
...🍀🍀🍀...
Mendadak jantung Rubiana berdegup kencang saat Lucas mengutarakan isi pikirannya tentang Hyacinth yang sudah mulai mencurigainya. Ya, Hyacinth berubah drastis setelah ia mengantar Barack pergi dari sana. Apa mungkin ucapan Barack mempengaruhi Hyacinth? Maka dari itu ia harus berhati-hati.
"Apa Raja sudah tahu bahwa kau adalah sang putri?" tanya Lucas pelan.
"Dia tidak tahu, tapi orang disampingnya tau siapa aku sebenarnya," Rubiana membalas ucapan Lucas.
"Itu artinya..."
"Kau tenang saja, aku tidak bisa mengatasinya!" seru Rubiana dengan wajahnya yang gelisah. Terpaksa dia harus mengubah rencana balas dendamnya menjadi lebih cepat karena bisa saja Hyacinth yang menikamnya lebih dulu.
Lucas dapat melihat keresahan yang ada di raut wajah Rubiana, dia tau bahwa gadis itu sedang tidak baik. Tapi dia akan berusaha membantu dan melindungi Rubiana, seandainya Hyacinth memang punya niat melukainya. Lucas tidak akan membiarkan Rubiana mati dua kali.
"Antar aku ke kamarku," ujar Rubiana pada Lucas. Pria itu hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Kemudian dia mengikuti Rubiana dari belakang, mereka menuju ke istana Ratu.
__ADS_1
Sesampainya disana, Rubiana mengatakan pada semua orang bahwa dia ingin menyendiri. Bahkan Magenta juga tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin merenung, memikirkan rencana balas dendam yang paling menyakitkan untuk Hyacinth.
"Tidak, kalau membunuhnya sekarang...saat tidur bersama. Itu terlalu gegabah! Aku juga tidak punya senjata untuk membunuhnya, aku harus mendapatkan jantung dan hatinya. Juga, permata yang ada didalam tubuhnya. Tapi ada dimana?" tanya Rubiana sambil bergumam seorang diri didalam kamarnya. Dia pun duduk diatas ranjang, dengan banyak pikiran.
Sementara itu disisi lain, Hyacinth sedang mengobrol dengan seseorang yang memakai jubah hitam dan bertubuh tegap. Meski wajahnya agak keriput, namun bentuk tubuhnya masih tampak bagus. Dia adalah Abartia, penyihir hitam yang sempat berkoalisi dengan Raja Gallahan terdahulu untuk membuat Raja Maximilian menjadi iblis dan nyawa Ratu Liliana berada dalam bahaya.
"Ada apa Yang Mulia raja meminta saya datang kemari?" tanya Abartia dengan senyuman menyeringai dibibirnya itu.
"Aku perlu bantuanmu, pria tua!" seru Hyacinth dengan wajah serius menatap pria tua itu.
"Apapun, kau dapat meminta apapun. Tapi tolong lihat seseorang untukku. Lihat, apakah dia memiliki jiwa lain didalam tubuhnya, atau tidak!" ujar Hyacinth pada pria itu.
"Baiklah, kapan aku harus melihatnya?" tanya Abartia dengan senang hati menerima tawaran Hyacinth, apalagi ia hanya perlu melihat jiwa.
"Malam ini juga, aku ingin kau mengeceknya!" tukas Hyacinth dengan penuh ketegasan. Dia tidak bisa menunggu lama untuk membuktikan ucapan Barack.
__ADS_1
Barack, jika kau salah...aku akan menghukummu dengan sangat berat. Semoga saja Rubiana bukan dia...bukan.
****
Malam itu, sebelum mereka akan melakukan malam pertama. Hyacinth menjemput Rubiana didalam kamarnya. Raja dan Ratu Istvan itu sudah bersiap memakai pakaian dengan warna senada, yaitu warna merah. Keduanya tampak cantik dan tampan.
Hyacinth menggandeng tangan Rubiana, membawanya ke istana utama. Dimana dia akan mempertemukan Rubiana dan Abartia. Rubiana yang tidak tau akan bahaya yang mengancam dirinya, hanya menurut saat Hyacinth membawanya ke ruang makan di istana utama.
"Ratu, inilah tamu yang ingin aku perkenalkan padamu." ucap Hyacinth pada istrinya.
Rubiana yang tidak tahu bahwa pria itu adalah Abartia, cuek-cuek saja dan memperkenalkan dirinya sebagai Ratu Istvan.
"Salam Baginda Ratu," kata Abartia sambil melihat wajah Rubiana dari dekat.
Kenapa aku mencium bau serigala di tubuhnya? Batin Abartia heran.
__ADS_1
...****...