Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 35. Hyacinth takut


__ADS_3

Tanpa mempedulikan bagaimana Hyacinth diluar sana, Rubiana malah merebahkan tubuhnya dengan nyaman diatas ranjang pengantinnya yang bertabur bunga. Ranjang yang harusnya menjadi ranjang panas malam pertama Hyacinth dan Rubiana, malah menjadi ranjang tempat tidur gadis itu seorang diri.


Rubiana senang karena Hyacinth pergi meninggalkannya. Dia pun mencoba terlelap sambil memeluk guling dengan santai, menikmati semilir angin malam yang menyejukkan, aroma bunga dan lili aromaterapi semakin membuatnya terlelap masuk ke alam mimpi.


Sementara di luar sana, si pengantin pria alias pria yang resmi menjadi suami Rubiana terlihat sangat ketakutan. Hyacinth menjadi pusat perhatian saat para pengawal istana melihatnya. Hyacinth tak pernah merasa setakut ini pada sesuatu atau pada seseorang.


"Apa Yang mulia raja sangat gugup dimalam pertamanya sampai Baginda menjadi seperti itu?"


"Oh tentu saja, itu sudah pasti bukan? Terang saja itu karena Yang mulia Permaisuri kita sangat cantik!"


"Hey! Bukankah Yang Mulia lebih terlihat ketakutan dibandingkan dengan gugup? Ini hanya menurutku saja," ucap seorang pengawal saat melihat Hyacinth yang keluar dari kamar pengantinnya dengan raut wajah ketakutan seperti melihat setan.

__ADS_1


Lucas yang tak sengaja lewat disana, mendengarkan obrolan para pengawal itu. Dia malah tersenyum senang, sudah bisa ditebak bagaimana pikirannya saat ini.


Apa si bodoh Selena memakai bubuk itu?


Setelah mendengar obrolan mereka, diam-diam Lucas pergi mengunjungi kamar pengantin Rubiana untuk memastikannya. Lucas masuk dengan menggunakan teleportasi agar tidak ada satu orang pun yang tau dia masuk ke dalam kamar itu. Sebab ada beberapa pengawal yang berjaga disana.


"Suaminya sedang ketakutan diluar sana dan dia malah tertidur pulas disini? Jadi dia benar-benar menggunakannya.Tentu saja kau harus, karena malam pertamamu harus menjadi milikku." Lucas menatap gadis yang matanya terpejam itu. Lucas duduk disampingnya, lalu menggeser helaian rambut Rubiana yang panjang dengan jari-jarinya. Hingga wajah cantik gadis itu terlihat jelas di mata hitam milik Lucas. "Kau sangat cantik," gumam pria itu, kemudian dia menyelimuti tubuh Rubiana dengan selimut hangat.


Entah mendapatkan keberanian darimana, Lucas mengecup kening gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Sampai berapa lama kau akan membalas dendam? Padahal sekarang juga aku bisa membunuh pria itu dengan mudah untukmu. Namun kau lebih memilih bermain-main dengannya lebih dulu. Baiklah, akan aku turuti permainanmu. Buatlah aku di belakang sini menjagamu," tutur pria itu, lalu ia pun pergi dari kamar itu begitu saja.


Ketika sadar Lucas telah pergi, Rubiana membuka matanya. Rupanya gadis itu belum benar-benar masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


"Tidak, kematian terlalu mudah untuknya. Aku tidak akan membiarkan dia mati semudah itu, tapi pasti akan segera aku selesaikan. Pertama-tama, targetku adalah Barack!" gumam Rubiana sambil tersenyum menyeringai. Dendamnya tidak akan bisa selesai dengan membunuh Hyacinth, pertama-tama dia akan mematahkan sayap kanan dan kiri pria itu. Bagian terpenting dalam hidup Hyacinth, yaitu Barack dan Ron, burung iblis peliharaan Hyacinth.


****


Raja Istvan itu tidak jadi melakukan malam di pertamanya, ia malah pergi ke sebuah ruangan yang gelap minim cahaya. Ruangan itu adalah tempat dimana dia membunuh Selena dengan menyusulnya, mengambil jantung dan hatinya dalam keadaan hidup. Dia memegang dadanya yang terasa sesak, terlihat keringat bercucuran membasahi wajahnya.


"TIDAK! Dia...dia sudah mati, dia sudah mati! Selena sudah mati!" teriak Hyacinth frustasi sambil meremasi rambutnya dengan gusar.


Tadi, dia melihat sosok Selena di belakang Rubiana dan sosok gadis malang itu meminta jantung dan hatinya. Rupanya tampak menyeramkan.


...****...

__ADS_1


__ADS_2