Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 10. Ratu manipulatif


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Barack mencurigai kedatangan Rubiana yang tiba-tiba dan bisa dekat dengan Hyacinth. Barack menduga bahwa ada sesuatu pada diri gadis berambut perak itu. Dia memutuskan untuk menyelidiki tentang Rubiana yang katanya berasal dari Lostier. Tentu saja dia merahasiakan pencarian ini dari Raja Hyacinth. Ketika dia tau bahwa rajanya itu begitu peduli pada Rubiana, gadis yang bahkan belum sehari di kenalnya.


Sejak kerajaan Istvan berganti kepemimpinan, Hyacinth dan anak buahnya yang berupa mahluk mitos seperti troll juga bangsa iblis, menghabisi semua orang di istana itu tanpa terkecuali. Dia mengganti semua orang di istana itu kecuali pelayan senior yang berada di dapur istana karena masakannya enak.Tapi Hyacinth tidak bisa menyentuh Aiden dan Rosela, dua orang dan memiliki darah kerajaan Istvan yang masih hidup. Aiden dan kerajaan Gallahan masih cukup kuat karena Aiden memiliki banyak relasi dengan kerajaan lain dan bisa melawan Istvan.


"Jadi kau datang kemari hanya untuk memberitahuku tentang calon Permaisuri negeri ini?" tanya Hyacinth saat dia melihat lembaran yang dibawa Rudolf. Lembaran itu berisi data-data 3 calon permaisuri yang sudah melalui proses seleksi terlebih dahulu oleh Rudolf dan beberapa bangsawan kelas atas yang mendukung Hyacinth.


"Iya Yang Mulia, anda harus segera memilih permaisuri...jika anda belum memiliki seorang permaisuri, ini sangat berbahaya untuk posisi anda." jelas pria paruh baya yang dulu pernah mengabdi pada Maximilian. Namun dia terpaksa berkhianat agar keluarganya selamat. Hyacinth juga membiarkannya hidup karena pria itu sangat bermanfaat untuk kerajaan Istvan. Salah satu manfaat terbesarnya, dia adalah penggerak bangsawan dan rakyat untuk berpihak padanya.


"Bahaya? Jika mereka menentangku, aku tinggal membunuh mereka saja." kata Hyacinth dengan entengnya.


"Yang Mulia, anda tidak bisa seperti itu. Jika anda melakukannya maka kredibilitas anda sebagai Raja dari negeri ini akan diragukan." jelas Rudolf pada pria itu.


"Baiklah, lakukan apa yang kau mau. Prosedur pemilihan permaisuri atau apalah itu--lakukan segalanya. Lagipula ini hanya formalitas saja." ucap Hyacinth seraya menghela nafas.


"Mulai besok, acara pemilihan permaisuri akan dimulai. Saya harap Yang Mulia berada di istana seharian besok." Rudolf menundukkan kepalanya seraya memberi hormat kepada sang raja.


"Baik, kau bisa pergi sekarang!" ujar Hyacinth pada Rudolf.


Pria paruh baya itu pun pergi setelah mengatakan apa yang ia ingin sampaikan kepada Hyacinth. Pria paruh baya itu berjalan di lorong dengan wajah sendu, ia merasa sedih karena sekarang dia mengabdi pada seorang pengkhianat dan tiran yang bisa menjungkirbalikkan negeri itu.


"Maafkan saya Raja Maximilian, Ratu Liliana...saya lakukan semua ini demi keluarga saya. Tapi saya janji, saya akan tetap berusaha melindungi negeri ini agar tidak terlalu rusak olehnya." gumam Rudolf pelan. Dia merasa bersalah pada raja dan ratu yang dulu sangat baik padanya. Ia tak jauh beda dengannya yang seorang pengkhianat.


Saat sedang berjalan keluar dari istana, Rudolf tak sengaja melihat Barack bersama seseorang yang memakai jubah serba hitam tengah berbicara di balik tembok.


"Tuan, apa anda ingin saya mencelakai wanita yang dibawa oleh Yang Mulia?"


"Ya, perasaan itu hanya bisa menganggu kehidupan dan tujuan Yang Mulia raja. Sebelum rumput liar itu tumbuh semakin besar dan menganggu, bukankah lebih baik kita singkirkan lebih dulu sampai ke akarnya." ucap Barack dengan seringai di wajahnya.

__ADS_1


"Tuan, saya hanya takut Yang Mulia akan murka. Saya melihat Yang mulia menyukai wanita itu."


"Tidak! Baginda tidak menyukai wanita itu, dia hanya mencintai satu wanita di dalam hidupnya dan itu sudah mati. Jadi--lakukan saja perintahku dan jangan banyak bertanya!" tegas Barack pada orang itu.


Rudolf mendengar perbincangan mereka, ia jadi penasaran siapa wanita yang dibawa oleh Hyacinth. Kenapa Barack sangat ingin menyingkirkannya? Namun Rudolf menyimpan dulu rasa penasarannya karena dia harus pulang sekarang.


****


Keesokan harinya, Rubiana terbangun dari tidur nyenyaknya. Ya, itu karena obat yang diberikan oleh tabib Wen menyebabkan kantuk luar biasa. Rubiana memeriksa kondisi tangannya, beruntung lukanya tidak parah meski tangannya masih di balut perban dan tanaman herbal yang bisa menyembuhkan lukanya.


Pagi itu Rubiana disambut oleh Karina dan dua orang pelayan lainnya yang ditugaskan untuk melayaninya. Rubiana berpura-pura polos dan lugu didepan mereka karena gadis itu sadar bahwa dua orang pelayan didepannya ini menatapnya dengan meremehkan. Jelas saja mereka tau dari desas-desus di istana , bahwa Rubiana berasal dari club' madam Morena alias wanita malam.


"Nona, biarkan saya melayani anda." kata pelayan berambut pendek itu pada Rubiana.


Cih, dia hanya beruntung saja memiliki wajah cantik, jadi Baginda raja membawanya. Padahal dia hanya seorang jalangg. Batin si pelayan itu.


"Maafkan saya, tapi saya tidak terbiasa di layani. Apa saya bisa mandi sendiri saja?" kata Rubiana dengan wajah polosnya, seorang tak tahu apa-apa.


"Kalau begitu--saya ingin bersama nyonya Karina saja." tawar Rubiana.


"Maafkan saya nona, tapi nyonya Karina sedang sibuk di dapur istana. Jadi nyonya Karina memerintahkan kami untuk melayani nona." alibi si wanita berambut pendek dengan cepat.


Apa yang kalian rencanakan? Ya, apapun itu--aku akan melayani kalian berdua.


"Baiklah, kalau begitu saya mohon bantuannya." lirih Rubiana sendu.


Kedua pelayan itu tersenyum tipis, entah apa yang akan mereka rencanakan pada Rubiana. Setelah mandi dan memakai gaun yang indah, dua pelayan itu mengajak Rubiana pergi keluar kamar dan memandunya untuk menemui Hyacinth. Mereka mengatakan bahwa Hyacinth memanggil Rubiana.


"Benarkah Yang Mulia raja mengatakan bahwa ia akan menemui saya disini?" tanya Rubiana masih dengan wajah pura-pura bodohnya.

__ADS_1


"Benar nona," sahut kedua pelayan itu.


Tak lama kemudian, Rubiana yang menunggu Hyacinth di taman tiba-tiba saja kedatangan tiga nona bangsawan dengan masing-masing satu orang pelayan yang mengikuti mereka dari belakang.


"Oh--jadi wanita ini yang dibawa oleh Baginda Raja?" tanya seorang wanita berambut merah pada Rubiana.


'Ya, aku sudah tahu bahwa mereka pasti sudah merencanakan ini. Kalian ingin menghinaku?' Rubiana masih terlihat tenang menghadapi mereka.


"Cantik, tapi sayangnya KOTOR." cetus si wanita bangsawan berambut ikal kepada Rubiana.


"Benar, aku heran kenapa Yang Mulia raja sampai memungut lumpur ini?" wanita bangsawan yang satunya hendak melempar Rubiana dengan air minum yang dibawa salah seorang pelayannya. Namun tangan Rubiana dengan cepat menahannya.


"Anda harus menjaga tangan anda, nona!" ujar Rubiana sambil mencekal tangan nona bangsawan itu. Dia tersenyum tipis.


Ketiga nona bangsawan, ketiga pelayan mereka dan juga dua orang pelayan yang bersama Rubiana, tercengang melihat keberanian gadis itu. Wanita yang barusan terlihat polos itu tiba-tiba berubah dalam sekejap.


"Dasar wanita penggoda! Jalangg!!" teriak wanita bangsawan itu dengan mata terbelalak. Dia tidak percaya bahwa Rubiana berani melawan dirinya yang berstatus tinggi.


"Jaga mulut anda nona, jika yang mulia raja mendengarnya--mungkin anda dan keluarga anda akan berada dalam bahaya." ancam Rubiana dengan percaya diri. Ya, dia menggunakan Hyacinth untuk mengancam.


Mata Rubiana menangkap' sosok dua orang pria yang tengah berjalan ke arah taman itu. Tiba-tiba saja wanita itu menuangkan minuman keatas kepalanya sendiri dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya si wanita bangsawan itu bingung dengan apa yang dilakukan oleh Rubiana. Bukan hanya dia yang kaget, tapi semua wanita yang ada disana juga kaget.


"Kenapa kalian tega melakukan ini kepada saya? Saya tau saya tidak pantas berada disini, tapi kalian tidak usah cemas...saya akan pergi dari sini sekarang juga...hiks...hiks..." Rubiana menangis dengan kepala dan baju yang basah karena air minum itu.


"Sebenarnya apa yang kau--"


"Kau tidak akan pergi dari sini!" seru seorang pria yang berjalan mendekat ke arah mereka. Tatapannya begitu tajam pada para pelayan dan tiga orang nona bangsawan yang mengganggu Rubiana. Mereka semua terkejut saat melihat kedatangannya, sontak semua orang di sana menundukkan kepala mereka seraya memberi hormat.

__ADS_1


Matilah kalian!' batin Rubiana puas melihat semua wanita disana berwajah pucat karenanya.


...****...


__ADS_2