
...***...
Alangkah kagetnya Rubiana saat gadis itu melihat sosok yang berada didepan pintu kamarnya. Ya, dia adalah pria yang paling Rubiana benci. Siapa lagi kalau bukan Hyacinth? Sialnya pria itu terlihat tampan dengan rambut hitamnya yang berwarna hitam kelam. Tak heran dulu Selena pernah sangat jatuh cinta kepadanya. Tapi sekarang pria berambut hitam itu adalah orang yang paling ia benci.
Jantung Rubiana berdebar kencang saat Hyacinth berjalan mendekatinya. Dari jarak yang lumayan dekat, Rubiana bisa mencium aroma wine dari tubuh pria itu. Sepertinya Hyacinth habis minum-minum sebelum masuk ke dalam kamarnya. Memang tradisi untuk pengantin yang baru saja menikah, malamnya pengantin pria diwajibkan untuk meminum sesuatu dari seseorang yang dekat dengannya. Ya, Rubiana menebak kalau Hyacinth meminum wine dari Barack.
"Ya-yang Mulia," ucap Rubiana gugup.
Matilah aku! Aku tidak mau menyerahkan kesucianku untuk bajingan ini. Batin Rubiana panik dan tidak sudi untuk menyerahkan kesuciannya pada Hyacinth. Baginya kesucian itu pantas diberikan pada orang yang dicintai dan mencintai. Bukan pada pria BRENGSEK macam Hyacinth.
"Ratuku, Rubiana sayang... akhirnya kau menjadi milikku!" seru Hyacinth sambil tersenyum, lalu dia menghampiri Rubiana dan memeluknya erat.
"Iya Yang Mulia, aku juga senang karena sudah menjadi milik Yang Mulia raja," balas Rubiana mesra, sebab tak mau membuat Hyacinth curiga.
__ADS_1
Hyacinth menuntun Rubiana, memegang tangannya lalu memintanya duduk di pangkuannya. Kini gadis itu sudah duduk dipangkuan Hyacinth dengan kedua tangan yang mengalung dileher pria itu.
"Yang Mulia," lirih Rubiana saat ia merasakan tatapan aneh dari Hyacinth. Tatapan yang membuatnya jijik, nanar dan bernafsu. Rubiana tidak menyukainya dari Hyacinth.
Hyacinth mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak lagi, dia menatap bibir cantik Rubiana yang sudah menjadi sasarannya sejak tadi. Namun Rubiana refleks memalingkan wajahnya dari Hyacinth, hingga bibir pria itu hanya mencium pipinya.
"Sayang? Kenapa? Bukankah ini malam pertama kita? Aku belum pernah mencium bibirmu. Biarkan aku menciumnya sayang," ucap Hyacinth seraya menaikkan dagu Rubiana dengan tangannya, satu tangannya yang lain meraba-raba pinggang gadis itu.
Rubiana semakin tegang saat merasakan tubuh Hyacinth semakin panas dan benda keras di bawah tubuhnya yang sudah mulai mengeras. Ini sangat bahaya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memakai cara yang bisa membuatnya terbebas dari malam pertama.
Gadis itu tiba-tiba meniupkan sesuatu pada mata Hyacinth, sebuah bubuk putih bercahaya. Bubuk itu ia dapatkan dari Lucas, katanya agar dia terhindar dari malam pertama.
"Sayang, apa yang kau tiupkan padaku?" tanya Hyacinth sambil membuka tutup matanya karena terkena serbuk itu.
__ADS_1
"Aku tidak meniupkan apapun, Yang Mulia." sangkal Rubiana, lalu ia pun beranjak dari pangkuan Hyacinth.
Hyacinth mulai membuka matanya, namun wajahnya berubah menjadi panik dalam sekejap. Entah apa yang ia lihat di belakang Rubiana.
"Yang Mulia."
"Jangan mendekat! Pergi kau! Kau sudah mati, kenapa kau ada disini?!" Hyacinth sangat ketakutan saat melihat sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat oleh Rubiana.
Rubiana semakin mendekat ke arah Hyacinth, ia ingin tau apa yang terjadi dengan pria itu yang tiba-tiba saja ketakutan setengah mati. Jujur saja, ia senang melihat Hyacinth seperti ini.
"Yang Mulia, ada apa? Ini saya yang mulia, istrimu." Goda Rubiana pada Hyacinth, malah membuat pria itu berlari keluar dari kamar dengan raut wajah ketakutan.
"Hah! Kenapa dia seperti itu? Apa yang dia lihat sebenarnya? Apapun itu, aku senang bisa terbebas dari malam pertama." Gumam Rubiana senang karena Hyacinth pergi dari malam pertama mereka.
__ADS_1
...****...