
Kini Rosela dan Aiden berada di dalam ruang istirahat Raja, mereka ditinggalkan saja berdua disana. Ditemani secangkir teh dan cemilan di atas meja yang belum tersentuh sama sekali, oleh siapapun juga. Rosela tampak gelisah, ia mencemaskan Aiden karena pria itu benar-benar menculik calon permaisuri Hyacinth. Betapa beraninya pria itu berbuat nekad, mengingat Hyacinth adalah manusia setengah iblis dan bersekutu dengan iblis. Maka kekuatannya belum sebanding dengan Aiden yang hanya manusia biasa, namun diberkahi dengan kekuatan dewa.
"Yang Mulia, kau sangat nekad. Bagaimana bisa kau membawa wanita itu kemari? Apa kau tidak memikirkan bagaimana nasib dua kerajaan?" tanya Rosela pada adik sepupu sekaligus orang yang ia cintai itu.
"Kak, aku tidak peduli meski harus berperang dengan iblis itu. Kalaupun memang dia mengajak berperang, maka wanitanya akan mati disini." ucap Aiden dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Aiden ingin menghancurkan Hyacinth, sebagaimana Hyacinth menghancurkan orang-orang yang ia cintai. Apalagi Selena, adiknya yang sangat tergila-gila para Hyacinth dan dengan mudahnya pria itu menikah setelah membinasakan Selena. Aiden tidak akan biarkan Hyacinth bahagia.
"Yang Mulia, namun wanita itu tidak bersalah. Kita tidak boleh melibatkannya dalam hal ini. Kita akan mencari cara lain untuk balas dendam." jelas Rosela bijak dan berusaha berpikir jernih tentang semua ini. Mengurung Rubiana di istana dan menyiksanya, bukan hal baik.
"Maafkan aku kak, kali ini aku tidak bisa mengikuti saranmu. Bagiku, wanita itu dan si iblis sama saja!" Aiden menggelengkan kepalanya, kali ini keras kepalanya tidak bisa dicegah. Kemarahan dan kebencian sudah mendarah daging didalam dirinya, tidak dapat ditekan lagi.
Selena, kau pasti sakit melihat hari ini kan? Kau pasti marah melihat si iblis yang kau cintai akan menikahi orang lain. Kau pasti tidak terima kan? Kau pasti tidak ingin Hyacinth bahagia bukan? Aiden bertanya-tanya dalam hatinya. Pria itu tau benar betapa cintanya Selena pada Hyacinth semasa hidupnya, sampai rela melakukan apapun untuk pria sampah itu. Aiden jadi sakit hati saat mengingatnya.
Perlahan-lahan Rosela mendekat ke arah Aiden, dia mengusap basah di pipi itu dengan jari-jarinya. "Aku tau kau sedih, aku juga...aku merasakan kesedihan yang sama. Tapi--aku hanya tidak ingin kau membahayakan dirimu sendiri."
Aiden menggenggam tangan Rosela, ia bisa mengerti kekhawatiran gadis itu kepadanya. Aiden menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, sepasang netra itu pun bertemu dengan dalam. Hingga Aiden menyatukan kening mereka berdua, hidung mereka saling menempel dan jantung mereka bertalu-talu dengan kencang.
__ADS_1
"Yang Mulia...apa yang kau--hmphh--"
Detik berikutnya, Aiden sudah menempelkan bibirnya pada bibir ranum nan cantik milik Rosela kakak sepupu yang tidak sedarah dengannya itu. Kedua mata Rosela membulat saat merasakan ciuman dari Aiden. Tangan Rosela awalnya berontak dan menolak ciuman dari Aiden, tapi lama kelamaan wanita itu menerima bahkan membalas ciuman dari Aiden. Ciuman yang lembut penuh kasih sayang, bukan paksaan.
Mereka telah merasakan perasaan ini sejak lama, namun tak ada yang berani mengungkapkan. Sebab kedua orang tua mereka bersaudara, ya Laura dan Maximilian adalah kakak adik. Namun mereka tidak sedarah.
"Kau jangan cemas kak, aku akan baik-baik saja. Kau jangan lupa, aku seorang Raja...aku punya banyak kekuatan. Salah satu kekuatanku adalah kau, sekarang hanya kau satu-satunya kekuatanku saat ini setelah semua orang tiada. Jadi--jaga dirimu baik-baik demi aku. Aku mencintaimu kak."
Deg!
Rosela terkejut mendengar ucapan Aiden, hatinya berdebar. Meski dia sudah menduga sebelumnya bahwa Aiden mencintainya.
"Aiden, kita--"
"Aku pergi dulu, aku harus membersihkan diri dan juga memeriksa tahanan itu. Kau juga pergilah makan, kak." kata Aiden lembut pada wanita itu.
__ADS_1
*****
Malam itu, Rubiana baru saja membuka matanya. Ia berada di ruangan gelap dan terasa keras ditubuhnya.Tak hanya itu, dia juga merasa dingin disana. Matanya melihat ke sekeliling dan dia pun sadar bahwa dirinya berada di dalam ruangan berjeruji besi.
"Aku...dimana? Tadi aku sempat melihat kakak...apa aku bermimpi?" tanya Rubiana kebingungan. Dia melihat wajah Aiden sebelum ia jatuh pindah. Saat Rubiana berjalan ke pintu jeruji besi, langkahnya terhenti manakala ia menyadari ada rantai yang membelenggu tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa berjalan jauh, wahai ratu Istvan." sontak saja Rubiana melihat siapa pria yang ada dihadapannya ini. Benar saja, dia adalah Aiden kakak yang sangat ia rindukan dan mungkin pria itu membencinya.
Kakak, ternyata benar-benar kakak. Rasanya Rubiana ingin menghambur ke dalam pelukan Aiden, namun sayang ia tidak bisa untuk saat ini.
Kak, ini aku Selena...aku adikmu kak. batin Rubiana sedih.
"Selamat datang di neraka." Aiden yang memegang segelas air, tiba-tiba melempar air itu ke wajah Rubiana.
Byur!!
__ADS_1
Aiden menatap Rubiana penuh kebencian, tanpa dia tau sebenarnya siapa gadis yang berada di hadapannya ini.
...****...