
...🍁🍁🍁...
Tentunya Lucas bahagia, dia tepat sasaran karena Hyacinth langsung mempercayainya. Tidak salah dia menunjukkan kebolehannya dalam berpedang dan berkelahi pada pria itu. Dia yang masih terhitung kstaria baru, ditugaskan mengawal Rubiana dan itu artinya, mereka akan semakin dekat.
"Ya, Yang Mulia." jawab Lucas tanpa menolak. Hingga menjadi beberapa kstaria lama disana mendelik sinis padanya karena Lucas masih baru dan sudah mendapatkan posisi penting dengan mengawal calon permaisuri.
"Lakukan tugasmu dari sekarang, sir---" Hyacinth menggantung namanya, ia belum tau nama kstaria yang baru itu.
"Lucas, Yang Mulia." kata Lucas memperkenalkan dirinya karena sepertinya Hyacinth tidak tahu namanya.
Oh, jadi namanya Lucas. batin Rubiana.
"Baiklah Lucas, kau harus mengawal calon permaisuri mulai dari sekarang. Aku ingatkan padamu, jika sampai permaisuri terluka sedikit saja--maka aku akan membunuhmu!" ancam Hyacinth pada pria itu.
"Saya akan melaksanakan titah, Yang Mulia dengan sebaik-baiknya." kata Lucas sambil menundukkan kepalanya.
"Bagus." Hyacinth tersenyum tipis. Lalu dia pun melirik ke arah Rubiana dengan tatapan penuh perasaan. "Ruby, pergilah dengan sir Lucas dan sir Guesta. Dan cepatlah kembali, aku akan sangat merindukanmu."
__ADS_1
"Ya, yang Mulia."
Cup!
Tiba-tiba saja tanpa aba-aba, Hyacinth mengecup pipi Rubiana.Tidak peduli ada banyak mata yang melihat disana. Lucas mengeraskan rahangnya, dia mengepalkan tangan dengan kuat melihat adegan cium pipi itu.
Sial! Hyacinth aku benar-benar jijik denganmu. Rubiana memaki Hyacinth dalam hatinya, tapi diliat dia berusaha terlihat biasa saja.
Sedangkan semua orang melihat betapa sayangnya Hyacinth pada Rubiana. Mereka bahkan tak berani menghina atau bahkan bicara dengan Rubiana, karena mereka takut kepala mereka dipenggal. Pernah ada beberapa kejadian, dimana ada beberapa orang pelayan istana yang menghina Rubiana sebagai wanita penggoda dan bisa ditebak bagaimana akhir hidup mereka? Ya, kematian adalah jawabannya.
Setelah itu, Rubiana bersama dengan Karina, Lucas dan Guesta pergi ke tempat Geordo dan Lizzy Tan untuk menemui Magenta, Rubiana berharap bahwa Magenta masih berada disana. Dia akan menjadikan temannya itu sebagai orang kepercayaan yang selalu ada disisinya. Saat ini dia hidup dengan identitas baru dan dia harus mempunyai orang-orang disisinya.
Terlihat didepan rumah itu, Magenta sedang menjemur pakaian. Rubiana tersenyum melihat itu dari jauh sebab Magenta masih ada disana, lalu dia berjalan mendekat kepada Magenta. Tentu dengan Lucas, Karina dan Guesta dibelakangnya.
"Magenta!"
"Rubiana!" Magenta tersenyum lebar saat melihat Rubiana. Dia senang sekali karena bisa bertemu dengan temannya lagi. Magenta mendekat dan hendak memeluk Rubiana, namun Karina langsung berdiri di depannya dan menghadang Magenta.
__ADS_1
"Anda harus bersikap sopan pada calon permaisuri negeri ini!" ujar Karina mengingatkan dengan tegas.
"Calon permaisuri?" Magenta terkejut mendengarnya dan sontak saja ia langsung menatap Rubiana.
"Nyonya Karina, tenanglah." ucap Rubiana pada pelayannya itu, agar tidak bersikap berlebihan. "Dia temanku."
"Tapi nona..."
"Karina, aku akan bicara dengan temanku." gadis berambut perak itu menatap Karina dengan tajam. Dia tidak mau diganggu saat bicara dengan Magenta.
Tak lama kemudian, sebuah batu cukup besar mengarah pada kepala Rubiana. Dengan cepat Lucas menghadang baru itu dan memeluk Rubiana.
BRAK!
"Akhhh!!" pekik Rubiana terkejut saat melihat Lucas melindunginya dari batu itu. Dia bisa melihat aliran darah mengalir dari kepala Lucas.
"Jadi kau--adalah calon permaisuri dari raja laknat itu?!" seru seorang pria tua yang baru saja keluar dari rumah itu. Dia terlihat sangat marah dan menatap nyalang pada Rubiana.
__ADS_1
...****...