
Kai menepikan mobilnya ke bahu sisi kanan jalan. Dimana ia memilih untuk melakukan panggilan ulang tetapi tidak sambil berkendara karena bisa membahayakan nyawanya dan juga nyawa orang lain. Earphones masih dia pakai tetapi tangan sibuk memainkan gawai memeriksa nomor yang dituju memang sudah benar.
Sekali lagi mencoba menghubungi tetapi jawaban dari seberang justru customer service dari provider. Heran karena tidak biasanya nomor itu susah di hubungi. Apalagi ketika mengingat waktu yang pasti juga sama-sama masih pagi. Di tengah rasa bingung, tiba-tiba ia ingat nomor lain yang bisa menjadi alternatif.
Dicarinya nomor yang selalu dianggap angin lalu olehnya selama ini tetapi hari ini ia sangat memerlukan bantuan dan hanya orang itu yang bisa membantunya. Nomor Indonesia dengan belakang satu satu satu begitu cantik. Tangan ragu untuk melanjutkan panggilan hanya saja tidak mungkin mengurungkan niat hati.
"Assalamu'alaikum, Bel." ucap salam Kai mengawali obrolan yang terkesan canggung bahkan tidak ada suara dari seberang yang langsung menyahut sapaan salamnya. "Belvina Catika, kamu mendengarku?"
[Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Ka Kai. Tumben nelpon gadis modus seperti aku. Ada apa gerangan?] balas dari seberang dengan logat suara mendayu tetapi karena memang begitulah suara si gadis remaja yang kini tengah duduk di tepi kolam renang rumahnya.
Kai bisa merasakan kerinduan dari suara gadis itu tetapi ia tak ingin mengalihkan perhatian pada rasa yang tidak bisa diberikan oleh hatinya. Satu tujuannya hanya untuk mencari tahu keberadaan serta kabar sang adik angkat yang sulit dihubungi. Ya hanya itu, tidak kurang, apalagi lebih.
"Gini loh, Bel. Dari tadi aku call Rafa tapi gak ada yang jawab. Nah pas tak call lagi sampe lima kali, tiba-tiba sudah tidak aktif. Apa kamu tahu dimana adikku satu itu?" Kai bicara to the point tanpa ingin membuat drama.
__ADS_1
Lagi pula Belvina pasti sudah tahu maksud dari ia melakukan panggilan meski tanpa dijelaskan. Gadis yang seusia Rafa itu selalu memahami seperti apa isi pikirannya, padahal tidak ada ikatan batin apapun. Tidak sesederhana itu karena sejak mereka bertiga menjadi sahabat karib, hanya gadis itu yang bisa sesuka hati berbicara tanpa ada keraguan.
Belvina berpikir sejenak mengingat kapan terakhir kali bertemu Rafa tapi sudah beberapa bulan lalu karena ia sendiri juga berada di lain negara saat ini dan tidak mendapatkan informasi terbaru dari orang-orang di Indonesia yang biasanya mengawasi beberapa orang untuknya.
Ia bisa saja dengan mudah mendapatkan informasi dengan bantuan koneksi yang dimilikinya hanya saja apa keuntungan yang bisa didapatkan? Ingin egois, sayangnya tidak bisa. Tanpa permisi panggilan dialihkan ke nomor lain yang pasti memiliki jawaban dari pertanyaan Kai.
"Katakan dimana kalian sekarang!" tegas Belvina tanpa basa-basi memberi perintah yang membuat seseorang di seberang menjauhkan benda pipih dari telinga.
Suara istighfar terdengar jelas membuat Belvina menyadari nada bicaranya berubah drastis setiap kali berhadapan dengan orang-orang yang jauh dari kata dekat di hati. "Sorry, aku spontan, bisa tolong berikan ponselmu ke Rafa?"
"Assalamu'alaikum, Bel, Kai. Kalian kompak bener call aku, kenapa? Kangen, ya." Rafa menggoda kedua sahabatnya yang jauh dari sisinya selama beberapa waktu.
Jawaban salam dari seberang terdengar kompak, membuat Rafa semakin semangat menggoda tetapi tatapan mata tim basket sedikit menggeser rasa nyaman menjadi canggung. Pasti heran dengan sisi lainnya yang lebih hangat dengan orang yang kini ngedumel melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Kim, udahan kali liatin kapten basketnya. Ntar jatuh cinta loh." goda Naumi yang melihat Kimmy sangat memperhatikan setiap gerakan Rafa dari ruang kerjanya.
Kimmy menghela napas, lalu berbalik melangkahkan kaki berjalan menghampiri kursi kebanggaannya sebagai pelatih beberapa cabang olahraga secara diam-diam. Wanita itu masih memikirkan apa yang terjadi semalam karena hati merasa bersalah bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi suami mudanya.
"Nau, boleh aku tanya sesuatu? Jika tidak keberatan." tukas Kimmy, tangannya menarik kursi, kemudian duduk menyandarkan punggung seraya menautkan kedua tangan ke atas meja.
Sikap bimbang yang ditunjukkan Kimmy membuat Naumi ikut mendekati wanita itu dan tanpa sungkan duduk di kursi lain. Tatapan mata terpatri memperhatikan perubahan ekspresi sang sahabat. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan darinya tapi apa?
"Tanyakan saja," ujar Naumi mempersilahkan.
Bimbang ingin berkata tentang suami, ia rasa status itu terlalu buru-buru untuk diungkapkan. "Saat pacarmu marah, apa yang akan kamu lakukan?"
Pacar? Apa tidak salah dengar, Naumi mengorek kuping mencoba untuk memastikan pendengarannya normal. Bahkan gadis itu melakukan testimoni dengan menutup satu telinga lalu bebicara sendiri, membuat Kimmy menggelengkan kepala heran. Bisa-bisanya sang sahabat bersikap seperti itu ketika ia benar-benar membutuhkan solusi cepat.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan saja." Tak ingin melanjutkan obrolan yang sebenarnya penting, ia lebih memilih memejamkan mata dengan tangan bersedekap mencoba mencari solusi sendiri.