
Atensi semua orang tertuju pada Rubiana Asteria yang kini berjalan menuju ke depan altar, dimana ada seorang pria dengan setelan berwarna putih-putih tengah menunggunya disana. Bersama seorang pendeta yang akan menikahkan mereka berdua.
Jujur saja, Rubiana enggan menikah dengan Hyacinth. Kalau bukan karena dendamnya, ia pasti sudah membunuhnya langsung. Tapi tidak, Rubiana tidak akan gegabah. Balas dendam membunuhnya dan langsung mati, itu bisa terbilang mudah. Yang dia inginkan adalah kematian Hyacinth yang perlahan-lahan namun menyakitkan. Di setiap langkahnya menuju ke altar, matanya terlihat tajam dan menyimpan kebencian mendalam.
Ibu, ayah, Arsen, paman Eugene, bibi Laura...semua orang...tolong bantu aku, kuatkan hatiku agar aku bisa menghadapi semua ini dengan tegar.
Pengantin pria tersenyum bahagia, ia tidak sabar untuk menikahi pengantinnya. Ketika Rubiana tinggal beberapa langkah lagi menuju ke altar, tiba-tiba saja terlihat asap putih mengepul yang datang entah dari mana. Sontak saja semua orang yang berada di dalam gereja tersebut berlarian keluar tanpa tau arah termasuk Rubiana.
"Ruby!" teriak Hyacinth ditengah kepulan asap berwarna putih itu. Beberapa orang disana jatuh pingsan saat menghirup asap putih tersebut, tapi tidak dengan Hyacinth. Pria itu cukup kuat untuk merasakan pengaruh dari asap putih yang dia yakini sebagai racun atau bius.
Rubiana yang hanya manusia biasa, dia langsung pusing saat menghirup asap itu. Tepat saat tubuhnya limbung dan matanya terpejam, seseorang menangkap tubuhnya dari belakang. Samar-samar ia melihat rambut hitam pria itu.
"Ka..kakak?" lirih Rubiana saat melihat wajah Aiden didepannya.
Pria itu tercengang saat mendengar Rubiana memanggilnya kakak. Kemudian dia pun membawa Rubiana pergi dari sana dengan sihirnya dalam sekejap mata.
Wush~~
Tak lama setelah asap mengepul itu hilang karena angin dari yang di buat oleh Hyacinth. Pria itu panik saat ia tidak melihat Rubiana disana. "Cepat cari Permaisuri! CEPAT!" titah sang Raja kepada para pengawal istana yang sedang berlarian disana.
Rahangnya mengeras, ia marah karena Rubiana menghilang. Hyacinth sudah menduga kalau Rubiana tidak kabur, melainkan ada seseorang yang membawanya pergi. Mungkin salah satu musuhnya yang membawanya pergi.
__ADS_1
"Kau! Bukankah aku sudah menugaskanmu untuk menjaga permaisuri! Lalu apa yang kau lakukan HAH? Permaisuri sekarang menghilang!" sentak Hyacinth seraya menarik baju Lucas dengan kasar.
"Saya akan bertanggungjawab Yang Mulia, saya akan mencarinya." ucap Lucas tenang, menghadapi kemarahan Hyacinth. Para pengawal lain heran karena Lucas bisa begitu tenang menghadapi kemarahan Hyacinth.
"Akan kuberikan kau kesempatan! Temukan Permaisuriku atau kau mati!" hardik Hyacinth yang berusaha memberikan kesempatan pada Lucas untuk mencari Rubiana dan untuk hidup.
"Baik Yang Mulia." sahut Lucas tenang.
Apa dia akan baik-baik saja dibawa oleh kakaknya? Sedangkan kakaknya tidak mengenalinya. Batin Lucas berpikir.
Hyacinth memerintahkan semua orang untuk mencari dimana keberadaan Rubiana. Namun Barack berusaha menahan agar Hyacinth tidak pergi mencari Rubiana sebab kerajaan Istvan juga membutuhkan dirinya.
"Yang Mulia, saya mohon percayakan saja pencarian permaisuri pada sir Lucas. Dia adalah kstaria terbaik di kerajaan ini dan dia juga cepat. Saya percaya dia bisa menemukan Permaisuri. Jika Yang Mulia pergi, akan terjadi ketidakstabilan di kerajaan ini. Mohon dipahami Yang Mulia, anda mendapatkan tahta ini dengan susah payah." tutur Barack panjang lebar dan bijak pada Hyacinth yang saat ini sedang gelisah karena tidak adanya Rubiana. Barack sebenarnya senang karena Hyacinth tidak jadi menikah dengan Rubiana.
Raja Istvan itu berada dalam kegelisahan yang luar biasa. Namun kali ini dia tidak bisa meninggalkan kerajaannya begitu saja. "Baiklah, aku berikan waktu kepadanya 3 hari. Jika dalam 3 hari dia tidak bisa menemukan permaisuri, aku akan pergi mencarinya sendiri."
Barack tersenyum mendengar keputusan Hyacinth, ia harap Rubiana tidak akan pernah ditemukan selamanya. Akan lebih baik bagi Rubiana untuk pergi selamanya dari Hyacinth dan dari kerajaan Istvan agar tidak ada lagi yang mengganggu Hyacinth.
****
Di dalam sebuah kereta, terlihat pria bertopeng membawa seorang gadis yang memakai gaun pengantin di pangkuannya. Dia membuka topengnya dan memperlihatkan wajah tampannya. Ya, dia adalah Aiden, Raja dari kerajaan Gallahan. Aiden nekad menculik Rubiana agar Hyacinth ketar-ketir dan melakukan apapun yang dia mau nantinya.
__ADS_1
"Yang Mulia, anda benar-benar nekat. Padahal anda bisa meminta saya yang menculiknya, kenapa anda turun tangan sendiri?" tanya Edward, ajudan setia Aiden yang sering dipanggil Ed.
"Bukankah lebih seru bila melihat wanita yang dicintai oleh iblis itu dari dekat?" Aiden menatap Rubiana dengan penuh kebencian. Lalu dia menendang Rubiana yang tidak sadarkan diri hingga tubuh gadis itu terbanting ke bawah, bukan di jok kereta. Dan Aiden sama sekali tidak peduli dengan keadaan Rubiana dibawah sana, tidak peduli dengan Rubiana yang seorang perempuan.
"Yang Mulia, bukankah dia seorang perempuan?" tanya Edward seraya melihat Rubiana di bawah kereta itu. Tubuhnya bahkan berguncang beberapa kali.
"Lalu? Apa aku harus mengasihaninya? Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padanya! Dia harus merasakan apa yang dirasakan oleh keluargaku." gumam Aiden sakit hati, ia menatap tajam pada Rubiana. Aiden teringat keluarganya yang sudah dibunuh dengan kejam oleh Hyacinth. Dia tau gadis didepannya ini adalah orang yang Hyacinth cintai, maka dari itu dia akan menghancurkannya. Atau dia bisa menjadikan wanita ini sebagai alat untuk mengancam Hyacinth.
Aiden termenung, sebenarnya dia masih kepikiran tentang gadis itu yang memanggilnya kakak saat di gereja kerajaan Istvan itu. "Kenapa dia memanggilku kakak?"
Setelah melalui perjalanan cukup panjang, Aiden, Edward dan dua pengawal kerajaannya tiba di istana Gallahan. Edward menggendong Rubiana yang masih belum siuman dan memakai gaun pengantin. Begitu Aiden sampai di pintu utama istana Gallahan, Rosela dan Doris menyambutnya.
"Yang Mulia, anda sudah kembali?" sambut Rosela pada Aiden dengan senyuman ramahnya. Namun senyuman itu menghilang tatkala ia melihat sosok Rubiana di gendongan Edward. Doris yang berada disampingnya juga terheran-heran melihat sosok gadis cantik berambut perak itu.
Siapa gadis cantik ini? Kenapa aku merasa seperti dekat dengannya? Batin Doris seraya menatap lekat wajah cantik Rubiana. Dia merasakan perasaan aneh saat melihat gadis itu.
"Yang Mulia, anda benar-benar melakukannya?" tanya Rosela terperangah, dia tidak percaya bahwa Aiden akan melakukan rencana gilanya menculik permaisuri Hyacinth.
"Seperti yang kau lihat kakak." jawab Aiden lalu ia menoleh ke arah Edward. "Bawa gadis itu ke ruang bawah tanah. Di istana ini dia harus merasa seperti neraka." ujar Aiden memberikan titah pada Edward.
"Baik yang mulia." sahut Edward patuh, kemudian dia membawa Rubiana ke tempat yang dituju. Kemudian Aiden mengajak Rosela masuk ke dalam ruang istirahat, dia akan berbicara dengan gadis itu tentang Rubiana.
__ADS_1
...****...