Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 41. Undangan


__ADS_3

Di kerajaan Gallahan, istana Gallahan kamar sang Raja. Setelah serangan monster dari Hyacinth, kerajaan Istvan. Aiden sibuk membenahi pusat kota yang sebelumnya setengah hancur oleh monster iblis. Setelah keadaan membaik, Aiden akan segera melangsungkan pernikahan dengan Rosela. Gadis itu akan dinobatkan sebagai Ratu dan juga istri dari Aiden.


Sempat menuai pro-kontra dari para petinggi kerajaan Gallahan dan juga para bangsawan. Akhirnya semua orang setuju agar Rosela dinobatkan sebagai Ratu. Rosela yang cerdas, cantik dan cekatan, cocok untuk posisi itu. Belum lagi ia tau seluk-beluk kerajaan Gallahan dan bagaimana isi hati sang Raja.


Pernikahan mereka akan diadakan secara besar-besaran 3 hari lagi. Terlihat sang pengantin wanita tengah duduk di tembok pembatas balkonnya sambil merenung.


"Apa yang kau lakukan disini, Ratuku?" tanya Aiden yang sudah berada dibelakang Rosela. Gadis berambut pirang itu menoleh ke arah Aiden.


"Yang Mulia, kapan ada datang? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Rosela seraya menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat didepan pria itu.


"Tentu saja kau tidak tahu, karena kau asyik melamun memikirkan pria lain disini," cetus Aiden, lalu ia mengambil tempat duduk disamping Rosela.


"A-apa?" seketika kedua mata Rosela membola mendengar tuduhan yang tidak benar itu.


"Siapa tau, mungkin kau berpikir ulang untuk menikah denganku karena ada pria lain yang kau pikirkan?" tanya Aiden cemburu.


Bibir merah Rosela tersenyum, lalu ia pun mengecup bibir pria itu dengan gemas. Tangannya mengalung di leher Aiden.


"Kenapa kau berpikir yang tidak-tidak? Dari dulu sampai sekarang hanya kau pria yang aku pikirkan!"


"Apa kau serius?" tanya Aiden seraya melingkarkan tangannya pada tubuh berisi Rosela. Gadis itu semakin gemuk dan membuat Aiden semakin terpesona. Dia menyukai wanita yang berisi dibanding wanita kurus kerempeng.

__ADS_1


"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu. Aku yang seharusnya curiga, apa kau benar-benar hanya memikirkanku saja? Bukan putri dari kerajaan Lacos yang melamarmu tempo hari atau putri Duke Esteban yang saat itu memelukmu di aula?" tanya Rosela menyindir calon suaminya itu. Banyak sekali wanita yang menyukai Aiden. Selain tampan, dia kaya dan memiliki posisi di paling tinggi di kerajaan itu. Siapa yang tidak mau dengan Aiden? Raja paling muda dan cemerlang di kerajaan itu.


"Kau cemburu?" tanya Aiden seraya mengembangkan senyuman tipis dibibirnya. Dia memandang gadis itu penuh cinta. Gadis yang pernah menjadi kakak sepupunya, namun tak ada ikatan darah.


"Kenapa? Tak bolehkah aku cemburu?" tanya Rosela sambil mencebikkan bibirnya dengan sebal.


"Boleh, sangat boleh. Karena jika kau cemburu, maka itu berarti kau mencintaiku! Tapi--jangan sampai kecemburuan membawamu pada rasa tidak percaya. Karena aku hanya mencintaimu, kau harus percaya itu." Aiden memperjelas status dan perasaan untuk Rosela. Dia memang mencintai Rosela, bahkan jauh lebih lama dari Rosela jatuh cinta padanya.


"Aku percaya padamu, Aiden...ehm...ada yang ingin aku bicarakan juga mengenai undangan pernikahan kita."


Aiden lantas melepaskan pelukannya, lalu mereka duduk berhadapan saling menatap satu sama lain. Aiden mengerutkan keningnya, pikirnya mungkin ada masalah dengan undangan pernikahan.


"Ada apa? Apa ada masalah? Bukankah undangan sudah disebar?" tanya Aiden seraya menggenggam kedua tangan lembut Rosela.


"Hanya saja apa?" tanya Aiden terheran-heran karena Rosela menggantung ucapannya disana.


"Hanya saja, aku mengirimkan undangan itu pada permaisuri Rubiana." jawaban dari Rosela sontak membuat Aiden menaikkan kedua alisnya, ia terlihat tidak suka.


"Kenapa kau mengundang wanita itu? Dia adalah permaisuri raja iblis itu? Kenapa Rosela?" tanya Aiden tidak mengerti maksud Rosela mengirimkan undangan kesana.


"Aiden, aku ingin memastikan sesuatu. Bahwa dia benar seseorang yang ku kenal atau bukan," ucap Rosela.

__ADS_1


"Siapa maksudmu?"


"Selena."


Deg!


Aiden tercengang mendengar ucapan Rosela yang menyinggung tentang Selena. Adiknya yang meninggal ditangan Hyacinth.


"Apa maksudmu menyinggung tentang Selena dan permaisuri itu?" Aiden masih tidak menyukai pembahasan ini. Wajahnya tampak marah.


"Aiden, aku tau kau ingin menyangkal semuanya. Tapi, didalam hatimu kau merasa bahwa apa yang aku katakan ini benar kan? Kau merasa, bahwa Ratu Istvan mirip dengan Selena. Dia bahkan menyelamatkanmu dari serangan si Hyacinth. Bukankah kita harus memastikannya?" tanya Rosela seraya memegang tangan Aiden.


"Tapi ini tidak...."


"Untuk membuktikan Rubiana adalah Selena, kita bisa meminta bantuan pada nyonya Brieta." Rosela lantas memotong ucapan Aiden. Dia mempunya ide untuk meminta bantuan Brieta. Peramal yang bisa melihat jiwa lain didalam tubuh seseorang. Sama seperti saat dia melihat tubuh Liliana yang diisi oleh jiwa Adaire.


Aiden terdiam, dia merasa bingung. Tapi disisi lain tidak ada salahnya mencoba untuk membuktikannya. Rubiana adalah Selena.


****


Sore itu, sebuah undangan datang ke meja permaisuri. Ya, undangan pernikahan sekaligus perdamaian dari kerajaan Gallahan. Rosela yang mengundang Rubiana ke pesta pernikahannya.

__ADS_1


"Jadi kakak akan menikah dengan kak Rosela? Baguslah... akhirnya." gumam Rubiana sambil meneteskan air matanya, melihat undangan itu.


...****...


__ADS_2