeh pelan karena saat ini masih berstatus jomblo.
Waktu begitu cepat berlalu membuat kedua wanita itu memutuskan untuk meninggalkan rumah singgah karena waktu makan siang. Rasa lapar menjadi pengalihan, di mana baik Kimmy maupun Sisil serempak mengunjungi kantin asrama. Suasana tampak tidak begitu ramai.
"MasyaAllah, ada Neng geulis. Apa kabar, Neng?" tanya seorang wanita penyaji makanan yang melihat kedatangan Kimmy dan Sisil.
Sambutan hangat dengan binar sorot mata bahagia, membuat Kimmy tersenyum manis meski hanya sesaat. "Alhamdulillah, baik, Bu Romlah. Ibu sendiri kabarnya, bagaimana? Pasti udah punya cucu juga, ya."
Bu Romlah merupakan seorang wanita dengan usia lebih tua lima tahun dari mamanya. Dimana beliau bekerja di asrama selama lima belas tahun sejak masa muda. Meski tidak berpendidikan tinggi tapi cukup bisa melayani para siswa yang terkadang menggunakan bahasa Inggris.
"Bisa saja, Si Neng. Raos pisan kabarnya, tapi Neng tumben ke asrama. Kangen ya, masakan orang dapur?" Bu Romlah menggoda Kimmy seperti biasa, membuat Sisil ikut bahagia karena kehadiran sang sahabat selalu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Apalagi orang-orang dapur justru mengajak mereka berdua masuk ke dapur agar bisa mengambil makanan sendiri dari wadah utama. Seperti biasa, di setiap pertemuan pasti akan ada obrolan seru yang bisa lupa waktu. Kebahagiaan akan selalu sederhana tanpa diminta, apalagi dipaksa.
Sesi makan siang akhirnya berlangsung di dapur ditemani beberapa chef dan juga Bu Romlah. Sehingga anak-anak hanya dilayani oleh dua penyaji saja yang terbilang karyawan baru. Selama beberapa waktu menikmati kebersamaan di belakang, akhirnya akan berlanjut dengan diadakan jamuan makan malam yang membuat Kimmy harus menginap di asrama selama beberapa hari.
"Terima kasih, semuanya. Aku pamit dulu, masih harus bertemu kepala asrama. Assalamualaikum," pamit Kimmy setelah meletakkan piring ke tempat seharusnya, begitu juga dengan Sisil yang memiliki jadwal mengajar siswa lain.
Setelah begitu lama berada di belakang, Kimmy menyudahi pertemuan karena mengingat janji temu yang sudah ditetapkan setelah makan siang. Obrolan ringan dengan para pekerja asrama seperti menyuplai energi positif di tengah badai masalah dalam kehidupan. Kedua gadis itu berpamitan meninggalkan kantin.
__ADS_1
Rasa lapar sudah terganti dengan kelegaan karena kenyang. Langkah kaki yang seirama tak bisa dilanjutkan begitu keduanya terpisah menuju tujuan masing-masing. Persimpangan telah memisahkan kebersamaan menjadi kesendirian. Satu sisi Kimmy menuju gedung khusus di mana kepala asrama berada, sedangkan Sisil kembali ke gedung laboratorium untuk lanjut mengajar.
Akan tetapi, diantara kedua gadis itu, seseorang yang merasa bosan terus berguling di atas ranjang enggan beranjak dari tempatnya. Padahal suara gendang dari perut terus saja berdendang meminta jatah makanan tapi justru dibiarkan. Ia tak peduli dengan kebutuhan pokok sebagai seorang manusia untuk bertahan hidup.
Rasa malas dan kesal masih menguasai hati hingga enggan melakukan apapun. "Ini gimana, sih? Mau main basket ntar Bu Kim dateng nantangin lagi. Guru satu itu, memang bosen, ya, tanding cuma sama aku."
Suara keluhan rasa tak suka dari lubuk hati terdalam Rafa terdengar bergema di dalam kamarnya sendiri. Apa pemuda itu amnesia? Orang yang menjadi bahan perbincangan adalah istri sah yang memiliki hak untuk menasehati tanpa melibatkan status di sekolah.
Ia heran saja dengan suasana hati yang terus berubah-ubah. Padahal beberapa hari yang lalu semua baik-baik saja. Kemudian tiba-tiba emosi bercampur jadi satu, apa yang terjadi pada dirinya? Dimana satu menit merasa baik berlanjut menit berikutnya hati hanya memiliki kekesalan.
Perubahan yang begitu signifikan sampai bingung dengan dirinya sendiri. Cowok tidak memiliki masa PMS, lalu apa alasan dari emosi naik turun seperti pergantian musim. Jika disebut dalam istilah, namanya pancaroba. Terlalu sensitif, apalagi menyangkut kedatangan Kimmy secara tiba-tiba.
Kebingungan yang dirasakan Rafa benar-benar aneh, tapi tidak memiliki jawaban untuk pertanyaannya sendiri. Kini ia hanya terus bermain di atas tempat tidur seperti anak kecil mengharapkan mendapat makanan favorit sebagai bentuk rayuan orang tua.
Kali ini, ia tidak habis pikir karena merasa emosi childish muncul tanpa diminta bahkan rasa kesal tidak berkesudahan. Bagaimana harus menyampaikan emosi di dalam hati? Sementara keadaannya hanya seorang diri. Ada rasa ingin mendapatkan perhatian lebih dari sang istri.
Kenapa Kimmy tidak menyusul? Kemana sang istri pergi? Bukankah gadis itu datang untuk menemui ia seorang. Lalu, kenapa justru menjadi terabaikan bahkan tidak berusaha untuk membujuk kemarahan hatinya. Pikiran sudah terkontaminasi hingga menutup kesadaran diri.
Sementara itu, Kimmy yang baru saja dipersilahkan masuk oleh Kepala asrama dengan tenang berjalan menghampiri kursi. Lalu, tanpa basa-basi duduk menghadap seorang pria rambut beruban berusia lima puluh dua tahun. Pria itu begitu santai menyambut kedatangan salah satu mantan siswa asrama.
Hanya saja, tidak biasanya pemilik asrama tersebut tinggal begitu lama di ruang kerja. Jika tidak salah ingat, posisi sebagai kepala asrama sudah menjadi milik putra tertua dari hasil pernikahan pertama si Bapak yang duduk di depan Kimmy.
"Kimmy Rosella, nama yang indah. Seperti saat pertama kali masuk dengan senyum tipis, tatapan mata tajam, tapi selalu membuat bangga semua orang," ujar Pak Ilyas sebagai pemilik asrama.
Pengakuan itu, membuat Kimmy hanya diam tak bereaksi. Ia tak bangga karena dipuji, hanya saja tujuannya datang lebih penting dari pujian berselimut keinginan tersembunyi. Pak Ilyas pasti tahu, bagaimana reaksi seorang anak gadis menghadapi para pria di dunia.
__ADS_1
"Tidak perlu memuji, Pak. Katakan saja! Bagaimana dengan perkembangan anak itu?" tanya Kimmy to the point. Jelas ia membagi waktu demi setiap langkah untuk mencapai tujuannya. Meski semua orang berusaha untuk membuat penghalang, tak satupun akan berhasil mengurangi tekad seorang petarung.